Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia?: Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi
Oleh Al Makin
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta · Makin, Al. Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia? Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Filsafat, disampaikan di hadapan Rapat Senat Terbuka UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 8 November 2018. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2018. · 2018
Ringkasan
Pidato pengukuhan guru besar dalam ilmu filsafat ini disampaikan Al Makin di depan Rapat Senat Terbuka UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 8 November 2018. Berangkat dari perjalanan intelektualnya dari pesantren ke McGill dan Heidelberg, Al Makin bertanya apakah Indonesia mampu melahirkan ilmuwan kelas dunia. Ia berpendapat kemampuan intelektual bangsa tidak inferior, tetapi beban birokrasi dan administrasi menggerus waktu riset dosen. Ia membela internasionalisasi publikasi dan mengusulkan penyederhanaan administrasi, sistem tenure track, serta otonomi akademik.
- Nomor inventaris
- KBA-BKU-2018-0008
- Jenis dokumen
- Buku
- Sumber terbitan
- Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta
- Tanggal terbit
- 2018
- Edisi dan halaman
- Makin, Al. Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia? Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Filsafat, disampaikan di hadapan Rapat Senat Terbuka UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 8 November 2018. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2018.
- Penulis
- Al Makin
- Subjek
- Pidato pengukuhan Filsafat ilmu Pendidikan tinggi Islam Birokrasi akademik Internasionalisasi perguruan tinggi Publikasi ilmiah Studi Islam -- Indonesia Keragaman agama UIN Sunan Kalijaga
- Klasifikasi LC
- LA1271 .M35 2018 — Pendidikan tinggi di Indonesia (perkiraan nomor kelas; belum diverifikasi)
- Subjek LCSH
- Education, Higher -- Indonesia; Islamic universities and colleges -- Indonesia; Learning and scholarship -- Indonesia; Universities and colleges -- Indonesia -- Administration; Scholarly publishing -- Indonesia; Inaugural lectures
- Kategori BISAC
- EDU015000 EDUCATION / Higher; EDU034000 EDUCATION / Educational Policy & Reform / General; REL037000 RELIGION / Islam / General; PHI000000 PHILOSOPHY / General
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia? Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi adalah naskah pidato pengukuhan guru besar dalam ilmu filsafat yang disampaikan oleh Prof. Dr. phil. Al Makin, S.Ag., M.A., dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, di hadapan Rapat Senat Terbuka Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 8 November 2018. Naskah ini diterbitkan oleh UIN Sunan Kalijaga pada tahun yang sama dan versi digitalnya tersedia di repositori digilib universitas tersebut. Halaman judul tidak mencantumkan ISBN, dan daftar isinya menunjukkan bahwa riwayat singkat penulis dimulai pada halaman 61, sehingga naskah ini diperkirakan berjumlah sekitar enam puluhan halaman, meskipun jumlah pastinya belum dapat dikonfirmasi. Al Makin lahir di Desa Sidorejo, Kedungadem, Bojonegoro, Jawa Timur. Dalam pidatonya ia menuturkan perjalanan pendidikannya dari madrasah di Bojonegoro, pesantren di Kendal dan Jember, lalu program sarjana Tafsir Hadis di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga dengan skripsi tentang orientalis Richard Bell. Ia melanjutkan studi magister di McGill University, Kanada, dengan tesis tentang Sayyid Qutb di bawah bimbingan Issa J. Boullata, kemudian meraih gelar doktor di Universitas Heidelberg, Jerman, dengan disertasi tentang Musaylimah di bawah bimbingan Susanne Enderwitz. Disertasi tersebut