Herinneringen aan de tweede expeditie tegen Atjeh
Oleh Een Indisch officier (anonim, inisial M.)
De Groot, Kolff & Co., Samarang · Een Indisch officier. Herinneringen aan de tweede expeditie tegen Atjeh, den lezers van Generaal van Swietens brief aangeboden. Samarang: De Groot, Kolff & Co., [1875]. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 23 (Aceh Books). · [1875]
Ringkasan
Kumpulan tulisan seorang perwira KNIL anonim yang semula dimuat di surat kabar De Locomotief (Semarang), dicetak De Groot, Kolff & Co. di Semarang dengan kata pengantar redaksi bertanggal 16 Desember 1874. Buku ini adalah jawaban keras atas pembelaan diri Jenderal J. van Swieten, panglima ekspedisi kedua ke Aceh (1873-1874). Penulis menggambarkan kolera, kamp Penayong yang kotor, kekurangan perbekalan, penelantaran orang hukuman yang dipaksa bekerja, dan penghematan yang merenggut nyawa prajurit. Lampirannya memuat artikel dari Padangsch Handelsblad, De Indiër dan De Locomotief tentang Intendans dan perawatan prajurit sakit.
- Nomor inventaris
- KITLV-AB-M-c-23
- Jenis dokumen
- Buku
- Sumber terbitan
- De Groot, Kolff & Co., Samarang
- Tanggal terbit
- [1875]
- Edisi dan halaman
- Een Indisch officier. Herinneringen aan de tweede expeditie tegen Atjeh, den lezers van Generaal van Swietens brief aangeboden. Samarang: De Groot, Kolff & Co., [1875]. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 23 (Aceh Books).
- Penulis
- Een Indisch officier (anonim, inisial M.)
- Subjek
- Perang Aceh, 1873-1904 Ekspedisi militer Belanda kedua ke Aceh, 1873-1874 Swieten, J. van (Jan van), 1807-1888 Kolera -- Aceh -- 1874 Kesehatan militer -- Hindia Belanda Orang hukuman dan kerja paksa -- Perang Aceh Penayong (Banda Aceh) Intendans militer -- Hindia Belanda Pers kolonial -- Hindia Belanda Sumber primer -- Sejarah Aceh
- Klasifikasi LC
- DS646.15.A3
- Subjek LCSH
- Aceh War, Indonesia, 1873-1904; Swieten, J. van (Jan), 1807-1888; Netherlands. Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger--Sanitary affairs; Cholera--Indonesia--Aceh; Aceh (Indonesia)--History, Military
- Kategori BISAC
- HIS003000 History / Asia / Southeast Asia; HIS027000 History / Military / General
- Bahasa
- Belanda
- Keterangan
- Herinneringen aan de tweede expeditie tegen Atjeh, den lezers van Generaal van Swietens brief aangeboden door een Indisch officier, atau "Kenangan tentang ekspedisi kedua melawan Aceh, dipersembahkan kepada para pembaca surat Jenderal van Swieten oleh seorang perwira Hindia", adalah buku berbahasa Belanda yang dicetak oleh percetakan cepat De Groot, Kolff & Co. di Semarang. Katalog Leiden mencatat tahun terbitnya sekitar 1875, sedangkan kata pengantar dari redaksi surat kabar De Locomotief bertanggal 16 Desember 1874. Buku ini bernomor rak M c 23 dalam koleksi KITLV yang kini disimpan Perpustakaan Universitas Leiden dan menjadi bagian dari koleksi digital Aceh Books. Teks utamanya terdiri atas 23 halaman yang ditandatangani dengan inisial M., disusul bagian Bijvoegsels atau lampiran sampai halaman 41. Menurut kata pengantar, seluruh isi buku ini sebelumnya terbit dalam beberapa nomor De Locomotief. Artikel pertama adalah jawaban atas pembelaan diri Jenderal J. van Swieten yang terkenal, yaitu suratnya kepada Jenderal Knoop, sedangkan tulisan lain dimuat sebagai tambahan atau penjelasan. Redaksi menyatakan bahwa penerbitan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kekurangan yang serius