Teraju, Jakarta · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Jakarta: Teraju, 2002, v + 389 hlm., 20,5 cm; sebagian katalog mencatat tahun 2003; ISBN tidak tercantum pada katalog yang diperiksa (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun
- Nomor inventaris
-
KBA-BKU-TT-0021
- Jenis dokumen
-
Buku
- Sumber terbitan
-
Teraju, Jakarta
- Tanggal terbit
-
Tanpa tahun
- Edisi dan halaman
-
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Jakarta: Teraju, 2002, v + 389 hlm., 20,5 cm; sebagian katalog mencatat tahun 2003; ISBN tidak tercantum pada katalog yang diperiksa (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
- Penulis
-
Ali Said Damanik
- Klasifikasi LC
-
JQ760–779 — Pemerintahan dan politik Indonesia
- Subjek LCSH
-
Partai Keadilan (Indonesia)
Islam and politics -- Indonesia
Political parties -- Indonesia
Islamic renewal -- Indonesia
- Kategori BISAC
-
POL015000 POLITICAL SCIENCE / Political Process / Political Parties
- Bahasa
-
Indonesia
- Keterangan
-
Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia karya Ali Said Damanik merupakan salah satu kajian awal berbahasa Indonesia tentang kelahiran Partai Keadilan, partai dakwah yang lahir pada masa Reformasi dan kemudian bertransformasi menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Buku ini diberi kata pengantar oleh ilmuwan politik Bahtiar Effendy dan diterbitkan oleh Teraju, sebuah lini penerbitan yang pada awal 2000-an aktif menerbitkan buku-buku pemikiran dan gerakan Islam. Sampul eksemplar ini didominasi warna hitam keabu-abuan di bagian atas dan kuning terang di bagian bawah. Nama penulis tercetak dengan huruf kuning berjarak lebar di kiri atas, disusul keterangan pengantar dari Dr. Bahtiar Effendy dengan huruf putih tebal. Kata "Fenomena" tercetak kuning, sedangkan "Partai Keadilan" tampil dengan huruf putih kapital yang sangat besar. Anak judul berwarna abu-abu gelap berada di atas bidang kuning. Di sisi kanan bawah tampak foto kerumunan massa dalam sebuah aksi atau kampanye, banyak di antaranya berpakaian putih, dengan sebuah bendera hitam bergambar lambang partai berupa dua bulan sabit kuning yang mengapit untaian padi tegak. Logo Teraju tercetak di pojok kanan atas, dan di kiri bawah terdapat kutipan pujian dari Elizabeth F. Collins dari Ohio University, Amerika Serikat, yang menilai belum ada karya setara tentang gerakan ini.
Ali Said Damanik dikenal sebagai penulis buku ini dan, menurut sejumlah ulasan, menulisnya berdasarkan penelitian akademik tentang gerakan tarbiyah dan partai yang lahir darinya. Informasi biografis tentang penulis yang tersedia secara terbuka relatif terbatas, sehingga riwayat pendidikan dan kelembagaannya sebaiknya dicek langsung pada biodata di bagian belakang eksemplar. Kehadiran Bahtiar Effendy sebagai pemberi pengantar memberi buku ini bobot akademik tersendiri. Bahtiar Effendy (1958–2019) adalah guru besar ilmu politik di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, lulusan Ohio State University, dan penulis kajian terkenal tentang hubungan Islam dan negara di Indonesia. Pandangannya tentang transformasi politik Islam dari pendekatan legal-formal menuju pendekatan substantif menjadi salah satu kerangka penting untuk membaca munculnya partai-partai Islam setelah 1998, termasuk Partai Keadilan.
Pokok bahasan buku ini adalah perjalanan sekitar dua dasawarsa gerakan tarbiyah, yaitu jaringan dakwah berbasis pembinaan kelompok kecil yang tumbuh di kampus-kampus Indonesia sejak akhir 1970-an dan awal 1980-an. Gerakan ini berkembang melalui halaqah atau usrah, lembaga dakwah kampus, dan masjid-masjid perguruan tinggi, dengan rujukan pemikiran yang banyak dipengaruhi Ikhwanul Muslimin di Mesir. Pada masa Orde Baru, ketika ruang politik Islam dibatasi dan asas tunggal Pancasila diberlakukan, gerakan ini bergerak dengan pola yang relatif tertutup dan menekankan pembinaan pribadi, keluarga, dan komunitas. Runtuhnya Orde Baru pada 1998 membuka peluang bagi jaringan tersebut untuk muncul ke ruang publik dalam bentuk partai politik. Partai Keadilan dideklarasikan pada 1998 dan mengikuti Pemilu 1999, memperoleh perolehan suara yang tergolong kecil secara nasional namun cukup solid di sejumlah kota besar dan kawasan kampus. Buku ini membaca proses tersebut sebagai transformasi, yakni peralihan dari gerakan dakwah kultural menjadi organisasi politik formal yang tetap mengklaim identitas dakwah.
