Penguin Books, London · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Allen Lane/Penguin, 2013, 368 hlm., ISBN 978-1-84614-540-7 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun
Ringkasan
Laporan jurnalistik dua wartawan Spanyol, Juan Pablo Cardenal dan Heriberto Araújo, hasil perjalanan ke lebih dari dua puluh lima negara di Afrika, Asia Tengah, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Buku ini memotret ekspansi ekonomi Tiongkok melalui orang-orang di lapangan: pedagang perantau, pengusaha, pekerja konstruksi, perantara, dan pejabat perusahaan negara. Penulis menelusuri proyek tambang, minyak, kayu, bendungan, dan infrastruktur, serta dampaknya terhadap buruh lokal, lingkungan, dan tata kelola. Diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Catherine Mansfield, karya ini menjadi rujukan penting untuk memahami kehadiran Tiongkok di negara berkembang dan perdebatan tentang model pembangunan Beijing.
Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0013
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Penguin Books, London
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Allen Lane/Penguin, 2013, 368 hlm., ISBN 978-1-84614-540-7 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
China -- Foreign economic relationsInvestments, ChineseChinese -- Foreign countries
Kategori BISAC
POL011000 POLITICAL SCIENCE / International Relations / General
Bahasa
Inggris
Keterangan
China's Silent Army: The Pioneers, Traders, Fixers and Workers Who Are Remaking the World in Beijing's Image merupakan karya jurnalistik investigatif Juan Pablo Cardenal dan Heriberto Araújo, dua wartawan Spanyol yang lama bertugas di Tiongkok, dalam terjemahan bahasa Inggris oleh Catherine Mansfield. Sampul eksemplar ini menampilkan foto sekelompok pekerja Tiongkok dan pekerja lokal Afrika berdiri di tengah jalan tanah merah yang sedang dibangun, dengan langit biru, alat berat di kejauhan, dan kutipan pujian dari Financial Times di bagian atas. Edisi Inggris yang diterbitkan Penguin pada Januari 2013 tercatat setebal 368 halaman dengan ISBN 978-1-84614-540-7, sedangkan versi aslinya terbit dalam bahasa Spanyol dengan judul La silenciosa conquista china. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi penerbit, bukan ringkasan seluruh halaman buku.
Pokok persoalan buku ini ialah ekspansi ekonomi Tiongkok ke berbagai belahan dunia pada dekade pertama abad kedua puluh satu, ketika Beijing mendorong perusahaan dan warganya untuk "keluar" mencari bahan mentah, pasar, dan proyek infrastruktur. Kedua penulis berangkat dari rasa tidak puas terhadap dua jenis penjelasan: komentar kalangan bisnis yang cenderung memuji kebangkitan Tiongkok, dan pernyataan resmi pemerintah Tiongkok tentang kerja sama saling menguntungkan. Mereka memilih turun langsung ke lapangan dan menelusuri jejak kehadiran Tiongkok di sekitar dua puluh lima negara, dari tambang di Peru dan hutan di Siberia hingga bendungan di Sudan dan tambang giok di Myanmar.
Istilah "tentara senyap" dalam judul menunjuk pada orang-orang biasa yang menjadi ujung tombak ekspansi tersebut: perintis yang membuka usaha di tempat terpencil, pedagang yang membangun jaringan grosir, perantara yang menghubungkan pejabat lokal dengan investor, serta pekerja konstruksi dan tambang yang bekerja dalam kondisi berat. Pendekatan ini penting karena memindahkan perhatian dari angka-angka makro perdagangan dan investasi menuju pengalaman manusia di lapangan. Pembaca diajak melihat bagaimana keputusan di Beijing, kredit bank negara, dan strategi perusahaan milik negara diterjemahkan menjadi kehidupan sehari-hari di kamp pekerja, pasar, dan kantor pemerintahan lokal.
Buku ini juga menyoroti sisi gelap dari ekspansi tersebut. Para penulis mengangkat persoalan praktik bisnis yang keras, lemahnya perlindungan tenaga kerja, kerusakan lingkungan, korupsi, serta hubungan erat antara modal Tiongkok dan rezim yang tidak demokratis. Pada saat yang sama, mereka juga memperlihatkan kerja keras, keuletan, dan pengorbanan para migran Tiongkok yang meninggalkan keluarga demi peluang ekonomi di negeri asing. Ketegangan antara kekaguman dan kritik inilah yang membuat buku ini menarik sebagai bahan diskusi, karena tidak jatuh pada sikap memuja ataupun menolak secara sederhana.
Kerangka besar yang ditawarkan penulis ialah gagasan tentang "imperium informal", yaitu pengaruh luas yang tidak dibangun melalui penaklukan militer atau koloni resmi, melainkan melalui jaringan investasi, pinjaman, kontrak, dan migrasi. Gagasan ini mengundang perbandingan dengan sejarah imperium dagang Eropa, termasuk VOC dan East India Company, sekaligus dengan perdebatan kontemporer tentang Inisiatif Sabuk dan Jalan yang diluncurkan pada 2013. Karena buku ini terbit pada tahun yang sama dengan peluncuran inisiatif tersebut, ia dapat dibaca sebagai potret awal sebelum ekspansi Tiongkok mendapat label resmi dan perhatian global yang lebih besar.
