St. Martin's Press, New York · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: New York: St. Martin's Press, 2012 (sampul keras), ISBN 978-1-250-00585-4; edisi sampul lunak St. Martin's Griffin, 2013, xiii + 258 hlm., ISBN 978-1-250-02962-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun
Ringkasan
Buku populer tentang deteksi kebohongan yang ditulis tiga mantan petugas CIA, Philip Houston, Michael Floyd, dan Susan Carnicero, bersama jurnalis Don Tennant. Buku ini menguraikan metode yang dikembangkan Houston untuk investigasi kontraterorisme dan kriminal, lalu menunjukkan penerapannya dalam wawancara kerja, kesaksian hukum, bisnis, dan hubungan pribadi. Penulis menekankan pengamatan perilaku yang muncul segera setelah pertanyaan diajukan dan pencarian kumpulan indikator verbal serta nonverbal, seperti jawaban yang mengelak, mengulang pertanyaan, kata-kata pembatas, menyebut agama untuk meyakinkan, dan gerakan tangan ke wajah. Buku ini relevan bagi kajian intelijen, hukum, dan psikologi, meskipun metodenya dikritik kurang didukung riset ilmiah.
Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0018
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
St. Martin's Press, New York
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: New York: St. Martin's Press, 2012 (sampul keras), ISBN 978-1-250-00585-4; edisi sampul lunak St. Martin's Griffin, 2013, xiii + 258 hlm., ISBN 978-1-250-02962-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
DeceptionTruthfulness and falsehoodLie detectors and detectionInterviewing
Kategori BISAC
SEL040000 SELF-HELP / Communication & Social Skills
Bahasa
Inggris
Keterangan
Spy the Lie: Former CIA Officers Teach You How to Detect Deception karya Philip Houston, Michael Floyd, dan Susan Carnicero, ditulis bersama jurnalis Don Tennant, adalah buku populer tentang cara mendeteksi kebohongan yang dikembangkan dari pengalaman para penulisnya sebagai petugas Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA). Sampul eksemplar ini berwarna putih gading dengan judul besar berhuruf hitam. Kata LIE dibuat istimewa: huruf I diganti panah merah yang menunjuk ke bawah, sementara bagian bawah huruf L dan E berubah dari hitam menjadi merah. Di bawahnya berderet siluet sembilan orang dari berbagai profesi, seperti pebisnis, perempuan pekerja, keluarga, dan petugas berseragam, dengan satu sosok di tengah berwarna merah sebagai penanda orang yang berbohong. Anak judul di bagian atas menyatakan bahwa mantan petugas CIA akan mengajari pembaca cara mendeteksi tipu daya, dan nama keempat penulis tercantum di bagian bawah. Eksemplar ini bersampul keras dengan jaket buku dan memiliki label perpustakaan di punggung sisi kiri.
Ketiga penulis utama memiliki latar belakang panjang di bidang keamanan dan intelijen. Philip Houston bertugas di CIA selama sekitar dua puluh lima tahun sebagai penyidik, pewawancara, dan pemeriksa poligraf, dan ia dikenal sebagai pengembang metodologi deteksi kebohongan yang menjadi inti buku ini. Michael Floyd berpengalaman sebagai pemeriksa poligraf dan konsultan keamanan, di lingkungan lembaga intelijen dan keamanan Amerika Serikat. Susan Carnicero bertugas sebagai petugas keamanan dan pewawancara di CIA dengan keahlian di bidang penyaringan personel dan wawancara kriminal. Setelah meninggalkan dinas pemerintah, ketiganya mendirikan perusahaan konsultan yang memberikan pelatihan deteksi kebohongan dan teknik wawancara kepada lembaga pemerintah dan perusahaan swasta. Don Tennant, jurnalis teknologi, membantu menyusun pengalaman mereka menjadi bacaan yang mengalir bagi pembaca umum.
Menurut keterangan penerbit dan katalog perpustakaan, buku ini menguraikan metode yang dikembangkan Houston untuk keperluan investigasi kontraterorisme dan kriminal, lalu menunjukkan cara menerapkannya dalam situasi sehari-hari, seperti wawancara kerja, kesaksian hukum, urusan bisnis, dan hubungan pribadi. Buku ini membahas isyarat verbal dan nonverbal yang patut dicermati, antara lain gerakan tangan ke wajah, gerakan merapikan diri, menyebut-nyebut agama untuk meyakinkan, mengulang pertanyaan, dan menggunakan kata-kata pembatas atau kualifikasi dalam jawaban.
Pendekatan buku ini dikenal karena menolak gagasan populer bahwa kebohongan dapat ditebak dari satu tanda tunggal, misalnya menghindari tatapan mata. Para penulis menekankan pentingnya memperhatikan perilaku yang muncul segera setelah sebuah pertanyaan diajukan, serta mencari kumpulan beberapa indikator sekaligus, bukan satu isyarat yang berdiri sendiri. Mereka juga mengingatkan agar pengamat tidak terpengaruh oleh kesan umum tentang kejujuran seseorang, karena orang yang pandai berbohong sering tampil meyakinkan. Dalam kerangka ini, jawaban yang tidak menjawab pertanyaan, penyangkalan yang samar, pernyataan yang berusaha terlalu keras untuk meyakinkan, serta perilaku nonverbal yang tidak selaras dengan ucapan, menjadi petunjuk yang perlu diuji lebih lanjut, bukan bukti akhir.
