Teungku Chik Pante Kulu: Ulama dan Penyair Motivator Perang Aceh
Oleh Nur Chalis Sofyan
Ar-Raniry Press, Banda Aceh · Sofyan, Nur Chalis. "Teungku Chik Pante Kulu: Ulama dan Penyair Motivator Perang Aceh." Dalam Tim Penulis IAIN Ar-Raniry. Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh. Pengantar Azyumardi Azra dan T. H. Ibrahim Alfian. Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004. Hlm. 1–30. · 2004
Ringkasan
Bab pembuka Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004) karya Nur Chalis Sofyan ini membaca Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu (l. 1836) sebagai ulama dan penyair yang menyerap tradisi sastra Arab permulaan Islam, lalu menafsirkan bait demi bait Hikayat Prang Sabi secara hermeneutik dalam konteks agresi Belanda, politik adu domba, peran uleebalang, perempuan, dan dayah dalam Perang Aceh.
- Nomor inventaris
- KBA-BKU-2004-0003-B01
- Jenis dokumen
- Bab buku
- Sumber terbitan
- Ar-Raniry Press, Banda Aceh
- Tanggal terbit
- 2004
- Edisi dan halaman
- Sofyan, Nur Chalis. "Teungku Chik Pante Kulu: Ulama dan Penyair Motivator Perang Aceh." Dalam Tim Penulis IAIN Ar-Raniry. Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh. Pengantar Azyumardi Azra dan T. H. Ibrahim Alfian. Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004. Hlm. 1–30.
- Penulis
- Nur Chalis Sofyan
- Subjek
- Teungku Chik Pante Kulu Hikayat Prang Sabi Perang Aceh Sastra Aceh Jihad Ulama Tiro Hermeneutika Hassan ibn Tsabit
- Klasifikasi LC
- PL5089 .S64 2004 — Sastra Aceh: kritik dan tafsir (perkiraan nomor kelas; belum diverifikasi)
- Subjek LCSH
- Pante Kulu, Teungku Chik, 1836-; Hikayat Prang Sabi--Criticism, interpretation, etc.; Acehnese poetry--History and criticism; Aceh War, Indonesia, 1873-1904--Literature and the war
- Kategori BISAC
- LIT014000 LITERARY CRITICISM / Poetry; REL037000 RELIGION / Islam / General; HIS003000 HISTORY / Asia / General
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Bab ini adalah tulisan pembuka dalam Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh, karya Tim Penulis IAIN Ar-Raniry yang diterbitkan Ar-Raniry Press di Banda Aceh pada 2004. Penulisnya, Nur Chalis Sofyan, pada saat itu adalah dosen muda Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry kelahiran Indrapuri, Aceh Besar, yang pernah belajar di Pondok Modern Gontor, menyelesaikan sarjana di Fakultas Adab, dan meraih magister bidang sastra Arab di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Latar keilmuan itu terasa kuat dalam bab ini. Ia membaca Teungku Chik Pante Kulu bukan terutama sebagai panglima atau tokoh sejarah perang, tetapi sebagai penyair yang menyerap tradisi sastra Arab permulaan Islam lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa, ingatan, dan kebutuhan rakyat Aceh yang sedang menghadapi agresi Belanda. Judul babnya, "Teungku Chik Pante Kulu: Ulama dan Penyair Motivator Perang Aceh", merangkum seluruh arah pembacaan tersebut. Bab ini dibuka dengan pengantar metodologis. Penulis menegaskan bahwa banyak pelaku sejarah Aceh luput dari catatan sejarawan karena kepahlawanan di Aceh lahir dari gerak bersama masyarakat, bukan dari keperkasaan seorang tokoh. Untuk menyelami mata rantai peristiwa di balik sebuah karya, ia memilih pendekatan hermeneutik, yang juga dimaksudkan sebagai jembatan argumen bagi pihak yang meragukan orisinalitas Hikayat Prang Sabi. Catatan