Kesehatan Sejati Ada di Dapur, Bukan di Restoran
Oleh Handrawan Nadesul
Kompas · Kompas, Selasa, 7 April 2015; rubrik Opini · 2015-04-07
Ringkasan
Artikel opini dokter dan motivator kesehatan Handrawan Nadesul pada Hari Kesehatan Sedunia 2015 yang bertema keamanan pangan. Penulis berpendapat bahwa banyak penyakit, termasuk penyakit metabolik dan kanker, dipicu makanan yang salah. Ia menyoroti bahan berbahaya seperti formalin, rhodamin B, dan aflatoksin, jajanan anak sekolah yang tidak aman, minyak dan kemasan berbahaya, serta pola makan generasi muda yang miskin nutrisi. Karena pengawasan pemerintah terbatas, ia menekankan pendidikan kesehatan agar masyarakat cerdas memilih, menganjurkan bekal dari rumah, dan memuji menu tradisional Nusantara. Kesimpulannya: kesehatan sejati ada di dapur, bukan di restoran.
- Nomor inventaris
- KBA-KLP-2015-0006
- Jenis dokumen
- Kliping
- Sumber terbitan
- Kompas
- Tanggal terbit
- 2015-04-07
- Edisi dan halaman
- Kompas, Selasa, 7 April 2015; rubrik Opini
- Penulis
- Handrawan Nadesul
- Subjek
- Keamanan pangan Hari Kesehatan Sedunia 2015 Gizi Bahan tambahan pangan berbahaya Jajanan anak sekolah Pola makan tradisional Pendidikan kesehatan
- Klasifikasi LC
- RA601 — Keamanan pangan dan kesehatan masyarakat
- Subjek LCSH
- Food -- Safety measures -- Indonesia Food adulteration and inspection -- Indonesia Nutrition
- Kategori BISAC
- HEA017000 HEALTH & FITNESS / Nutrition
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Kliping ini memuat artikel opini Handrawan Nadesul berjudul "Kesehatan Sejati Ada di Dapur, Bukan di Restoran" dari harian Kompas, Selasa, 7 April 2015. Penulis tercantum sebagai dokter dan motivator kesehatan. Artikel ini terbit tepat pada Hari Kesehatan Sedunia 2015, yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia diberi tema keamanan pangan. Halaman kliping memperlihatkan potongan kepala halaman bertanggal, judul besar berhuruf miring yang terbagi dua baris, nama penulis, empat kolom teks, dan dua subjudul, yakni "Bersih, aman, bernutrisi" dan "Masyarakat cerdas memilih". Handrawan Nadesul dikenal luas di Indonesia sebagai dokter yang aktif menulis tentang kesehatan populer selama puluhan tahun, baik dalam bentuk kolom surat kabar, rubrik konsultasi, maupun buku-buku kesehatan untuk masyarakat umum. Ia juga dikenal menulis puisi. Gaya tulisannya lugas dan dekat dengan pembaca awam, dengan banyak contoh dari kehidupan sehari-hari. Artikel ini merupakan contoh khas pendekatan tersebut: persoalan kesehatan masyarakat disampaikan melalui pengamatan tentang makanan yang dijumpai di pasar, warung, sekolah, dan dapur rumah tangga. Penulis membuka artikelnya dengan tesis bahwa hampir semua penyakit yang diderita orang saat ini, di mana pun di dunia, lebih banyak disebabkan oleh makanan yang salah. Bukan hanya penyakit metabolik, kanker pun banyak dipicu oleh faktor makanan. Dunia, menurutnya, memikul beban penyakit akibat makanan yang tidak bersih, ditandai tingginya angka diare dan keracunan makanan, sementara pemakaian bahan tambahan pangan berkembang tanpa kendali dalam industri makanan. Lebih buruk lagi, lidah generasi sekarang telah terbiasa pada menu yang kehilangan nutrisi. Bagian "Bersih, aman, bernutrisi" menguraikan tiga syarat makanan sehat. Penulis menjelaskan bahwa keamanan pangan belum menjadi perhatian semua negara, dan bahwa makanan yang tampak bergizi belum tentu bersih dan aman. Ia mencontohkan sayuran yang mungkin tercemar pestisida, kacang tanah yang berjamur sehingga mengandung aflatoksin pemicu kanker hati, tahu yang dicampur formalin, serta pewarna tekstil seperti rhodamin B dan metanil kuning yang disalahgunakan pada makanan dan minuman anak sekolah. Penulis juga menyoroti penyakit yang ditularkan lewat makanan di negara dengan sanitasi buruk, kebiasaan penjaja yang menyajikan makanan dengan tangan tanpa pelindung, minyak goreng yang dipakai berulang, gorengan panas yang dibungkus kantong plastik, serta penggunaan styrofoam untuk makanan panas. Ia juga mengingatkan tentang generasi muda yang terbiasa dengan makanan siap saji dan menjauhi menu tradisional, sehingga berisiko mengalami kekurangan zat gizi mikro atau yang ia sebut kelaparan tersembunyi, meskipun tubuh mereka tampak besar. Penulis merujuk temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan tentang bahan berbahaya dalam makanan yang dijual di pasar, seperti mi, kikil, tahu, bakso, ikan laut, dan ayam yang sudah mati sebelum dipotong, serta laporan investigasi televisi tentang jajanan anak sekolah yang dibuat dari limbah dapur restoran dan hotel. Atas dasar itu, ia menganjurkan agar anak sekolah membawa bekal dari rumah. Bagian "Masyarakat cerdas memilih" berargumen bahwa