Peran ASEAN dalam Melawan Ebola
Oleh Maria Guevara
Kompas · Kompas, Jumat, 26 September 2014; rubrik Opini · 2014-09-26
Ringkasan
Artikel opini Maria Guevara, perwakilan kemanusiaan regional Médecins Sans Frontières (Dokter Lintas Batas) untuk Asia, terbit pada puncak wabah Ebola di Afrika Barat. Berangkat dari pengalamannya bertugas di Liberia sepuluh tahun sebelumnya, penulis menggambarkan runtuhnya sistem kesehatan di Liberia, Sierra Leone, dan Guinea, lambatnya respons internasional, serta kebutuhan mendesak berupa pusat isolasi, laboratorium keliling, jembatan udara, dan rumah sakit lapangan bagi tenaga medis. Ia lalu menyerukan agar ASEAN, berbekal pengalaman SARS dan satu dekade perencanaan kesiapsiagaan pandemi, menunjukkan kepemimpinan dan solidaritas regional dalam menghadapi krisis kesehatan transnasional ini.
- Nomor inventaris
- KBA-KLP-2014-0024
- Jenis dokumen
- Kliping
- Sumber terbitan
- Kompas
- Tanggal terbit
- 2014-09-26
- Edisi dan halaman
- Kompas, Jumat, 26 September 2014; rubrik Opini
- Penulis
- Maria Guevara
- Subjek
- Wabah Ebola 2014 Afrika Barat ASEAN Médecins Sans Frontières Bantuan kemanusiaan Kesehatan global Kesiapsiagaan pandemi
- Klasifikasi LC
- JZ — Hubungan internasional
- Subjek LCSH
- Ebola virus disease -- Africa, West ASEAN Humanitarian assistance
- Kategori BISAC
- POL011000 POLITICAL SCIENCE / International Relations / General
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Kliping ini memuat artikel opini Maria Guevara berjudul "Peran ASEAN dalam Melawan Ebola" dari harian Kompas, Jumat, 26 September 2014. Penulis tercantum sebagai Regional Humanitarian Representative Médecins Sans Frontières (MSF), atau Dokter Lintas Batas, untuk Asia yang berkedudukan di Hong Kong. Artikel ini terbit ketika wabah penyakit virus Ebola di Afrika Barat sedang berada pada fase paling mengkhawatirkan. Halaman kliping memperlihatkan potongan kepala halaman bertanggal, judul besar berhuruf miring yang membentang di atas empat kolom teks, nama penulis, serta satu subjudul berbentuk pertanyaan, "Kontribusi ASEAN?". Maria Guevara membuka tulisannya dengan kenangan pribadi. Sepuluh tahun sebelumnya ia pertama kali ikut misi MSF ke Monrovia, ibu kota Liberia, tidak lama setelah perang saudara kedua di negeri itu berakhir. Saat itu MSF mengisi kekosongan layanan kesehatan dasar dan rujukan karena sistem kesehatan publik lumpuh akibat perang. Penulis kemudian menunjukkan ironi pahit: capaian Liberia setelah bangkit dari perang kini kembali terancam runtuh, bukan karena senjata, melainkan karena virus. Pertempuran baru itu, dalam bahasanya, adalah perjuangan hidup dan mati melawan penyakit. Bagian awal artikel menggambarkan perkembangan wabah sejak Maret 2014. Penulis menegaskan bahwa MSF sejak awal telah membunyikan tanda bahaya, tetapi tanggapan internasional berjalan sangat lambat. Tujuh bulan kemudian keadaan tidak terkendali: ribuan orang meninggal, jumlah kasus terus meningkat, pusat isolasi kewalahan, dan tenaga lapangan kelelahan. Ia melukiskan runtuhnya infrastruktur kesehatan karena banyak petugas di garis depan tertular dan meninggal, sementara sebagian lain meninggalkan tempat tugas karena takut. Akibatnya, masyarakat kehilangan layanan bahkan untuk penyakit umum seperti malaria dan infeksi saluran pernapasan. Persediaan makanan juga menipis karena perdagangan dan kegiatan ekonomi terhenti. Penulis menyebut bahwa Sierra Leone, terutama ibu kota Freetown, mengalami situasi serupa, sedangkan Guinea dinilai sedikit lebih baik tetapi tetap rentan dan membutuhkan dukungan logistik serta sumber daya manusia yang besar. Penulis juga merujuk pidato Presiden Internasional MSF, Joanne Liu, dalam pengarahan khusus di Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, pada 2 September 2014. Dalam pengarahan itu MSF mendesak negara-negara dengan kapasitas besar segera mengirimkan bantuan. Maria Guevara merinci jenis bantuan yang dibutuhkan, antara lain penambahan pusat isolasi, laboratorium keliling untuk memperbaiki kemampuan diagnosis, jembatan udara khusus untuk memindahkan personel dan peralatan ke dan di dalam Afrika Barat, serta jaringan rumah sakit lapangan regional bagi tenaga medis yang tertular atau diduga tertular. Bagian "Kontribusi ASEAN?" menjadi inti argumen. Penulis mencatat bahwa Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah berjanji mengirim tiga ribu personel militer dan aset lain ke Liberia, tetapi kesenjangan bantuan masih terdapat di wilayah lain. Ia lalu bertanya apa yang bisa dilakukan ASEAN. Menurutnya, pengalaman menghadapi wabah SARS pada 2003 dan satu dekade perencanaan kesiapsiagaan pandemi di kawasan, termasuk pendekatan multisektoral, merupakan modal penting. ASEAN dan negara anggotanya dinilai mampu menunjukkan kepemimpinan, solidaritas regional, dan pengalaman mengoordinasikan berbagai sektor. Penulis menutup dengan penegasan bahwa kesempatan membendung bencana semakin kecil, bahwa respons besar harus terkoordinasi dan dijalankan dengan rantai komando yang jelas, dan bahwa krisis ini bersifat transnasional dengan dampak kesehatan, sosial, ekonomi, dan keamanan bagi semua benua. Konteks sejarah memperkuat arti penting kliping ini. Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan wabah Ebola di Afrika Barat sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia pada 8 Agustus 2014. Pada 18 September 2014, Dewan Keamanan PBB mengesahkan Resolusi 2177 yang untuk pertama kalinya menyebut sebuah wabah penyakit sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Sehari kemudian PBB membentuk misi darurat khusus untuk respons Ebola. Artikel ini terbit hanya sepekan setelah langkah-langkah tersebut, sehingga merekam tekanan organisasi kemanusiaan agar negara-negara di luar Afrika ikut bertindak. Secara keseluruhan, wabah 2014–2016 tercatat menyebabkan lebih dari dua puluh delapan ribu kasus dan lebih dari sebelas ribu kematian, terutama di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone. Bagi pembaca di Asia Tenggara, artikel ini menarik karena memperlihatkan cara aktor kemanusiaan internasional berusaha melibatkan ASEAN dalam isu kesehatan global di luar kawasannya sendiri. Selama ini ASEAN lebih dikenal dengan kerja sama ekonomi dan keamanan regional, sedangkan kerja sama kesehatan berkembang terutama setelah pengalaman SARS dan flu burung. Seruan penulis dapat dibaca sebagai upaya mendorong ASEAN memperluas peran dari penerima bantuan menjadi penyumbang solidaritas global. Perdebatan ini kemudian menjadi semakin relevan ketika pandemi COVID-19 melanda dunia pada 2020 dan ASEAN membentuk berbagai mekanisme baru, termasuk dana tanggap darurat dan pusat kajian penyakit menular regional. Kliping ini juga bermanfaat untuk kajian hubungan internasional dan keamanan nonkonvensional. Penulis secara eksplisit menyebut wabah sebagai krisis transnasional yang menyentuh keamanan, sejalan dengan gagasan sekuritisasi kesehatan yang banyak dibahas dalam literatur hubungan internasional. Mahasiswa dapat memakai tulisan ini untuk membahas peran organisasi nonpemerintah dalam diplomasi kemanusiaan, kapasitas organisasi regional, serta ketegangan antara kedaulatan negara dan kebutuhan respons kolektif terhadap ancaman kesehatan. Tentu saja artikel ini ditulis dari sudut pandang advokasi sebuah organisasi kemanusiaan, sehingga tujuannya adalah menggerakkan dukungan, bukan menyajikan analisis kebijakan yang seimbang. Pembaca perlu membandingkannya dengan dokumen resmi ASEAN dan laporan evaluasi respons Ebola untuk menilai sejauh mana seruan tersebut kemudian ditindaklanjuti. Meski demikian, kesaksian lapangan penulis dan rincian kebutuhan yang ia sampaikan menjadikan kliping ini sumber primer yang berharga tentang suasana krisis pada akhir September 2014. Penulisan artikel ini dalam bahasa Indonesia di harian nasional juga menunjukkan strategi komunikasi organisasi kemanusiaan internasional. Dengan menulis untuk pembaca Indonesia, negara terbesar di ASEAN, MSF berusaha memengaruhi opini publik dan pembuat kebijakan di kawasan yang selama ini relatif jauh dari krisis di Afrika Barat. Indonesia sendiri pada waktu itu memperketat pengawasan di pintu masuk negara dan menyiapkan rumah sakit rujukan untuk kasus yang dicurigai, sementara pengiriman tenaga kesehatan ke wilayah terdampak menjadi bahan perdebatan. Kliping ini dapat menjadi titik awal untuk menelusuri respons pemerintah Indonesia dan negara ASEAN lain terhadap wabah tersebut. Secara fisik, kliping berupa potongan halaman koran berwarna kekuningan dengan format melebar dan kepala halaman bertanggal yang ditempelkan di atasnya. Teks empat kolom terbaca jelas. Gambar yang diunggah telah diluruskan dan diperjelas untuk keterbacaan. Teks lengkap artikel tidak disalin ke dalam katalog ini karena hak ciptanya berada pada penulis dan penerbit; keterangan ini merupakan uraian kuratorial untuk membantu pengguna memahami isi, konteks, dan nilai penelitiannya. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi wabah Ebola 2014, Afrika Barat, ASEAN, Médecins Sans Frontières, bantuan kemanusiaan, kesehatan global, dan kesiapsiagaan pandemi. Untuk keperluan kutipan, rujukan dapat ditulis sebagai berikut: Maria Guevara, "Peran ASEAN dalam Melawan Ebola", Kompas, 26 September 2014, rubrik Opini.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Koleksi
- Kliping
Cara mengutip
Maria Guevara, “Peran ASEAN dalam Melawan Ebola”, Kompas, Kompas, Jumat, 26 September 2014; rubrik Opini, 2014-09-26. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-KLP-2014-0024.