Buku

328 Para Battalion: The Untold Stories of Indonesian Legendary Paratroopers

PT Elex Media Komputindo (Kelompok Gramedia), Jakarta · Hak cipta 2015 Batalyon 328; diterbitkan pertama kali oleh PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, Jakarta; kode penerbit 234150819; ISBN 978-602-02-6355-7. Art grafis A. Subandi. Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta. Moto pada sampul: setia – perkasa – rendah hati. · 2015

Ringkasan

Buku sejarah satuan tentang Batalyon 328, satuan infanteri lintas udara (para) TNI Angkatan Darat, yang hak ciptanya dipegang oleh batalyon itu sendiri dan diterbitkan Elex Media Komputindo pada 2015. Dengan judul berbahasa Inggris The Untold Stories of Indonesian Legendary Paratroopers dan moto setia, perkasa, rendah hati, buku ini menghimpun kisah-kisah perjalanan satuan dan para prajuritnya. Sebagai sejarah yang disusun dari dalam institusi militer, buku ini berguna sebagai sumber tentang identitas, ingatan, dan citra diri satuan, dan perlu dibaca bersama sumber-sumber independen.

Nomor inventaris
KBA-BKU-2015-0002
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
PT Elex Media Komputindo (Kelompok Gramedia), Jakarta
Tanggal terbit
2015
Edisi dan halaman
Hak cipta 2015 Batalyon 328; diterbitkan pertama kali oleh PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, Jakarta; kode penerbit 234150819; ISBN 978-602-02-6355-7. Art grafis A. Subandi. Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta. Moto pada sampul: setia – perkasa – rendah hati.
Penulis
Batalyon 328
Klasifikasi LC
UA853.I5 — Angkatan bersenjata Indonesia
Subjek LCSH
Indonesia. Tentara Nasional Indonesia. Angkatan Darat -- History; Paratroops -- Indonesia; Military history -- Indonesia
Kategori BISAC
HIS027000 HISTORY / Military / General
Tempat
Indonesia Jawa Barat
Bahasa
Indonesia
Keterangan
328 Para Battalion: The Untold Stories of Indonesian Legendary Paratroopers adalah buku sejarah satuan tentang Batalyon 328, salah satu batalyon infanteri lintas udara di lingkungan TNI Angkatan Darat. Halaman hak cipta mencatat bahwa hak cipta buku ini dipegang oleh Batalyon 328 sejak 2015, bahwa karya grafisnya dikerjakan oleh A. Subandi, dan bahwa buku ini diterbitkan pertama kali oleh PT Elex Media Komputindo, bagian dari Kelompok Gramedia di Jakarta, dengan nomor ISBN 978-602-02-6355-7. Dengan demikian, buku ini dapat digolongkan sebagai sejarah resmi atau semi-resmi satuan, yaitu narasi yang disusun dari dalam institusi tentang perjalanan dan jati dirinya sendiri. Batalyon 328 memiliki sejarah panjang dalam TNI Angkatan Darat. Kajian akademik tentang satuan ini, misalnya penelitian di Universitas Pendidikan Indonesia tentang peran Batalyon Infanteri 328 dalam penumpasan pemberontakan di Indonesia pada 1958 hingga 1969, menunjukkan bahwa batalyon ini terlibat dalam berbagai operasi militer pada masa awal Republik, ketika negara menghadapi pergolakan daerah dan gerakan bersenjata. Dalam perkembangannya, satuan ini menjadi bagian dari pasukan lintas udara yang dikenal dengan kemampuan terjun payung dan mobilitas tinggi. Rincian sejarah satuan dalam buku ini belum diperiksa untuk katalog ini, sehingga uraian di sini bertumpu pada data penerbitan, sampul, dan rujukan umum. Sampul buku dirancang dengan nuansa hitam putih yang dramatis. Angka 328 dan kata PARA tercetak besar dalam huruf stensil putih, disertai lambang brevet terjun payung berwarna emas berupa sayap dan parasut, lalu kata BATTALION dengan huruf berjarak lebar. Di bagian bawah tampak foto prajurit berhelm taktis dan berseragam loreng dengan bedge TNI-AD yang membidikkan senjata, dengan siluet prajurit lain di belakangnya. Moto setia, perkasa, rendah hati tercetak di bagian paling bawah. Desain ini menampilkan citra satuan elite yang disiplin dan siap tempur, sekaligus menekankan nilai kerendahan hati sebagai bagian dari etos keprajuritan. Pilihan judul berbahasa Inggris patut dicatat. The Untold Stories of Indonesian Legendary Paratroopers menandakan keinginan untuk menghadirkan kisah satuan kepada khalayak yang lebih luas dan untuk menempatkan Batalyon 328 dalam tradisi pasukan lintas udara dunia. Pada saat yang sama, halaman hak cipta, moto, dan penerbitnya menunjukkan bahwa buku ini ditujukan terutama kepada pembaca Indonesia. Bagi peneliti, buku seperti ini memiliki nilai yang khas. Sejarah satuan memberikan akses pada ingatan kolektif institusi militer, termasuk cara satuan memaknai operasi-operasi yang pernah dijalankan, nilai-nilai yang dijunjung, tokoh-tokoh yang dihormati, dan tradisi yang diwariskan. Namun, sejarah yang disusun dari dalam institusi juga cenderung menonjolkan keberhasilan dan kepahlawanan, serta dapat mengabaikan perspektif warga sipil atau pihak lain yang terlibat dalam peristiwa yang sama. Karena itu, buku ini paling bermanfaat bila dibaca secara kritis dan dibandingkan dengan sumber-sumber independen, laporan hak asasi manusia, dan kesaksian masyarakat. Relevansi buku ini bagi kajian Aceh dan wilayah konflik lain di Indonesia cukup jelas. Satuan-satuan TNI Angkatan Darat, termasuk pasukan