Penerbit Pustaka, Bandung · Cetakan III, 1417 H / 1996 M (Cetakan I 1404 H / 1984 M; Cetakan II 1415 H / 1994 M). Diterjemahkan dari Orientalism karya Edward W. Said, terbitan Vintage Books, New York, 1979; hak cipta Edward W. Said (1978). Penerjemah Asep Hikmat; penyunting Achsin Mohammad. Penerbit Pustaka, Jalan PHH Mustapa No. 121, Bandung 40125. Sampul: kaligrafi Laisu sawa'an, min ahlil kitabi ummatun (QS Ali 'Imran 3:113) oleh A. Noe'man. · 1996
Ringkasan
Terjemahan Indonesia atas Orientalism (1978), karya klasik Edward W. Said (1935–2003) yang mengubah cara dunia akademik memandang hubungan antara pengetahuan Barat tentang Timur dan kekuasaan kolonial. Said berargumen bahwa orientalisme bukan sekadar bidang kajian, melainkan wacana yang menciptakan citra Timur sebagai yang lain, terbelakang, dan perlu diatur. Edisi ini diterbitkan Penerbit Pustaka Bandung, diterjemahkan Asep Hikmat dan disunting Achsin Mohammad; eksemplar dalam koleksi adalah cetakan ketiga tahun 1996, dengan sampul kaligrafi kufi karya A. Noe'man yang mengutip QS Ali 'Imran 3:113.
Nomor inventaris
KBA-BKU-1996-0003
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Penerbit Pustaka, Bandung
Tanggal terbit
1996
Edisi dan halaman
Cetakan III, 1417 H / 1996 M (Cetakan I 1404 H / 1984 M; Cetakan II 1415 H / 1994 M). Diterjemahkan dari Orientalism karya Edward W. Said, terbitan Vintage Books, New York, 1979; hak cipta Edward W. Said (1978). Penerjemah Asep Hikmat; penyunting Achsin Mohammad. Penerbit Pustaka, Jalan PHH Mustapa No. 121, Bandung 40125. Sampul: kaligrafi Laisu sawa'an, min ahlil kitabi ummatun (QS Ali 'Imran 3:113) oleh A. Noe'man.
Orientalism; East and West; Middle East -- Foreign public opinion, Occidental; Imperialism
Kategori BISAC
SOC053000 SOCIAL SCIENCE / Regional Studies
Tempat
Timur TengahEropaAmerika Serikat
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Orientalisme adalah terjemahan bahasa Indonesia atas Orientalism, buku Edward W. Said yang pertama kali terbit pada 1978 dan menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam ilmu-ilmu humaniora dan sosial pada paruh kedua abad kedua puluh. Said lahir di Yerusalem pada 1935, tumbuh di Kairo, lalu menempuh pendidikan di Amerika Serikat dan mengajar sastra Inggris dan sastra bandingan di Columbia University hingga wafat pada 2003. Ia dikenal bukan hanya sebagai kritikus sastra, tetapi juga sebagai intelektual publik Palestina yang lantang. Halaman hak cipta edisi ini mencatat bahwa terjemahan dibuat dari Orientalism terbitan Vintage Books, New York, tahun 1979, dengan hak cipta atas nama Edward W. Said sejak 1978.
Tesis pokok Said dapat diringkas sebagai berikut. Selama berabad-abad, terutama sejak ekspansi kolonial Inggris dan Prancis ke dunia Islam pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas, para sarjana, penulis, pelukis, dan pejabat Eropa membangun suatu tubuh pengetahuan tentang Timur. Pengetahuan itu, menurut Said, tidak netral. Ia membentuk citra Timur sebagai dunia yang eksotis, irasional, statis, dan tidak mampu mewakili dirinya sendiri, sekaligus menempatkan Barat sebagai pihak yang rasional, maju, dan berhak mengatur. Dengan meminjam gagasan Michel Foucault tentang hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan, Said menunjukkan bahwa orientalisme adalah wacana, yakni cara berbicara dan berpikir yang memungkinkan dominasi kolonial tampak wajar.
