Beragama di Tengah Kekacauan
Kompas · Kompas, Senin, 27 April 2015; rubrik Opini · 2015-04-27
Ringkasan
Artikel opini Husein Ja'far Al Hadar, pendiri Cultural Islamic Academy Jakarta, tentang sikap beragama di tengah kekacauan dunia Islam masa kini yang ditandai terorisme Negara Islam dan konflik di Timur Tengah. Merujuk Murtadha Muthahhari tentang nilai epistemologis sejarah, penulis membandingkan masa kini dengan abad ke-11 hingga ke-13 yang diwarnai Perang Salib, invasi Mongol, dan perpecahan Abbasiyah. Ia membedakan dua kecenderungan respons ulama: ekstrem, yang ia kaitkan dengan Ibn Taimiyah, dan moderat, yang diwakili Ikhwan as-Shafa, Jalaluddin Rumi, dan para habib Hadhramaut. Ia menganjurkan kecenderungan moderat agar agama tidak dipermainkan politik, tidak statis, dan tetap menjadi rahmat bagi semesta.
- Nomor inventaris
- KBA-KLP-2015-0009
- Jenis dokumen
- Kliping
- Sumber terbitan
- Kompas
- Tanggal terbit
- 2015-04-27
- Edisi dan halaman
- Kompas, Senin, 27 April 2015; rubrik Opini
- Penulis
- Husein Ja'far Al Hadar
- Subjek
- Moderasi beragama Ekstremisme Negara Islam (ISIS) Sejarah Islam abad pertengahan Tasawuf Jalaluddin Rumi Ikhwan as-Shafa Habib Hadhramaut
- Klasifikasi LC
- BP173.7 — Islam dan politik
- Subjek LCSH
- Islamic fundamentalism Islam -- 21st century Moderation -- Religious aspects -- Islam Sufism
- Kategori BISAC
- REL084000 RELIGION / Religion, Politics & State
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Kliping ini memuat artikel opini Husein Ja'far Al Hadar berjudul "Beragama di Tengah Kekacauan" dari harian Kompas, Senin, 27 April 2015. Penulis tercantum sebagai pendiri Cultural Islamic Academy Jakarta. Pindaian disusun dari dua bagian: halaman utama berisi judul, nama penulis, empat kolom teks dengan dua subjudul, yakni "Sejarah berulang" dan "Agama statis", serta potongan kecil di sisi kanan yang memuat kalimat penutup dan identitas penulis. Keterangan sumber tercantum di bagian bawah gambar. Huruf terakhir judul pada halaman utama terpotong, tetapi dapat dibaca lengkap dari potongan pelengkap. Husein Ja'far Al Hadar, lahir pada 1988 di Bondowoso, Jawa Timur, kemudian dikenal luas sebagai pendakwah muda dan penulis yang aktif di media sosial dengan pendekatan Islam yang ramah, humoris, dan dekat dengan generasi muda. Pada saat artikel ini ditulis, ia masih berusia sekitar dua puluh enam tahun dan aktif menulis kolom keislaman di berbagai media nasional. Artikel ini memperlihatkan benih-benih gagasan yang kelak menjadi ciri dakwahnya: penekanan pada tasawuf, moderasi, dan teladan para habib Hadhramaut yang menyebarkan Islam secara damai ke Nusantara. Penulis membuka tulisannya dengan pernyataan bahwa sejarah Islam yang terbentang sekitar empat belas abad menyimpan beragam nilai, hikmah, dan pelajaran. Ia mengutip pemikir Muslim Iran kontemporer, Murtadha Muthahhari, bahwa sejarah memiliki nilai epistemologis atau dapat menjadi sumber pengetahuan, serta merujuk dialektika Hegel tentang tesis, antitesis, dan sintesis. Dengan bekal itu ia menegaskan bahwa pengalaman sejarah dapat menjadi pegangan dalam menghadapi tantangan masa kini, termasuk dalam konteks keislaman. Masa kini, menurut penulis, adalah masa sulit bagi umat Islam di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Ia menyebutnya sebagai masa kekacauan, ditandai oleh apa yang di Indonesia disebut darurat terorisme, dengan kelompok Negara Islam atau Islamic State sebagai aktor utama, serta berbagai konflik di Palestina, Irak, Suriah, dan Yaman. Kekacauan itu mengerikan bukan hanya karena menghabiskan ratusan ribu nyawa dengan cara keji, tetapi juga karena lahir dari "perselingkuhan" antara agama dan politik. Penulis menilai bahwa hubungan semacam ini klasik, sering terjadi berulang, karena isu agama dianggap menarik dalam kacamata politik rendahan yang propagandis. Bagian "Sejarah berulang" membandingkan masa kini dengan abad ke-11 hingga ke-13 Masehi, yang oleh penulis disebut salah satu masa paling kacau dalam sejarah dunia Islam. Kekacauan itu muncul dalam berbagai bentuk di berbagai wilayah: Perang Salib, invasi Mongol, perpecahan Dinasti Abbasiyah, hingga kekacauan yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok yang ia sebut ekstrem, yaitu Ibadiyah dan Qaramithah. Meski bentuknya berbeda-beda, semua kekacauan itu menurutnya berakar sama dengan kekacauan masa kini, yaitu sentimen dan propaganda agama atau mazhab. Penulis kemudian mengidentifikasi dua kecenderungan sikap ulama dalam merespons kekacauan tersebut. Kecenderungan pertama adalah sikap ekstrem, berupa politik identitas Muslim yang sentimen terhadap musuh-musuh Islam serta pengkristalan doktrin agar kaku dan berdiri sendiri secara angkuh. Kecenderungan ini, dalam pembacaan penulis, diwakili oleh Ibn Taimiyah dalam konteks Perang Salib dan invasi Mongol. Kecenderungan kedua adalah sikap moderat, berupa politik