Intelektualisme dan Politik Ulama Aceh dalam Ensiklopedi
Oleh T. H. Ibrahim Alfian
Ar-Raniry Press, Banda Aceh · Alfian, T. H. Ibrahim. "Intelektualisme dan Politik Ulama Aceh dalam Ensiklopedi." Pengantar dalam Tim Penulis IAIN Ar-Raniry. Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh. Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004. Hlm. xlv–li. · 2004
Ringkasan
Pengantar kedua Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004) oleh sejarawan T. H. Ibrahim Alfian membaca ulama Aceh sebagai intelektual dan aktor politik, dari Hamzah Fansuri dan Syair Perahu hingga fatwa Abdullah Ujong Rimba tentang Barzanji (1981) dan peran Djakfar Hanafiah, serta menafsirkan Hikayat Prang Sabi sebagai resistensi kognitif terhadap kolonialisme dengan kerangka Gramsci, Said, dan Mannheim.
- Nomor inventaris
- KBA-BKU-2004-0003-P2
- Jenis dokumen
- Makalah (pengantar buku)
- Sumber terbitan
- Ar-Raniry Press, Banda Aceh
- Tanggal terbit
- 2004
- Edisi dan halaman
- Alfian, T. H. Ibrahim. "Intelektualisme dan Politik Ulama Aceh dalam Ensiklopedi." Pengantar dalam Tim Penulis IAIN Ar-Raniry. Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh. Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004. Hlm. xlv–li.
- Penulis
- T. H. Ibrahim Alfian
- Subjek
- Ulama Aceh Intelektual Politik ulama Hikayat Prang Sabi Hamzah Fansuri Abdullah Ujong Rimba Djakfar Hanafiah IAIN Ar-Raniry Sosiologi pengetahuan
- Klasifikasi LC
- BP63.I52 A33 2004 — Islam: Indonesia, Aceh; ulama dan politik (perkiraan nomor kelas; belum diverifikasi)
- Subjek LCSH
- Ulama--Indonesia--Aceh--Political activity; Intellectuals--Indonesia--Aceh; Islam and politics--Indonesia--Aceh; Acehnese literature--History and criticism
- Kategori BISAC
- REL037000 RELIGION / Islam / General; POL035010 POLITICAL SCIENCE / Political Freedom; HIS003000 HISTORY / Asia / General
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Pengantar ini ditulis T. H. Ibrahim Alfian di Yogyakarta pada 31 Agustus 2004 sebagai pengantar kedua Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh, karya Tim Penulis IAIN Ar-Raniry yang diterbitkan Ar-Raniry Press. Ketika menulisnya, Alfian adalah guru besar ilmu sejarah Universitas Gadjah Mada dan salah seorang sejarawan Indonesia kelahiran Aceh yang paling berpengaruh. Karya-karyanya tentang Perang Aceh, terutama Perang di Jalan Allah, dan kumpulan tulisannya Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, menjadi rujukan standar bagi siapa pun yang meneliti hubungan antara agama, perlawanan, dan kebudayaan di Aceh. Pengantar berjudul "Intelektualisme dan Politik Ulama Aceh dalam Ensiklopedi" ini karena itu tidak hanya berfungsi sebagai kata sambutan, tetapi juga sebagai esai pendek seorang sejarawan senior tentang cara membaca ulama Aceh sebagai intelektual dan aktor politik. Argumen pokok Alfian dibuka dengan pernyataan bahwa penyebaran dan pengembangan pendidikan Islam di Aceh sejak abad ke-16 tidak dapat dilepaskan dari peran ulama sebagai tokoh sentral, dan bahwa ulama Aceh berperan tidak hanya sebagai tokoh agama atau cendekiawan moral, tetapi juga sebagai tokoh politik dan intelektual. Ia menelusuri dua pengaruh besar yang membentuk sejarah pengetahuan Aceh, yaitu dunia Islam dan dunia Melayu, lalu menyebut Hamzah al-Fansury, Syamsuddin as-Sumatrany, Nuruddin ar-Raniry, dan Abdurrauf as-Singkily sebagai perintis yang mengangkat aspek substansial Islam dan merekonstruksikannya ke dalam dunia Melayu. Perhatian khusus diberikan kepada Hamzah Fansuri, yang menurut Alfian berhasil mengubah pengalaman rohani menjadi kesadaran