Majalah

TIME (Asia) — The Last Star Wars (9 Mei 2005)

Time Inc., edisi Asia (Hong Kong) · TIME edisi Asia, 9 Mei 2005, nomor 18 (menurut kode tambahan kode batang). Artikel yang dicatat terpisah: Anthony Spaeth, "Under the Gun"; Jim Erickson, "Done Talking?"; Bill Powell, "A Journey From War To War". Foto hlm. 25 terlampir. Volume dan jumlah halaman belum diperiksa · 2005-05-09

Ringkasan

Majalah berita mingguan TIME edisi Asia bertanggal 9 Mei 2005 dengan laporan sampul "The Last Star Wars", terbit menjelang peluncuran Star Wars: Episode III – Revenge of the Sith pada 19 Mei 2005. Sampul menampilkan helm Darth Vader dengan pantulan wajah pemuda pada lensanya, simbol kejatuhan Anakin Skywalker. Edisi ini menjanjikan ulasan film, wawancara dengan George Lucas, dan silsilah keluarga tokoh Star Wars. Pita sampul juga menandai laporan tentang militer Filipina yang dilanda moral rendah dan perang berkepanjangan, relevan bagi kajian konflik bersenjata dan hubungan sipil-militer di Asia Tenggara pada masa yang sama dengan perundingan damai Aceh.