lintas udara, kerap dikerahkan dalam operasi di daerah konflik seperti Timor Timur, Aceh, dan Papua. Memahami cara satuan militer menarasikan pengalaman mereka sendiri penting bagi siapa saja yang mengkaji konflik, perdamaian, dan reformasi sektor keamanan. Narasi militer dapat dibandingkan dengan narasi gerakan perlawanan, korban, dan masyarakat sipil untuk membangun pemahaman yang lebih utuh tentang sejarah kekerasan dan rekonsiliasi. Buku ini juga dapat dipakai dalam kajian hubungan sipil-militer dan budaya organisasi militer di Indonesia setelah Reformasi. Penerbitan sejarah satuan oleh penerbit umum besar seperti Elex Media menunjukkan upaya institusi militer untuk membangun citra publik dan berkomunikasi dengan masyarakat luas melalui media populer. Fenomena ini dapat dibaca dalam kerangka profesionalisasi militer dan perubahan relasi antara TNI dan publik sejak dihapuskannya dwifungsi ABRI. Eksemplar dalam koleksi ini masih terbungkus plastik pelindung yang memantulkan cahaya, sehingga sebagian sampul tampak berkilau, dan label perpustakaan menempel di sisi kiri. Citra yang ditampilkan di sini telah diluruskan, dipotong dari latar foto, dan diperbaiki kontras serta ketajamannya, tanpa menghapus pantulan plastik secara buatan. Dari sudut sejarah militer Indonesia, pasukan lintas udara memiliki tempat yang istimewa. Sejak masa revolusi, ketika penerjunan pertama dilakukan di Kalimantan pada 1947, kemampuan terjun payung menjadi lambang keberanian dan profesionalisme dalam tradisi Angkatan Darat. Satuan-satuan para kemudian dikembangkan dalam lingkungan Kostrad dan Kopassus, dan lambang brevet terjun payung, seperti yang tampak pada sampul buku ini, menjadi tanda kehormatan yang dibanggakan para prajurit. Buku ini juga dapat dibaca sebagai bagian dari tradisi penulisan sejarah satuan yang lazim dalam institusi militer di banyak negara. Sejarah semacam ini biasanya berfungsi untuk menanamkan nilai, membangun kebanggaan korps, dan menjaga kesinambungan ingatan antargenerasi prajurit. Bagi peneliti luar, tradisi ini menjadi jendela untuk memahami bagaimana institusi militer membentuk identitas anggotanya, sekaligus bagaimana mereka memaknai peran mereka dalam sejarah bangsa. Moto setia, perkasa, rendah hati pada sampul merangkum nilai-nilai tersebut dalam tiga kata. Sebagai bagian dari koleksi pribadi yang kini dibuka untuk publik, eksemplar ini juga memiliki nilai sebagai benda sejarah. Label perpustakaan, tanda pemakaian, dan jejak usia pada sampulnya memperlihatkan bahwa buku ini pernah dibaca, dipinjam, dan dirujuk dalam kerja akademik. Bagi pengguna arsip yang menekuni sejarah militer dan keamanan Indonesia, entri ini dapat menjadi titik awal penelusuran, dan pembaca dianjurkan untuk menghubungkannya dengan kliping tentang angkatan bersenjata dan konflik dalam koleksi agar memperoleh gambaran yang lebih utuh. Arsip ini juga terbuka bagi pembaca yang ingin menyumbangkan informasi tambahan tentang edisi, cetakan, atau isi buku ini melalui kontak yang tersedia di situs. Dalam pengajaran, buku ini dapat dipakai pada mata kuliah tentang sejarah militer, studi keamanan, dan politik Indonesia, terutama untuk melatih mahasiswa membaca sumber institusional secara kritis. Mahasiswa dapat diajak menelusuri bagaimana sebuah satuan memilih peristiwa yang ditonjolkan, bahasa yang dipakai untuk menggambarkan lawan, serta nilai-nilai yang ditanamkan kepada pembaca, lalu membandingkannya dengan sumber lain tentang peristiwa yang sama. Dalam klasifikasi Library of Congress, buku ini ditempatkan pada UA853.I5 untuk angkatan bersenjata Indonesia, dengan tajuk subjek Indonesia. Tentara Nasional Indonesia. Angkatan Darat -- History, Paratroops -- Indonesia, serta Military history -- Indonesia. Dalam sistem BISAC, buku ini dikelompokkan ke HIS027000, History / Military / General. Di dalam Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini melengkapi koleksi tentang militer dan keamanan, termasuk kliping tentang angkatan bersenjata di Asia Tenggara, dan dapat dibaca berdampingan dengan karya-karya tentang konflik Aceh dan Timor Timur dalam koleksi. Pembacaan bersama semacam itu membantu menempatkan suara institusi militer di samping suara masyarakat yang mengalami konflik secara langsung. Keterangan katalog ini disusun dari sampul dan halaman hak cipta eksemplar serta rujukan umum, dan dapat diperbarui setelah daftar isi dan isi buku diperiksa.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Contributor
A. Subandi (art grafis)
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Batalyon 328, A. Subandi (art grafis), “328 Para Battalion: The Untold Stories of Indonesian Legendary Paratroopers”, PT Elex Media Komputindo (Kelompok Gramedia), Jakarta, Hak cipta 2015 Batalyon 328; diterbitkan pertama kali oleh PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, Jakarta; kode penerbit 234150819; ISBN 978-602-02-6355-7. Art grafis A. Subandi. Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta. Moto pada sampul: setia – perkasa – rendah hati., 2015. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2015-0002.