Buku

Atjeh: verzameling van bulletins nopens de tweede expeditie

Landsdrukkerij, Batavia · Atjeh: verzameling van bulletins nopens de tweede expeditie. Aangeboden aan den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië door het personeel der Landsdrukkerij. Batavia: Landsdrukkerij, 1874. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 162 (Aceh Books). · 1874

Ringkasan

Himpunan 27 buletin resmi tentang ekspedisi kedua Belanda ke Aceh, yang semula terbit sebagai nomor luar biasa (Buitengewoon Nummer) harian pemerintah Javasche Courant antara 12 Desember 1873 dan 5 Maret 1874, ditambah satu pengumuman 1 Mei 1874. Dicetak ulang oleh Landsdrukkerij di Batavia pada 1874 dan dipersembahkan para pegawai percetakan negara kepada Gubernur Jenderal. Buletin ini merekam pendaratan di Pedropunt dan Kuala Gigieng, perebutan Moesapi, Kotta Petjoet, masjid raya dan kraton pada 24 Januari 1874, wabah kolera, wafatnya Sultan, pemilihan Tuanku Muhammad Daud, serta keteguhan para panglima dan hulubalang yang menolak tunduk.

Nomor inventaris
KITLV-AB-M-c-162
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Landsdrukkerij, Batavia
Tanggal terbit
1874
Edisi dan halaman
Atjeh: verzameling van bulletins nopens de tweede expeditie. Aangeboden aan den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië door het personeel der Landsdrukkerij. Batavia: Landsdrukkerij, 1874. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 162 (Aceh Books).
Penulis
Landsdrukkerij (Batavia); telegram J. van Swieten dkk.
Klasifikasi LC
DS646.15.A3
Subjek LCSH
Aceh War, Indonesia, 1873-1904--Sources; Swieten, J. van (Jan), 1807-1888; Aceh (Indonesia)--History, Military--Sources; Government publications--Indonesia
Kategori BISAC
HIS003000 History / Asia / Southeast Asia; HIS027000 History / Military / General
Bahasa
Belanda
Keterangan
Atjeh. Verzameling van bulletins nopens de tweede expeditie, atau "Aceh. Himpunan buletin mengenai ekspedisi kedua", adalah sebuah album resmi yang dicetak oleh Landsdrukkerij, percetakan negara Hindia Belanda di Batavia, pada 1874. Halaman judulnya menyebut bahwa himpunan ini dipersembahkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, panglima tertinggi angkatan darat dan laut Kerajaan di sebelah timur Tanjung Harapan, oleh para pegawai Landsdrukkerij. Dalam koleksi KITLV yang kini dikelola Perpustakaan Universitas Leiden, album ini bernomor rak M c 162 dan menjadi bagian koleksi digital Aceh Books. Isinya adalah 27 buletin bernomor yang semula terbit sebagai nomor luar biasa harian pemerintah Javasche Courant, masing-masing dicetak ulang satu per halaman dengan bingkai hitam dan lambang Kerajaan Belanda, ditambah satu pengumuman tanpa nomor bertanggal 1 Mei 1874. Hampir seluruh buletin adalah teks telegram dari Letnan Jenderal J. van Swieten, panglima ekspedisi, atau dari komandan Angkatan Laut dan Komandan Militer Pantai Barat Sumatra. Telegram-telegram itu dikirim melalui Penang, Singkil atau Sibolga, karena Aceh belum memiliki jaringan telegraf, lalu diterbitkan di Batavia beberapa hari kemudian. Karena itu buletin ini adalah bentuk paling awal dari laporan perang yang disebarkan pemerintah kepada publik kolonial. Ia singkat, padat, dan disusun untuk meyakinkan pembaca bahwa ekspedisi berjalan baik, namun di balik kalimat resmi tersebut tersimpan banyak keterangan tentang Aceh dan