Buku

Future Crimes: Inside the Digital Underground and the Battle for Our Connected World

Corgi Books (Transworld), London · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Corgi, 2016, 688 hlm., ISBN 978-0-552-17080-2; edisi pertama 2015 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun

Ringkasan

Buku Marc Goodman, mantan polisi Los Angeles dan penasihat keamanan siber bagi lembaga internasional, tentang wajah baru kejahatan di dunia yang serba terhubung. Goodman menguraikan bagaimana data pribadi, telepon pintar, media sosial, perangkat rumah pintar, kendaraan, alat medis, robot, dan biologi sintetis dapat dieksploitasi oleh peretas, sindikat kejahatan terorganisasi, dan kelompok teror. Ia menggambarkan ekonomi bawah tanah digital yang bekerja layaknya korporasi, lalu menawarkan langkah perlindungan bagi individu, perusahaan, dan negara. Karya ini relevan bagi kajian kriminologi, kebijakan keamanan, dan etika teknologi.

Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0014
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Corgi Books (Transworld), London
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Corgi, 2016, 688 hlm., ISBN 978-0-552-17080-2; edisi pertama 2015 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Penulis
Marc Goodman
Klasifikasi LC
HV6773 — Kejahatan komputer
Subjek LCSH
Computer crimes Internet -- Security measures Computer security
Kategori BISAC
SOC004000 SOCIAL SCIENCE / Criminology
Bahasa
Inggris
Keterangan
Future Crimes: Inside the Digital Underground and the Battle for Our Connected World merupakan karya Marc Goodman, mantan anggota kepolisian Los Angeles yang kemudian bekerja sebagai penasihat keamanan siber bagi berbagai lembaga penegak hukum dan organisasi internasional. Sampul eksemplar ini berlatar krem pucat dengan ikon sinyal nirkabel berwarna merah, judul berhuruf hitam tebal, serta kutipan pujian dari The Economist dan New Scientist, dengan keterangan bahwa buku ini merupakan buku terlaris New York Times. Edisi sampul lunak Corgi dari kelompok Transworld di Inggris terbit pada Maret 2016 setebal 688 halaman dengan ISBN 978-0-552-17080-2, sedangkan edisi pertamanya terbit pada 2015. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi penerbit, bukan ringkasan seluruh isi buku. Gagasan utama buku ini ialah bahwa setiap teknologi baru membawa manfaat sekaligus peluang kejahatan baru, dan para pelaku kejahatan sering kali menjadi pengguna paling awal dan paling kreatif dari teknologi tersebut. Goodman menelusuri bagaimana internet, telepon pintar, media sosial, komputasi awan, dan perangkat yang saling terhubung membentuk ruang hidup yang semakin bergantung pada data. Semakin banyak aspek kehidupan yang dipindahkan ke jaringan digital, semakin besar pula permukaan serangan yang dapat dimanfaatkan oleh penjahat, kelompok terorganisasi, maupun aktor negara. Buku ini memaparkan beragam contoh yang menunjukkan luasnya ancaman tersebut. Pencurian identitas, pembobolan rekening bank, dan perusakan server komputer menjadi contoh yang paling akrab. Goodman juga membahas monitor bayi yang dapat disadap, alat pacu jantung yang secara teori dapat diretas, pencuri yang memantau media sosial untuk mengetahui kapan rumah ditinggal pemiliknya, senjata hasil cetak tiga dimensi, kartel narkoba yang memanfaatkan pesawat nirawak, serta informasi berbahaya yang mudah diakses melalui internet. Contoh-contoh ini diambil dari kasus nyata, sehingga buku ini bergerak di antara laporan investigatif dan peringatan kebijakan. Salah satu konsep penting yang dibahas ialah pergeseran dari kejahatan yang bersifat lokal menuju kejahatan yang dapat dilakukan dari jarak jauh dan dalam skala besar. Seorang pelaku di satu negara dapat menyerang ribuan korban di negara lain dalam waktu singkat, sementara sistem hukum dan kepolisian masih bekerja berdasarkan batas yurisdiksi nasional. Ketimpangan antara kecepatan inovasi kejahatan dan lambatnya respons institusi menjadi tema yang berulang. Goodman juga menyoroti peran perusahaan teknologi yang mengumpulkan data pribadi dalam jumlah sangat besar, sehingga persoalan keamanan tidak dapat dipisahkan dari persoalan privasi dan model bisnis ekonomi digital. Selain menggambarkan ancaman, buku ini menawarkan saran praktis bagi individu dan organisasi untuk melindungi diri, sekaligus seruan agar keamanan digital diperlakukan sebagai persoalan publik yang mendesak. Gagasan tentang perlunya kerja sama lintas negara, peningkatan literasi digital masyarakat, dan rancangan teknologi yang memperhatikan keamanan sejak awal menjadi bagian dari argumentasi penulis. Dalam hal ini, buku ini dapat dibaca sebagai upaya menjembatani dunia penegakan