Done Talking?
Oleh Jim Erickson
TIME (edisi Asia) · TIME edisi Asia, 9 Mei 2005 (1 halaman); liputan dibantu Matthew Forney, Kim Yooseung, dan Donald Macintyre. Bagian dari entri majalah TIME (Asia) 9 Mei 2005 · 2005-05-09
Ringkasan
Artikel TIME edisi Asia tentang kebuntuan perundingan enam pihak mengenai program nuklir Korea Utara pada pertengahan 2005. Jim Erickson melaporkan frustrasi juru runding Amerika Christopher Hill, tanda-tanda Tiongkok kehilangan semangat, serta pilihan alternatif yang dipertimbangkan Washington, seperti membawa isu ini ke Dewan Keamanan PBB atau memperketat pencegatan kiriman melalui Proliferation Security Initiative. Artikel ini juga membahas dugaan persiapan uji coba nuklir Korea Utara setelah negara itu menyatakan diri sebagai negara nuklir pada Februari 2005, dan sikap Tiongkok yang menolak sanksi karena khawatir terhadap gelombang pengungsi.
- Nomor inventaris
- KBA-KLP-2005-0002
- Jenis dokumen
- Kliping
- Sumber terbitan
- TIME (edisi Asia)
- Tanggal terbit
- 2005-05-09
- Edisi dan halaman
- TIME edisi Asia, 9 Mei 2005 (1 halaman); liputan dibantu Matthew Forney, Kim Yooseung, dan Donald Macintyre. Bagian dari entri majalah TIME (Asia) 9 Mei 2005
- Penulis
- Jim Erickson
- Subjek
- Korea Utara Senjata nuklir Perundingan enam pihak Nonproliferasi Kim Jong Il Christopher Hill Keamanan Asia Timur
- Klasifikasi LC
- JZ5665–5675 — Kontrol dan nonproliferasi senjata nuklir
- Subjek LCSH
- Nuclear weapons -- Korea (North) Nuclear nonproliferation United States -- Foreign relations -- Korea (North)
- Kategori BISAC
- POL011010 POLITICAL SCIENCE / International Relations / Diplomacy
- Bahasa
- Inggris
- Keterangan
- Kliping ini memuat artikel Jim Erickson berjudul "Done Talking?" dari majalah TIME edisi Asia, 9 Mei 2005. Artikel satu halaman ini membahas kebuntuan perundingan enam pihak mengenai program senjata nuklir Korea Utara dan pilihan-pilihan yang mulai dipertimbangkan Amerika Serikat bila perundingan gagal. Di bagian akhir tercantum keterangan bahwa liputan dibantu oleh Matthew Forney dari Beijing serta Kim Yooseung dan Donald Macintyre dari Seoul. Entri ini terkait dengan entri induk majalah TIME edisi Asia 9 Mei 2005 dalam koleksi yang sama. Erickson membuka artikelnya dengan adegan yang menggambarkan frustrasi diplomasi Amerika. Asisten Menteri Luar Negeri AS Christopher Hill, kepala juru runding Amerika untuk isu Korea Utara, menjawab pertanyaan wartawan di Seoul tentang mengapa Washington tidak menawarkan solusi yang berani dengan meminta agar kesalahan ditimpakan kepada pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il. Kepada TIME, Hill bahkan menyiratkan bahwa sudah waktunya Kim diberi tekanan. Penulis mencatat bahwa nada ini berbeda dengan sikap resmi Presiden George W. Bush, yang masih menyatakan bahwa perundingan enam pihak, melibatkan Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Rusia, Korea Selatan, dan Korea Utara, merupakan jalan paling layak. Bagian tengah artikel menguraikan tanda-tanda kebuntuan. Menurut Erickson, bukti semakin banyak bahwa perundingan mungkin mandek, bahkan secara permanen. Setelah bertemu pejabat Tiongkok, Hill menyatakan bahwa masa depan perundingan sangat tidak pasti. Beijing pun tampak kehilangan semangat; menurut sumber diplomatik, Presiden Tiongkok Hu Jintao menunda rencana kunjungan ke Pyongyang karena Kim menolak kembali ke meja perundingan. Sementara itu, kemampuan Korea Utara dinilai terus berkembang, termasuk kekhawatiran tentang jangkauan rudalnya. Penulis mengutip Presiden Bush yang mengatakan bahwa dalam menghadapi tiran seperti Kim Jong Il lebih baik berasumsi bahwa ia memiliki kemampuan tersebut. Artikel kemudian membahas alternatif yang mulai diperdebatkan di Washington. Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice menyinggung kemungkinan membawa persoalan ini ke Dewan Keamanan PBB. Melalui Proliferation Security Initiative yang diluncurkan pada 2003, Amerika Serikat dapat meningkatkan upaya mencegat kiriman barang terlarang dari Korea Utara. Namun Tiongkok, satu-satunya negara yang memiliki pengaruh nyata atas Pyongyang, menolak gangguan terhadap bantuan dan perdagangan sah Korea Utara, dan dengan kursi tetapnya di Dewan Keamanan dapat memveto sanksi. Beijing khawatir keruntuhan politik dan ekonomi Korea Utara akan mendorong gelombang pengungsi melintasi perbatasan. Erickson juga melaporkan dugaan Washington bahwa Korea Utara, yang pada Februari 2005 menyatakan diri sebagai negara pemilik senjata nuklir, mungkin sedang bersiap melakukan uji coba nuklir untuk membuktikan klaimnya. Seoul menyatakan tidak memiliki bukti, dan sebagian pihak mencurigai Amerika Serikat sengaja membesar-besarkan kekhawatiran untuk membenarkan kebijakan lebih keras. Artikel ini mengutip Menteri Luar Negeri Korea Selatan saat itu, Ban Ki-moon, yang memperingatkan bahwa uji coba nuklir akan memperdalam isolasi Korea Utara. Penulis menyimpulkan bahwa permainan diplomatik Kim sulit diramalkan, tetapi kemungkinan terbesar adalah diplomasi yang melelahkan akan terus berlanjut. Konteks sejarah sesudah artikel ini terbit memberi nilai tambah bagi pembaca masa kini. Perundingan enam pihak memang berlanjut dan pada September 2005 menghasilkan pernyataan bersama yang berisi komitmen Korea Utara untuk meninggalkan program nuklir. Namun kesepakatan itu tidak bertahan lama. Pada Oktober 2006 Korea Utara melakukan uji coba nuklir pertamanya, sesuatu yang dalam artikel ini masih diperdebatkan sebagai kemungkinan. Perundingan enam pihak akhirnya terhenti pada 2009, dan Korea Utara melakukan serangkaian uji coba nuklir berikutnya. Ban Ki-moon, yang dikutip dalam artikel ini, kemudian menjadi Sekretaris Jenderal PBB pada 2007, sedangkan Christopher Hill tetap memimpin delegasi Amerika dalam perundingan hingga akhir pemerintahan Bush. Bagi kajian hubungan internasional, artikel ini berguna sebagai potret satu momen dalam sejarah panjang diplomasi nonproliferasi di Semenanjung Korea. Ia memperlihatkan dilema klasik antara diplomasi multilateral dan tekanan koersif, peran sentral Tiongkok sebagai negara penyangga, serta ketegangan di antara sekutu, khususnya antara Washington dan Seoul, mengenai penilaian ancaman. Artikel ini juga dapat dipakai untuk membahas konsep sekuritisasi dan cara media membingkai ancaman nuklir. Bagi pembaca di Asia Tenggara, isu ini relevan karena ASEAN, melalui Forum Regional ASEAN, merupakan salah satu forum langka tempat Korea Utara ikut serta dalam dialog keamanan regional. Indonesia juga memiliki hubungan diplomatik dengan Pyongyang sejak 1960-an dan beberapa kali menawarkan diri sebagai penengah. Dengan demikian, krisis nuklir Korea bukan hanya persoalan Asia Timur, melainkan bagian dari arsitektur