LP3ES, Jakarta · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Cinere, Depok: LP3ES, 2017, cetakan pertama, xlix + 392 hlm., ilus., 23 cm, ISBN 978-602-7984-27-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun
Ringkasan
Biografi Muhammad Saleh Datuk Rangkayo Basa (1841–1921), saudagar Minangkabau dari Pariaman, karya sejarawan Universitas Negeri Padang Mestika Zed dengan pengantar M. Dawam Rahardjo. Buku ini menelusuri perjalanan tokoh dari pembantu toko, pedagang ikan, dan nakhoda menjadi pemilik armada perahu, toko, dan maskapai dagang yang dikelola secara modern pada awal abad ke-20. Bersumber terutama pada otobiografi tokoh yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu dan diterbitkan cucunya pada 1933, buku ini menempatkan riwayat Muhammad Saleh dalam sejarah ekonomi maritim pantai barat Sumatra, kewirausahaan pribumi pada masa kolonial, serta hubungan adat Minangkabau, Islam, dan etika dagang.
Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0017
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
LP3ES, Jakarta
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Cinere, Depok: LP3ES, 2017, cetakan pertama, xlix + 392 hlm., ilus., 23 cm, ISBN 978-602-7984-27-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Saleh, Muhammad, 1841-1921Businessmen -- Indonesia -- Sumatera Barat -- BiographyMinangkabau (Indonesian people) -- Biography
Kategori BISAC
BIO003000 BIOGRAPHY & AUTOBIOGRAPHY / Business
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Saudagar Pariaman: Menerjang Ombak Membangun Maskapai karya sejarawan Mestika Zed merupakan biografi Muhammad Saleh Datuk Rangkayo Basa (1841–1921), saudagar Minangkabau dari Pariaman, pesisir barat Sumatra, yang oleh penulis ditempatkan sebagai salah satu perintis perusahaan modern pribumi di Nusantara. Katalog perpustakaan mencatat anak judul buku ini sebagai riwayat Muhammad Saleh Datuk Rangkayo Basa, perintis perusahaan modern pribumi Nusantara. Buku ini diberi kata pengantar oleh ekonom dan cendekiawan Muslim M. Dawam Rahardjo dan diterbitkan oleh LP3ES. Sampul eksemplar ini menampilkan nama penulis pada pita hijau tua di bagian atas, judul besar berhuruf hitam dengan gambar mercusuar menggantikan huruf L pada kata PARIAMAN, anak judul berhuruf biru tua, nama pemberi pengantar, serta ilustrasi kapal layar besar berlayar putih yang menembus ombak di depan barisan pegunungan biru, dengan beberapa kapal kecil di kejauhan. Logo LP3ES tercetak di bagian bawah.
Mestika Zed (1955–2019) adalah guru besar sejarah di Universitas Negeri Padang dan salah satu sejarawan terkemuka dari Sumatra Barat. Ia menempuh pendidikan sejarah di IKIP Padang dan Universitas Gadjah Mada, lalu meraih gelar magister dan doktor dari Vrije Universiteit Amsterdam. Karya-karyanya meliputi kajian tentang Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, sejarah industri semen Indarung, revolusi di Palembang, pemberontakan komunis Silungkang, Giyugun, serta buku metodologi penelitian sejarah dan kepustakaan. Saudagar Pariaman termasuk karya terakhirnya yang terbit sebelum ia wafat pada September 2019, sehingga buku ini juga dapat dibaca sebagai bagian dari warisan intelektualnya dalam historiografi Minangkabau.
Tokoh utama buku ini, Muhammad Saleh, lahir pada 1841 di Pariaman dari keluarga pedagang. Ia memulai hidup dari bawah: menjadi pembantu toko, berdagang ikan, bekerja sebagai awak perahu, lalu menjadi nakhoda. Jaringan dagangnya menghubungkan pesisir dan pedalaman Minangkabau, dengan membawa garam, ikan, dan hasil laut ke daerah darek, lalu membawa sayuran, gula, tembakau, dan gambir ke pesisir. Perahu dan kapal miliknya berlayar di sepanjang pantai barat Sumatra, dari wilayah Aceh di utara hingga Bandar Sepuluh di selatan. Ia memiliki toko di Pariaman dan Padang Panjang serta mempekerjakan puluhan orang di darat dan di laut. Gelar adat Datuk Rangkayo Basa atau Datuk Orang Kaya Besar yang ia sandang mencerminkan kedudukan sosial dan ekonominya di tengah masyarakat.
Puncak usahanya adalah pendirian sebuah maskapai dagang di Pariaman pada awal abad ke-20, yang menurut sejumlah sumber dikelola secara modern dan profesional. Karena itulah Mestika Zed memilih kata "membangun maskapai" dalam judul. Muhammad Saleh juga dikenal karena berusaha menembus monopoli dagang, misalnya dengan menghidupkan produksi garam dan minyak kelapa lokal, serta karena menerapkan sistem bagi hasil bagi para pekerjanya. Etika dagang yang ia pegang teguh, perpaduan antara nilai adat Minangkabau dan ajaran Islam, menjadi salah satu tema yang menarik untuk dikaji.
