Buku

The Future Is Asian: Global Order in the Twenty-first Century

Simon & Schuster, New York (penerbit edisi pertama, 2019, dengan anak judul Commerce, Conflict, and Culture in the 21st Century; edisi Inggris oleh Weidenfeld & Nicolson, London, 2019; edisi eksemplar ini belum diperiksa) · Pada sampul depan terlihat judul The Future Is Asian, anak judul Global Order in the Twenty-first Century, nama Parag Khanna, kutipan "A foreign policy whiz kid" dari New York Times Book Review, serta peta dunia bertitik dengan Asia disorot warna oranye dan merah. Eksemplar ini bersampul lunak (paperback) dan memiliki label perpustakaan di sisi kiri sampul. Anak judul sesuai dengan edisi Inggris Weidenfeld & Nicolson (London, 2019); edisi Amerika terbit pada 2019 oleh Simon & Schuster dengan anak judul berbeda. Penerbit, tahun cetak, ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diverifikasi. · 2019

Ringkasan

Parag Khanna berargumen bahwa abad ke-21 akan banyak dibentuk oleh Asia, dipahami sebagai sistem jejaring perdagangan, investasi, infrastruktur, migrasi, dan diplomasi yang membentang dari Teluk dan Turki hingga Jepang dan Australia. Asia yang ia gambarkan bersifat multipolar dan tidak identik dengan Tiongkok, sehingga dominasi tunggal satu kekuatan dinilainya mustahil. Melalui sepuluh bab, buku ini menyajikan sejarah dunia dari sudut pandang Asia, menguraikan reintegrasi kawasan melalui infrastruktur seperti Belt and Road Initiative, gelombang pertumbuhan ekonomi dari Jepang hingga Asia Tenggara, hubungan Asia dengan Amerika, Eropa, dan Afrika, serta tesis kontroversial tentang keunggulan teknokrasi ala Singapura. Edisi Amerika terbit pada 2019 oleh Simon & Schuster dan edisi Inggris oleh Weidenfeld & Nicolson. Bagi ASEAN dan Indonesia, buku ini penting karena menempatkan Asia Tenggara sebagai motor pertumbuhan baru dan sejalan dengan gagasan sentralitas ASEAN serta politik luar negeri bebas aktif.

