Buku

Fields of Blood: Religion and the History of Violence

Vintage, London · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Vintage, 2015, 528 hlm., ISBN 978-0-09-956498-0; edisi pertama 2014 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun

Ringkasan

Karen Armstrong, sejarawan agama asal Inggris, menggugat anggapan bahwa agama merupakan sumber utama kekerasan dalam sejarah. Menelusuri peradaban Mesopotamia, India, Tiongkok, Israel kuno, dunia Kristen, dan dunia Islam hingga era negara-bangsa modern, Armstrong menunjukkan bahwa kekerasan lebih erat terkait dengan struktur negara agraris, imperium, dan kepentingan politik, sementara tradisi agama juga melahirkan etika belas kasih yang menentang kekerasan. Bagian akhir membahas sekularisme, kolonialisme, dan gerakan militan modern. Buku ini penting bagi kajian agama, konflik, dan perdamaian.

Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0016
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Vintage, London
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Vintage, 2015, 528 hlm., ISBN 978-0-09-956498-0; edisi pertama 2014 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Penulis
Karen Armstrong
Klasifikasi LC
BL65.V55 — Kekerasan: aspek keagamaan
Subjek LCSH
Violence -- Religious aspects Religion and politics Religions -- History
Kategori BISAC
REL084000 RELIGION / Religion, Politics & State
Bahasa
Inggris
Keterangan
Fields of Blood: Religion and the History of Violence merupakan karya Karen Armstrong, penulis Inggris yang dikenal luas melalui buku-buku tentang sejarah agama, seperti A History of God, The Battle for God, Muhammad: A Prophet for Our Time, dan The Case for God. Sampul eksemplar ini berwarna jingga dengan judul besar berhuruf putih, nama penulis berhuruf hitam di bagian atas, serta simbol-simbol keagamaan berwarna merah di latar belakang, antara lain bintang Daud, bulan sabit, salib, dan aksara Om. Kutipan pujian dari Observer dan Washington Post tercantum di kiri dan kanan judul, dengan logo Vintage di sisi kanan bawah. Penerbit mencatat edisi sampul lunak Vintage terbit pada September 2015 setebal 528 halaman dengan ISBN 978-0-09-956498-0, sedangkan edisi pertamanya terbit pada 2014. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi penerbit, bukan ringkasan seluruh isi buku. Pertanyaan pokok yang diajukan Armstrong ialah benarkah agama merupakan penyebab utama kekerasan dalam sejarah manusia. Pandangan bahwa agama pada dasarnya mendorong perang dan pertumpahan darah begitu populer dalam wacana publik, terutama sesudah serangan 11 September 2001 dan munculnya gerakan-gerakan jihadis. Armstrong menantang pandangan tersebut dengan menelusuri sejarah panjang hubungan agama dan kekerasan, dari masyarakat pemburu-pengumpul dan peradaban agraris awal, tradisi keagamaan India dan Tiongkok, Yudaisme, Kristen, dan Islam, hingga Perang Salib, perang-perang agama di Eropa, kolonialisme, dan terorisme modern. Argumen utama buku ini ialah bahwa sepanjang sebagian besar sejarah, agama tidak pernah menjadi wilayah terpisah dari politik, ekonomi, dan kehidupan sosial. Konsep agama sebagai urusan pribadi yang terpisah dari negara merupakan gagasan modern Barat. Karena itu, menurut Armstrong, menyalahkan agama secara khusus atas kekerasan yang sebenarnya berakar pada perebutan kekuasaan, tanah, sumber daya, dan struktur negara merupakan penyederhanaan. Ia menunjukkan bahwa kekerasan sistemik lahir bersamaan dengan munculnya peradaban agraris dan negara, ketika elite menguasai surplus hasil bumi dan memakai kekerasan untuk mempertahankannya. Armstrong juga menekankan peran para pendiri dan tokoh agama dalam membatasi kekerasan. Ia menguraikan bagaimana ajaran Buddha, para nabi dan rabi Yahudi, Yesus, dan Nabi Muhammad berupaya menumbuhkan belas kasih, keadilan, dan kendali diri sebagai penyeimbang terhadap agresi manusia dan ketidakadilan struktural. Dalam pembacaannya, tradisi keagamaan sering kali menyediakan sumber daya etis untuk melawan kekerasan, meskipun dapat pula diseret untuk membenarkan perang ketika menyatu dengan kepentingan kekuasaan. Bagian-bagian akhir buku ini membahas hubungan antara negara sekuler modern, nasionalisme, dan kekerasan. Armstrong berpendapat bahwa negara modern memiliki kapasitas kekerasan yang jauh lebih besar daripada imperium agraris lama, dan bahwa sebagian kekerasan yang dicap religius pada abad kedua puluh dan dua puluh satu merupakan reaksi terhadap modernisasi yang dipaksakan, kolonialisme, dan penindasan politik. Dalam konteks ini, ia membahas kebangkitan fundamentalisme, konflik di Timur Tengah, dan gerakan jihadis dengan menempatkannya dalam sejarah politik yang lebih luas. Bagi pembaca Muslim dan Indonesia, buku ini memiliki relevansi yang kuat. Indonesia mengalami berbagai bentuk kekerasan