Dalam uraiannya, buku ini menelusuri asal-usul gerakan, pola rekrutmen dan kaderisasi, struktur pembinaan, gagasan-gagasan pokok tentang Islam dan politik, serta perdebatan internal ketika gerakan memutuskan masuk ke arena kepartaian. Penulis juga membahas bagaimana partai ini menampilkan diri sebagai partai kader yang bersih, disiplin, dan berorientasi moral, berbeda dari citra partai-partai lama. Aspek lain yang menarik adalah cara partai menjembatani cita-cita penerapan nilai Islam dengan kenyataan sistem demokrasi elektoral, termasuk sikapnya terhadap Pancasila, pluralisme, dan isu syariat. Rincian bab dan susunan argumen sebaiknya dicocokkan dengan daftar isi eksemplar, karena keterangan ini disusun berdasarkan sampul, data katalog, dan pengetahuan umum tentang buku tersebut.
Konteks penerbitan buku ini penting. Buku ini muncul ketika Partai Keadilan sedang berada di persimpangan. Perolehan suaranya pada Pemilu 1999 tidak memenuhi ambang batas elektoral, sehingga para pengurusnya mendirikan partai baru, Partai Keadilan Sejahtera, yang kemudian menjadi wadah kelanjutan gerakan dan meraih kenaikan suara signifikan pada Pemilu 2004. Dengan demikian, buku ini merekam fase awal yang sering terlupakan, sebelum PKS menjadi salah satu kekuatan politik Islam penting dan sebelum muncul berbagai kontroversi pada masa-masa sesudahnya. Bagi peneliti, catatan dari fase awal ini berharga untuk membandingkan cita-cita pendirian dengan perkembangan partai kemudian.
Data katalog yang dapat dijadikan pembanding menunjukkan bahwa buku ini terbit di Jakarta oleh Teraju pada 2002, dengan deskripsi fisik v dan 389 halaman serta tinggi 20,5 sentimeter, seperti tercatat di katalog Perpustakaan Politeknik Tempo. Katalog Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta mencatat terbitan Teraju dengan tahun 2003, yang mungkin merujuk pada cetakan ulang. Nomor ISBN tidak tercantum pada katalog-katalog yang diperiksa. Data cetakan, tahun, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta.
Bagi kajian Islam dan politik di Indonesia, buku ini relevan untuk memahami gelombang Islamisasi kelas menengah terdidik sejak 1980-an, yang berlangsung melalui kampus, masjid, dan jaringan dakwah. Buku ini dapat dibaca berdampingan dengan karya-karya lain tentang PKS dan gerakan tarbiyah, misalnya kajian Yon Machmudi tentang Jemaah Tarbiyah dan Partai Keadilan Sejahtera, kajian Burhanuddin Muhtadi tentang dilema PKS, serta tulisan Mathias Diederich tentang dakwah dan politik Partai Keadilan dalam jurnal Archipel. Dari sudut antropologi agama, gerakan tarbiyah menarik sebagai contoh pembentukan komunitas moral melalui disiplin pembinaan, ritual kelompok kecil, pengaturan gaya hidup, dan jaringan sosial yang rapat. Pola semacam ini memperlihatkan bagaimana agama menjadi sumber identitas, solidaritas, dan mobilisasi politik di kalangan muda perkotaan.
Bagi pembaca di Aceh dan Asia Tenggara, buku ini juga memberi bahan perbandingan. Gerakan tarbiyah memiliki jaringan di kampus-kampus Aceh, dan partai yang lahir darinya ikut serta dalam politik lokal Aceh, termasuk setelah perdamaian 2005 ketika lanskap kepartaian di provinsi itu berubah dengan hadirnya partai lokal. Di tingkat regional, pengaruh Ikhwanul Muslimin juga tampak dalam gerakan-gerakan di Malaysia, misalnya melalui jaringan mahasiswa dan organisasi dakwah, sehingga buku ini berguna untuk kajian perbandingan politik Islam di Dunia Melayu.
Sebagai catatan kritis, kajian yang ditulis ketika partai yang dibahas masih sangat muda wajar bila memiliki keterbatasan jarak analitis. Pembaca perlu memperhatikan sejauh mana penulis memakai sumber-sumber internal gerakan, wawancara dengan kader, dan dokumen partai, serta bagaimana sumber-sumber itu diuji dengan pandangan dari luar. Sebagian penilaian tentang karakter partai sebagai partai bersih dan berbasis kader juga perlu dibandingkan dengan perkembangan sesudah 2004, ketika partai ini menghadapi dinamika kekuasaan, koalisi, dan kasus-kasus yang memengaruhi citranya. Namun, keterbatasan semacam ini justru membuat buku ini bernilai sebagai dokumen zaman, karena memperlihatkan bagaimana gerakan tersebut dipahami dan dihadirkan pada fase pembentukannya.
Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan tanda pemakaian berupa lipatan dan goresan pada sampul, terutama di bagian atas dan tepi kanan. Pada punggung buku di sisi kiri terdapat label perpustakaan berwarna biru dan putih. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku.
Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Partai Keadilan, Partai Keadilan Sejahtera, gerakan tarbiyah, Ikhwanul Muslimin di Indonesia, dakwah kampus, partai politik Islam, politik Islam pasca-Reformasi, dan Pemilu 1999. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
- Status hak cipta
-
Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Contributor
-
Bahtiar Effendy (pengantar)
Cara mengutip
Ali Said Damanik, Bahtiar Effendy (pengantar), “Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia”, Teraju, Jakarta, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Jakarta: Teraju, 2002, v + 389 hlm., 20,5 cm; sebagian katalog mencatat tahun 2003; ISBN tidak tercantum pada katalog yang diperiksa (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0021.