akomodatif yang toleran, mencari titik temu, dan merangkul kelompok di luar Islam, sambil mengambil jarak dari politik guna menyelamatkan tradisi dan peradaban keilmuan Islam. Kecenderungan ini diwakili oleh jaringan Ikhwan as-Shafa di tengah perpecahan Abbasiyah, sufi besar Jalaluddin Rumi, dan para habib Hadhramaut. Penulis menyesalkan bahwa dalam kekacauan masa kini, tidak sedikit umat Islam yang mengarah pada kecenderungan ekstrem, seolah lupa bahwa ada kecenderungan lain yang dibangun dan diteladankan oleh tokoh-tokoh besar. Menurutnya, kecenderungan moderat justru lebih tepat dipelajari dan diterapkan karena umat Islam kini hidup di dunia modern yang menjunjung nilai demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan, kemoderatan, dan toleransi. Bagian "Agama statis" menguraikan alasan pilihan tersebut. Pertama, kecenderungan moderat dapat menjadi solusi dan mempertahankan citra Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta. Kedua, kecenderungan ekstrem menarik agama ke simpul konflik politik sehingga agama dipermainkan oleh kepentingan kelompok, sedangkan kecenderungan moderat membuat agama berjarak dari politik tetapi tetap berperan secara proporsional dan strategis. Ketiga, kecenderungan ekstrem membuat agama statis, kaku, dan gersang, sedangkan kecenderungan moderat membuat agama terus berkembang karena aktivitas keilmuan dan keagamaan tidak tersita oleh kekacauan. Pada bagian akhir penulis memaparkan teladan konkret. Ikhwan as-Shafa membangun sinkretisme dan persaudaraan universal lintas agama, mazhab, dan bangsa. Rumi menjaga nilai dasar Islam melalui syair sufistik dan mencairkan suasana secara syahdu. Para habib, melalui tokoh perintisnya, al-Faqih al-Muqaddam, menurut penuturan penulis melakukan tindakan simbolik yang terkenal, yakni mematahkan pedang sebagai lambang gagasan perdamaian, lalu membangun peradaban madani berbasis tasawuf akhlaki yang kemudian tersebar hingga Indonesia. Penulis menutup dengan seruan agar teladan keberagamaan semacam itu dijadikan pegangan di tengah kekacauan masa kini. Konteks artikel ini penting. Pada 2014–2015, kemunculan Negara Islam di Irak dan Suriah menimbulkan kekhawatiran besar di Indonesia, termasuk soal warga negara yang berangkat bergabung dan potensi serangan di dalam negeri. Pemerintah menyatakan paham kelompok itu terlarang, dan organisasi-organisasi Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah aktif mengampanyekan Islam moderat. Pada tahun yang sama Nahdlatul Ulama mengangkat tema Islam Nusantara dalam muktamarnya. Artikel ini menjadi bagian dari wacana publik tersebut, dengan memberikan argumen historis dan sufistik bagi moderasi beragama. Bagi kajian Islam, kliping ini menarik sekaligus mengundang diskusi kritis. Pembacaan penulis tentang Ibn Taimiyah sebagai wakil kecenderungan ekstrem merupakan tafsir yang diperdebatkan; banyak sarjana menekankan bahwa pemikiran Ibn Taimiyah kompleks dan dibaca secara beragam oleh berbagai kelompok. Penggolongan Ibadiyah sebagai kelompok ekstrem juga perlu dicermati, karena komunitas Ibadiyah masa kini, misalnya di Oman, justru dikenal moderat. Pembaca dapat memanfaatkan artikel ini sebagai contoh bagaimana sejarah Islam dipakai dalam argumen publik untuk mendukung agenda moderasi, sekaligus sebagai bahan untuk menguji ketepatan historisnya. Bagi mahasiswa studi Islam di Dunia Melayu dan Samudra Hindia, rujukan kepada para habib Hadhramaut dan tasawuf akhlaki menghubungkan artikel ini dengan kajian tentang jaringan diaspora Hadhrami dan peran mereka dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Artikel ini juga dapat dibaca bersama karya-karya tentang Alawiyyin di Nusantara untuk memahami bagaimana tradisi tersebut dihadirkan kembali dalam wacana keagamaan kontemporer. Secara fisik, kliping berupa potongan halaman koran berwarna kekuningan, disertai potongan kecil berisi penutup artikel yang ditempatkan di sisi kanan. Teks terbaca jelas. Gambar yang diunggah telah disusun dan diperjelas untuk keterbacaan. Teks lengkap artikel tidak disalin ke dalam katalog ini karena hak ciptanya berada pada penulis dan penerbit; keterangan ini merupakan uraian kuratorial untuk membantu pengguna memahami isi, konteks, dan nilai penelitiannya. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi moderasi beragama, ekstremisme, Negara Islam, sejarah Islam abad pertengahan, tasawuf, Jalaluddin Rumi, Ikhwan as-Shafa, habib Hadhramaut, dan Islam dan politik. Untuk keperluan kutipan, rujukan dapat ditulis sebagai berikut: Husein Ja'far Al Hadar, "Beragama di Tengah Kekacauan", Kompas, 27 April 2015, rubrik Opini.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Koleksi
- Kliping
Cara mengutip
Husein Ja'far Al Hadar, “Beragama di Tengah Kekacauan”, Kompas, Kompas, Senin, 27 April 2015; rubrik Opini, 2015-04-27. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-KLP-2015-0009.
