Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan
Oleh Azyumardi Azra, Idris Thaha (editor), Taufik Abdullah (pengantar)
Remaja Rosdakarya, Bandung · Azra, Azyumardi. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. Disunting oleh Idris Thaha. Pengantar oleh Taufik Abdullah. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999. · 1999
Ringkasan
Kumpulan tulisan sejarawan Azyumardi Azra tentang sejarah wacana dan kekuasaan Islam di Asia Tenggara, disunting Idris Thaha dengan pengantar Taufik Abdullah. Buku ini menguraikan tiga fase islamisasi Nusantara, peran tasawuf, pengambilan gelar sultan dan pencarian pengakuan dari Makkah, serta konsep Dar al-Islam dalam tradisi politik Melayu. Samudra Pasai disebut lembaga politik Islam pertama di Nusantara, sedangkan Aceh dibahas melalui hubungannya dengan Turki Utsmani dan Syarif Makkah. Azra juga mempersoalkan istilah kebangkitan Islam pada akhir abad kedua puluh.
- Nomor inventaris
- KBA-BKU-1999-0006 ISBN 979-514-878-8
- Jenis dokumen
- Buku
- Sumber terbitan
- Remaja Rosdakarya, Bandung
- Tanggal terbit
- 1999
- Edisi dan halaman
- Azra, Azyumardi. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. Disunting oleh Idris Thaha. Pengantar oleh Taufik Abdullah. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999.
- Penulis
- Azyumardi Azra
- Subjek
- Islam -- Asia Tenggara -- Sejarah Islamisasi Nusantara Islam dan politik Kesultanan Islam Samudra Pasai Kesultanan Aceh Jaringan ulama Historiografi Islam Kebangkitan Islam
- Klasifikasi LC
- BP63.A38 A97 1999 — Islam di Asia Tenggara: sejarah (perkiraan nomor kelas; belum diverifikasi)
- Subjek LCSH
- Islam--Asia, Southeastern--History; Islam and politics--Asia, Southeastern; Islamic renewal--Asia, Southeastern; Asia, Southeastern--Religion; Aceh (Indonesia)--History
- Kategori BISAC
- REL037050 Religion / Islam / History; HIS062000 History / Asia / Southeast Asia; POL040000 Political Science / World / General
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan adalah himpunan tulisan Azyumardi Azra tentang sejarah, pemikiran, dan dinamika politik Islam di kawasan Asia Tenggara, diterbitkan oleh PT Remaja Rosdakarya di Bandung. Catatan katalog perpustakaan menyebut cetakan pertamanya terbit pada tahun 1999 dengan tebal xxii + 180 halaman, memuat bibliografi dan indeks, dengan ISBN 979-514-878-8. Katalog Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta mencatat Idris Thaha sebagai penyunting naskah, sedangkan sampul buku menampilkan nama pengarang dengan gelar lengkap, Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., serta keterangan bahwa pengantarnya ditulis oleh sejarawan Taufik Abdullah. Logo Rosda tampak di bagian bawah sampul. Sebuah artikel di jurnal Analytica Islamica menyebut adanya cetakan kedua pada tahun 2000, dan sejumlah karya ilmiah memang mengutip buku ini dengan tahun 2000, sehingga pembaca perlu memperhatikan cetakan mana yang dirujuk ketika membandingkan nomor halaman. Azyumardi Azra (1955–2022) adalah sejarawan Islam Indonesia terkemuka asal Padang Pariaman, Sumatra Barat. Ia menempuh pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan kemudian di Columbia University, New York, tempat ia menyelesaikan studi doktoralnya di Departemen Sejarah pada awal 1990-an dengan disertasi tentang jaringan ulama Timur Tengah dan Melayu-Indonesia pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas. Disertasi itu kemudian terbit dalam bahasa Indonesia sebagai Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara (1994) dan dalam bahasa Inggris sebagai