dan keadaan yang benar-benar genting. Karena itu buku ini adalah sebuah polemik publik dari dalam tubuh tentara kolonial sendiri, ditulis tidak lama setelah ekspedisi kedua merebut dalam atau kraton Aceh pada 24 Januari 1874. Penulis membuka dengan pembelaan terhadap para perwira Hindia. Mereka, katanya, mungkin sepihak dalam penilaian, tetapi bebas dari kepentingan partai, karena mereka bukan politisi melainkan alat politik. Ia lalu membedakan dua gaya kepemimpinan yang ia sebut sistem Verspijck dan sistem Van Swieten: yang pertama berani, cepat dan langsung menuju sasaran, yang kedua lamban, berhati-hati, lebih mirip politisi dan ekonom daripada tentara. Menurut penulis, pemerintah sengaja memilih Van Swieten karena wataknya cocok dengan politik pemerintah. Tujuan ekspedisi pertama hanyalah perjanjian dengan sultan. Setelah kegagalan April 1873, gengsi Belanda di mata rakyat jajahan dipertaruhkan, sehingga kraton harus direbut dan Aceh, dalam pandangan penulis, sebenarnya harus dianeksasi. Namun karena takut campur tangan asing, terutama Turki, Amerika dan perhitungan diplomatik Jerman, para menteri berkali-kali menyangkal rencana aneksasi. Van Swieten, katanya, ditugasi menunggu sampai dunia luar sendiri mengakui bahwa Belanda tidak punya pilihan selain menganeksasi Aceh. Bagian ini memuat salah satu kesaksian paling jujur tentang watak perang tersebut. Penulis menulis bahwa pengambilan kraton, penaklukan kampung, pemulangan tawanan dengan hadiah, serta bom dan granat Angkatan Laut tidak membuahkan apa pun, karena orang Aceh tidak mau meminta ampun. Penolakan itu, katanya, ditampilkan kepada dunia sebagai bukti bahwa Aceh telah kehilangan hak hidupnya sebagai bangsa merdeka. Dengan kata lain, keteguhan perlawanan Aceh dijadikan dalih penaklukan. Penulis juga mencatat bahwa Van Swieten memiliki pasukan sekitar 8.500 orang bersenjata lengkap, 74 pucuk meriam, 3.500 orang hukuman yang dipaksa bekerja, dan armada kapal perang, menghadapi lawan pribumi yang keberaniannya, menurut penulis, dibatasi oleh senjata dan disiplin yang lemah. Inti kritik buku ini adalah kehancuran pasukan oleh penyakit dan salah urus. Penulis menyebut pertempuran berat hanya terjadi beberapa kali sebelum kraton jatuh, antara lain di Moesapi, di Lemboe dan di depan masjid raya, sementara sebagian besar sisanya hanya pertempuran kecil. Bahaya terbesar bagi prajurit bukan peluru pejuang Aceh, melainkan iklim yang dikelola dengan buruk, kelelahan dan penyakit. Ia menceritakan bagaimana biro persiapan perang di Batavia menghitung kebutuhan 27 kapal, tetapi Van Swieten memangkasnya menjadi 16 demi penghematan. Pasukan berangkat dengan kolera di atas kapal yang terlalu penuh. Batalion yang terserang kolera harus diturunkan ke Pulau Nasi, tempat rumah sakit kolera dari bambu untuk 150 penderita dibangun dan dalam tiga minggu menghabiskan hampir seluruh persediaan. Kapal-kapal bahkan mengambil air minum dari sungai kecil beberapa kaki dari rumah sakit kolera itu. Sebuah catatan kaki membandingkan kapal uap Gen. van Swieten yang dahulu bernama Ottawa: kapal itu pernah mengangkut 12 orang Eropa, 292 orang pribumi dan 2 kuda ke Abesinia, tetapi dipakai untuk 82 orang Eropa, 171 orang pribumi dan 91 kuda ke Aceh. Gambaran tentang kamp Penayong sangat rinci. Tanah yang penuh semak, lubang dan pematang tidak dibersihkan. Tidak ada jamban, sehingga kotoran menumpuk di tepi sungai, tempat prajurit mandi dan