Buku

Jembatan Air Mata: Tragedi Manusia Pengungsi Timor Timur

Galang Press, Yogyakarta; bekerja sama dengan Jesuit Refugee Service (JRS) · Cetakan Pertama, Galang Press, April 2003; xlv + 261 halaman; 130 × 190 mm; ISBN 979-9341-67-1. Editor Sindhunata; desain sampul Hari Budiono; setting cover Sri Kuncara; foto isi AA Kunto A; setting/layout Lailia Rachmani. Hak cipta 2003 milik JRS dan Galang Press. Dicetak Galang Offset, Yogyakarta; distributor tunggal PT Agromedia Pustaka, Jakarta. · 2003

Ringkasan

Bunga rampai kesaksian dan refleksi tentang pengungsi Timor Timur di Timor Barat setelah jajak pendapat 1999, disunting Sindhunata dan diterbitkan Galang Press, Yogyakarta, bersama Jesuit Refugee Service (JRS) pada April 2003. Judulnya, Jembatan Air Mata, menggambarkan posisi para pengungsi yang terjebak di antara dua negara, dua kesetiaan, dan dua masa depan. Buku ini memuat foto-foto karya AA Kunto A dan merekam pengalaman kemanusiaan yang sering luput dari pembahasan politik tentang lepasnya Timor Timur dari Indonesia.