perlawanannya. Buletin pertama, terbit 12 Desember 1873, mengabarkan bahwa pada 9 Desember pasukan mendarat di Pedropunt di bawah tembakan musuh, operasi pertama dipimpin Jenderal Verspijck, dan pangkalan didirikan di Kuala Gigieng. Buletin berikutnya mencatat perebutan benteng Moesapi, Kota Perak (Kotta Perak) dan serangkaian benteng lain, dengan pihak Aceh meninggalkan delapan puluh lima korban dalam satu benteng. Pada 20 Desember dikabarkan bahwa pasukan Aceh meninggalkan benteng-benteng pantai di tepi timur Krueng Aceh, dan bahwa Jenderal Bixio, komandan kapal Italia Maddaloni yang mengangkut pasukan, meninggal karena kolera. Pada 22 Desember Van Swieten melaporkan bahwa Tongkoe Kali telah direbut, pasukan Aceh mundur dari kedua tepi sungai, dan Belanda mulai mencari hubungan dengan Sultan yang dikatakan bersedia tunduk. Buletin akhir Desember memperlihatkan kesulitan yang dihadapi penyerbu. Pasukan berkemah di tepi kanan Krueng Aceh tidak jauh dari kraton, berhadapan dengan Kampung Jawa, dan menghubungkan kedua tepi dengan jembatan dari batang pinang. Kekurangan kuli, banyaknya orang sakit, dan kolera memaksa pasukan beristirahat. Kapal Baron Mackay tiba di Padang membawa 94 orang sakit dan luka, dan beberapa perwira tewas karena kolera. Pada 26 Desember terjadi pertempuran sengit di dataran depan kraton dengan korban besar. Buletin kesembilan menyebut bahwa Raja Pidie datang ke kraton membawa 1.500 orang untuk memperkuat pihak yang berperang, dan bahwa utusan Belanda kepada Sultan diancam mati, diikat dan dirampas, lalu dibawa ke pedalaman. Surat-surat dari Belanda dirobek dan tidak diserahkan kepada Sultan, dan buletin itu mencatat dengan singkat bahwa rakyat yang memerintah. Kalimat pendek ini menyingkap bahwa perlawanan Aceh tidak bergantung pada satu tokoh, melainkan digerakkan oleh para pemimpin dan rakyat. Laporan Angkatan Laut dalam buletin kesepuluh dan kesebelas menggambarkan operasi di pantai Pidie, pembakaran benteng dan kampung oleh tembakan kapal, serta upaya sekoci bersenjata dengan 400 orang menyusuri sungai dangkal. Buletin kedua belas pada 7 Januari 1874 mengabarkan bahwa benteng Pidie rusak berat dan terbakar, sebuah gudang mesiu meledak, dan Raja Gigieng, penguasa Pidie, menawarkan tanahnya kepada Gubernemen serta menawarkan diri sebagai perantara karena khawatir perang akan menghancurkan negerinya. Buletin ini juga merinci persiapan pengepungan, termasuk parit pendekatan dan baterai untuk menembaki kraton dan masjid dengan meriam 12 sentimeter dan mortir 20 sentimeter. Masjid raya direbut pada 6 Januari 1874. Buletin keempat belas menyebut bahwa sebelum itu masjid dan kraton dibombardir selama beberapa jam, namun efeknya kecil karena pertahanan Aceh berupa kubu lapangan yang tersamar dengan baik, sehingga harus diserbu infanteri. Korban di pihak Belanda tercatat 17 tewas dan 107 luka. Buletin-buletin selanjutnya mencatat perebutan Kotta Petjoet pada pertengahan Januari, yang memutus hubungan kraton dengan sisi sungai. Van Swieten sendiri mengakui bahwa kerja dan tenaga yang dikerahkan musuh untuk bertahan sungguh luar biasa. Buletin kedelapan belas melaporkan serangan pasukan Aceh dengan klewang yang menewaskan Letnan Raaijmakers dan lima prajurit, serta menyebut bahwa kraton tidak terlihat sama sekali karena tertutup tanaman. Buletin kesembilan belas, terbit 27 Januari 