Buku ini membahas tiga lapis orientalisme. Lapis pertama adalah orientalisme sebagai disiplin akademik, yaitu tradisi filologi, sejarah, dan kajian bahasa-bahasa Timur di universitas-universitas Eropa. Lapis kedua adalah orientalisme sebagai gaya berpikir yang membedakan secara tajam antara Timur dan Barat, dan yang tampak dalam karya sastra serta catatan perjalanan para penulis besar Eropa. Lapis ketiga adalah orientalisme sebagai institusi korporat untuk berurusan dengan Timur, yakni membuat pernyataan tentangnya, mengesahkan pandangan tentangnya, menggambarkannya, mengajarkannya, menguasainya, dan memerintahnya. Said juga membahas kelanjutan pola ini dalam kajian kawasan Amerika Serikat setelah Perang Dunia Kedua dan dalam liputan media tentang dunia Arab dan Islam.
Pengaruh buku ini sangat luas. Ia sering dianggap sebagai salah satu karya pendiri kajian pascakolonial, memengaruhi antropologi, sejarah, kajian sastra, kajian Timur Tengah, dan kajian Islam. Para antropolog mulai memeriksa ulang posisi mereka sebagai penulis tentang masyarakat lain, sementara para sejarawan menelusuri bagaimana arsip kolonial membentuk pengetahuan tentang wilayah jajahan. Buku ini juga memancing kritik keras, antara lain dari para orientalis sendiri yang menilai Said menyamaratakan beragam tradisi kesarjanaan, mengabaikan orientalisme Jerman, dan kurang memberi ruang bagi sarjana Barat yang bersimpati pada dunia Islam. Perdebatan itu sendiri menjadi bagian penting dari warisan intelektual buku ini.
Terjemahan Indonesia ini diterbitkan oleh Penerbit Pustaka di Bandung, penerbit yang dikenal menerbitkan banyak karya pemikiran Islam dan terjemahan karya-karya penting dunia Muslim. Penerjemahnya adalah Asep Hikmat dan penyuntingnya Achsin Mohammad. Cetakan pertama terbit pada 1404 Hijriah atau 1984 Masehi, cetakan kedua pada 1415 Hijriah atau 1994 Masehi, dan eksemplar dalam koleksi ini adalah cetakan ketiga tahun 1417 Hijriah atau 1996 Masehi. Kenyataan bahwa buku ini dicetak ulang tiga kali dalam kurun dua belas tahun menunjukkan besarnya minat pembaca Indonesia, terutama mahasiswa dan cendekiawan Muslim, terhadap kritik atas cara Barat memandang Islam.
Sampul edisi ini memiliki nilai tersendiri. Di atas latar hitam terdapat bidang kaligrafi kufi murabba', yaitu kufi persegi berbentuk labirin, berwarna jingga kemerahan. Halaman hak cipta menjelaskan bahwa kaligrafi itu memuat penggalan ayat Laisu sawa'an, min ahlil kitabi ummatun, yang artinya mereka itu tidaklah semuanya sama, di antara ahli kitab itu ada sekelompok orang, dari QS Ali 'Imran ayat 113, dan dibuat oleh A. Noe'man. Pilihan ayat ini sangat tepat untuk buku tentang orientalisme, sebab ia mengingatkan bahwa umat lain tidak boleh dipandang sebagai satu kesatuan yang seragam, persis seperti kritik Said terhadap cara Barat memandang Timur. Dengan demikian, sampul ini merupakan tafsir visual yang membalik arah kritik Said ke dalam: umat Islam pun diingatkan untuk tidak menyamaratakan pihak lain.