Nomor inventaris
KBA-BKU-2003-0002
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Galang Press, Yogyakarta; bekerja sama dengan Jesuit Refugee Service (JRS)
Tanggal terbit
2003
Edisi dan halaman
Cetakan Pertama, Galang Press, April 2003; xlv + 261 halaman; 130 × 190 mm; ISBN 979-9341-67-1. Editor Sindhunata; desain sampul Hari Budiono; setting cover Sri Kuncara; foto isi AA Kunto A; setting/layout Lailia Rachmani. Hak cipta 2003 milik JRS dan Galang Press. Dicetak Galang Offset, Yogyakarta; distributor tunggal PT Agromedia Pustaka, Jakarta.
Klasifikasi LC
DS649.6 — Timor Timur: sejarah sejak 1999
Subjek LCSH
Refugees -- Indonesia -- Nusa Tenggara Timur; Refugees -- Timor-Leste; Timor-Leste -- History -- Autonomy and independence movements; Humanitarian assistance -- Indonesia
Kategori BISAC
SOC055000 SOCIAL SCIENCE / Refugees
Tempat
Timor Barat Timor-Leste Nusa Tenggara Timur Atambua Kupang
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Jembatan Air Mata: Tragedi Manusia Pengungsi Timor Timur adalah buku yang disunting oleh Sindhunata dan diterbitkan Galang Press di Yogyakarta pada April 2003, dengan hak cipta bersama Jesuit Refugee Service (JRS) dan Galang Press. Sindhunata adalah imam Yesuit, wartawan, sastrawan, dan pemimpin redaksi majalah kebudayaan Basis yang dikenal luas melalui esai-esai kemanusiaan dan karya sastranya. JRS adalah lembaga kemanusiaan Serikat Yesus yang didirikan pada 1980 untuk mendampingi, melayani, dan membela pengungsi di berbagai belahan dunia. Kerja sama keduanya menghasilkan buku yang memadukan kepekaan sastra dengan pengalaman langsung pendampingan di lapangan. Latar belakang buku ini adalah salah satu krisis kemanusiaan terbesar dalam sejarah Indonesia pascakemerdekaan. Pada 30 Agustus 1999, rakyat Timor Timur memberikan suara dalam jajak pendapat yang diselenggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan mayoritas besar memilih menolak otonomi khusus dalam Indonesia, yang berarti memilih merdeka. Pengumuman hasil itu disusul gelombang kekerasan, pembakaran, dan pemindahan penduduk secara besar-besaran. Ratusan ribu orang mengungsi atau dipindahkan ke Timor Barat, wilayah Nusa Tenggara Timur, terutama ke daerah perbatasan seperti Atambua dan Belu serta ke sekitar Kupang. Sebagian kemudian kembali ke Timor Timur yang menjadi negara merdeka Timor-Leste pada 2002, tetapi puluhan ribu lainnya bertahan di kamp-kamp pengungsian di Timor Barat selama bertahun-tahun. Judul Jembatan Air Mata menangkap posisi para pengungsi itu dengan sangat tepat. Mereka berada di antara dua tanah air, dua negara, dan dua kesetiaan politik. Sebagian adalah pendukung integrasi dengan Indonesia yang takut kembali, sebagian adalah warga biasa yang terbawa arus pemindahan, dan sebagian lagi adalah keluarga yang terpisah satu sama lain oleh garis perbatasan baru. Kehidupan di kamp ditandai keterbatasan air bersih, pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan, serta ketegangan dengan penduduk setempat. Peristiwa tragis seperti pembunuhan tiga staf UNHCR di Atambua pada September 2000 membuat sebagian besar lembaga internasional menarik diri, sehingga pendampingan oleh lembaga keagamaan dan lokal menjadi semakin penting. Buku ini, sesuai subjudulnya, menempatkan pengungsi sebagai manusia, bukan sekadar angka atau objek perdebatan politik. Halaman hak cipta mencatat adanya foto isi karya AA Kunto A, yang menunjukkan bahwa buku ini juga mengandalkan kekuatan visual untuk menghadirkan wajah dan suasana kehidupan pengungsi. Bagian pendahuluannya yang cukup panjang, ditandai dengan halaman romawi hingga xlv, mengisyaratkan adanya pengantar dan refleksi yang luas sebelum isi utama. Rincian isi bab belum diperiksa untuk katalog ini, sehingga uraian tentang isinya masih bersifat umum berdasarkan judul, sampul, dan data penerbitan. Sampul buku menampilkan lukisan wajah manusia yang mengintip dari balik bilah-bilah kayu yang retak, dengan bendera Timor-Leste di sisi kiri. Mata yang menatap dari celah papan itu menyiratkan ketakutan, kewaspadaan, dan harapan sekaligus, sementara bilah-bilah kayu dapat dibaca sebagai dinding gubuk pengungsian, pagar perbatasan, atau penghalang yang memisahkan manusia dari masa depannya. Desain sampul dibuat oleh Hari Budiono. Komposisi ini menjadikan sampul sebagai pernyataan moral, bukan sekadar hiasan. Bagi studi tentang konflik dan perdamaian di Indonesia, buku ini memiliki relevansi yang luas. Pengalaman Timor Timur sering dibandingkan dengan Aceh dan Papua sebagai wilayah yang hubungannya dengan negara Indonesia ditandai konflik bersenjata, pelanggaran hak asasi manusia, dan tuntutan penentuan nasib sendiri. Pada tahun-tahun yang sama ketika buku ini terbit, Aceh juga sedang mengalami pengungsian besar-besaran akibat operasi militer, terutama setelah pemberlakuan darurat militer pada Mei 2003. Membaca Jembatan Air Mata dapat membantu