1874, memuat kalimat terkenal "De Kraton is ons", kraton telah jatuh ke tangan kami. Melalui gerakan mengepung, kraton terkurung dan pasukan Aceh meninggalkannya pada 24 Januari. Namun buletin-buletin sesudahnya memperlihatkan bahwa kemenangan itu tidak membawa penaklukan. Pada 1 Februari dilaporkan bahwa Panglima Polem dan Sultan tampaknya ingin melanjutkan perang, dan disebutkan pula bahwa Sultan telah wafat karena kolera. Buletin kedua puluh satu dan kedua puluh dua menyebut Sagi XXV dan XXVI memberi tanda tunduk, proklamasi dengan janji kebebasan menjalankan agama dan adat disebarkan, tetapi para pemimpin tetap bersikap bermusuhan dan membangun pertahanan baru di pedalaman. Van Swieten juga menulis bahwa ia memprotes pemilihan Sultan baru. Buletin kedua puluh tiga, 11 Februari 1874, mencatat bahwa para pemimpin Aceh memilih Tuanku Daud, berusia sembilan tahun, cucu almarhum Sultan Ibrahim Mansur Syah, sebagai Sultan dengan empat wali, sesuatu yang oleh Van Swieten disebut sebagai upaya sia-sia untuk melanjutkan perlawanan. Ia sekaligus memerintahkan pembangunan benteng untuk 500 orang dan kamp untuk 1.500 orang di dalam kraton. Buletin kedua puluh empat mengakui bahwa rakyat telah lelah berperang, tetapi para pemimpin tetap menjauh dan mencegah rakyat menunjukkan sikap lebih baik. Buletin kedua puluh lima dan kedua puluh enam memuat penyerangan benteng Teuku Nanta dari VI Mukim, yang dibangun untuk melawan Teuku Nek dari Meuraxa, sekutu Belanda, serta penyerangan Ketapang Dua di Mukim XXII dengan perkiraan dua ratus korban di pihak Aceh termasuk empat panglima. Buletin terakhir, 5 Maret 1874, menyebut kapal-kapal berangkat ke pantai utara, timur dan barat membawa proklamasi dan dokumen pengakuan kedaulatan, sedangkan pengumuman 1 Mei 1874 mengabarkan bahwa pasukan utama akan berangkat pulang. Bagi studi Aceh, himpunan ini penting sebagai kronologi resmi hari demi hari dari fase awal Perang Aceh. Ia merekam nama tempat, benteng, tokoh dan peristiwa, termasuk Raja Pidie, Panglima Polem, Teuku Nanta, Teuku Nek, Sagi XXII, XXV dan XXVI, serta pemilihan Tuanku Muhammad Daud yang kelak menjadi Sultan Aceh terakhir. Namun buletin ini juga adalah propaganda negara, ditulis untuk menyampaikan kemenangan. Membacanya bersama kritik dalam Herinneringen aan de tweede expeditie tegen Atjeh memperlihatkan jurang antara narasi resmi dan pengalaman pasukan di lapangan. Edisi digitalnya disajikan melalui citra IIIF dari koleksi Perpustakaan Universitas Leiden.
Status hak cipta
Domain publik. Salinan digital dari Leiden University Libraries (KITLV), koleksi Aceh Books.
Alternative Title
Aceh: himpunan buletin mengenai ekspedisi kedua
Source
Leiden University Libraries, Digital Collections IIIF manifest
Extent
27 buletin dan 1 pengumuman, satu halaman per buletin; 70 citra digital
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Landsdrukkerij (Batavia); telegram J. van Swieten dkk., “Atjeh: verzameling van bulletins nopens de tweede expeditie”, Landsdrukkerij, Batavia, Atjeh: verzameling van bulletins nopens de tweede expeditie. Aangeboden aan den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië door het personeel der Landsdrukkerij. Batavia: Landsdrukkerij, 1874. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 162 (Aceh Books)., 1874. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KITLV-AB-M-c-162.