terbit sebagai Representing the Enemy: Musaylima in Muslim Literature. Kajian lapangannya tentang para pengaku nabi di Indonesia terbit sebagai Challenging Islamic Orthodoxy pada Springer tahun 2016 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Nabi-Nabi Nusantara. Ia juga menulis Keragaman dan Perbedaan pada tahun 2016. Beberapa tahun setelah pidato ini, Al Makin diangkat menjadi Rektor UIN Sunan Kalijaga. Pidato ini disusun dalam beberapa bagian. Setelah sambutan pembuka dan ucapan terima kasih kepada guru-guru serta pimpinan universitas, termasuk Yudian Wahyudi dan M. Amin Abdullah, penulis mengajukan pertanyaan-pertanyaan pemantik tentang nasib keilmuan di Indonesia. Bagian berikutnya menuturkan perjalanan pribadi penulis, disusul uraian tentang trajektori intelektual Sapen Yogyakarta, ringkasan penelitian dan sumbangannya dari kajian kenabian hingga keragaman, pembahasan tentang kemungkinan Indonesia melahirkan ilmuwan, produktivitas publikasi dan internasionalisasi, tanggapan atas kritik yang dianggapnya tidak relevan, renungan tentang kesederhanaan dan dedikasi, harapan-harapan, daftar pustaka, dan riwayat singkat penulis. Pertanyaan pokoknya lahir dari pengamatan bahwa masyarakat Indonesia sering mengidap kompleks inferioritas dalam urusan ilmu pengetahuan. Al Makin memakai analogi sepak bola: banyak orang Indonesia gemar menonton liga-liga luar negeri, tetapi kurang sungguh-sungguh membina bakat sendiri. Begitu pula dalam dunia ilmu, karya ilmuwan asing dikagumi sementara potensi ilmuwan dalam negeri tidak dirawat dengan baik. Dari perjalanan pribadinya ia menarik pelajaran bahwa pemikirannya terbentuk dari perpaduan turats, khazanah klasik Islam, dengan tajdid, pembaruan yang ia serap dari metodologi Barat. Ia juga menunjukkan bahwa peradaban Islam pada masa Umayyah dan Abbasiyah berkembang karena keterbukaan terhadap tradisi lain, sedangkan homogenisasi ortodoksi kemudian mempersempit ruang intelektual. Bagian tentang trajektori intelektual Sapen memetakan perkembangan keilmuan Islam di Yogyakarta dalam tiga periode, yaitu masa fondasi 1960 hingga 1980, masa pengembangan 1980 hingga 2000, dan generasi UIN serta sains dan teknologi sejak 2000. Al Makin membandingkan tradisi Sapen dengan tradisi Ciputat di Jakarta. Ia menilai sarjana Yogyakarta produktif secara perorangan tetapi kurang terorganisasi secara kolektif dibandingkan kelompok-kelompok di Jakarta. Ia mengulas pendekatan scientific-cum-doctrinaire dari Mukti Ali, paradigma integrasi-interkoneksi dari Amin Abdullah, dan gagasan Kuntowijoyo tentang Islam sebagai epistemologi. Dalam bagian tentang penelitiannya, Al Makin menjelaskan perpindahan minatnya dari kajian tentang Musaylimah ke penelitian lapangan tentang gerakan keagamaan baru di Nusantara. Ia merumuskan tiga ciri kenabian: klaim menerima wahyu, adanya komunitas pengikut, dan gerakan sosial yang memancing reaksi masyarakat serta penguasa. Keragaman, menurutnya, harus dipahami sekaligus sebagai kenyataan, sikap keterbukaan, dan kebijakan negara. Ia meninjau kemajuan hukum dalam pengakuan keberagamaan, termasuk Undang-Undang Administrasi Kependudukan 2006 dan putusan Mahkamah Konstitusi 2017 tentang kolom agama bagi penghayat kepercayaan, sekaligus mengkritik maraknya peraturan daerah bernuansa syariat sejak Reformasi. Ia juga mengusulkan agenda riset ke depan tentang ekologi, teologi, dan jejaring kawasan Asia Tenggara. Inti argumen pidato ini terdapat pada bagian tentang mungkinkah Indonesia melahirkan ilmuwan. Al Makin menegaskan bahwa kapasitas intelektual orang Indonesia tidak lebih rendah, tetapi birokrasi dan administrasi yang berlebihan menghambat penelitian. Dengan merujuk Masdar Hilmy dan Azyumardi Azra, ia menunjukkan