Nomor inventaris
KBA-MJL-2005-0001
Jenis dokumen
Majalah
Sumber terbitan
Time Inc., edisi Asia (Hong Kong)
Tanggal terbit
2005-05-09
Edisi dan halaman
TIME edisi Asia, 9 Mei 2005, nomor 18 (menurut kode tambahan kode batang). Artikel yang dicatat terpisah: Anthony Spaeth, "Under the Gun"; Jim Erickson, "Done Talking?"; Bill Powell, "A Journey From War To War". Foto hlm. 25 terlampir. Volume dan jumlah halaman belum diperiksa
Klasifikasi LC
AP — Terbitan berkala umum
Subjek LCSH
Star Wars films Lucas, George Philippines. Armed Forces Newsmagazines -- Periodicals Nuclear weapons -- Korea (North) Iraq War, 2003-2011
Kategori BISAC
PER004030 PERFORMING ARTS / Film / History & Criticism
Bahasa
Inggris
Keterangan
Eksemplar ini adalah majalah berita mingguan TIME edisi Asia bertanggal 9 Mei 2005. Sampul depan menampilkan gambar helm hitam mengilap tokoh Darth Vader dari saga film Star Wars, dengan pantulan wajah seorang pemuda pada kedua lensa matanya, berlatar langit biru gelap bertabur bintang. Judul utama sampul tertulis dalam huruf kuning besar, "The Last Star Wars", disertai tiga baris keterangan isi: ulasan film yang menurut redaksi lebih gelap, lebih menakutkan, dan lebih baik; wawancara tanya-jawab dengan George Lucas; serta silsilah keluarga tokoh-tokoh Star Wars. Pada sudut kanan atas terdapat pita diagonal bertuliskan judul laporan lain, "The Philippine Military: Poor Morale and Endless Wars". Bagian atas sampul memuat alamat situs timeasia.com, keterangan "Subscriber copy not for resale", dan tanggal edisi, sedangkan sudut kanan bawah memuat kode batang dengan angka tambahan 18 yang menunjukkan nomor terbitan. Laporan utama edisi ini terkait dengan peluncuran Star Wars: Episode III – Revenge of the Sith, film keenam dan, pada saat itu, dianggap sebagai penutup saga Star Wars yang dirintis George Lucas sejak 1977. Film tersebut tayang perdana di Festival Film Cannes pada pertengahan Mei 2005 dan dirilis luas di bioskop pada 19 Mei 2005, sepuluh hari setelah tanggal edisi majalah ini. Episode III menceritakan kejatuhan Anakin Skywalker ke sisi gelap dan transformasinya menjadi Darth Vader, sehingga pantulan wajah pemuda pada helm Vader di sampul merupakan simbol visual yang cermat tentang tema utama film: perubahan seorang pahlawan muda menjadi tokoh jahat paling ikonik dalam sejarah film populer. Judul "The Last Star Wars" mencerminkan pandangan umum pada 2005 bahwa Episode III adalah film Star Wars terakhir. Pandangan itu kemudian terbukti keliru setelah Lucasfilm dibeli The Walt Disney Company pada 2012 dan trilogi baru dimulai pada 2015. Sebagai dokumen budaya populer, edisi ini merekam salah satu puncak fenomena Star Wars pada awal abad ke-21. Wawancara dengan George Lucas yang dijanjikan di sampul menunjukkan posisi sutradara sekaligus produser itu sebagai tokoh sentral industri film Hollywood, terutama dalam pengembangan efek visual digital dan model bisnis waralaba film. Silsilah keluarga tokoh yang dicantumkan sebagai bonus menunjukkan upaya majalah membantu pembaca memahami jalinan cerita enam film yang dirilis tidak berurutan, yakni trilogi asli 1977–1983 dan trilogi prekuel 1999–2005. Bagi peneliti kajian media dan budaya, edisi ini memberi contoh bagaimana majalah berita arus utama memperlakukan sebuah film sebagai peristiwa budaya global yang layak menjadi laporan sampul. Laporan kedua yang ditandai pada pita sampul, tentang militer Filipina, memiliki nilai khusus bagi kajian Asia Tenggara. Pada pertengahan dasawarsa 2000-an, Angkatan Bersenjata Filipina menghadapi beberapa medan konflik sekaligus: pemberontakan komunis Tentara Rakyat Baru, gerakan separatis Moro di Mindanao, serta kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Basilan dan Sulu yang dikaitkan dengan jaringan teror internasional. Di dalam tubuh militer sendiri, ketidakpuasan atas korupsi, kesejahteraan prajurit, dan politisasi institusi pernah memuncak dalam peristiwa pemberontakan perwira muda di Oakwood, Makati, pada Juli 2003. Judul pita sampul, yang menyoroti rendahnya moral dan perang yang tidak berkesudahan, menempatkan laporan ini dalam rangkaian kegelisahan tersebut. Beberapa bulan sesudah edisi ini terbit, krisis politik pemerintahan Presiden Gloria Macapagal-Arroyo semakin dalam, dan pada Februari 2006 pemerintah mengumumkan keadaan darurat setelah terungkap rencana kudeta. Bagi pembaca di Aceh dan Indonesia, laporan tentang militer Filipina relevan untuk studi perbandingan. Pada waktu yang hampir bersamaan, Indonesia sedang merundingkan perdamaian dengan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, yang berujung pada Nota Kesepahaman 15 Agustus 2005. Kedua negara sama-sama bergulat dengan konflik bersenjata internal, reformasi sektor keamanan, dan hubungan sipil-militer setelah masa otoritarianisme. Membaca laporan TIME tentang Filipina bersama dokumen-dokumen tentang konflik Aceh dapat membantu peneliti melihat persamaan dan perbedaan pengalaman kedua negara dalam menangani pemberontakan, separatisme, dan terorisme di kawasan. Edisi Asia majalah TIME diterbitkan dari Hong Kong dan memiliki isi yang sebagian berbeda dari edisi Amerika Serikat, terutama dalam laporan-laporan