Buku ini juga dikenal karena memakai banyak contoh dari kasus nyata, baik dari pengalaman penulis dalam wawancara intelijen dan keamanan maupun dari wawancara tokoh publik yang disiarkan media. Contoh-contoh ini dipakai untuk memperlihatkan bagaimana pola verbal dan nonverbal tertentu muncul ketika seseorang menghindari kebenaran. Gaya penulisan yang naratif dan penuh anekdot membuat buku ini menjadi salah satu buku populer paling dikenal tentang topik deteksi kebohongan, dan kemudian diikuti buku lanjutan dari tim penulis yang sama tentang teknik menggali informasi dalam wawancara.
Data penerbit yang tersedia menunjukkan bahwa edisi bersampul keras diterbitkan oleh St. Martin's Press, New York, pada 2012, dengan ISBN 978-1-250-00585-4. Edisi sampul lunak diterbitkan oleh St. Martin's Griffin pada 2013 setebal xiii dan 258 halaman dengan ISBN 978-1-250-02962-1. Karena eksemplar ini bersampul keras, kemungkinan besar ia termasuk edisi 2012, tetapi tahun cetak dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta.
Dalam koleksi pustaka ini, buku ini berkaitan erat dengan kajian intelijen dan keamanan. Teknik wawancara dan deteksi kebohongan merupakan bagian penting dari praktik intelijen manusia, penyaringan keamanan personel, dan investigasi kontraterorisme. Bagi peneliti yang mempelajari sejarah dan budaya organisasi intelijen Amerika Serikat, buku ini memberikan gambaran tentang bagaimana pengetahuan praktis yang dikembangkan di dalam lembaga rahasia kemudian dipopulerkan dan dikomersialkan setelah para pelakunya pensiun. Fenomena mantan petugas intelijen yang menulis buku dan membuka jasa konsultan juga menjadi bagian dari kajian tentang hubungan antara negara keamanan dan pasar.
Buku ini juga relevan untuk bidang hukum, psikologi, dan komunikasi. Mahasiswa hukum dapat memanfaatkannya untuk memahami dinamika pemeriksaan saksi dan tersangka, sementara mahasiswa psikologi dan komunikasi dapat membandingkannya dengan literatur ilmiah tentang komunikasi nonverbal dan kognisi dalam berbohong. Dalam konteks Indonesia, topik ini bersinggungan dengan praktik penyidikan, pemeriksaan di pengadilan, dan seleksi pegawai, termasuk penggunaan alat pendeteksi kebohongan dalam sejumlah kasus pidana besar.
Sebagai catatan kritis, sejumlah pengulas dan peneliti psikologi menilai bahwa metode dalam buku ini terlalu disederhanakan dan kurang didukung bukti ilmiah yang ketat. Penelitian akademis tentang deteksi kebohongan umumnya menunjukkan bahwa kemampuan manusia membedakan kejujuran dan kebohongan hanya sedikit di atas tebakan acak, dan bahwa banyak isyarat perilaku yang dianggap tanda bohong ternyata lemah atau tidak konsisten. Pendekatan berbasis wawancara kognitif dan strategi penggunaan bukti cenderung lebih didukung riset dibanding pembacaan bahasa tubuh. Pembaca perlu memperlakukan metode dalam buku ini sebagai panduan praktis yang perlu dikritisi, bukan alat ukur yang pasti, terutama ketika menyangkut keputusan yang berdampak serius terhadap orang lain.
Selain itu, penerapan teknik semacam ini lintas budaya memerlukan kehati-hatian. Isyarat yang dianggap mencurigakan dalam budaya Amerika, seperti menghindari kontak mata atau menyebut nama Tuhan, dapat memiliki makna yang sangat berbeda dalam budaya lain, termasuk di Indonesia, tempat rujukan kepada agama dan sikap sungkan merupakan bagian wajar dari komunikasi sehari-hari. Pertimbangan antropologis semacam ini penting agar metode deteksi kebohongan tidak berubah menjadi alat prasangka.
Dari sudut sejarah buku dan penerbitan, Spy the Lie juga mencerminkan maraknya genre buku populer karya mantan petugas intelijen setelah peristiwa 11 September 2001. Minat publik terhadap dunia intelijen yang meningkat tajam mendorong penerbit besar menerbitkan memoar, panduan praktis, dan analisis dari orang-orang yang pernah bekerja di lembaga rahasia. Sebelum terbit, naskah semacam ini biasanya harus melalui proses peninjauan oleh lembaga asal penulis untuk memastikan tidak ada informasi rahasia yang bocor. Dengan demikian, buku ini dapat dibaca berdampingan dengan karya-karya lain tentang CIA dalam koleksi ini untuk melihat ragam suara mantan orang dalam, mulai dari yang bernada membela lembaga hingga yang kritis.
Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul, informasi penerbit, dan katalog perpustakaan, bukan ringkasan seluruh isi buku. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi deteksi kebohongan, komunikasi nonverbal, teknik wawancara, intelijen, CIA, psikologi kebohongan, dan investigasi. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
Philip Houston, Michael Floyd, Susan Carnicero, Don Tennant (penulis pendamping), “Spy the Lie: Former CIA Officers Teach You How to Detect Deception”, St. Martin's Press, New York, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: New York: St. Martin's Press, 2012 (sampul keras), ISBN 978-1-250-00585-4; edisi sampul lunak St. Martin's Griffin, 2013, xiii + 258 hlm., ISBN 978-1-250-02962-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0018.