Pelaksanaan Kurikulum 2013
Oleh Rosalia Wiwiek Wahyuning Ratri
Kompas · Kompas, Jumat, 26 September 2014; rubrik Opini · 2014-09-26
Ringkasan
Artikel opini seorang guru SMP Negeri 1 Patuk, Gunungkidul, tentang pengalaman menerapkan Kurikulum 2013 di kelas. Penulis menyoroti sulitnya membuat siswa aktif bertanya sesuai tuntutan pendekatan saintifik, sehingga kelas sering sunyi dan sebagian guru kembali ke ceramah. Ia menguraikan lima penyebab: malu atau minder, takut salah, tidak mengerti, budaya patuh, dan mentalitas meremehkan. Sebagai jalan keluar, penulis mengusulkan perubahan tatanan sosial: mempersempit kesenjangan, menghentikan hukuman yang mempermalukan, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, menilai keluasan wawasan, dan mengganti ajaran patuh kepada guru dan orangtua dengan patuh kepada kebenaran.
- Nomor inventaris
- KBA-KLP-2014-0025
- Jenis dokumen
- Kliping
- Sumber terbitan
- Kompas
- Tanggal terbit
- 2014-09-26
- Edisi dan halaman
- Kompas, Jumat, 26 September 2014; rubrik Opini
- Penulis
- Rosalia Wiwiek Wahyuning Ratri
- Subjek
- Kurikulum 2013 Pendekatan saintifik Keaktifan siswa Budaya bertanya Pendidikan dan ketimpangan sosial Kebijakan pendidikan
- Klasifikasi LC
- LB — Teori dan praktik pendidikan
- Subjek LCSH
- Education -- Curricula -- Indonesia Questioning Active learning
- Kategori BISAC
- EDU007000 EDUCATION / Curricula
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Kliping ini memuat artikel opini Rosalia Wiwiek Wahyuning Ratri berjudul "Pelaksanaan Kurikulum 2013" dari harian Kompas, Jumat, 26 September 2014. Penulis tercantum sebagai guru SMP Negeri 1 Patuk, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Artikel ini istimewa karena ditulis oleh seorang guru sekolah menengah pertama yang mengalami langsung pelaksanaan kurikulum baru di ruang kelas, bukan oleh pejabat atau pakar pendidikan di tingkat pusat. Halaman kliping memperlihatkan potongan kepala halaman bertanggal, judul besar berhuruf miring, nama penulis, empat kolom teks dengan dua subjudul, yakni "Lima hal" dan "Perubahan tatanan sosial", serta ilustrasi karya Didie SW berupa seorang siswa berseragam yang menunggangi pesawat kertas di atas bola dunia. Penulis berangkat dari masalah yang ia anggap paling serius dalam pelaksanaan Kurikulum 2013, yakni sulitnya mewujudkan kegiatan belajar yang membuat siswa aktif bertanya, sementara guru diminta tidak memulai dengan ceramah. Pendekatan saintifik dalam kurikulum tersebut menuntut siswa mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan hasil belajarnya. Namun, menurut pengalaman penulis dan keluhan rekan-rekan guru dalam berbagai pelatihan, ruang kelas justru sering menjadi sunyi. Waktu terbuang karena siswa diam meskipun guru berulang kali mengundang pertanyaan. Sebagian guru akhirnya kembali ke cara lama, seperti ceramah, lembar kerja, atau kegiatan lain, asalkan kelas tetap tampak beraktivitas. Bagian "Lima hal" menguraikan penyebab siswa enggan bertanya. Penyebab pertama adalah rasa malu atau minder. Bagi banyak anak, tampil di depan umum dirasakan sama dengan mempermalukan diri, terutama bagi siswa dari latar sosial lemah yang terbiasa dipandang rendah karena kemiskinan atau keterbelakangan. Penyebab kedua adalah rasa takut mengambil risiko salah. Penulis menyoroti pengalaman buruk ketika pertanyaan atau jawaban yang keliru dibalas dengan ejekan, kemarahan, bahkan hukuman, baik di sekolah maupun di rumah. Ia juga menyinggung budaya paternalistik yang tidak membiasakan anak mengemukakan pendapat dan mengkritik orang yang lebih tua. Penyebab ketiga adalah ketidaktahuan. Penulis menilai bangsa ini belum memiliki budaya membaca dan mencari pengetahuan secara mandiri, sehingga siswa memasuki kelas tanpa bekal wawasan. Ia mencatat gejala menarik: siswa bahkan tidak tahu apakah dirinya sudah atau belum memahami suatu materi. Keengganan mencari wawasan juga dipengaruhi sistem penilaian yang terutama mengukur kemampuan menjawab soal, sehingga keluasan pengetahuan tidak dihargai. Penyebab keempat adalah budaya patuh. Pendidikan selama ini menanamkan kepatuhan kepada yang lebih tua, lebih tinggi sekolahnya, lebih kaya, dan lebih berkuasa, sehingga siswa khawatir pendapatnya berbeda dari pendapat guru. Penyebab kelima adalah mentalitas meremehkan, yaitu anggapan sebagian siswa bahwa materi pelajaran tidak penting karena banyak orang bisa hidup tanpa menguasainya. Bagian "Perubahan tatanan sosial" menawarkan jalan keluar. Penulis berpendapat bahwa siswa aktif hanya dapat lahir bila kesenjangan sosial dipersempit dan anak-anak dari kalangan bawah ditumbuhkan rasa percaya dirinya. Hukuman yang mempermalukan, baik di sekolah maupun di masyarakat, perlu dihentikan. Anak-anak perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan di rumah, masyarakat, dan sekolah. Sistem penilaian juga harus bergeser dari ketepatan menjawab soal ke keluasan wawasan dan kemampuan menyampaikan pendapat. Penulis mengusulkan agar ajaran "patuh kepada guru dan orangtua" diganti dengan "patuh kepada kebenaran", disertai keberanian membongkar kesalahan guru atau orangtua sendiri. Ia menutup dengan peringatan bahwa selama hal-hal tersebut belum diatasi, Kurikulum 2013 tidak akan pernah benar-benar berhasil. Konteks kebijakan membuat kliping ini bernilai historis. Kurikulum 2013 mulai diterapkan secara bertahap pada tahun ajaran 2013/2014 di bawah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, lalu diperluas ke semua sekolah pada tahun ajaran 2014/2015. Pelaksanaannya menuai banyak kritik, terutama soal kesiapan guru, keterlambatan buku, dan rumitnya penilaian. Pada Desember 2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Anies Baswedan, menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah yang baru menerapkannya satu semester dan mengembalikan mereka ke Kurikulum 2006, sambil mempertahankan sekolah rintisan sebagai percontohan. Kurikulum tersebut kemudian direvisi dan diberlakukan kembali secara bertahap. Artikel ini terbit sekitar dua bulan sebelum keputusan penghentian itu, sehingga merekam suara guru di lapangan pada masa transisi yang menentukan. Bagi kajian pendidikan, tulisan ini menarik karena menghubungkan persoalan pedagogi dengan struktur sosial dan budaya. Penulis tidak berhenti pada soal teknik mengajar, tetapi menunjukkan bahwa keheningan kelas berakar pada kemiskinan, ketimpangan, budaya patuh, dan pola pengasuhan otoriter. Pandangan ini sejalan dengan gagasan pendidikan kritis yang dikembangkan Paulo Freire, yang mengkritik model pendidikan "gaya bank" ketika siswa hanya menerima pengetahuan dari guru. Pandangan itu juga relevan dengan perdebatan lebih baru tentang Kurikulum Merdeka, yang kembali menekankan pembelajaran berpusat pada siswa, diferensiasi, dan profil pelajar yang kritis. Artikel ini juga berguna bagi pendidikan calon guru. Lima penyebab yang diuraikan penulis dapat dijadikan kerangka diskusi atau bahan refleksi dalam mata kuliah strategi pembelajaran, psikologi pendidikan, dan sosiologi pendidikan. Pengalaman dari sebuah sekolah di Gunungkidul, wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kabupaten termiskin di Yogyakarta, memberikan contoh konkret tentang hubungan antara kondisi sosial ekonomi dan partisipasi siswa di kelas. Sebagai catatan kritis, artikel ini bertumpu pada pengalaman dan pengamatan pribadi penulis, bukan pada penelitian sistematis. Beberapa penyebab yang ia sebutkan saling bertumpang tindih, dan solusi yang ditawarkan bersifat luas sehingga memerlukan penjabaran lebih lanjut dalam kebijakan sekolah. Namun, justru karena ditulis dari dalam kelas, artikel ini memberi perspektif yang jarang terdengar dalam perdebatan kebijakan pendidikan nasional. Tulisan ini juga menarik dari sudut antropologi pendidikan. Keheningan kelas yang digambarkan penulis bukan sekadar persoalan individu, melainkan produk relasi kuasa antara guru dan murid, orang tua dan anak, serta kelompok sosial yang berbeda. Nilai-nilai seperti sungkan, hormat kepada yang lebih tua, dan rasa malu memiliki akar dalam budaya Jawa dan budaya Nusantara lain, sehingga kebijakan kurikulum yang dirancang secara seragam dari pusat perlu memperhitungkan konteks budaya setempat. Pembaca dapat membandingkan pengamatan dari Gunungkidul ini dengan pengalaman sekolah di daerah lain, termasuk Aceh, untuk melihat persamaan dan perbedaan hambatan budaya dalam pembelajaran aktif. Secara fisik, kliping berupa satu halaman koran berwarna kekuningan dengan kepala halaman bertanggal yang ditempelkan di atasnya. Ilustrasi berwarna di bagian tengah masih jelas, dan teks terbaca baik. Gambar yang diunggah telah diluruskan dan diperjelas untuk keterbacaan. Teks lengkap artikel tidak disalin ke dalam katalog ini karena hak ciptanya berada pada penulis dan penerbit; keterangan ini merupakan uraian kuratorial untuk membantu pengguna memahami isi, konteks, dan nilai penelitiannya. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Kurikulum 2013, pendekatan saintifik, keaktifan siswa, budaya bertanya, pendidikan dan ketimpangan sosial, serta kebijakan pendidikan Indonesia. Untuk keperluan kutipan, rujukan dapat ditulis sebagai berikut: Rosalia Wiwiek Wahyuning Ratri, "Pelaksanaan Kurikulum 2013", Kompas, 26 September 2014, rubrik Opini.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Koleksi
- Kliping
Cara mengutip
Rosalia Wiwiek Wahyuning Ratri, “Pelaksanaan Kurikulum 2013”, Kompas, Kompas, Jumat, 26 September 2014; rubrik Opini, 2014-09-26. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-KLP-2014-0025.