akhir pertama bab ini menjelaskan asal-usul istilah hermeneutik dari kata Yunani hermeneuein dan tiga pengertiannya, dengan merujuk Bernard Ramm dan F. Budiman. Bagian biografi menyebut bahwa Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu lahir pada 1836 di desa Pante Kulu, kemukiman Titeu, Kecamatan Keumala, Pidie, dan memiliki hubungan kekerabatan dengan kelompok ulama Tiro. Ia belajar di dayah Tiro di bawah Teungku Chik Muhammad Amin Dayah Cut, memperoleh gelar Teungku di Rangkang, lalu melanjutkan studi ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama, sejarah, logika, filsafat, dan sastra Arab. Di Makkah ia bersentuhan dengan wacana kebangkitan dunia Islam, termasuk gagasan Jamaluddin al-Afghani dan gerakan pemurnian Muhammad bin Abdul Wahhab. Penulis menekankan kegemaran Pante Kulu terhadap karya sastrawan masa permulaan Islam seperti Hassan ibn Tsabit, Abdullah ibn Malik, dan Ka'ab ibn Zuhair, serta kisah pahlawan seperti Khalid ibn al-Walid, Umar ibn al-Khaththab, Hamzah, Usamah ibn Zaid, dan Thariq ibn Ziyad. Untuk memperlihatkan pengaruh itu, bab ini menukil tujuh bait syair Hassan ibn Tsabit tentang persiapan pembebasan Makkah, lengkap dengan uraian maknanya. Menurut tradisi yang dicatat penulis, Hikayat Prang Sabi digubah dalam perjalanan pulang dari Makkah dan dipersembahkan kepada Teungku Chik di Tiro, panglima angkatan sabil. Inti bab ini adalah pembacaan bait demi bait atas Hikayat Prang Sabi. Penulis menyebut bahwa hikayat itu berbentuk puisi dengan empat cerita, yaitu Ainul Mardhiyah, Pasukan Gajah, Said Salmi, dan Budak Mati Hidup Kembali, tetapi memusatkan analisisnya pada pemikiran Pante Kulu secara keseluruhan. Pembacaannya disusun dalam beberapa tema: alasan penulisan hikayat dan peran Teungku Chik di Tiro serta Teungku Wahab Seulimeum; ajakan berperang yang ditujukan kepada para teungku, pemuda, dan uleebalang; ancaman bagi mereka yang meninggalkan jihad; hadiah bagi yang berjihad; kisah Ainul Mardhiah; dan seruan untuk mengingat sejarah. Setiap bait dikutip dalam bahasa Aceh dan diikuti terjemahan bersajak dalam bahasa Indonesia, lalu ditafsirkan dengan mengaitkannya pada konteks sosial dan politik Aceh abad ke-19. Pembacaan tersebut menghasilkan sejumlah pengamatan yang berharga bagi studi Aceh. Penulis menjelaskan politik adu domba Belanda antara sultan, uleebalang, dan ulama; menghubungkan surat menyurat antara sultan dan komisaris Belanda Nieuwenhuijzen pada Maret dan April 1873 dengan seruan jino, sekarang juga, dalam hikayat; membaca metafora berdagang dengan Allah sebagai cerminan tradisi niaga Aceh di Samudra Hindia sejak masa Iskandar Muda; dan menafsirkan kata riwang sebagai ungkapan loyalitas kepada agama dan negara. Ia juga memperlihatkan bagaimana Pante Kulu memanfaatkan pengalaman sehari-hari rakyat, misalnya pemandangan Krueng Aceh dan para perempuan yang mencuci pakaian di sungai, untuk melukiskan keindahan surga dan Ainul Mardhiah. Pengamatan tentang peran perempuan Aceh yang mendampingi suami dalam peperangan, tentang dayah yang melemah karena kurikulum diawasi Belanda, serta tentang Teungku Mat Amin, putra ulama Tiro yang gugur mempertahankan Aneuk Galong, memperkaya bab ini sebagai sumber sejarah sosial. Bab ini ditutup dengan kesimpulan bahwa Hikayat Prang Sabi jauh lebih bermakna bila dibaca dari peristiwa-peristiwa yang melatari penulisannya, bahwa penyairnya