Kliping

Arus Mundur Demokrasi

Kompas · 2014-09-08

Ringkasan

Artikel opini Bima Arya, Wali Kota Bogor, di harian Kompas, dengan ilustrasi karya Jitet, yang menolak rencana mengembalikan pemilihan kepala daerah ke DPRD sebagai arus mundur dan ancaman serius bagi konsolidasi demokrasi. Merujuk Juan Linz bahwa demokrasi terkonsolidasi ketika menjadi the only game in town, penulis menegaskan bahwa pilkada langsung lahir untuk mengikis oligarki elite lokal dan menempatkan warga sebagai aktor utama suksesi kepemimpinan. Ia mengakui persoalan biaya politik dan politik uang, tetapi menilai jawabannya adalah penyempurnaan regulasi dan budaya politik, bukan pergantian sistem. Berdasarkan pengalamannya memenangi Pilkada Kota Bogor dengan biaya jauh di bawah yang disarankan tokoh senior, ia menyoroti kebangkitan kelas menengah dan kalangan muda yang tak terbeli politik uang, lalu menutup dengan ucapan James Clarke tentang politisi yang memikirkan pemilu dan negarawan yang memikirkan generasi mendatang.

Nomor inventaris
KBA-KLP-2014-0011
Jenis dokumen
Kliping
Sumber terbitan
Kompas
Tanggal terbit
2014-09-08
Penulis
Bima Arya
Klasifikasi LC
JQ760–779 — Pemerintahan dan politik Indonesia
Subjek LCSH
Elections -- Indonesia Local elections -- Indonesia
Kategori BISAC
POL008000 POLITICAL SCIENCE / Political Process / Campaigns & Elections
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Kliping artikel opini harian Kompas, Senin, 8 September 2014, dengan ilustrasi Jitet.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Kliping

Cara mengutip

Bima Arya, “Arus Mundur Demokrasi”, Kompas, 2014-09-08. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-KLP-2014-0011.