mencuci, bahkan orang hukuman meminum airnya. Sumur yang baik rusak karena tidak dijaga, dan pompa Norton baru tiba di akhir. Makanan monoton berupa nasi dan daging selama berbulan-bulan. Ribuan orang, termasuk perempuan dan anak-anak bahkan bayi, berdesakan di ruang yang lebih kecil dari Waterlooplein di Amsterdam. Perjudian dan pelacuran merajalela, sehingga penulis menyebut kamp itu sebuah Capua. Kapal rumah sakit hanya mampu menampung 180 penderita, sementara 500 lainnya ditumpuk di bivak. Penulis mengusulkan alternatif, yaitu menyebar pasukan ke Kampung Jawa yang makmur dan luas, ke Lemboeh, Pinang dan Longbatta (ejaan Belanda), dataran sawah di tenggara kraton dan titik strategis Kota Batu, membangun dermaga di Ulee Lheue, serta mempertahankan kraton sebagai kraton dan tidak mengubahnya menjadi Kutaraja yang tidak sehat. Ia juga menyebut Krueng Daroy yang kemudian dibendung oleh pihak Aceh. Kalimat penutup bagian utama layak dicatat. Penulis menyatakan perang ini tidak dijalankan dengan kemanusiaan, baik terhadap prajurit sendiri maupun terhadap musuh. Aceh mungkin akan dikuasai, tulisnya, tetapi sebagai bangsa yang merosot dan berkurang jumlahnya, di wilayah yang dimiskinkan oleh perang panjang, dengan pengorbanan yang tidak perlu. Ia meminta sebuah komisi penyelidikan untuk menyingkap tabir kekurangan ekspedisi ini. Lampiran buku ini memperluas gambaran tersebut. Artikel Padangsch Handelsblad 24 Juni menyebut lebih dari 2.500 prajurit sakit diterima di Padang dalam setengah tahun dan mendesak agar mereka dirawat di dataran tinggi Padang Panjang, Fort de Kock dan Payakumbuh. Artikel De Indiër April 1874 tentang Intendans menyebut roti yang tidak layak dari firma Leroux, kentang yang dibeli dengan harga dua kali lipat, upah orang hukuman sebesar f 5 sebulan yang baru dibayar setelah tiga bulan, dan kesaksian bahwa sedikitnya seperempat orang hukuman meninggal di Aceh tanpa pernah mendapat hari istirahat selama lima bulan. Artikel terakhir dari De Locomotief membahas rencana rumah pemulihan di Gadok dan kegagalan pembangunan bangsal bambu di Batutulis dekat Buitenzorg. Bagi studi Aceh, buku ini penting karena memperlihatkan wajah Perang Aceh dari dalam kamp penyerbu: penyakit, kerja paksa, penderitaan pekerja dari Jawa, Nias dan tempat lain, serta pengakuan bahwa perlawanan Aceh tidak padam meski pusat kerajaan direbut. Teks ini tetap ditulis dari sudut pandang kolonial dan perlu dibaca kritis, tetapi kesaksiannya tentang harga manusia dari perang ini jarang ditemukan dalam laporan resmi. Edisi digitalnya disajikan melalui citra IIIF dari koleksi Perpustakaan Universitas Leiden.
- Status hak cipta
- Domain publik. Salinan digital dari Leiden University Libraries (KITLV), koleksi Aceh Books.
- Alternative Title
- Kenangan tentang ekspedisi kedua melawan Aceh
- Source
- Leiden University Libraries, Digital Collections IIIF manifest
- Extent
- 41 halaman (teks utama 23 halaman dan lampiran); 56 citra digital
- Koleksi
- Buku
Cara mengutip
Een Indisch officier (anonim, inisial M.), “Herinneringen aan de tweede expeditie tegen Atjeh”, De Groot, Kolff & Co., Samarang, Een Indisch officier. Herinneringen aan de tweede expeditie tegen Atjeh, den lezers van Generaal van Swietens brief aangeboden. Samarang: De Groot, Kolff & Co., [1875]. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 23 (Aceh Books)., [1875]. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KITLV-AB-M-c-23.

