Buku

Homo Deus: A Brief History of Tomorrow

Vintage, London · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Vintage, 2017, 513 hlm., ISBN 978-1-78470-393-6 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun

Ringkasan

Lanjutan dari Sapiens, buku Yuval Noah Harari ini menanyakan arah umat manusia setelah kelaparan, wabah, dan perang relatif dapat dikendalikan. Harari berpendapat bahwa agenda baru manusia adalah keabadian, kebahagiaan, dan kekuatan menyerupai dewa. Ia menelusuri bagaimana humanisme menjadi agama modern, lalu menunjukkan bahwa temuan biologi dan ilmu komputer menggoyahkan gagasan tentang kehendak bebas dan diri individual. Bagian akhir membahas dataisme, keyakinan bahwa alam semesta terdiri atas aliran data, serta kemungkinan algoritma mengambil alih keputusan manusia. Buku ini menjadi bahan diskusi penting tentang etika teknologi dan masa depan peradaban.

Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0015
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Vintage, London
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Vintage, 2017, 513 hlm., ISBN 978-1-78470-393-6 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Penulis
Yuval Noah Harari
Klasifikasi LC
CB158–161 — Peradaban: masa depan dan prakiraan
Subjek LCSH
Civilization, Modern -- 21st century -- Forecasting Humanism Artificial intelligence
Kategori BISAC
SOC037000 SOCIAL SCIENCE / Future Studies
Bahasa
Inggris
Keterangan
Homo Deus: A Brief History of Tomorrow merupakan karya Yuval Noah Harari, sejarawan Israel yang mengajar di Universitas Ibrani Yerusalem dan dikenal luas melalui buku sebelumnya, Sapiens: A Brief History of Humankind. Sampul eksemplar ini berwarna hitam dengan judul besar berwarna merah, ilustrasi sidik jari yang tersusun dari pola sirkuit elektronik, lingkaran putih bertuliskan "Author of Sapiens", serta kutipan pujian dari peraih Nobel Ekonomi Daniel Kahneman. Logo Vintage tercantum di sisi kanan bawah. Katalog perpustakaan mencatat edisi sampul lunak Vintage, London, 2017 setebal 513 halaman dengan ISBN 978-1-78470-393-6, sedangkan edisi pertama berbahasa Inggris terbit pada 2016 dan versi aslinya terbit dalam bahasa Ibrani pada 2015. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan data katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku. Pertanyaan pokok yang diajukan Harari ialah apa yang akan menjadi agenda umat manusia setelah berhasil mengendalikan tiga masalah besar yang menghantui sejarahnya, yaitu kelaparan, wabah, dan perang. Menurut Harari, untuk pertama kalinya dalam sejarah, lebih banyak orang meninggal karena makan berlebihan daripada kelaparan, lebih banyak karena usia tua daripada penyakit menular, dan lebih banyak karena bunuh diri daripada dibunuh dalam perang. Klaim ini menjadi titik berangkat untuk membayangkan proyek-proyek baru umat manusia: mengejar keabadian, kebahagiaan, dan kekuatan menyerupai dewa. Judul Homo Deus menggambarkan kemungkinan manusia berusaha meningkatkan dirinya melalui bioteknologi dan teknologi informasi. Buku ini disusun dalam tiga bagian besar. Bagian pertama membahas bagaimana Homo sapiens menaklukkan dunia, terutama melalui kemampuan bekerja sama dalam jumlah besar berkat cerita bersama atau realitas intersubjektif seperti agama, uang, negara, dan hukum. Bagian kedua menelaah bagaimana manusia memberi makna pada dunia, dengan perhatian khusus pada humanisme modern yang menempatkan perasaan dan pengalaman individu sebagai sumber otoritas tertinggi dalam politik, ekonomi, seni, dan etika. Bagian ketiga membahas kemungkinan manusia kehilangan kendali atas dunia yang ia ciptakan, ketika algoritma dan kecerdasan buatan mampu memahami manusia lebih baik daripada manusia memahami dirinya sendiri. Salah satu gagasan yang paling banyak diperdebatkan dari buku ini ialah "dataisme", yaitu pandangan bahwa alam semesta dapat dipahami sebagai aliran data dan nilai setiap entitas ditentukan oleh sumbangannya terhadap pemrosesan data. Harari mengemukakan bahwa dataisme berpotensi menjadi semacam agama baru yang menggantikan humanisme, karena keputusan penting dalam kehidupan, mulai dari memilih pasangan hingga menentukan kebijakan publik, semakin diserahkan kepada sistem algoritmis. Gagasan ini menantang pembaca untuk bertanya kembali tentang makna kebebasan, kesadaran, dan kehendak bebas di tengah perkembangan ilmu biologi dan teknologi komputasi. Harari juga memperkirakan munculnya kesenjangan baru antara segelintir manusia yang mampu meningkatkan dirinya melalui teknologi dan mayoritas yang menjadi tidak relevan secara ekonomi maupun militer. Kekhawatiran tentang "kelas tak berguna" ini memicu diskusi luas tentang masa depan pekerjaan, pendidikan, dan sistem kesejahteraan di era otomatisasi. Penulis menegaskan bahwa skenario yang ia paparkan bukanlah ramalan pasti, melainkan kemungkinan yang dibahas agar manusia dapat memilih arah masa depan secara lebih sadar. Bagi pembaca di dunia Muslim dan