Nomor inventaris
KBA-BKU-2019-0004
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Simon & Schuster, New York (penerbit edisi pertama, 2019, dengan anak judul Commerce, Conflict, and Culture in the 21st Century; edisi Inggris oleh Weidenfeld & Nicolson, London, 2019; edisi eksemplar ini belum diperiksa)
Tanggal terbit
2019
Edisi dan halaman
Pada sampul depan terlihat judul The Future Is Asian, anak judul Global Order in the Twenty-first Century, nama Parag Khanna, kutipan "A foreign policy whiz kid" dari New York Times Book Review, serta peta dunia bertitik dengan Asia disorot warna oranye dan merah. Eksemplar ini bersampul lunak (paperback) dan memiliki label perpustakaan di sisi kiri sampul. Anak judul sesuai dengan edisi Inggris Weidenfeld & Nicolson (London, 2019); edisi Amerika terbit pada 2019 oleh Simon & Schuster dengan anak judul berbeda. Penerbit, tahun cetak, ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diverifikasi.
Penulis
Parag Khanna
Klasifikasi LC
HC412 — Sejarah dan kondisi ekonomi Asia
Subjek LCSH
Asia -- Economic conditions -- 21st century; Economic development -- Asia -- 21st century; Asia -- Economic integration; Asia -- Politics and government -- 21st century; Economic forecasting -- Asia
Kategori BISAC
POL011000 POLITICAL SCIENCE / International Relations / General; BUS069000 BUSINESS & ECONOMICS / Economics / General
Bahasa
Inggris
Keterangan
Parag Khanna adalah pakar strategi global dan penulis kelahiran India yang dibesarkan di Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, dan Jerman, dan sejak lama bermukim di Singapura. Ia meraih gelar sarjana dan magister dari Georgetown University serta gelar doktor dari London School of Economics. Ia pernah bekerja di New America Foundation dan Brookings Institution, menjadi peneliti senior di Centre on Asia and Globalisation, Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, dan kemudian mendirikan FutureMap, sebuah lembaga konsultasi strategi berbasis data dan skenario. Karya-karyanya terdahulu meliputi The Second World (2008), How to Run the World (2011), Connectography (2016), dan Technocracy in America (2017), sedangkan Move terbit pada 2021. Sampul eksemplar ini memuat kutipan dari New York Times Book Review yang menyebutnya sebagai seorang foreign policy whiz kid, julukan yang kerap dipakai dalam pemasaran buku-bukunya. Buku ini pertama kali terbit pada Februari 2019 di New York oleh Simon & Schuster dengan anak judul Commerce, Conflict, and Culture in the 21st Century, setebal sekitar 433 halaman lengkap dengan peta dan ilustrasi berwarna. Pada tahun yang sama Weidenfeld & Nicolson di London menerbitkan edisi Inggris dengan anak judul berbeda, Global Order in the Twenty-first Century. Anak judul pada sampul eksemplar ini sesuai dengan edisi Inggris, sehingga besar kemungkinan eksemplar ini adalah paperback Weidenfeld & Nicolson. Meskipun demikian, tahun cetak, ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diperiksa dari halaman hak cipta. Buku ini juga telah diterjemahkan ke sejumlah bahasa dan beredar luas di Asia. Tesis utama Khanna ialah bahwa dunia sedang memasuki fase ketika Asia, dipahami bukan sekadar sebagai benua melainkan sebagai sistem jejaring perdagangan, investasi, infrastruktur, migrasi, dan diplomasi yang membentang dari Teluk dan Turki hingga Jepang dan Australia, kembali menjadi pusat gravitasi tata dunia. Menurutnya, abad ke-19 adalah abad Eropa dan abad ke-20 adalah abad Amerika, sedangkan abad ke-21 akan banyak dibentuk oleh Asia. Ia menekankan bahwa Asia bukanlah sinonim dari Tiongkok. Asia yang ia gambarkan bersifat multipolar, terdiri atas puluhan negara dengan kekuatan dan kepentingan masing-masing, sehingga dominasi tunggal Beijing atas kawasan menurutnya tidak mungkin terwujud. Struktur buku dimulai dengan pendahuluan Asia First, lalu sepuluh bab dan sebuah epilog. Bab pertama menyajikan sejarah dunia dari sudut pandang Asia, dan bab kedua menarik pelajaran sejarah Asia bagi Asia dan dunia, termasuk pengalaman panjang jalur perdagangan dan pertukaran antarperadaban. Bab ketiga, The Return of Greater Asia, membahas reintegrasi kawasan melalui infrastruktur, energi, dan diplomasi, termasuk Belt and Road Initiative. Bab keempat, Asia-nomics, mengulas gelombang pertumbuhan ekonomi yang bergerak dari Jepang dan Korea Selatan, kemudian Tiongkok, dan kini ke Asia Selatan dan Asia Tenggara. Bab kelima dan keenam membahas hubungan Asia dengan Amerika dan Eropa, termasuk diaspora Asia di Amerika serta sikap Eropa yang menurut Khanna menyambut modal Asia tetapi belum sepenuhnya menyambut orang Asia. Bab ketujuh, The Return of Afroeurasia, menempatkan Asia dalam jaringan yang lebih luas dengan Afrika dan Eropa. Bab kedelapan, The New Pacific Partnership, membahas masa depan hubungan antara Asia dan Amerika Serikat di kawasan Pasifik. Bab kesembilan, Asia's Technocratic Future, menguraikan argumen yang paling diperdebatkan, yakni bahwa model pemerintahan teknokratis yang berorientasi hasil, sebagaimana dicontohkan Singapura, dapat lebih efektif dibanding demokrasi liberal versi Barat bagi banyak masyarakat Asia. Bab