Madilog
Oleh Tan Malaka
Teplok Press, Jakarta · Tahun cetak eksemplar belum diperiksa. Rujukan katalog pembanding: Teplok Press, Jakarta, 2000; ISBN 979-95888-2-3 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun
Ringkasan
Karya Tan Malaka yang mempertemukan materialisme, dialektika, dan logika sebagai perangkat berpikir. Pengantar katalog membahas kerangka karya dan kemungkinan pemanfaatannya dalam kajian filsafat serta sejarah intelektual Indonesia. Sampul eksemplar menunjukkan Teplok Press; data terbitan 2000 pada katalog pembanding belum dipastikan melalui halaman hak cipta eksemplar.
- Nomor inventaris
- KBA-BKU-TT-0005
- Jenis dokumen
- Buku
- Sumber terbitan
- Teplok Press, Jakarta
- Tanggal terbit
- Tanpa tahun
- Edisi dan halaman
- Tahun cetak eksemplar belum diperiksa. Rujukan katalog pembanding: Teplok Press, Jakarta, 2000; ISBN 979-95888-2-3 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
- Penulis
- Tan Malaka
- Klasifikasi LC
- B — Filsafat (umum)
- Subjek LCSH
- Philosophy, Indonesian Dialectical materialism
- Kategori BISAC
- PHI004000 PHILOSOPHY / Epistemology
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Madilog karya Tan Malaka merupakan karya pemikiran yang mempertemukan materialisme, dialektika, dan logika sebagai perangkat membaca kenyataan. Foto yang disampaikan memperlihatkan nama Tan Malaka, judul Madilog, serta logo Teplok Press. Potret besar mendominasi sampul bernuansa sepia, sementara nama penulis ditampilkan dengan huruf merah di atas judul. Dalam Pustaka KBA13 Academy, buku ini dapat menjadi titik temu bagi pembaca yang menelusuri filsafat, sejarah intelektual Indonesia, dan hubungan antara pengetahuan dengan perubahan masyarakat. Pengantar katalog ini menggunakan sampul sebagai bukti eksemplar dan teks pembanding sebagai sumber konteks, tanpa menganggap seluruh ciri edisi pembanding berlaku bagi buku yang difoto. Teks Madilog yang tersedia dalam arsip Tan Malaka memperlihatkan susunan pembahasan mengenai logika mistika, filsafat, ilmu pengetahuan, dialektika, logika, dan peninjauan dengan Madilog. Susunan tersebut menunjukkan bahwa karya ini tidak berhenti pada penyebutan tiga istilah dalam judulnya. Ia bergerak dari persoalan dasar penjelasan menuju cara berpikir dan penerapannya. Versi daring itu menyebut sumber terbitan Widjaya tahun 1951 dan tambahan dari terbitan lain untuk bab tertentu. Karena itu, teks tersebut digunakan untuk memahami kerangka karya, bukan untuk memastikan susunan halaman, penyuntingan, atau kelengkapan edisi Teplok Press dalam koleksi ini. Pada pembahasan logika mistika, Tan Malaka membandingkan penjelasan tentang asal dunia dengan cara ilmu menguji hubungan benda, tenaga, dan perubahan. Contoh-contohnya memperlihatkan upaya memindahkan perhatian dari kewibawaan cerita menuju penjelasan yang dapat ditanyakan kembali. Dari sini pembaca dapat mengenali tuntutan intelektual yang penting: sebuah klaim perlu mempunyai dasar yang dapat diperiksa. Untuk pembacaan masa kini, contoh ilmu alam di dalam teks harus ditempatkan dalam sejarah pengetahuan zamannya. Nilai historis suatu uraian tidak otomatis menjadikan setiap rincian ilmiahnya sesuai dengan pengetahuan sekarang, sebagaimana koreksi terhadap contoh tertentu tidak dengan sendirinya menghapus nilai pertanyaan filosofis yang diajukan. Bagian filsafat menempatkan persoalan materi dan pikiran sebagai medan perdebatan. Bagi pembaca pemula, langkah yang berguna ialah mencatat pengertian istilah sebelum menilai kesimpulan. Materialisme dalam perdebatan filsafat perlu dibedakan dari kebiasaan mengejar kekayaan dalam penggunaan sehari-hari. Demikian pula, idealisme sebagai istilah filosofis tidak sama dengan mempunyai cita-cita yang tinggi. Pembedaan semacam ini merupakan panduan pembacaan kuratorial, bukan penggantian terhadap definisi penulis. Ia membantu pengunjung pustaka memahami mengapa perdebatan filsafat sering tampak membingungkan ketika satu kata dipakai dalam beberapa arti yang tidak sama. Dialektika membuka ruang untuk menelaah perubahan, hubungan, dan pertentangan. Dalam penggunaan sebagai bahan diskusi, pembaca dapat menguji apakah suatu penjelasan benar-benar menunjukkan proses atau hanya memberi nama baru pada konflik. Misalnya, pernyataan bahwa masyarakat berubah belum menjelaskan unsur yang berubah, arah hubungan, dan keadaan yang memungkinkan perubahan itu. Pertanyaan demikian membuat pembacaan lebih produktif daripada sekadar menghafal istilah. Ketika mengikuti uraian Tan Malaka, pembaca dapat mencatat contoh yang dipilih, langkah argumentasinya, serta hubungan antara prinsip umum dan peristiwa khusus. Catatan itu juga memudahkan perbandingan dengan pendekatan sejarah atau