menyimpan getaran makna yang membentuk jati diri, dan bahwa hikayat itu menyampaikan pesan tentang rakyat Aceh yang lebih mempertahankan agama dan martabat diri ketimbang harta dan nyawa. Tiga belas catatan akhir memuat rujukan pada Ismail Yakub, Muhammad Said, W.P. Groeneveldt, Koentjaraningrat, Ibrahim Alfian, Pemerintah Kota Banda Aceh, H.C. Zentgraaff, Paul van 't Veer, Ali Hasjmy, dan Zakaria Ahmad. Kedudukan bab ini di dalam ensiklopedi juga patut dicatat. Penempatannya sebagai tulisan pertama memperlihatkan bahwa para penyusun memandang Pante Kulu sebagai titik awal genealogi ulama Aceh modern, yaitu generasi yang menghadapi langsung agresi kolonial dan meninggalkan warisan sastra perlawanan. Pilihan ini sejalan dengan kedua pengantar buku. Azyumardi Azra menyebut Pante Kulu pada barisan pertama ulama penggerak jihad abad ke-19, sedangkan T. H. Ibrahim Alfian membaca Hikayat Prang Sabi sebagai resistensi kognitif terhadap kolonialisme dan sebagai karya sastra terpenting dalam sejarah Aceh. Dengan demikian, bab ini dapat dibaca bersama kedua pengantar sebagai satu rangkaian argumen tentang hubungan ilmu, sastra, dan perlawanan dalam tradisi ulama Aceh, serta sebagai bahan perbandingan dengan kajian lain tentang hikayat perang yang ditulis sejarawan Belanda dan Indonesia. Bagi pembaca masa kini, bab ini berguna karena memuat kutipan bait-bait Hikayat Prang Sabi dalam bahasa Aceh berikut terjemahannya, sehingga dapat menjadi bahan ajar sastra dan sejarah Aceh. Pembaca kritis juga perlu mencatat beberapa hal. Pertama, bab ini lebih bersifat tafsir sastra-keagamaan daripada rekonstruksi sejarah berbasis arsip, sehingga sejumlah pernyataan biografis, seperti tahun lahir dan rute perjalanan Pante Kulu, sebaiknya diuji dengan sumber lain. Kedua, beberapa pengutipan ayat al-Qur'an dalam bait hikayat ditulis dalam transliterasi lisan Aceh, misalnya Walatahsabannallazinaqutilu, yang dipertahankan dalam edisi ini sebagaimana tercetak. Ketiga, nama-nama orang dan tempat ditulis menurut ejaan penulis pada 2004. Berkas dalam arsip ini adalah faksimile PDF halaman 1 sampai 30 buku cetak, termasuk syair Arab, bait-bait berbahasa Aceh, terjemahan, dan catatan akhir, dibuat dari foto halaman eksemplar koleksi pribadi KBA13 Academy. Setiap halaman diluruskan, dibersihkan dari bayangan dan noda latar, lalu disusun dalam ukuran halaman yang seragam tanpa mengubah teks aslinya. Lapisan teks hasil pengenalan karakter (OCR) disertakan agar isi dapat dicari, sementara ejaan khas penulis, transliterasi ayat dalam bait hikayat, dan tata letak dua kolom tetap dapat diperiksa langsung pada gambar halaman. Faksimile ini terhubung dengan entri buku induk, kedua pengantar buku, dan entri tokoh Teungku Chik Pante Kulu serta Hikayat Prang Sabi di Acehnologi.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Is Part Of
- Extent
- hlm. 1–30
- Koleksi
- Dokumen
Cara mengutip
Nur Chalis Sofyan, “Teungku Chik Pante Kulu: Ulama dan Penyair Motivator Perang Aceh”, Ar-Raniry Press, Banda Aceh, Sofyan, Nur Chalis. "Teungku Chik Pante Kulu: Ulama dan Penyair Motivator Perang Aceh." Dalam Tim Penulis IAIN Ar-Raniry. Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh. Pengantar Azyumardi Azra dan T. H. Ibrahim Alfian. Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004. Hlm. 1–30., 2004. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2004-0003-B01.