keamanan Asia-Pasifik yang lebih luas. Sebagai catatan kritis, artikel ini ditulis dengan sudut pandang yang sangat bertumpu pada pejabat Amerika dan sekutunya. Perspektif Korea Utara hampir tidak muncul, kecuali melalui pernyataan resminya. Pembaca sebaiknya membandingkan artikel ini dengan analisis akademis yang lebih seimbang tentang motivasi keamanan Pyongyang, seperti kekhawatiran terhadap perubahan rezim setelah invasi ke Irak pada 2003. Dari sudut sejarah diplomasi, artikel ini juga memperlihatkan peran individu dalam negosiasi internasional. Christopher Hill, diplomat karier yang sebelumnya terlibat dalam perundingan damai Dayton untuk Bosnia, dikenal dengan gaya bicara yang lugas. Ucapannya yang dikutip TIME memperlihatkan ketegangan antara bahasa diplomatik resmi dan kekesalan pribadi seorang juru runding yang menghadapi lawan yang sulit diprediksi. Bagi mahasiswa hubungan internasional, kutipan semacam ini membuka diskusi tentang bagaimana pernyataan pejabat di media dapat menjadi bagian dari strategi tawar-menawar, sekaligus berisiko menimbulkan salah tafsir di antara negara-negara yang terlibat. Artikel ini juga dapat dibaca bersama laporan lain dalam edisi yang sama, terutama laporan tentang militer Filipina dan hubungan Taiwan dengan Tiongkok daratan. Ketiganya memperlihatkan bahwa pada pertengahan 2005 kawasan Asia sedang menghadapi beberapa sumber ketegangan sekaligus, dari konflik internal hingga persaingan kekuatan besar. Kliping ini dengan demikian bermanfaat bagi peneliti yang ingin merekonstruksi peta keamanan Asia pada masa itu dari sudut pandang media internasional berbahasa Inggris yang banyak dibaca kalangan elite kawasan. Pada masa itu, perundingan enam pihak diselenggarakan di Beijing, dan Tiongkok berperan sebagai tuan rumah sekaligus penengah. Posisi ini membuat Beijing memiliki kepentingan besar agar perundingan tidak runtuh, karena kegagalannya akan mengurangi pengaruh diplomatik Tiongkok di kawasan. Secara fisik, pindaian berupa satu halaman majalah dengan teks tiga kolom dan foto. Bagian tepi kiri halaman sedikit terpotong sehingga beberapa huruf awal baris tidak terbaca, tetapi isi artikel secara umum dapat diikuti. Teks lengkap artikel tidak disalin ke dalam katalog ini karena hak ciptanya berada pada penulis dan penerbit; keterangan ini merupakan uraian kuratorial untuk membantu pengguna memahami isi, konteks, dan nilai penelitiannya. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Korea Utara, senjata nuklir, perundingan enam pihak, nonproliferasi, Kim Jong Il, Christopher Hill, hubungan Amerika Serikat–Tiongkok, dan keamanan Asia Timur. Untuk keperluan kutipan, rujukan dapat ditulis sebagai berikut: Jim Erickson, "Done Talking?", TIME (edisi Asia), 9 Mei 2005.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Is Part Of
- Koleksi
- Kliping
Cara mengutip
Jim Erickson, “Done Talking?”, TIME (edisi Asia), TIME edisi Asia, 9 Mei 2005 (1 halaman); liputan dibantu Matthew Forney, Kim Yooseung, dan Donald Macintyre. Bagian dari entri majalah TIME (Asia) 9 Mei 2005, 2005-05-09. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-KLP-2005-0002.
Dokumen terkait

Foreign Affairs — Trump Time (March/April 2017)

Foreign Affairs — Present at the Destruction? Trump in Practice (May/June 2017)

Foreign Affairs — Do Nuclear Weapons Matter? (November/December 2018)
