Pemujaan terhadap Kelompok Etnis: Identitas Kelompok dan Perubahan Politik
Oleh Harold R. Isaacs, Lucian W. Pye (prakata), Canisyus Maran (alih bahasa)
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta · Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1993 (seri Buku Obor). Alih bahasa Canisyus Maran; prakata Lucian W. Pye. Terjemahan dari Idols of the Tribe: Group Identity and Political Change (New York: Harper & Row, 1975). · 1993
Ringkasan
Terjemahan Indonesia atas Idols of the Tribe: Group Identity and Political Change (1975) karya Harold R. Isaacs (1910–1986), wartawan dan ilmuwan politik Massachusetts Institute of Technology, dengan prakata Lucian W. Pye dan alih bahasa oleh Canisyus Maran, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1993. Isaacs berargumen bahwa identitas kelompok dasar, yang dibentuk oleh tubuh, nama, bahasa, agama, sejarah, dan asal-usul, tidak memudar oleh modernisasi, tetapi justru menguat dan menjadi kekuatan politik yang menentukan pada masa pasca-Perang Dunia Kedua.
- Nomor inventaris
- KBA-BKU-1993-0001
- Jenis dokumen
- Buku
- Sumber terbitan
- Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
- Tanggal terbit
- 1993
- Edisi dan halaman
- Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1993 (seri Buku Obor). Alih bahasa Canisyus Maran; prakata Lucian W. Pye. Terjemahan dari Idols of the Tribe: Group Identity and Political Change (New York: Harper & Row, 1975).
- Penulis
- Harold R. Isaacs
- Subjek
- Etnisitas Identitas kelompok Nasionalisme Primordialisme Perubahan politik Konflik etnis Antropologi politik Harold R. Isaacs
- Klasifikasi LC
- GN495.6 — Etnisitas; identitas kelompok
- Subjek LCSH
- Ethnicity; Group identity; Nationalism; Political science
- Kategori BISAC
- SOC008000 SOCIAL SCIENCE / Ethnic Studies / General
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Pemujaan terhadap Kelompok Etnis: Identitas Kelompok dan Perubahan Politik adalah terjemahan bahasa Indonesia atas Idols of the Tribe: Group Identity and Political Change, karya Harold R. Isaacs yang terbit di New York pada 1975. Isaacs lahir pada 1910 dan wafat pada 1986. Ia memulai kariernya sebagai wartawan di Tiongkok pada 1930-an, menulis kajian terkenal tentang revolusi Tiongkok, lalu menjadi profesor ilmu politik di Massachusetts Institute of Technology. Pengalamannya menyaksikan dekolonisasi Asia dan Afrika serta gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat membentuk minatnya pada persoalan identitas kelompok. Edisi Indonesia ini diterbitkan Yayasan Obor Indonesia di Jakarta pada 1993, dialihbahasakan oleh Canisyus Maran, dan diberi prakata oleh Lucian W. Pye, kolega Isaacs di MIT yang terkenal melalui kajiannya tentang budaya politik Asia. Tesis utama buku ini menentang keyakinan yang luas di kalangan ilmuwan sosial pertengahan abad kedua puluh, yaitu bahwa modernisasi, urbanisasi, dan pendidikan akan melarutkan ikatan-ikatan primordial dan menggantinya dengan identitas kewargaan yang rasional. Isaacs mengamati yang terjadi justru sebaliknya. Setelah runtuhnya imperium kolonial dan di tengah perubahan sosial yang cepat, manusia di berbagai belahan dunia kembali berpegang pada identitas kelompok dasar mereka. Ia menyebutnya basic group identity, yaitu identitas yang diperoleh seseorang sejak lahir dan membentuk rasa memiliki serta rasa aman. Isaacs mengurai unsur-unsur yang membentuk identitas dasar ini satu per satu: tubuh dan ciri fisik, nama, bahasa, agama, sejarah dan asal-usul, kebangsaan, serta tanah kelahiran. Dengan contoh-contoh dari berbagai masyarakat di Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa, ia menunjukkan bagaimana setiap unsur itu dapat menjadi penanda batas antara kita dan mereka, dan bagaimana batas-batas itu dapat dimobilisasi untuk kepentingan politik. Judul aslinya, Idols of the Tribe, meminjam ungkapan Francis Bacon tentang berhala-berhala yang menyesatkan akal manusia, sehingga mengisyaratkan bahwa keterikatan pada kelompok dapat memberi makna sekaligus membutakan. Prakata Lucian W. Pye menempatkan buku ini dalam perdebatan ilmu politik tentang pembangunan dan modernisasi. Pye sendiri adalah tokoh penting dalam kajian budaya politik dan pembangunan politik di Asia, sehingga prakatanya memberi bobot akademik tambahan. Penerbitan terjemahan oleh Yayasan Obor Indonesia juga patut dicatat. Yayasan ini dikenal menerbitkan terjemahan karya-karya ilmu sosial dan humaniora penting dunia untuk pembaca Indonesia, dan banyak terbitannya menjadi bacaan wajib di perguruan tinggi. Konteks terbitnya edisi Indonesia pada 1993 memberi makna khusus. Orde Baru pada masa itu menekan pembicaraan terbuka tentang suku, agama, ras, dan antargolongan, yang dikenal dengan singkatan SARA, dengan alasan menjaga persatuan. Kehadiran buku yang membahas identitas kelompok secara jujur dan akademik membuka ruang bagi pembaca Indonesia untuk memahami bahwa persoalan etnisitas tidak dapat diselesaikan hanya dengan larangan. Beberapa tahun kemudian, setelah 1998, Indonesia mengalami gelombang konflik bernuansa etnis dan agama di