komunikasional yang dapat diterima publik, dan yang sumbangan terbesarnya terletak pada pengembangan bahasa Melayu sebagai struktur pengetahuan tulis. Syair Perahu disebutnya sebagai meta-frasa bagi seluruh pengembaraan gagasan sufistik. Bagian berikutnya menjelaskan kedudukan ensiklopedi sebagai biografi pemikiran ulama Aceh sesudah abad ke-17 dan ke-18. Alfian mengamati sebuah paradoks: nama para ulama itu melekat pada banyak lembaga sebagai tanda hormat, tetapi sedikit sekali cendekiawan Aceh yang mengenal pemikiran mereka secara utuh. Padahal, gagasan para ulama abad ke-20 seharusnya lebih mudah diakses berkat industri cetak. Menurutnya, masalahnya terletak pada tidak adanya keberlangsungan diskusi. Ia lalu mengaitkan ensiklopedi dengan tantangan aktual saat itu, yakni pengisian konsep Nanggroe Aceh Darussalam yang didaulat undang-undang sebagai peletak dasar syariat Islam, tantangan yang menurutnya terutama berada di pundak para ulama di IAIN Ar-Raniry dan menuntut penggalian lebih jauh atas referensi pemikiran ulama masa lalu. Bagian paling kaya informasi dalam pengantar ini adalah ingatan Alfian tentang dinamika pemikiran Islam di Aceh pada dekade 1970-an dan 1980-an. Ia menyebut fatwa Teungku H. Abdullah Ujong Rimba sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh yang membolehkan pertunjukan Barzanji oleh Bengkel Teater Rendra di depan Masjid Raya Baiturrahman pada Musabaqah Tilawatil Qur'an tingkat nasional tahun 1981, sebuah terobosan yang disebutnya cukup radikal karena W.S. Rendra ketika itu belum memeluk Islam dan banyak pemainnya non-Muslim. Ia juga menyebut perdebatan tentang Golkar dan Islam menjelang Pemilu 1987 yang dilenturkan oleh pemikiran kreatif Teungku H. Djakfar Hanafiah dan Prof. H. Ali Hasjmy. Djakfar Hanafiah, yang diakui Alfian tidak dimasukkan dalam ensiklopedi, digambarkan sebagai mediator antara negara dan masyarakat yang melalui ceramah-ceramahnya mengubah pandangan mayoritas masyarakat Aceh tentang program Keluarga Berencana dan alat kontrasepsi. Suasana dialogis ini, menurut Alfian, melahirkan pemikiran ilmiah yang sistematis di IAIN Ar-Raniry, sehingga lembaga ini pernah dipuji sebagai satu dari tiga perguruan tinggi keagamaan terbaik secara nasional. Ia juga mencatat peran dua tokoh Aceh, T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy dan Peunoh Daly, dalam membesarkan nama IAIN di Jawa dan mengembangkan gagasan multikulturalisme. Alfian kemudian beralih ke isi ensiklopedi. Ia mencatat bahwa buku ini memuat narasi tentang 26 tokoh ulama Aceh, menilai pemilihan tokohnya cukup representatif dari segi pengaruh dan asal-usul kedaerahan, dan membaca para tokoh itu sebagai penerus at-turats al-islamy yang dirintis ulama besar dua hingga tiga abad sebelumnya. Ia menyoroti tiga ulama abad ke-19, yakni Teungku Chik Pante Kulu, Teungku Chik di Tiro, dan Teungku Chik Kuta Karang, sebagai pengembang tradisi tarekat yang juga dikenang sebagai penyair dan panglima perang. Mereka menggunakan hikayat dan syair sebagai basis penyebaran pengetahuan agama, karena pada masa itu pengetahuan memang dirumuskan dalam bentuk pantun dan syair. Dari sini lahir pembacaan Alfian atas Hikayat Prang Sabi sebagai praktik wacana terbaik para ulama untuk membentengi masyarakat dari pengaruh kuasa asing, sebagai resistensi kognitif terhadap kolonialisme yang melukai kebudayaan, dan sebagai karya sastra terpenting dalam sejarah Aceh berkat kekuatan artistik dan estetiknya. Dalam bagian ini Alfian juga menawarkan kerangka teoretis yang menarik. Ia berpendapat bahwa sebutan ulama bagi para tokoh tersebut tidak