yang dikaitkan dengan agama, mulai dari konflik komunal di Ambon dan Poso hingga aksi terorisme, di samping sejarah panjang toleransi dan kerukunan. Kerangka Armstrong dapat membantu pembaca menimbang faktor-faktor politik, ekonomi, dan sosial di balik kekerasan yang tampak religius, tanpa mengabaikan peran tafsir keagamaan itu sendiri. Pendekatan ini sejalan dengan kajian antropologi agama yang memperhatikan konteks sosial dan sejarah dalam memahami perilaku keagamaan. Dalam koleksi Pustaka KBA13 Academy, buku ini berkaitan dengan bahan-bahan tentang Islam dan kekerasan, radikalisme, dan geopolitik, misalnya Islam dan Kekerasan: Pengalaman untuk Aceh, Bloody Borders: An Acehnese Reply to the Clash of Civilizations, serta materi presentasi tentang tren radikalisme dan strategi pencegahan terorisme. Membaca buku ini berdampingan dengan bahan-bahan tersebut membantu menghubungkan argumen sejarah global dengan pengalaman lokal Aceh dan Indonesia. Untuk kegiatan belajar, buku ini sesuai dipakai dalam mata kuliah sejarah agama, sosiologi agama, antropologi agama, studi perdamaian dan konflik, serta hubungan internasional. Mahasiswa dapat memilih satu periode atau tradisi yang dibahas, merangkum argumen Armstrong, lalu membandingkannya dengan kajian sejarah lain tentang periode tersebut. Mereka juga dapat menguji apakah kerangka Armstrong dapat menjelaskan konflik-konflik kontemporer di Asia Tenggara. Pembacaan kritis tetap diperlukan. Sejumlah pengulas menilai Armstrong terlalu bersemangat membela agama sehingga cenderung mengecilkan peran ajaran dan motivasi keagamaan dalam sebagian peristiwa kekerasan. Ada pula yang mempertanyakan cakupan buku yang sangat luas, sehingga uraian tentang beberapa periode dianggap terlalu ringkas. Kritik ini dapat menjadi bahan diskusi tentang bagaimana sejarawan menyeimbangkan faktor agama dan faktor nonagama dalam menjelaskan kekerasan. Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan tanda pemakaian berupa noda dan aus pada tepi sampul serta label perpustakaan pada sisi kiri. Data penerbit dan tahun pada entri ini merujuk pada edisi Vintage 2015 sebagai pembanding, sehingga tahun cetak dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta. Karen Armstrong menulis buku ini sebagai tanggapan atas anggapan umum, terutama setelah peristiwa 11 September 2001, bahwa agama merupakan penyebab utama kekerasan dalam sejarah manusia. Menurut Armstrong, anggapan tersebut mengabaikan peran negara, ekonomi agraris, imperium, dan kepentingan politik yang sering memakai bahasa agama untuk membenarkan perang. Ia menunjukkan bahwa sejak peradaban pertama, kekerasan struktural telah melekat pada sistem sosial berbasis pertanian dan penguasaan surplus, sementara agama justru kerap melahirkan etika belas kasih yang menentang kekerasan tersebut. Struktur buku bergerak dari peradaban Mesopotamia, India, Tiongkok, dan Israel kuno, melewati masa Kristen awal, Bizantium, kekhalifahan Islam, perang salib, hingga perang agama di Eropa awal modern. Bagian akhir membahas kelahiran negara-bangsa sekuler, nasionalisme, kolonialisme, serta gerakan-gerakan militan modern, termasuk kelompok yang mengatasnamakan Islam. Armstrong berpendapat bahwa negara sekuler modern tidak bebas dari kekerasan; ia bahkan menghasilkan bentuk kekerasan baru yang sangat besar, seperti perang dunia dan penjajahan. Bagi pembaca di Aceh dan Indonesia, karya ini relevan untuk memahami konflik bersenjata, radikalisme, dan hubungan agama dengan negara. Kerangka Armstrong membantu membedakan antara ajaran agama, tafsir politik atas agama, dan kepentingan kekuasaan yang memanfaatkan simbol keagamaan. Pendekatan ini sejalan dengan kajian antropologi agama yang menempatkan praktik keagamaan dalam konteks sosial dan sejarahnya. Meski demikian, sejumlah pengulas menilai cakupan buku terlalu luas sehingga beberapa periode dibahas secara ringkas. Ada pula kritik bahwa Armstrong cenderung membela agama secara berlebihan. Kritik ini perlu dibaca bersama teksnya agar pembaca dapat menimbang argumen secara adil. Subjek penelusuran yang sesuai untuk buku ini meliputi kekerasan dan agama, agama dan politik, sejarah agama, fundamentalisme, terorisme, serta perdamaian. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar. Sebagai upaya ambisius menelusuri hubungan agama dan kekerasan sepanjang sejarah manusia, buku ini memberi bahan penting bagi siapa saja yang ingin memahami konflik keagamaan secara lebih jernih dan adil.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Karen Armstrong, “Fields of Blood: Religion and the History of Violence”, Vintage, London, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: London: Vintage, 2015, 528 hlm., ISBN 978-0-09-956498-0; edisi pertama 2014 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0016.