Indonesia, buku ini memberi bahan refleksi yang menarik sekaligus menantang. Cara Harari memandang agama sebagai salah satu bentuk realitas intersubjektif, sejajar dengan uang dan negara, dapat memicu perdebatan dengan pandangan keagamaan yang memahami agama sebagai wahyu dan kebenaran transenden. Diskusi tentang humanisme dan dataisme juga dapat dipertemukan dengan tradisi pemikiran Islam tentang hakikat manusia, akal, ruh, dan tujuan hidup. Pertemuan tersebut membuka ruang dialog kritis antara sejarah besar ala Harari dan kerangka epistemologi yang berakar pada tradisi keilmuan Islam. Dalam koleksi Pustaka KBA13 Academy, buku ini berkaitan dengan karya-karya tentang masa depan peradaban, misalnya The History of Humans in 2050, The Digital Civilization, The Planetary Mind, dan Masa Depan Dunia: Manusia dalam Peradaban Planetari. Membaca Homo Deus berdampingan dengan karya-karya tersebut memungkinkan pembaca membandingkan cara pandang sejarawan sekuler dengan tawaran pemikiran yang menghubungkan masa depan teknologi dengan dimensi spiritual dan metafisika. Perbandingan ini dapat memperkaya kajian studi masa depan yang mulai diperkenalkan di perguruan tinggi keagamaan Islam. Untuk kegiatan belajar, buku ini sesuai dipakai dalam mata kuliah filsafat ilmu, studi masa depan, sosiologi teknologi, etika, dan studi agama. Mahasiswa dapat merangkum argumen pokok setiap bagian, mengidentifikasi asumsi filosofis yang mendasarinya, lalu menilai bukti yang dipakai penulis. Mereka juga dapat menguji klaim tentang menurunnya kelaparan, wabah, dan perang dengan memperhatikan peristiwa sesudah buku ini terbit, termasuk pandemi COVID-19 dan perang yang kembali pecah di berbagai kawasan. Pembacaan kritis tetap diperlukan. Sejumlah kritikus menilai Harari terlalu cepat menarik kesimpulan besar dari data yang kompleks, menyederhanakan peran agama, dan kurang memperhatikan perbedaan pengalaman masyarakat di luar Barat. Ada pula yang mempertanyakan pandangannya tentang kesadaran dan kehendak bebas yang dianggap terlalu reduksionis. Kritik-kritik ini tidak mengurangi nilai buku sebagai bahan diskusi, tetapi justru menjadikannya pintu masuk untuk membahas perdebatan filsafat dan sains tentang manusia. Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan tanda pemakaian pada tepi sampul dan label perpustakaan pada sisi kiri. Data penerbit, tahun, dan jumlah halaman pada entri ini merujuk pada katalog pembanding edisi Vintage 2017, sehingga tahun cetak dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta. Salah satu kekuatan buku ini terletak pada cara Harari menggabungkan sejarah panjang, biologi evolusioner, ilmu komputer, dan filsafat ke dalam satu narasi besar. Ia tidak menulis sebagai futurolog yang meramal secara pasti, melainkan sebagai sejarawan yang mengajak pembaca melihat kemungkinan. Harari sendiri menegaskan bahwa skenario dalam buku ini bukan nubuat, tetapi bahan diskusi tentang pilihan-pilihan masa kini. Dengan memahami kemungkinan masa depan, manusia diharapkan dapat mengubah arah sebelum kemungkinan terburuk terwujud. Bagi pembaca di Indonesia dan Asia Tenggara, buku ini relevan untuk membaca transformasi digital yang berlangsung cepat. Perkembangan platform daring, pengumpulan data pribadi, kecerdasan buatan, dan otomatisasi kerja sudah terasa dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan Harari tentang siapa pemilik data, bagaimana algoritma memengaruhi keputusan, dan apa artinya kebebasan individu ketika perilaku dapat diprediksi menjadi bahan refleksi bagi pembuat kebijakan, pendidik, dan masyarakat sipil. Dalam konteks kajian keagamaan, gagasan tentang agama-agama tekno juga membuka percakapan mengenai bagaimana tradisi iman menanggapi teknologi baru dan klaim-klaim tentang keabadian, kebahagiaan, serta kekuasaan manusia. Buku ini juga menuai kritik. Sebagian ilmuwan menilai Harari terlalu menyederhanakan temuan neurosains dan biologi ketika menyebut organisme sebagai algoritma. Sebagian filsuf mempertanyakan klaimnya tentang ketiadaan kehendak bebas dan diri yang utuh. Kritik semacam ini justru memperkaya pembacaan, sebab buku ini dapat dipakai sebagai titik awal diskusi kelas, seminar, atau kelompok baca tentang etika teknologi. Subjek penelusuran yang sesuai untuk buku ini meliputi peradaban modern abad kedua puluh satu, prakiraan masa depan, humanisme, kecerdasan buatan, bioteknologi, dan dataisme. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar. Sebagai salah satu buku paling berpengaruh tentang masa depan manusia dalam dekade terakhir, Homo Deus memberi bahan penting bagi siapa saja yang ingin memahami perdebatan tentang teknologi, makna, dan arah peradaban.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Yuval Noah Harari, “Homo Deus: A Brief History of Tomorrow”, Vintage, London, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Vintage, 2017, 513 hlm., ISBN 978-1-78470-393-6 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0015.