Pratinjau belum tersedia
Kliping

Under the Gun

TIME (edisi Asia) · TIME edisi Asia, 9 Mei 2005; laporan utama tentang militer Filipina (7 halaman). Bagian dari entri majalah TIME (Asia) 9 Mei 2005 · 2005-05-09

Ringkasan

Laporan utama TIME edisi Asia tentang kondisi Angkatan Bersenjata Filipina pada 2005. Berangkat dari gugurnya Letnan Kolonel Dennis Villanueva dalam pertempuran di Jolo pada Februari 2005, yang menurut keluarga dan rekannya dapat dicegah bila evakuasi medis berjalan baik, Anthony Spaeth menggambarkan militer yang kekurangan dana, peralatan usang, pimpinan yang sering berganti, dan moral prajurit yang rendah. Laporan ini menelusuri sejarah konflik dengan komunis, MNLF, MILF, dan Abu Sayyaf, sejarah percobaan kudeta, serta kekhawatiran Amerika Serikat bahwa Filipina selatan menjadi tempat berlindung jaringan teror. Liputan lapangan dari Jolo merekam operasi militer dan pengungsian puluhan ribu warga.

Nomor inventaris
KBA-KLP-2005-0001
Jenis dokumen
Kliping
Sumber terbitan
TIME (edisi Asia)
Tanggal terbit
2005-05-09
Edisi dan halaman
TIME edisi Asia, 9 Mei 2005; laporan utama tentang militer Filipina (7 halaman). Bagian dari entri majalah TIME (Asia) 9 Mei 2005
Penulis
Anthony Spaeth
Klasifikasi LC
UA853.P6 — Angkatan bersenjata Filipina
Subjek LCSH
Philippines. Armed Forces Insurgency -- Philippines -- Jolo Island Moro National Liberation Front Civil-military relations -- Philippines
Kategori BISAC
POL012000 POLITICAL SCIENCE / Security (National & International)
Bahasa
Inggris
Keterangan
Kliping ini memuat laporan Anthony Spaeth berjudul "Under the Gun" dari majalah TIME edisi Asia, 9 Mei 2005. Laporan ini merupakan artikel utama tentang militer Filipina yang ditandai pada pita sudut sampul edisi tersebut dengan judul "The Philippine Military: Poor Morale and Endless Wars". Pindaian terdiri atas tujuh halaman, termasuk halaman pembuka bergambar foto besar seorang prajurit dan subjudul yang menyatakan bahwa militer Filipina sedang bergulat dengan moral rendah, peralatan buruk, dan kelompok bersenjata yang keras kepala, sebuah persoalan yang menurut redaksi bukan hanya milik Filipina tetapi juga seluruh kawasan. Entri ini terkait dengan entri induk majalah TIME edisi Asia 9 Mei 2005 dalam koleksi yang sama. Spaeth membuka laporannya dengan kisah Letnan Kolonel Dennis Villanueva, komandan Batalion Infanteri ke-53 Angkatan Bersenjata Filipina. Villanueva digambarkan sebagai perwira berpengalaman sembilan belas tahun di medan tempur, dihormati anak buahnya, dan dikenal dekat dengan prajurit. Pada Februari 2005 ia merencanakan cuti untuk berkumpul dengan keluarga, tetapi pertempuran pecah di Pulau Jolo, Provinsi Sulu. Pada 10 Februari 2005 ia mengirim pesan singkat kepada istrinya bahwa pasukannya sedang diserang. Tidak lama kemudian batalionnya dihujani tembakan mortir di dekat sebuah dusun, dan pecahan mortir melukai Villanueva bersama sejumlah prajurit. Ia sempat dievakuasi ke rumah sakit sipil di kota Jolo, tetapi meninggal karena kehilangan banyak darah. Menurut laporan tersebut, ia merupakan perwira Filipina berpangkat tertinggi yang gugur dalam pertempuran selama bertahun-tahun. Kisah Villanueva kemudian dikembangkan menjadi teka-teki yang mengungkap masalah institusional. Keluarganya dan sebagian rekan perwiranya meyakini bahwa ia sebenarnya bisa diselamatkan. Laporan ini memuat kesaksian seorang perwira muda yang terluka bersamanya: helikopter pertama yang tiba di zona pendaratan justru pergi tanpa membawa korban, sehingga para prajurit yang terluka harus menunggu puluhan menit lagi. Perbedaan versi tentang tingkat keparahan luka dan kecepatan evakuasi antara kesaksian lapangan dan keterangan pimpinan militer menjadi pintu masuk bagi Spaeth untuk membahas buruknya logistik, kurangnya helikopter yang layak terbang, dan minimnya fasilitas medis tempur. Bagian berikutnya memperluas sorotan ke kondisi Angkatan Bersenjata Filipina secara keseluruhan. Spaeth menggambarkan sekitar 125.000 prajurit yang bertempur hampir setiap hari, sering melawan musuh yang sama dengan yang dihadapi ayah dan kakek mereka, dengan senjata yang usang. Ia mencatat kekurangan rompi pelindung, perlengkapan dasar, dan pemeliharaan alat, serta pergantian kepala staf yang sangat sering di bawah Presiden Gloria Macapagal-Arroyo. Laporan ini mengutip para pejabat pertahanan yang mengakui bahwa rencana reformasi bernilai ratusan juta dolar hanya sedikit memperbaiki kemunduran selama satu dasawarsa. Amerika Serikat, yang sejak perang melawan terorisme meningkatkan bantuan militer dan program pelatihan, digambarkan sangat memperhatikan keadaan ini karena khawatir sebagian wilayah Filipina menjadi tempat berlindung jaringan teror, seperti wilayah tanpa pemerintahan di Somalia. Spaeth