Bagi kajian di Indonesia, buku ini membuka banyak jalan. Kajian tentang Aceh, misalnya, tidak dapat dilepaskan dari warisan kesarjanaan kolonial Belanda, terutama karya Christiaan Snouck Hurgronje tentang orang Aceh yang ditulis dalam konteks Perang Aceh. Kerangka Said membantu pembaca menimbang bagaimana pengetahuan semacam itu sekaligus berguna sebagai sumber etnografis dan terkait erat dengan kepentingan penaklukan. Demikian pula kajian tentang Islam Indonesia secara umum dapat memanfaatkan kerangka ini untuk memeriksa bagaimana kategori seperti Islam abangan dan santri, atau Islam Nusantara dan Islam Arab, terbentuk dalam percakapan antara sarjana luar dan sarjana dalam negeri.
Eksemplar dalam koleksi ini menampakkan tanda pemakaian yang cukup berat. Permukaan sampul hitam penuh goresan dan kilap, terdapat noda kecokelatan di atas kaligrafi, bagian bawah sampul mengalami kerusakan, dan label perpustakaan menempel di sisi kiri. Foto sampul juga tidak mencakup tepi bawah buku secara utuh. Citra yang ditampilkan di sini telah diluruskan, dipotong dari latar foto, dan diperbaiki kontras serta warnanya agar kaligrafi dan judul terbaca jelas, tanpa menghapus tanda-tanda usia eksemplar.
Bagi pembaca Indonesia, penerjemahan buku ini pada pertengahan 1980-an juga memiliki makna politik intelektual. Pada masa itu, perguruan tinggi Islam sedang membangun hubungan dengan pusat-pusat studi Islam di Barat, dan banyak dosen IAIN menempuh pendidikan pascasarjana di Kanada, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia. Buku Said memberi alat untuk bersikap kritis terhadap warisan orientalisme tanpa harus menolak kesarjanaan Barat secara keseluruhan, sebuah keseimbangan yang menjadi tema penting dalam perdebatan tentang metodologi studi Islam di Indonesia hingga kini.
Dalam pengajaran, buku ini paling efektif dibaca bersama tanggapan-tanggapan terhadapnya, misalnya tulisan para sarjana yang membela tradisi orientalisme klasik maupun karya Said sendiri sesudahnya, Culture and Imperialism, yang memperluas analisisnya ke sastra dan kebudayaan imperial secara umum.
Dalam klasifikasi Library of Congress, buku ini ditempatkan pada DS32.8 untuk orientalisme dan kajian tentang Timur, dengan tajuk subjek Orientalism, East and West, Middle East -- Foreign public opinion, Occidental, serta Imperialism. Dalam sistem BISAC, buku ini dikelompokkan ke SOC053000, Social Science / Regional Studies.
Di dalam Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini dapat dibaca bersama Island of Bali karya Miguel Covarrubias yang juga ada dalam koleksi. Pasangan bacaan ini menarik, sebab karya Covarrubias dapat dijadikan contoh kasus tentang bagaimana sebuah kebudayaan Nusantara dibayangkan dalam tulisan Barat, sementara karya Said menyediakan alat kritis untuk membaca representasi semacam itu. Buku ini juga relevan bagi kajian metodologi, antropologi agama, dan sejarah intelektual Islam. Keterangan katalog ini disusun dari sampul dan halaman hak cipta eksemplar, dan dapat diperbarui setelah daftar isi diperiksa.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Contributor
Asep Hikmat (penerjemah)Achsin Mohammad (penyunting)A. Noe'man (kaligrafi sampul)
Edward W. Said, Asep Hikmat (penerjemah), Achsin Mohammad (penyunting), A. Noe'man (kaligrafi sampul), “Orientalisme”, Penerbit Pustaka, Bandung, Cetakan III, 1417 H / 1996 M (Cetakan I 1404 H / 1984 M; Cetakan II 1415 H / 1994 M). Diterjemahkan dari Orientalism karya Edward W. Said, terbitan Vintage Books, New York, 1979; hak cipta Edward W. Said (1978). Penerjemah Asep Hikmat; penyunting Achsin Mohammad. Penerbit Pustaka, Jalan PHH Mustapa No. 121, Bandung 40125. Sampul: kaligrafi Laisu sawa'an, min ahlil kitabi ummatun (QS Ali 'Imran 3:113) oleh A. Noe'man., 1996. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-1996-0003.