cukup dimaknai dalam perspektif Hegelian semata sebagai unit sosial yang menjalankan peran persuasi dan komunikasi, tetapi lebih tepat dibaca melalui gagasan Antonio Gramsci dan Edward W. Said tentang intelektual sejati, yaitu orang yang mengambil peran apa saja untuk mengentaskan keresahan masyarakatnya. Ia juga menolak pembacaan yang semata-mata melihat Hikayat Prang Sabi sebagai alat perjuangan kelas untuk kepentingan tuan tanah dan uleebalang, dan menegaskan bahwa hikayat itu sekaligus menjadi alat komunikasi dan sistem pengetahuan baru yang membantu masyarakat mengenal sejarah, budaya, dan agamanya sendiri. Bagian penutup pengantar berisi refleksi tentang politik wacana dalam penulisan ensiklopedi. Alfian mengakui bahwa setiap pemilihan tokoh tidak lepas dari interes, minat, kekaguman, dan sistem ideologi para editor, tetapi ia memandang proses taksonomi dan klasifikasi itu sebagai energi positif untuk diskusi, merujuk pada sosiologi pengetahuan Karl Mannheim. Ia menilai keberhasilan sebuah buku dari kemampuannya membuka perdebatan yang melahirkan buku-buku baru, mengajak pembaca membaca karya para penulis muda dengan rendah hati, dan menutup dengan kalimat bahwa waktu akan dengan setia mencatat jejak mereka. Pengantar ini dilengkapi daftar referensi yang mencakup karya Abdul Hadi W.M. tentang tasawuf Hamzah Fansuri, Antonio Gramsci, Denys Lombard tentang Kerajaan Aceh, Henry Chambert-Loir dan Hasan Muarif Ambary, serta dua karya Alfian sendiri. Bagi studi Aceh, nilai pengantar ini terletak pada kesaksian seorang sejarawan tentang periode yang jarang terdokumentasi, yaitu kehidupan intelektual Islam di Aceh pada masa Orde Baru. Informasi tentang fatwa pertunjukan Barzanji, peran Djakfar Hanafiah dalam program Keluarga Berencana, dan reputasi IAIN Ar-Raniry pada dekade 1980-an dapat menjadi titik tolak penelitian lanjutan. Berkas dalam arsip ini adalah faksimile PDF halaman xlv sampai li buku cetak, termasuk daftar referensinya, dibuat dari foto halaman eksemplar koleksi pribadi KBA13 Academy. Setiap halaman diluruskan, dibersihkan dari bayangan dan noda latar, lalu disusun dalam ukuran halaman yang seragam tanpa mengubah teks aslinya. Lapisan teks hasil pengenalan karakter (OCR) disertakan agar isi dapat dicari, sementara ejaan asli seperti al-Fansury dan as-Singkily tetap dapat diperiksa pada gambar halaman. Faksimile ini terhubung dengan entri buku induk, pengantar Azyumardi Azra, dan bab tentang Teungku Chik Pante Kulu dalam buku yang sama, sehingga pembaca dapat membandingkan dua pengantar dengan dua titik berat yang saling melengkapi: Azra menekankan jaringan keilmuan global, sementara Alfian menekankan fungsi intelektual dan politik ulama dalam masyarakat Aceh.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Is Part Of
- Extent
- hlm. xlv–li
- Koleksi
- Dokumen
Cara mengutip
T. H. Ibrahim Alfian, “Intelektualisme dan Politik Ulama Aceh dalam Ensiklopedi”, Ar-Raniry Press, Banda Aceh, Alfian, T. H. Ibrahim. "Intelektualisme dan Politik Ulama Aceh dalam Ensiklopedi." Pengantar dalam Tim Penulis IAIN Ar-Raniry. Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh. Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004. Hlm. xlv–li., 2004. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2004-0003-P2.
Dokumen terkait

Abu Habib Muda Seunagan: Republiken Sejati dari Aceh
Sehat Ihsan Shadiqin

Ulama, Separatisme, & Radikalisme di Aceh
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh
Tim Penulis IAIN Ar-Raniry
Ulama Aceh dalam Jaringan Ulama Global dan Renaisans Pemikiran Islam Nusantara
Azyumardi Azra