bahwa waktu dosen habis untuk urusan presensi, beban kerja, kenaikan pangkat, dan pelaporan. Ia menyajikan tabel yang membandingkan kewajiban administratif dengan tujuan yang semestinya dicapai, dan memperlihatkan ketidaksesuaian di antara keduanya. Bahkan izin perjalanan ke luar negeri untuk riset disebutnya lebih berat urusannya daripada hasil penelitian itu sendiri. Usulannya meliputi penyederhanaan administrasi, penerapan sistem tenure track, dan pemberian otonomi lebih luas kepada akademisi. Pada bagian tentang publikasi, ia memakai data Scimago yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-52 pada pertengahan 2018, di bawah Malaysia dan Singapura. Ia mengakui kenaikan Indonesia berkat program pemerintah, tetapi mencatat keunggulan awal Malaysia dan kemampuan bahasa Inggrisnya. Ia mencatat pula bahwa jurnal Al-Jami'ah dari UIN Sunan Kalijaga merupakan jurnal pertama di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam yang terindeks Scopus dalam bidang sosial dan humaniora. Terhadap kritik yang menggambarkan Scopus dan indeksasi internasional sebagai hantu atau alat kapitalisme, ia menjawab bahwa ukuran internasional hanyalah salah satu ukuran yang sah, dan bahwa kebijakan kampus seharusnya dipimpin oleh pertimbangan keilmuan, bukan politik. Ia lalu merenungkan pengabdian orang tuanya sebagai guru desa dan bertanya mengapa sedikit dosen yang menekuni riset, padahal dana penelitian bagi perguruan tinggi keagamaan Islam cukup besar. Bagi pembaca perpustakaan studi Islam dan studi Aceh, pidato ini penting sebagai dokumen tentang kondisi pendidikan tinggi Islam di Indonesia pada akhir dekade 2010-an. Persoalan yang diangkat, seperti beban administrasi dosen, tuntutan publikasi bereputasi, dan ketegangan antara birokrasi dan kebebasan akademik, juga dialami oleh perguruan tinggi keagamaan Islam di Aceh, termasuk UIN Ar-Raniry. Kritik Al Makin terhadap peraturan daerah bernuansa syariat juga relevan sebagai salah satu sudut pandang dalam perdebatan tentang penerapan syariat di daerah, termasuk Aceh, meskipun pidato ini tidak membahas Aceh secara khusus. Naskah ini sekaligus memperlihatkan tradisi pidato pengukuhan sebagai genre akademik tersendiri di Indonesia, tempat seorang guru besar merangkum perjalanan ilmiahnya dan menyampaikan gagasan kebijakan. Nilai lain dari pidato ini terletak pada sifat reflektifnya. Penulis tidak hanya mengkritik sistem, tetapi juga menempatkan dirinya sebagai bagian dari persoalan yang sedang ia bahas, sehingga teks ini dapat dibaca sebagai otobiografi intelektual singkat sekaligus manifesto kebijakan pendidikan tinggi. Bagi mahasiswa pascasarjana dan dosen muda, uraiannya tentang jalan panjang dari pesantren ke universitas-universitas Barat memberi gambaran konkret tentang tantangan dan peluang karier akademik di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Catatan bibliografis ini mendeskripsikan eksemplar yang tersimpan dalam koleksi pribadi KBA13 Academy dan dikatalogkan berdasarkan sampulnya. Uraian isi didasarkan pada versi digital naskah yang tersedia di repositori UIN Sunan Kalijaga.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Koleksi
- Buku
Cara mengutip
Al Makin, “Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia?: Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi”, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Makin, Al. Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia? Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Filsafat, disampaikan di hadapan Rapat Senat Terbuka UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 8 November 2018. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2018., 2018. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2018-0008.