Bagi pembaca di Asia Tenggara, buku ini memiliki relevansi khusus. Kehadiran modal, pekerja, dan perusahaan Tiongkok di Indonesia, Malaysia, Laos, Kamboja, dan Myanmar melalui proyek jalan, kereta api, smelter, dan kawasan industri memunculkan pertanyaan serupa dengan yang diajukan Cardenal dan Araújo. Bagaimana manfaat ekonomi dibagi, siapa yang mengendalikan sumber daya, bagaimana hubungan antara pekerja asing dan pekerja lokal, dan apa dampak jangka panjangnya bagi kedaulatan negara penerima. Buku ini dapat dipakai sebagai pembanding untuk membaca kasus-kasus di kawasan, tanpa menganggap pola di Afrika atau Amerika Latin otomatis berlaku sama.
Dalam koleksi Pustaka KBA13 Academy, buku ini berkaitan dengan bahan-bahan tentang geopolitik dan kebangkitan Tiongkok, misalnya The Beijing Variable dan The Beijing Factor in Southeast Asia, serta sejumlah edisi Foreign Affairs yang membahas Xi Jinping dan persaingan Amerika Serikat dengan Tiongkok. Membaca buku ini berdampingan dengan bahan-bahan tersebut membantu pembaca menghubungkan analisis strategis di tingkat negara dengan pengalaman konkret di tingkat akar rumput. Perbandingan itu juga memperlihatkan perbedaan antara pendekatan jurnalistik lapangan dan pendekatan analisis kebijakan.
Untuk kegiatan belajar, buku ini sesuai dipakai dalam mata kuliah hubungan internasional, ekonomi politik internasional, studi pembangunan, antropologi migrasi, dan kajian Tiongkok. Mahasiswa dapat memetakan negara-negara yang dikunjungi penulis, jenis proyek yang dibahas, aktor yang terlibat, serta dampak sosial dan lingkungan yang dilaporkan. Mereka juga dapat menguji apakah kesimpulan penulis masih berlaku untuk perkembangan sesudah 2013, misalnya dengan membandingkannya dengan laporan tentang utang, proyek mangkrak, atau renegosiasi kontrak di negara-negara penerima.
Pembacaan kritis tetap diperlukan. Sebagai karya jurnalistik, buku ini bertumpu pada wawancara, pengamatan, dan kisah perorangan yang kuat secara naratif, tetapi tidak selalu dapat digeneralisasi. Sebagian narasumber mungkin memiliki kepentingan tertentu, dan situasi yang digambarkan dapat berubah cepat. Karena itu, pengguna disarankan memadukan buku ini dengan data statistik, laporan lembaga riset, dan kajian akademik yang lebih mutakhir agar gambaran tentang kehadiran Tiongkok di dunia menjadi lebih utuh.
Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan tanda pemakaian berupa noda pada tepi sampul dan label perpustakaan pada sisi kiri. Data penerbit dan tahun pada entri ini merujuk pada edisi Penguin 2013 sebagai pembanding, sehingga penerbit, tahun cetak, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta. Keterangan tersebut dicatat agar pengguna dapat membedakan informasi yang sudah pasti dari informasi yang masih memerlukan verifikasi.
Subjek penelusuran yang sesuai untuk buku ini meliputi hubungan ekonomi luar negeri Tiongkok, investasi Tiongkok, migrasi tenaga kerja Tiongkok, Afrika, Amerika Latin, sumber daya alam, dan geopolitik. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama kedua penulis, judul lengkap, penerjemah, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar. Sebagai potret lapangan tentang bagaimana sebuah kekuatan besar membangun pengaruh melalui perdagangan dan tenaga kerja, buku ini memberi bahan penting bagi siapa saja yang ingin memahami perubahan tatanan dunia dari bawah.
Kehadiran buku ini dalam koleksi juga memperlihatkan pentingnya karya jurnalistik berbasis lapangan bagi kajian akademik. Ketika data resmi tentang investasi dan proyek luar negeri sering kali terbatas atau sulit diverifikasi, laporan langsung dari lokasi menjadi sumber yang berharga untuk membangun pertanyaan penelitian. Peneliti dapat memakai kisah-kisah dalam buku ini sebagai titik awal untuk menelusuri dokumen kontrak, laporan media lokal, dan kesaksian masyarakat terdampak, sehingga pemahaman tentang kehadiran Tiongkok di suatu tempat tidak berhenti pada narasi besar mengenai kebangkitan sebuah kekuatan global.
Juan Pablo Cardenal, Heriberto Araújo, Catherine Mansfield (penerjemah), “China's Silent Army: The Pioneers, Traders, Fixers and Workers Who Are Remaking the World in Beijing's Image”, Penguin Books, London, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Allen Lane/Penguin, 2013, 368 hlm., ISBN 978-1-84614-540-7 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0013.