berbagai daerah, yang membuat tesis Isaacs terasa sangat relevan. Bagi kajian tentang Aceh, buku ini menyediakan kerangka penting. Identitas keacehan, yang dibentuk oleh bahasa, sejarah kesultanan, agama Islam, dan pengalaman perlawanan, menjadi salah satu sumber mobilisasi politik dalam konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dan pemerintah Indonesia. Kerangka Isaacs membantu menjelaskan mengapa identitas semacam itu tidak luntur oleh pembangunan, tetapi justru menguat ketika masyarakat merasa terancam atau diperlakukan tidak adil. Buku ini juga relevan bagi kajian tentang diaspora, nasionalisme, dan hubungan antarkelompok di Asia Tenggara. Tentu saja, pendekatan Isaacs juga mendapat kritik. Para ahli yang menekankan pandangan konstruktivis berargumen bahwa identitas etnis bukanlah sesuatu yang diberikan sejak lahir, melainkan dibentuk dan dibentuk ulang oleh sejarah, kekuasaan, dan strategi politik. Perdebatan antara pandangan primordialis dan konstruktivis inilah yang menjadikan buku ini tetap penting dibaca, sebagai salah satu rumusan klasik dari sisi yang menekankan kekuatan ikatan dasar. Eksemplar dalam koleksi ini bersampul lunak dengan motif daun pakis biru tua di atas latar biru, judul dalam huruf putih besar, dan logo Buku Obor di kiri atas. Terdapat coretan tanda tangan dengan tinta biru di dekat nama pemberi prakata, bintik-bintik noda, serta label perpustakaan di sisi kiri. Citra yang ditampilkan di sini telah diluruskan, dipotong dari latar foto, dan diperbaiki warna serta ketajamannya tanpa menghapus tanda-tanda tersebut. Buku ini juga dapat dibaca dalam dialog dengan karya-karya klasik lain tentang etnisitas dan nasionalisme. Clifford Geertz, dalam esainya tentang revolusi integratif di negara-negara baru, juga menyoroti kuatnya ikatan primordial dalam masyarakat pascakolonial, termasuk Indonesia. Sementara itu, Benedict Anderson dalam Imagined Communities menekankan bahwa bangsa adalah komunitas yang dibayangkan, dibentuk oleh kapitalisme cetak dan pengalaman administratif kolonial. Fredrik Barth menekankan bahwa yang penting dalam etnisitas adalah batas-batas kelompok, bukan isi budayanya. Menempatkan Isaacs di antara para pemikir ini membantu pembaca memahami spektrum perdebatan tentang identitas dalam ilmu sosial. Bagi pengajaran di perguruan tinggi Indonesia, terjemahan ini memudahkan mahasiswa mengakses salah satu teks dasar dalam kajian etnisitas tanpa hambatan bahasa. Banyak skripsi, tesis, dan disertasi tentang konflik etnis, identitas daerah, dan politik identitas di Indonesia merujuk pada buku ini, sehingga ia menjadi bagian penting dari sejarah pengajaran ilmu sosial di Indonesia. Sebagai bagian dari koleksi pribadi yang kini dibuka untuk publik, eksemplar ini juga memiliki nilai sebagai benda sejarah. Label perpustakaan, tanda pemakaian, dan jejak usia pada sampulnya memperlihatkan bahwa buku ini pernah dibaca, dipinjam, dan dirujuk dalam kerja akademik. Bagi pengguna arsip yang menekuni etnisitas dan politik identitas, entri ini dapat menjadi titik awal penelusuran, dan pembaca dianjurkan untuk menghubungkannya dengan karya-karya antropologi dan studi konflik lain dalam koleksi agar memperoleh gambaran yang lebih utuh. Arsip ini juga terbuka bagi pembaca yang ingin menyumbangkan informasi tambahan tentang edisi, cetakan, atau isi buku ini melalui kontak yang tersedia di situs. Dalam pengajaran, buku ini cocok dipakai pada mata kuliah antropologi politik, sosiologi etnisitas, dan studi konflik. Bab-babnya yang membahas satu per satu unsur identitas dasar memudahkan mahasiswa menganalisis kasus konkret di sekitar mereka, misalnya peran bahasa daerah, nama, atau agama dalam pembentukan batas kelompok di Indonesia. Dalam klasifikasi Library of Congress, buku ini ditempatkan pada GN495.6 untuk etnisitas dan identitas kelompok, dengan tajuk subjek Ethnicity, Group identity, Nationalism, serta Political science. Dalam sistem BISAC, buku ini dikelompokkan ke SOC008000, Social Science / Ethnic Studies / General. Di dalam Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini dapat dibaca bersama An Introduction to Theory in Anthropology karya Robert Layton dan karya-karya antropologi lain dalam koleksi, serta bersama buku-buku tentang konflik Aceh dan Timor Timur. Keterangan katalog ini disusun dari sampul dan halaman judul eksemplar serta rujukan bibliografis umum tentang edisi aslinya, dan dapat diperbarui setelah halaman hak cipta dan daftar isi diperiksa.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Contributor
- Lucian W. Pye (prakata) Canisyus Maran (alih bahasa)
- Koleksi
- Buku
Cara mengutip
Harold R. Isaacs, Lucian W. Pye (prakata), Canisyus Maran (alih bahasa), “Pemujaan terhadap Kelompok Etnis: Identitas Kelompok dan Perubahan Politik”, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1993 (seri Buku Obor). Alih bahasa Canisyus Maran; prakata Lucian W. Pye. Terjemahan dari Idols of the Tribe: Group Identity and Political Change (New York: Harper & Row, 1975)., 1993. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-1993-0001.