Seks Undercover: Ikon Bokong Inul (Basis No. 03-04, Th. ke-52, Maret-April 2003)
Basis, Yogyakarta · Majalah Basis No. 03-04, Tahun ke-52, Maret-April 2003, rubrik Kaca Benggala, hlm. 6-31 · 2003-03
Ringkasan
Esai panjang Sindhunata, Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi majalah kebudayaan Basis (Yogyakarta), dalam rubrik Kaca Benggala pada Edisi Sex, Maret-April 2003. Bertolak dari larisnya buku Jakarta Undercover: Sex 'n the City karya Moammar Emka (Galang Press, dicetak ulang delapan kali dalam dua bulan), Sindhunata membaca seks bukan sekadar soal erotika, melainkan gejala perubahan masyarakat. Dengan merujuk Herbert Marcuse (polymorphous perverse), Freud, Adorno, Baudrillard, Michel Houellebecq, Volkmar Sigusch, Ulrich Beck, Erich Fromm, Slavoj Zizek, dan Rainer Maria Rilke, ia menguraikan revolusi seksual dan paradoksnya: seks yang dibebaskan justru menjadi publik, melahirkan pribadi ekshibisionis, narsistis, dan egois, terfragmentasi menjadi barang dagangan, menjadi metafisika kapitalisme, dan menjelma kekerasan seksual. Ia juga menyoroti tabloid seks murah, VCD porno, serta kemunafikan moral dalam kasus Clinton-Lewinsky. Esai ditutup dengan seruan akan spiritualitas yang mencintai seks sebagai anugerah Pencipta, dan analisis fenomena goyang ngebor Inul Daratista, termasuk sampul majalah Time 24 Maret 2003 dan tanggapan KH Mustofa Bisri, sebagai ikon pelampiasan kepengapan seksual masyarakat Indonesia. Halaman-halaman artikel memuat ilustrasi foto dari Der Spiegel dan lukisan klasik.
Cara mengutip
Sindhunata, “Seks Undercover: Ikon Bokong Inul (Basis No. 03-04, Th. ke-52, Maret-April 2003)”, Basis, Yogyakarta, Majalah Basis No. 03-04, Tahun ke-52, Maret-April 2003, rubrik Kaca Benggala, hlm. 6-31, 2003-03. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-MJL-2003-0002.