kesepuluh, Asia Goes Global, membahas penyebaran budaya, konsumsi, dan pengaruh Asia ke seluruh dunia sebagai bentuk perpaduan peradaban. Epilog merangkum pandangan Khanna tentang masa depan global Asia. Beberapa konsep kunci buku ini adalah asianisasi (Asianization), yaitu proses meningkatnya bobot Asia dalam ekonomi, politik, dan budaya dunia; Asia sebagai sistem regional yang terhubung; tata dunia multipolar; teknokrasi; serta konektivitas, konsep yang telah ia kembangkan dalam Connectography. Khanna juga menekankan gagasan bahwa negara-negara Asia lebih mengutamakan kedaulatan, stabilitas, dan pembangunan ekonomi daripada aliansi ideologis, sehingga mereka cenderung bersikap pragmatis terhadap Amerika Serikat maupun Tiongkok. Buku ini kaya akan peta, data, dan sketsa kunjungan lapangan, sesuai dengan gaya penulisannya yang memadukan analisis geopolitik dan narasi perjalanan. Penerimaan terhadap buku ini beragam. Sebagian pengulas memuji cakupannya yang luas, kejernihan argumennya, dan keberaniannya menantang pandangan yang berpusat pada Barat. Kirkus Reviews, misalnya, menilainya elegan dan menggugah pikiran, namun mencatat bahwa pembaca yang sangat menjunjung kebebasan individual mungkin akan keberatan dengan pujiannya terhadap teknokrasi. Kritik lain menyoroti optimisme yang dianggap berlebihan, penyederhanaan atas keragaman Asia yang sangat besar, kurangnya perhatian terhadap ketimpangan, konflik internal, dan persoalan hak asasi manusia, serta kecenderungan memandang Asia dari kacamata elite bisnis dan kota-kota global seperti Singapura. Beberapa pengamat juga meragukan apakah kawasan seluas itu, dari Timur Tengah hingga Pasifik, layak diperlakukan sebagai satu sistem yang koheren. Bagi ASEAN dan Indonesia, buku ini memiliki arti penting tersendiri. Khanna menempatkan Asia Tenggara sebagai salah satu motor gelombang pertumbuhan Asia berikutnya dan menyebut Indonesia di antara negara-negara yang mendorong gelombang tersebut. Pandangannya tentang Asia multipolar, di mana negara-negara menengah menolak tunduk kepada satu kekuatan besar, sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia dan dengan gagasan sentralitas ASEAN. Pujiannya terhadap Singapura sebagai model teknokratis sekaligus simpul jaringan Asia juga relevan bagi perdebatan tentang tata kelola di kawasan. Namun pembaca Indonesia perlu bersikap kritis terhadap anjuran teknokrasi, mengingat pengalaman sejarah Indonesia dengan pemerintahan yang mengutamakan stabilitas dan pembangunan di atas partisipasi politik. Bagi dunia Muslim, buku ini relevan karena Khanna memasukkan negara-negara Teluk, Iran, Turki, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia ke dalam peta Asia yang ia bayangkan, sehingga sebagian besar penduduk Muslim dunia berada di dalam sistem Asia tersebut. Meskipun demikian, buku ini lebih banyak membahas dimensi ekonomi dan geopolitik daripada agama, dan dimensi Islam sebagai kekuatan peradaban tidak menjadi fokus utamanya. Bagi Aceh, buku ini tidak membahas provinsi ini secara khusus, tetapi wacana tentang konektivitas maritim, jalur perdagangan Samudera Hindia, dan kebangkitan kembali jaringan dagang Asia dapat menjadi bahan refleksi atas posisi historis Aceh di Selat Malaka dan peluangnya di masa depan. Eksemplar ini berupa buku bersampul lunak (paperback). Sampulnya menampilkan peta dunia bertitik dengan wilayah Asia disorot dalam warna oranye dan merah, judul The Future Is Asian, anak judul Global Order in the Twenty-first Century, nama Parag Khanna, serta kutipan dari New York Times Book Review. Di sisi kiri sampul terdapat label perpustakaan. Penerbit, tahun cetak, ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diverifikasi karena hanya foto sampul depan yang tersedia. Sebagai bagian dari Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini menjadi rujukan bagi kajian tentang kebangkitan Asia, geopolitik dan geoekonomi Asia, tata dunia multipolar, serta posisi ASEAN dan Indonesia dalam tata global abad kedua puluh satu. Arsip ini juga menjadi bahan yang memberi masukan bagi kajian-kajian di KBA13 Academy dan KBA13 Insight.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Parag Khanna, “The Future Is Asian: Global Order in the Twenty-first Century”, Simon & Schuster, New York (penerbit edisi pertama, 2019, dengan anak judul Commerce, Conflict, and Culture in the 21st Century; edisi Inggris oleh Weidenfeld & Nicolson, London, 2019; edisi eksemplar ini belum diperiksa), Pada sampul depan terlihat judul The Future Is Asian, anak judul Global Order in the Twenty-first Century, nama Parag Khanna, kutipan "A foreign policy whiz kid" dari New York Times Book Review, serta peta dunia bertitik dengan Asia disorot warna oranye dan merah. Eksemplar ini bersampul lunak (paperback) dan memiliki label perpustakaan di sisi kiri sampul. Anak judul sesuai dengan edisi Inggris Weidenfeld & Nicolson (London, 2019); edisi Amerika terbit pada 2019 oleh Simon & Schuster dengan anak judul berbeda. Penerbit, tahun cetak, ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diverifikasi., 2019. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2019-0004.