memahami dimensi kemanusiaan dari setiap konflik semacam itu, yaitu penderitaan warga sipil yang terjebak di antara kepentingan negara dan gerakan politik. Buku ini juga penting sebagai dokumen tentang peran lembaga keagamaan dalam kerja kemanusiaan. Keterlibatan JRS dan jaringan Gereja Katolik di Nusa Tenggara Timur memperlihatkan bagaimana institusi agama dapat menjadi pendamping yang bertahan ketika lembaga internasional menarik diri. Bagi pengkaji antropologi agama, hal ini membuka pertanyaan tentang hubungan antara iman, solidaritas, dan pelayanan lintas batas politik. Eksemplar dalam koleksi ini bersampul lunak dengan bagian sampul yang agak kusam, bernoda, dan berlabel perpustakaan di sisi kiri yang menutupi sebagian huruf awal subjudul. Citra yang ditampilkan di sini telah diluruskan, dipotong dari latar foto, dan diperbaiki warna serta ketajamannya tanpa menghapus tanda-tanda pemakaian tersebut. Dari sudut metodologi, buku seperti Jembatan Air Mata menunjukkan nilai penting kesaksian dalam penulisan sejarah kontemporer. Ketika arsip resmi tentang suatu krisis masih tertutup atau tersebar, kesaksian para korban, relawan, dan pendamping menjadi sumber utama untuk memahami apa yang sebenarnya dialami manusia di lapangan. Kesaksian tentu memiliki keterbatasan, karena dibentuk oleh ingatan, posisi, dan kepentingan penuturnya, tetapi justru karena itu ia memperkaya gambaran yang selama ini didominasi oleh sudut pandang negara dan lembaga internasional. Persoalan pengungsi Timor Timur di Timor Barat juga tidak berakhir ketika perhatian media mereda. Sebagian bekas pengungsi memilih menetap di Nusa Tenggara Timur dan menjadi warga negara Indonesia, dengan berbagai persoalan lanjutan tentang tanah, pekerjaan, dan integrasi sosial. Buku ini, yang terbit pada masa ketika ribuan orang masih hidup di kamp-kamp, merekam fase penting dalam perjalanan panjang tersebut. Sebagai bagian dari koleksi pribadi yang kini dibuka untuk publik, eksemplar ini juga memiliki nilai sebagai benda sejarah. Label perpustakaan, tanda pemakaian, dan jejak usia pada sampulnya memperlihatkan bahwa buku ini pernah dibaca, dipinjam, dan dirujuk dalam kerja akademik. Bagi pengguna arsip yang menekuni konflik Timor Timur dan isu pengungsi, entri ini dapat menjadi titik awal penelusuran, dan pembaca dianjurkan untuk menghubungkannya dengan kliping dan majalah tentang Timor Timur dalam koleksi agar memperoleh gambaran yang lebih utuh. Arsip ini juga terbuka bagi pembaca yang ingin menyumbangkan informasi tambahan tentang edisi, cetakan, atau isi buku ini melalui kontak yang tersedia di situs. Dalam pengajaran, buku ini dapat dipakai pada mata kuliah tentang hak asasi manusia, studi perdamaian, dan antropologi bencana atau krisis kemanusiaan. Mahasiswa dapat diajak membandingkan cara buku ini menghadirkan pengungsi dengan cara laporan resmi pemerintah dan lembaga internasional menggambarkan peristiwa yang sama, sehingga mereka belajar membaca sumber secara kritis dan memahami bahwa setiap narasi lahir dari posisi tertentu. Dalam klasifikasi Library of Congress, buku ini ditempatkan pada DS649.6 untuk sejarah Timor Timur sejak 1999, dengan tajuk subjek Refugees -- Indonesia -- Nusa Tenggara Timur, Refugees -- Timor-Leste, Timor-Leste -- History -- Autonomy and independence movements, serta Humanitarian assistance -- Indonesia. Dalam sistem BISAC, buku ini dikelompokkan ke SOC055000, Social Science / Refugees. Di dalam Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini melengkapi koleksi tentang konflik, kekerasan, dan kemanusiaan di Indonesia, dan dapat dibaca berdampingan dengan karya-karya tentang konflik Aceh, termasuk novel Lampuki karya Arafat Nur yang juga ada dalam koleksi. Keduanya, dari jalur yang berbeda, satu melalui kesaksian dan yang lain melalui fiksi, merekam bagaimana konflik politik meninggalkan luka mendalam pada kehidupan manusia biasa. Keterangan katalog ini disusun dari sampul dan halaman hak cipta eksemplar, serta latar sejarah yang terdokumentasi luas, dan dapat diperbarui setelah daftar isi diperiksa.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Contributor
Sindhunata (editor) Hari Budiono (desain sampul) AA Kunto A (foto isi)
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Sindhunata (editor), Hari Budiono (desain sampul), AA Kunto A (foto isi) (ed.), “Jembatan Air Mata: Tragedi Manusia Pengungsi Timor Timur”, Galang Press, Yogyakarta; bekerja sama dengan Jesuit Refugee Service (JRS), Cetakan Pertama, Galang Press, April 2003; xlv + 261 halaman; 130 × 190 mm; ISBN 979-9341-67-1. Editor Sindhunata; desain sampul Hari Budiono; setting cover Sri Kuncara; foto isi AA Kunto A; setting/layout Lailia Rachmani. Hak cipta 2003 milik JRS dan Galang Press. Dicetak Galang Offset, Yogyakarta; distributor tunggal PT Agromedia Pustaka, Jakarta., 2003. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2003-0002.