hukum, industri teknologi, dan masyarakat umum. Bagi pembaca Indonesia, tema buku ini sangat relevan. Indonesia mengalami pertumbuhan pesat pengguna internet, layanan keuangan digital, dan perdagangan daring, yang diiringi oleh maraknya penipuan daring, kebocoran data pribadi, dan serangan terhadap sistem pemerintahan. Perdebatan tentang Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi, serta kapasitas lembaga siber negara memperlihatkan bahwa persoalan yang dibahas Goodman tidak bersifat jauh atau abstrak. Buku ini dapat menjadi pembanding untuk memahami bagaimana tantangan serupa muncul di negara lain dan bagaimana respons kebijakan dapat dirancang. Dalam koleksi Pustaka KBA13 Academy, buku ini dapat dihubungkan dengan bahan-bahan tentang intelijen, keamanan, dan peradaban digital, misalnya The War for the Indonesian Mind, The Digital Civilization, dan edisi Foreign Affairs bertema World War Web. Perbandingan tersebut membantu pembaca melihat bahwa ancaman digital tidak hanya berasal dari penjahat perorangan, tetapi juga dari persaingan antarnegara, operasi pengaruh, dan perebutan kendali atas infrastruktur informasi. Dengan demikian, kejahatan siber dapat dibaca dalam spektrum yang lebih luas, dari kriminalitas biasa hingga geopolitik. Untuk kegiatan belajar, buku ini sesuai dipakai dalam mata kuliah kriminologi, hukum siber, studi keamanan, sosiologi teknologi, dan kebijakan publik. Mahasiswa dapat mengelompokkan contoh-contoh dalam buku berdasarkan jenis pelaku, sasaran, teknologi yang digunakan, dan dampaknya. Mereka juga dapat membandingkan kasus-kasus yang dibahas dengan kejadian di Indonesia, lalu menilai apakah kerangka hukum dan kelembagaan yang ada sudah memadai. Latihan semacam ini membantu menghubungkan bacaan populer dengan analisis akademik. Pembacaan kritis tetap diperlukan. Sebagai buku yang ditujukan bagi pembaca luas, Future Crimes kadang menekankan skenario terburuk untuk menggugah kesadaran, sehingga sebagian ancaman yang digambarkan mungkin belum terjadi dalam skala besar. Perkembangan teknologi sejak 2015, termasuk kecerdasan buatan generatif dan mata uang kripto, juga menghadirkan persoalan baru yang belum dibahas secara mendalam. Pengguna disarankan memadukan buku ini dengan laporan keamanan siber terbaru dan kajian akademik agar gambaran ancaman lebih seimbang. Dari sisi dokumentasi koleksi, sampul eksemplar ini menunjukkan tanda pemakaian berupa noda, goresan, dan bekas lipatan, serta label perpustakaan pada sisi kiri. Entri ini menampilkan dua foto sampul. Data penerbit dan tahun mengacu pada edisi Corgi 2016 sebagai pembanding, sehingga tahun cetak dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta. Subjek penelusuran yang sesuai untuk buku ini meliputi kejahatan komputer, keamanan internet, privasi data, terorisme siber, Internet of Things, dan kebijakan keamanan siber. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar. Sebagai peringatan tentang sisi gelap dunia yang semakin terhubung, buku ini memberi bahan penting bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana teknologi mengubah wajah kejahatan dan keamanan di abad kedua puluh satu. Latar belakang penulis sebagai praktisi penegakan hukum memberi warna tersendiri pada buku ini. Goodman pernah bertugas sebagai polisi di Los Angeles, kemudian terlibat dalam penanganan kejahatan teknologi tinggi dan bekerja sama dengan lembaga internasional seperti Interpol. Ia juga mendirikan Future Crimes Institute dan menjadi pengajar di Singularity University. Pengalaman tersebut membuat uraiannya kaya dengan contoh operasional, meskipun pembaca perlu menyadari bahwa sudut pandang aparat keamanan cenderung menekankan ancaman dan pengendalian. Pertanyaan normatif yang muncul dari buku ini juga layak dibahas lebih lanjut. Sejauh mana negara boleh memperluas pengawasan digital demi mencegah kejahatan, dan bagaimana kebebasan sipil tetap dapat dijaga ketika teknologi pengawasan semakin canggih? Pertanyaan ini penting bagi diskusi tentang hak asasi manusia di era digital, karena upaya menjaga keamanan dapat dengan mudah bergeser menjadi alat kontrol terhadap warga. Dengan membaca buku ini secara kritis, pengguna pustaka dapat menimbang keseimbangan antara keamanan, privasi, dan kebebasan dalam masyarakat yang semakin bergantung pada jaringan digital.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Marc Goodman, “Future Crimes: Inside the Digital Underground and the Battle for Our Connected World”, Corgi Books (Transworld), London, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Corgi, 2016, 688 hlm., ISBN 978-0-552-17080-2; edisi pertama 2015 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0014.