Garba Budaya · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Garba Budaya bersama Friends of Aceh, 2003; katalog National Library of Australia mencatat anak judul "atawa mati ketawa cara Aceh"; jumlah halaman dan ISBN belum ditemukan (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun
Ringkasan
Kumpulan humor dan anekdot seputar konflik Aceh, disunting oleh Tri Agus S. Siswowiharjo dan diterbitkan Garba Budaya, menurut rujukan akademik bersama Friends of Aceh pada 2003. Judulnya memelesetkan singkatan Gerakan Aceh Merdeka menjadi Geerr, tiruan bunyi tawa, sedangkan anak judul yang tercatat di sebagian katalog menggemakan buku humor politik Mati Ketawa Cara Rusia. Terbit pada masa runtuhnya Perjanjian Penghentian Permusuhan dan diberlakukannya darurat militer di Aceh, buku ini dapat dibaca sebagai rekaman cara warga mengolah pengalaman razia, kecurigaan, dan keterjepitan di antara pihak bersenjata melalui lelucon. Karya ini relevan bagi kajian humor sebagai perlawanan sehari-hari, folklor dan seni tutur Aceh, pragmatik humor masa perang, serta memori kolektif pascakonflik, dengan catatan bahwa humor tentang konflik bersifat peka dan sebaiknya dibaca bersama kesaksian korban serta kajian konflik Aceh dari berbagai perspektif.
- Nomor inventaris
-
KBA-BKU-TT-0022
- Jenis dokumen
-
Buku
- Sumber terbitan
-
Garba Budaya
- Tanggal terbit
-
Tanpa tahun
- Edisi dan halaman
-
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Garba Budaya bersama Friends of Aceh, 2003; katalog National Library of Australia mencatat anak judul "atawa mati ketawa cara Aceh"; jumlah halaman dan ISBN belum ditemukan (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
- Klasifikasi LC
-
DS646.15.A2 — Sejarah Aceh
- Subjek LCSH
-
Indonesian wit and humor
Aceh (Indonesia) -- Politics and government -- Humor
Gerakan Aceh Merdeka -- Humor
- Kategori BISAC
-
HUM006000 HUMOR / Topic / Politics
- Bahasa
-
Indonesia
- Keterangan
-
GAM: Geerr Aceh Merdeka merupakan kumpulan humor dan anekdot seputar konflik Aceh yang disunting oleh Tri Agus S. Siswowiharjo dan diterbitkan oleh Garba Budaya. Katalog Perpustakaan Nasional Australia mencatat judul ini dengan tambahan anak judul atawa mati ketawa cara Aceh, sebuah frasa yang dengan sengaja menggemakan buku humor politik Mati Ketawa Cara Rusia yang sangat populer di Indonesia pada 1980-an. Sebuah artikel ilmiah tentang interaksi humor pada masa perang di Aceh, terbit dalam jurnal SiELE Universitas Syiah Kuala, merujuk buku ini sebagai terbitan 2003 dari Garba Budaya bersama Friends of Aceh, dengan anak judul yang tercatat agak berbeda. Perbedaan penulisan anak judul dalam sumber-sumber tersebut menunjukkan perlunya pemeriksaan langsung pada halaman judul eksemplar. Sampul eksemplar ini berlatar putih kusam dengan tekstur bintik-bintik seperti cat yang mengelupas. Nama penyunting tercetak kecil di bagian atas. Huruf GAM tampil besar berwarna merah dengan tepi berlubang-lubang tak beraturan, seolah-olah tergerus atau tertembus peluru, dan di bawahnya tertulis Geerr Aceh Merdeka dengan huruf hitam. Bagian tengah dan bawah sampul dikuasai sapuan kuas merah lebar yang miring, ditimpa gambar mulut menyeringai lebar berwarna hitam dengan deretan gigi, menyerupai senyum lebar karikatural. Logo Garba Budaya tercetak di kiri bawah.
Judul buku ini memainkan singkatan GAM, yang dalam percakapan sehari-hari merujuk pada Gerakan Aceh Merdeka, organisasi perlawanan bersenjata yang didirikan Hasan Tiro pada 1976. Dengan mengganti kata Gerakan menjadi Geerr, sebuah tiruan bunyi tawa riuh dalam bahasa gaul Indonesia, penyunting mengalihkan singkatan yang pada masa itu sangat sensitif menjadi pintu masuk ke dunia humor. Permainan kata semacam ini sendiri sudah merupakan pernyataan, karena pada awal 2000-an menyebut nama GAM dapat menimbulkan kecurigaan, sementara tertawa tentang konflik merupakan cara untuk mengambil jarak dari ketegangan sehari-hari.