Sumber utama bagi kisah hidup Muhammad Saleh adalah otobiografinya sendiri, yang ditulis dalam bahasa Minangkabau dengan aksara Arab-Melayu pada awal abad ke-20. Naskah ini kemudian dialihaksarakan dan diterbitkan oleh cucunya, S.M. Latif, pada 1933, dan dikenal antara lain dengan judul Tjoerito Parasaian Me'saleh atau Riwayat Hidup dan Perasaian Saya. Naskah tersebut sudah lama menarik perhatian peneliti karena merupakan salah satu otobiografi pribumi tertua dari Sumatra yang menggambarkan kehidupan ekonomi, adat, gempa bumi, dan hubungan dengan pemerintah kolonial Belanda dari sudut pandang pelakunya sendiri. Buku Mestika Zed mengolah sumber ini secara kritis, melengkapinya dengan arsip dan literatur, lalu menempatkan riwayat Muhammad Saleh dalam konteks sejarah ekonomi pesisir barat Sumatra.
Data penerbit yang tersedia menunjukkan bahwa cetakan pertama buku ini terbit di Cinere, Depok, pada 2017, setebal xlix dan 392 halaman dengan ilustrasi, berukuran 23 sentimeter, dengan ISBN 978-602-7984-27-1. Katalog Perpustakaan University of Wisconsin–Madison mencatat subjek buku ini antara lain Saleh, Muhammad, 1841–1921; orang Minangkabau di Sumatra Barat sebagai subjek biografi; dan pengusaha di Sumatra Barat. Data cetakan, tahun, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta.
Kata pengantar M. Dawam Rahardjo memberi bobot tambahan. Dawam dikenal luas sebagai pemikir ekonomi kerakyatan dan pengkaji etos kewirausahaan Muslim di Indonesia, serta lama terlibat di LP3ES sendiri. Kehadirannya menandai bahwa buku ini tidak hanya dibaca sebagai kisah tokoh lokal, tetapi juga sebagai bahan untuk memahami sejarah kewirausahaan pribumi, hubungan antara agama dan etos kerja, serta lahirnya kelas pedagang Muslim di Hindia Belanda.
Bagi kajian sejarah dan antropologi, buku ini relevan dengan beberapa tema. Pertama, sejarah ekonomi maritim di pantai barat Sumatra, yang selama berabad-abad menghubungkan Minangkabau, Aceh, Nias, Bengkulu, dan jaringan perdagangan Samudra Hindia. Kedua, perdebatan tentang kewirausahaan pribumi pada masa kolonial, yang sering digambarkan kalah bersaing dengan pedagang Tionghoa dan Eropa. Kisah Muhammad Saleh memperlihatkan bahwa pengusaha pribumi mampu membangun usaha besar dan modern. Ketiga, hubungan antara adat matrilineal Minangkabau dan dunia dagang pesisir, karena kajian tentang otobiografi Muhammad Saleh menunjukkan bahwa masyarakat Pariaman yang terbuka terhadap pendatang memiliki praktik adat yang berbeda dengan daerah darek.
Bagi pembaca di Aceh, buku ini menarik karena jaringan dagang Muhammad Saleh menjangkau pesisir barat Aceh, dan karena sejarah pantai barat Sumatra pada abad ke-19 sangat dipengaruhi hubungan dagang antara Aceh dan Minangkabau. Buku ini dapat dibaca bersama kajian tentang perdagangan lada, pelabuhan-pelabuhan pantai barat, dan diaspora pedagang Minangkabau di Aceh. Dalam konteks mata kuliah tentang Islam di Dunia Melayu dan Samudra Hindia, riwayat Muhammad Saleh memberi contoh konkret tentang bagaimana pedagang Muslim lokal berperan dalam ekonomi regional.
Sebagai catatan kritis, biografi yang sangat bertumpu pada otobiografi tokohnya berisiko mengikuti cara tokoh itu menggambarkan dirinya sendiri. Pembaca perlu memperhatikan sejauh mana penulis menguji klaim-klaim dalam otobiografi dengan sumber lain, misalnya arsip kolonial dan catatan perdagangan. Perbedaan tanggal kematian dan nama gelar tokoh dalam berbagai sumber populer juga menunjukkan perlunya merujuk langsung ke buku ini dan sumber primernya.
Buku ini juga bernilai sebagai contoh penulisan biografi sejarah yang memadukan narasi hidup seorang tokoh dengan analisis struktur ekonomi dan sosial. Pendekatan semacam ini sejalan dengan tradisi sejarah sosial yang berkembang di Indonesia sejak 1970-an, ketika para sejarawan mulai memberi perhatian pada pelaku-pelaku ekonomi lokal, bukan hanya pada tokoh politik dan peristiwa besar kenegaraan. Mahasiswa sejarah, antropologi ekonomi, dan studi Islam dapat menjadikan buku ini sebagai model penelitian berbasis otobiografi dan arsip lokal.
Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan tanda pemakaian pada sampul dan memiliki label perpustakaan pada punggung buku di sisi kiri. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku.
Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Muhammad Saleh Datuk Rangkayo Basa, Pariaman, sejarah ekonomi Minangkabau, kewirausahaan pribumi, perdagangan maritim pantai barat Sumatra, biografi pengusaha, dan sejarah Sumatra Barat. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
Mestika Zed, M. Dawam Rahardjo (pengantar), “Saudagar Pariaman: Menerjang Ombak Membangun Maskapai”, LP3ES, Jakarta, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Cinere, Depok: LP3ES, 2017, cetakan pertama, xlix + 392 hlm., ilus., 23 cm, ISBN 978-602-7984-27-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0017.