The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia (2004). Ia menjabat Rektor IAIN, kemudian UIN, Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1998 sampai 2006, menerima gelar kehormatan Commander of the Order of the British Empire pada tahun 2010, dan dikenal sebagai penulis yang sangat produktif di media massa maupun jurnal akademik. Ia wafat pada 18 September 2022 di Selangor, Malaysia. Buku Renaisans Islam Asia Tenggara terbit pada periode ketika Azra baru memimpin kampusnya, di tengah suasana reformasi politik Indonesia sesudah 1998. Berbeda dengan Jaringan Ulama yang merupakan satu monografi utuh, buku ini adalah kumpulan esai dan makalah yang disusun ulang dalam satu kerangka tematik. Judulnya sendiri merangkum dua sumbu pembahasan: sejarah wacana, yakni bagaimana gagasan dan otoritas keagamaan Islam beredar dan berubah di kawasan ini, dan kekuasaan, yakni bagaimana Islam berkelindan dengan kerajaan, negara kolonial, dan negara-bangsa modern. Sebuah artikel di jurnal Historis mencatat bahwa buku ini banyak mengkaji Islam di wilayah yang sering dianggap pinggiran dunia Muslim, sejalan dengan upaya Azra sepanjang kariernya untuk menempatkan Asia Tenggara sebagai bagian penting dari sejarah Islam global, bukan sekadar wilayah periferi. Dalam pengantarnya, Taufik Abdullah menghargai cara Azra mengolah sumber secara bertanggung jawab dan jujur, sebagaimana dikutip dalam sebuah kajian historiografi di Jurnal Lektur Keagamaan. Daftar isi lengkap buku ini tidak berhasil diverifikasi secara daring, tetapi kutipan-kutipan dalam karya ilmiah lain memperlihatkan sejumlah pokok bahasan yang dikembangkan di dalamnya. Azra menguraikan islamisasi Nusantara dalam tiga fase. Fase pertama dimulai dengan kedatangan Islam bersamaan dengan merosot dan runtuhnya Majapahit pada abad keempat belas dan kelima belas; pada fase ini Islam mula-mula terbatas di kota-kota pelabuhan, lalu menyebar ke wilayah pesisir dan pedalaman melalui peran pedagang, ulama, serta guru tarekat bersama murid-muridnya. Fase kedua ditandai oleh mapannya kekuasaan kolonial Belanda pada awal abad kesembilan belas, dan fase ketiga dimulai pada awal abad kedua puluh ketika pemerintah kolonial menjalankan kebijakan yang lebih liberal. Menurut Azra, Islam bercorak tasawuf menjadi kekuatan dominan pada fase pertama karena tafsir mistisnya cocok dengan masyarakat setempat yang telah dibentuk oleh tradisi asketisme Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal. Pokok lain adalah hubungan antara Islam dan lembaga kekuasaan. Azra membahas bagaimana para penguasa lokal yang memeluk Islam mengambil gelar sultan sebagai pengganti atau pendamping gelar raja, dan bagaimana sejumlah kerajaan di Nusantara berupaya memperoleh pengakuan dari otoritas di Timur Tengah, khususnya Syarif Makkah, agar diakui sebagai bagian dari Dar al-Islam. Ia juga menelusuri pemakaian istilah Dar al-Islam dalam tradisi politik Melayu, misalnya dalam hikayat dan undang-undang kerajaan. Dalam bagian-bagian yang menyinggung masa kini, Azra mempersoalkan penggunaan istilah kebangkitan Islam untuk menggambarkan Asia Tenggara pada akhir abad kedua puluh. Ia lebih memilih memahami gejala itu sebagai menguatnya keterikatan pada Islam atau santrinisasi yang makin intensif, ditandai antara lain oleh bertambahnya jemaah haji, masjid, dan lembaga Islam, serta menekankan bahwa stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi adalah prasyarat bagi kemajuan peradaban Islam, dengan berkaca pada masa Abbasiyah. Bagi pembaca studi Aceh, buku ini penting karena Aceh dan pendahulunya, Samudra