pemerintah tidak mungkin mengawasi seluruh industri makanan dan minuman rumahan yang tersebar luas, sementara restoran besar pun belum tentu menjaga kebersihan. Karena itu, kunci perlindungan adalah masyarakat yang cerdas memilih. Pendidikan kesehatan perlu masuk kurikulum sekolah, dan media massa, radio, serta televisi perlu mengedukasi masyarakat tentang cara memilih makanan yang menyehatkan. Menurut penulis, bila masyarakat cerdas memilih, produk yang tidak aman dan tidak bernutrisi akan kehilangan pembeli dan dengan sendirinya gulung tikar. Ia juga menyinggung perkiraan bahwa dalam satu dasawarsa ke depan dunia akan kehilangan ratusan juta jiwa akibat kematian dini karena gaya hidup yang keliru, terutama pola makan yang terlalu banyak daging dan kurang sayur serta buah. Pada bagian penutup penulis memuji pola makan tradisional. Ia membandingkan pola makan Mediterania dan pola makan masyarakat Okinawa, Jepang, yang dikenal berumur panjang, dengan menu tradisional Nusantara seperti nasi, tempe, tahu, ikan, sayur lodeh, dan lalapan. Ia menganjurkan ubi rebus daripada donat, buah lokal daripada buah impor, gula jawa daripada gula pasir, serta gandum utuh daripada terigu. Kesimpulannya, karena sulit menghindari bahan kimia industri makanan, sikap terbaik adalah memilih mengolah menu harian sendiri dengan bahan yang jelas asalnya dan cara olah tanpa bahan tambahan berbahaya. Dari sinilah judul artikel diambil: kesehatan sejati ada di dapur, bukan di restoran. Kliping ini bernilai bagi kajian kesehatan masyarakat, gizi, dan antropologi makanan. Isu-isu yang diangkat, seperti formalin, boraks, rhodamin B, dan keamanan jajanan anak sekolah, merupakan persoalan yang berulang kali diberitakan di Indonesia dan menjadi fokus program pengawasan pangan. Pada tahun yang sama, Indonesia juga sedang mempersiapkan berbagai kebijakan gizi, termasuk penguatan gerakan konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang, dan aman. Artikel ini dapat dipakai sebagai bahan diskusi tentang tanggung jawab negara, industri, dan konsumen dalam menjamin keamanan pangan. Dari sudut antropologi, artikel ini menarik karena memperlihatkan wacana yang mengaitkan kesehatan dengan nostalgia pada "lidah nenek moyang" dan dapur rumah tangga. Wacana semacam ini sering kali menempatkan beban kesehatan keluarga pada perempuan sebagai pengelola dapur, dan mengabaikan kenyataan bahwa banyak keluarga perkotaan, terutama pekerja berpenghasilan rendah, bergantung pada makanan warung karena keterbatasan waktu dan biaya. Pembacaan kritis semacam ini dapat memperkaya diskusi kelas tentang kelas sosial, gender, dan makanan. Sebagai catatan kritis, beberapa klaim dalam artikel bersifat umum dan tidak disertai rujukan ilmiah yang rinci, misalnya pernyataan bahwa hampir semua penyakit disebabkan makanan yang salah. Rujukan pada pola makan Okinawa juga perlu dibaca dengan hati-hati karena pola makan masyarakat tersebut telah banyak berubah. Meski demikian, sebagai tulisan edukasi kesehatan populer, artikel ini berhasil menyampaikan pesan pencegahan secara jelas dan mudah dipahami. Artikel ini juga menarik untuk kajian komunikasi kesehatan. Penulis memakai bahasa sehari-hari, istilah populer seperti ayam tiren, dan contoh-contoh makanan yang sangat akrab bagi pembaca, sehingga pesan kesehatan mudah dipahami. Pendekatan semacam ini menunjukkan bagaimana dokter yang menulis di media massa berperan sebagai penerjemah pengetahuan medis ke dalam bahasa publik, sebuah peran yang semakin penting di tengah banjir informasi kesehatan yang belum tentu benar. Secara fisik, kliping berupa potongan halaman koran berwarna kekuningan dengan kepala halaman bertanggal yang ditempelkan di atasnya. Teks empat kolom terbaca jelas. Gambar yang diunggah telah diluruskan dan diperjelas untuk keterbacaan. Teks lengkap artikel tidak disalin ke dalam katalog ini karena hak ciptanya berada pada penulis dan penerbit; keterangan ini merupakan uraian kuratorial untuk membantu pengguna memahami isi, konteks, dan nilai penelitiannya. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi keamanan pangan, Hari Kesehatan Sedunia 2015, gizi, bahan tambahan pangan berbahaya, jajanan anak sekolah, pola makan tradisional, dan pendidikan kesehatan. Untuk keperluan kutipan, rujukan dapat ditulis sebagai berikut: Handrawan Nadesul, "Kesehatan Sejati Ada di Dapur, Bukan di Restoran", Kompas, 7 April 2015, rubrik Opini.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Koleksi
- Kliping
Cara mengutip
Handrawan Nadesul, “Kesehatan Sejati Ada di Dapur, Bukan di Restoran”, Kompas, Kompas, Selasa, 7 April 2015; rubrik Opini, 2015-04-07. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-KLP-2015-0006.