ilmu sosial lain. Logika, sementara itu, mengarahkan perhatian kepada ketertiban penalaran. Dalam latihan membaca, mahasiswa dapat memisahkan pernyataan dasar, alasan pendukung, dan kesimpulan. Mereka kemudian dapat menanyakan apakah kesimpulan mengikuti alasan tersebut atau memerlukan anggapan tambahan. Buku seperti Madilog dapat dimanfaatkan untuk membiasakan sikap tersebut karena persoalannya tidak hanya mengenai informasi yang diketahui, tetapi juga mengenai jalan yang digunakan untuk mengetahui. Namun, latihan logika tidak perlu berubah menjadi perlombaan mencari kesalahan penulis. Tujuannya ialah memahami suatu argumen secara adil sebelum menyatakan persetujuan, penolakan, atau perbaikan terhadapnya. Pertemuan antara bahasa filsafat dan bahasa Indonesia merupakan jalur pembacaan lain yang menarik. Pengunjung dapat memperhatikan bagaimana istilah asing dijelaskan, contoh sehari-hari digunakan, dan konsep abstrak dibawa mendekati pengalaman pembaca. Untuk penelitian sejarah pengetahuan, pilihan bahasa dapat menjadi bagian dari pertanyaan tentang siapa yang dibayangkan sebagai pembaca. Apakah penjelasan disusun untuk kalangan tertentu, masyarakat luas, atau pembelajar yang belum mengenal istilah? Jawaban memerlukan pembacaan langsung terhadap bagian-bagian terkait. Katalog ini menyediakan arah penelusuran tersebut tanpa menetapkan maksud setiap pilihan kata atau menganggap seluruh gaya bahasa mempunyai satu fungsi yang seragam. Madilog juga dapat dibaca sebagai bahan untuk mendiskusikan hubungan antara kecakapan berpikir dan kehidupan bersama. Sebagai pertanyaan kuratorial, bagaimana kebiasaan memeriksa bukti berhubungan dengan kemampuan menilai persoalan sosial? Bagaimana penjelasan yang terbuka terhadap kritik membantu pembaca menghadapi kewibawaan yang tidak selalu disertai alasan? Pertanyaan semacam ini tidak menuntut keseragaman jawaban. Justru, karya filsafat memperoleh kehidupan baru ketika pembacanya mengajukan persoalan secara teliti dan bersedia membedakan keyakinan awal dari kesimpulan yang telah diuji. Penggunaan dalam kelas dapat diarahkan pada diskusi berbasis kutipan halaman, bukan pada pelabelan ideologis terhadap sesama pembaca. Secara bibliografis, katalog Pusat Sumber Belajar FEB Universitas Indonesia mencatat Madilog terbitan Teplok Press, Jakarta, tahun 2000, dengan ISBN 9799588823 dan deskripsi 554 halaman. Informasi tersebut berguna sebagai calon pasangan bibliografis karena nama penerbit sesuai dengan logo yang terlihat pada sampul. Akan tetapi, halaman hak cipta dan jumlah halaman eksemplar KBA belum diperiksa. Tahun, cetakan, dan ISBN karena itu perlu diberi keterangan status verifikasi. Riwayat penulisan karya juga harus dipisahkan dari tahun penerbitan edisi tertentu. Pemisahan tersebut menjaga agar satu karya yang memiliki beberapa terbitan tidak diperlakukan sebagai satu objek cetak yang identik. Foto sampul menunjukkan label perpustakaan yang menutupi sebagian sisi kiri serta tanda usia pada permukaan buku. Label dan keausan merupakan bagian dari dokumentasi eksemplar; foto asli perlu dipertahankan meskipun tersedia gambar akses yang dirapikan. Untuk penelusuran, subjek yang dapat digunakan meliputi Tan Malaka, filsafat Indonesia, materialisme, dialektika, logika, dan ilmu pengetahuan. Setiap subjek sebaiknya dimasukkan secara terpisah agar dapat menghubungkan buku dengan bahan lain. Keterangan mengenai edisi dan kondisi fisik ditempatkan pada ruasnya sendiri, sehingga pengunjung memperoleh gambaran isi sekaligus memahami batas informasi yang sudah dapat dipastikan dari dokumentasi koleksi. Pembaca juga dapat memakai Madilog untuk mempelajari perbedaan antara persetujuan terhadap tujuan dan persetujuan terhadap alasan. Seseorang dapat mendukung suatu cita-cita perubahan, tetapi tetap mempertanyakan apakah bukti yang dipakai sudah memadai. Sebaliknya, menolak satu kesimpulan tidak berarti seluruh pertanyaannya tidak berguna. Dalam kegiatan seminar, setiap peserta dapat merumuskan ulang argumen pengarang dengan bahasa sendiri, kemudian meminta peserta lain memeriksa kesetiaannya kepada teks. Setelah itu, barulah keberatan dan alternatif penjelasan diajukan. Prosedur sederhana ini menjaga agar perdebatan tidak bergerak hanya melalui nama besar, kesan pribadi, atau label pemikiran. Ia juga membuat pembacaan buku menjadi latihan menyimak dan memberi alasan secara bertanggung jawab.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Koleksi
- Buku
Cara mengutip
Tan Malaka, “Madilog”, Teplok Press, Jakarta, Tahun cetak eksemplar belum diperiksa. Rujukan katalog pembanding: Teplok Press, Jakarta, 2000; ISBN 979-95888-2-3 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0005.