Pasai, menempati posisi sentral dalam uraian Azra tentang awal pembentukan kekuasaan Islam di kawasan ini. Berdasarkan kutipan yang tersedia, Azra menyebut Kesultanan Samudra Pasai, yang berdiri pada akhir abad ketiga belas, sebagai lembaga politik Islam pertama di Nusantara, dan memakai kisah penguasanya, Merah Silau, yang mengambil nama dan gelar Sultan Malik al-Salih setelah diislamkan oleh Syekh Ismail, sebagai contoh betapa lancarnya konversi para penguasa lokal. Ia juga mencatat bahwa Hikayat Raja-Raja Pasai menyebut kerajaan itu sebagai Samudera Dar al-Islam. Aceh dibahas sebagai salah satu kerajaan yang menjalin hubungan erat dengan Kesultanan Turki Utsmani dan Syarif Makkah, sejajar dengan Banten, Mataram, Palembang, dan Makassar yang sama-sama mencari pengakuan dari pusat-pusat dunia Islam. Karya Nuruddin al-Raniri, ulama yang berkarier di istana Aceh pada abad ketujuh belas, yaitu Bustan al-Salatin, dimanfaatkan sebagai sumber untuk menggambarkan islamisasi penguasa Patani. Konsep jaringan ulama, ciri khas pemikiran Azra, juga hadir dalam buku ini, sebagaimana tampak dari sebuah kajian di Jurnal Lektur Keagamaan yang mengutip buku ini untuk konsep tersebut; namun uraian paling rinci tentang ulama Aceh seperti al-Raniri dan Abdurrauf al-Sinkili terdapat dalam Jaringan Ulama, bukan di sini. Penerimaan buku ini cukup baik. Artikel di jurnal Analytica Islamica menyebut bahwa buku ini meraih penghargaan nasional sebagai buku terbaik bidang ilmu sosial dan humaniora pada tahun 1999. Buku ini kemudian sering dikutip dalam skripsi, tesis, dan artikel jurnal di perguruan tinggi Islam Indonesia, terutama sebagai rujukan tentang periodisasi islamisasi, hubungan Islam dan kekuasaan, serta pembacaan Azra terhadap gejala kebangkitan Islam. Karena bentuknya kumpulan tulisan, sebagian bab bersifat ringkas dan tumpang tindih dengan karya Azra yang lain, sehingga pembaca yang membutuhkan argumen terperinci sebaiknya juga merujuk Jaringan Ulama, Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal, serta Historiografi Islam Kontemporer. Bagi perpustakaan studi Islam dan studi Aceh, buku ini bernilai sebagai dokumen pemikiran salah satu sejarawan Islam Indonesia paling berpengaruh pada masa transisi menuju reformasi, sekaligus sebagai pengantar yang mudah diakses tentang posisi Pasai dan Aceh dalam sejarah politik dan intelektual Islam Asia Tenggara. Buku ini juga berguna untuk menelusuri bagaimana kategori seperti Dar al-Islam, gelar sultan, dan hubungan dengan Utsmani serta Makkah dipakai dalam historiografi Indonesia untuk menjelaskan legitimasi kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Rekaman katalog ini mendeskripsikan eksemplar koleksi pribadi KBA13 Academy dan dikatalogkan berdasarkan sampulnya. Tahun 1999 dan data fisik buku diambil dari rekaman katalog perpustakaan untuk cetakan pertama; karena sampul tidak mencantumkan tahun, belum dapat dipastikan apakah eksemplar ini cetakan pertama atau cetakan berikutnya.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Contributor
- Idris Thaha (editor) Taufik Abdullah (pengantar)
- Extent
- xxii + 180 hlm.
- Koleksi
- Buku
Cara mengutip
Azyumardi Azra, Idris Thaha (editor), Taufik Abdullah (pengantar), “Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan”, Remaja Rosdakarya, Bandung, Azra, Azyumardi. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. Disunting oleh Idris Thaha. Pengantar oleh Taufik Abdullah. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999., 1999. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-1999-0006.