tentang kawasan Asia. Perbedaan ini terlihat dari pita sampul tentang Filipina, yang kemungkinan tidak muncul pada sampul edisi Amerika. Keterangan "Subscriber copy not for resale" menandakan bahwa eksemplar ini merupakan salinan pelanggan yang dikirim langsung, bukan dibeli di kios. Informasi semacam ini berguna untuk merekonstruksi kebiasaan membaca dan jaringan informasi yang dimiliki pemilik koleksi pada pertengahan 2000-an, ketika majalah berita internasional masih menjadi sumber utama analisis global bagi kalangan akademik di Asia Tenggara. Dari sudut koleksi, majalah ini melengkapi koleksi terbitan berkala internasional di pustaka ini, seperti seri Foreign Affairs, dengan sudut pandang jurnalisme berita populer. Jika Foreign Affairs menyajikan analisis kebijakan luar negeri yang panjang dan akademis, TIME menyajikan peristiwa dunia dalam format yang lebih ringkas dan visual untuk pembaca luas. Perbandingan kedua jenis terbitan ini dapat menjadi bahan diskusi tentang perbedaan genre dalam media internasional, cara media membingkai peristiwa, serta hubungan antara budaya populer dan isu keamanan dalam satu edisi majalah. Kondisi fisik eksemplar menunjukkan usia dan pemakaian. Sampul memperlihatkan bintik-bintik dan noda kecil keputihan di sejumlah tempat, terutama di sekitar gambar helm dan bagian bawah, serta sedikit keausan pada tepi. Warna merah logo TIME dan biru latar masih cukup jelas. Foto yang diunggah merupakan foto asli sampul, bukan sampul olahan, dan dipakai sebagai dokumentasi fisik eksemplar. Selain foto sampul, entri ini dilengkapi foto halaman 25. Nomor volume dan jumlah halaman keseluruhan majalah masih perlu dilengkapi dari halaman kolofon. Untuk keperluan penelitian, edisi ini dapat dipakai dalam kajian budaya populer dan industri film, kajian media dan jurnalisme internasional, serta kajian keamanan dan hubungan sipil-militer di Asia Tenggara. Pengguna yang memerlukan teks artikel disarankan merujuk pada arsip digital TIME atau eksemplar fisik di koleksi ini. Keterangan ini merupakan uraian kuratorial yang disusun dari sampul dan konteks sejarah terbitan, bukan ringkasan isi seluruh artikel. Gambar sampul pada eksemplar ini juga menarik dari sudut desain grafis. Redaksi tidak menampilkan adegan film atau foto para pemain, melainkan sebuah ikon tunggal yang mudah dikenali, yakni helm tokoh antagonis, sehingga pesan sampul tersampaikan hampir tanpa kata. Teknik pantulan pada lensa helm menggabungkan dua tokoh dalam satu gambar dan menyiratkan bahwa sang penjahat sesungguhnya berasal dari pahlawan muda yang jatuh. Strategi visual semacam ini lazim dalam sampul majalah berita pada era tersebut, ketika sampul menjadi alat pemasaran utama di kios dan media sosial belum berperan besar. Peneliti desain komunikasi visual dapat memanfaatkan sampul ini sebagai contoh penggunaan ikon budaya populer untuk menarik perhatian pembaca lintas negara dan lintas bahasa. Tiga artikel dari edisi ini telah dicatat sebagai entri kliping tersendiri dan ditautkan ke entri majalah ini. Pertama, laporan utama Anthony Spaeth, "Under the Gun", tentang moral rendah, peralatan usang, dan perang berkepanjangan yang dihadapi Angkatan Bersenjata Filipina, berangkat dari gugurnya Letnan Kolonel Dennis Villanueva di Jolo pada Februari 2005. Kedua, artikel Jim Erickson, "Done Talking?", tentang kebuntuan perundingan enam pihak mengenai program nuklir Korea Utara. Ketiga, artikel Bill Powell, "A Journey From War To War", tentang keluarga pengungsi Vietnam keturunan Tionghoa yang putranya, seorang anggota Marinir Amerika Serikat, gugur di Fallujah, Irak. Pembaca dapat membuka entri masing-masing untuk keterangan lengkap dan pindaian artikelnya. Foto pada halaman 25 memperlihatkan seorang lelaki lanjut usia memegang bendera Republik Tiongkok di dalam Aula Peringatan Chiang Kai-shek di Taipei, dengan patung Chiang Kai-shek di latar belakang. Foto ini kemungkinan besar menyertai laporan edisi yang sama tentang hubungan Taiwan dan Tiongkok daratan, isu yang pada akhir April 2005 menjadi sorotan dunia karena kunjungan Ketua Kuomintang Lien Chan ke Beijing. Teks artikel yang disertai foto ini belum dipindai, sehingga kaitannya perlu dipastikan dengan memeriksa halaman 24–25 majalah. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi majalah berita, TIME edisi Asia, Star Wars, George Lucas, industri film Hollywood, militer Filipina, krisis nuklir Korea Utara, hubungan Taiwan–Tiongkok, Perang Vietnam dan Perang Irak, serta hubungan sipil-militer. Untuk keperluan kutipan, rujukan dapat ditulis sebagai berikut: TIME (edisi Asia), 9 Mei 2005, sampul "The Last Star Wars".
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Has Part
Koleksi
Majalah

Cara mengutip

“TIME (Asia) — The Last Star Wars (9 Mei 2005)”, Time Inc., edisi Asia (Hong Kong), TIME edisi Asia, 9 Mei 2005, nomor 18 (menurut kode tambahan kode batang). Artikel yang dicatat terpisah: Anthony Spaeth, "Under the Gun"; Jim Erickson, "Done Talking?"; Bill Powell, "A Journey From War To War". Foto hlm. 25 terlampir. Volume dan jumlah halaman belum diperiksa, 2005-05-09. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-MJL-2005-0001.