juga menautkan rendahnya moral dengan sejarah ketidakpuasan politik di tubuh militer. Filipina mengalami lebih dari sepuluh percobaan kudeta dalam kurun sembilan belas tahun sebelum laporan ini ditulis. Ia menyebut beredarnya gagasan dari kalangan purnawirawan tentang perlunya struktur pemerintahan baru, bahkan junta militer, sebagai tanda bahwa frustrasi di kalangan tentara belum padam. Bagian sejarah laporan ini menjelaskan bagaimana harapan pada awal 1990-an, ketika Fidel Ramos menjadi presiden, komunisme melemah, dan perjanjian damai dengan Front Pembebasan Nasional Moro ditandatangani, perlahan runtuh. Tentara Rakyat Baru bangkit kembali, Front Pembebasan Islam Moro terus bertempur, dan Nur Misuari, pendiri Front Pembebasan Nasional Moro, kembali memberontak pada November 2001 sebelum melarikan diri ke Malaysia, diekstradisi, dan ditahan di Manila. Laporan ini juga menyajikan liputan lapangan dari Jolo. Wartawan TIME menyertai komandan Komando Selatan dalam kunjungan ke wilayah yang baru "dibersihkan" dari pemberontak. Spaeth menggambarkan operasi militer yang menyerupai pola Perang Vietnam: tentara menandai desa yang dikuasai pemberontak lalu bergerak masuk, sementara penduduk mengungsi. Pada puncak pertempuran, puluhan ribu warga Jolo tinggal di tempat pengungsian sementara. Para gerilyawan yang dihadapi sebagian berasal dari kelompok Abu Sayyaf, tetapi sebagian besar adalah loyalis lama Misuari. Laporan ini juga menyinggung dua versi tentang pemicu pertempuran: militer menyebutnya serangan pemberontak, sedangkan pihak pemberontak menuduh tentara memicu konflik. Bagi kajian Asia Tenggara, laporan ini memiliki nilai sumber primer yang tinggi. Ia merekam situasi keamanan Filipina selatan pada masa ketika Amerika Serikat menjadikan kawasan ini sebagai "front kedua" perang melawan terorisme, dan ketika hubungan sipil-militer di Manila sedang tegang. Beberapa bulan sesudah laporan ini terbit, krisis politik pemerintahan Arroyo semakin dalam, dan pada Februari 2006 pemerintah mengumumkan keadaan darurat setelah terungkap rencana kudeta. Pembaca dapat menelusuri garis waktu ini untuk memahami bagaimana masalah moral dan kesejahteraan prajurit berkaitan dengan instabilitas politik. Laporan ini juga sangat relevan untuk studi perbandingan dengan Aceh. Pada Februari 2005, ketika Villanueva gugur di Jolo, pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka baru saja memulai putaran perundingan di Helsinki yang berujung pada Nota Kesepahaman 15 Agustus 2005. Kedua konflik sama-sama melibatkan gerakan berbasis identitas Muslim di wilayah pinggiran, operasi militer berkepanjangan, pengungsian penduduk sipil, dan proses damai yang naik turun. Perbedaan hasilnya, damai yang relatif berkelanjutan di Aceh dan konflik yang berlarut di Sulu dan Mindanao hingga pembentukan Bangsamoro pada 2019, menjadi bahan perbandingan yang kaya bagi peneliti resolusi konflik. Dari sudut jurnalisme, laporan Spaeth merupakan contoh khas gaya majalah berita internasional: dimulai dari kisah manusia yang dramatis, lalu meluas ke analisis struktural dengan kutipan pejabat, pakar, dan data. Kekuatan pendekatan ini adalah daya hidupnya, sedangkan kelemahannya adalah ketergantungan pada sumber terbatas dan sudut pandang yang sebagian besar bersandar pada pejabat militer dan pengamat Amerika. Suara masyarakat Tausug di Jolo dan para pemberontak hanya muncul secara terbatas. Pembaca perlu melengkapinya dengan kajian akademis tentang konflik Moro dan laporan organisasi hak asasi manusia tentang operasi militer di Sulu. Secara fisik, pindaian berupa tujuh halaman majalah berwarna dengan beberapa foto, termasuk foto prajurit di medan tempur dan evakuasi korban. Kualitas pindaian cukup baik, meskipun teks di dekat lipatan tengah beberapa halaman sedikit melengkung. Teks lengkap artikel tidak disalin ke dalam katalog ini karena hak ciptanya berada pada penulis dan penerbit; keterangan ini merupakan uraian kuratorial untuk membantu pengguna memahami isi, konteks, dan nilai penelitiannya. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Angkatan Bersenjata Filipina, konflik Moro, Jolo dan Sulu, Abu Sayyaf, Nur Misuari, Front Pembebasan Nasional Moro, hubungan sipil-militer, dan perang melawan terorisme di Asia Tenggara. Untuk keperluan kutipan, rujukan dapat ditulis sebagai berikut: Anthony Spaeth, "Under the Gun", TIME (edisi Asia), 9 Mei 2005.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Is Part Of
Koleksi
Kliping

Cara mengutip

Anthony Spaeth, “Under the Gun”, TIME (edisi Asia), TIME edisi Asia, 9 Mei 2005; laporan utama tentang militer Filipina (7 halaman). Bagian dari entri majalah TIME (Asia) 9 Mei 2005, 2005-05-09. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-KLP-2005-0001.