Tri Agus S. Siswowiharjo dikenal sebagai aktivis, penulis, dan kolumnis, yang tulisannya muncul di berbagai media, termasuk kolom humor dan satire di media daring. Ia juga tercatat sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa APMD di Yogyakarta. Garba Budaya, penerbit buku ini, dikenal menerbitkan karya-karya bertema hak asasi manusia, demokratisasi, dan konflik, termasuk tentang Timor Leste. Keterlibatan Friends of Aceh, sebagaimana disebut dalam rujukan jurnal, menandai bahwa buku ini lahir dari lingkungan jaringan solidaritas masyarakat sipil yang menaruh perhatian pada Aceh pada masa konflik. Rincian kelembagaan penyunting dan mitra penerbitan sebaiknya dicek pada halaman judul dan kata pengantar eksemplar.
Isi buku ini, sesuai dengan anak judulnya, berupa humor, lelucon, dan anekdot yang beredar atau dihimpun dari pengalaman masyarakat Aceh selama konflik. Humor dalam situasi konflik biasanya menyasar hal-hal yang tidak bisa dibicarakan secara terbuka: razia di jalan raya, pemeriksaan kartu tanda penduduk, kecurigaan aparat terhadap warga, kebingungan warga yang terjepit di antara pihak-pihak bersenjata, birokrasi bantuan, serta kepandaian orang Aceh bersiasat dengan bahasa dan logat. Lelucon-lelucon ini dapat mengejek siapa saja, baik aparat negara, kombatan, pejabat sipil, maupun warga sendiri. Bentuk dan sasaran humor dalam buku ini, termasuk asal-usul tiap anekdot dan apakah sebagian disumbangkan oleh kontributor tertentu, perlu dibaca langsung pada eksemplar, karena keterangan ini tidak disusun berdasarkan pembacaan teks lengkap.
Konteks sejarah buku ini sangat penting. Pada tahun 2003, Aceh berada dalam periode paling genting dalam konflik panjangnya. Setelah berakhirnya status Daerah Operasi Militer pada 1998, harapan akan penyelesaian damai sempat tumbuh melalui Jeda Kemanusiaan pada 2000 dan Perjanjian Penghentian Permusuhan yang ditandatangani di Jenewa pada Desember 2002. Kesepakatan itu runtuh pada Mei 2003, ketika pemerintah memberlakukan darurat militer di Aceh dan melancarkan operasi militer besar. Dalam situasi pembatasan informasi dan ketakutan, humor menjadi salah satu ruang ekspresi yang masih tersisa. Buku ini dengan demikian merekam sisi kehidupan konflik yang jarang tercatat dalam laporan politik dan militer, yaitu cara warga bertahan secara batin melalui tawa.
Bagi kajian antropologi dan folklor, buku ini relevan dengan tema humor sebagai bentuk perlawanan sehari-hari, sebagaimana dibahas dalam kajian James C. Scott tentang senjata kaum lemah dan transkrip tersembunyi. Lelucon memungkinkan kritik disampaikan secara terselubung, mengurangi ketegangan, membangun solidaritas, dan menegaskan martabat di hadapan kekuasaan. Tradisi humor Aceh sendiri memiliki akar budaya, misalnya dalam seni tutur dan pertunjukan seperti PM Toh, peugah haba, dan kisah-kisah jenaka yang beredar di warung kopi. Buku ini dapat dibandingkan dengan kumpulan humor politik lain di Indonesia, seperti Mati Ketawa Cara Rusia yang diterbitkan Grafiti Pers dengan pengantar Abdurrahman Wahid, yang memperlihatkan bagaimana humor dipakai untuk membicarakan kekuasaan otoriter. Penelitian linguistik pragmatik tentang humor masa perang di Aceh, seperti artikel dalam jurnal SiELE yang merujuk buku ini, menunjukkan bahwa koleksi semacam ini telah menjadi sumber data akademik.
Bagi kajian Aceh, buku ini berguna sebagai pelengkap terhadap literatur tentang konflik yang umumnya didominasi analisis politik, keamanan, dan hak asasi manusia. Ingatan kolektif masyarakat Aceh tentang konflik tidak hanya berisi kekerasan dan trauma, tetapi juga strategi bertahan hidup, kecerdikan, dan humor gelap. Dalam kerangka kajian memori pascakonflik, dokumen semacam ini membantu memahami bagaimana masyarakat mengolah pengalaman pahit dan bagaimana narasi-narasi itu berubah setelah perdamaian Helsinki 2005. Bagi mahasiswa dan peneliti di Aceh, buku ini juga dapat menjadi bahan untuk menelusuri bagaimana bahasa Aceh, bahasa Indonesia, dan istilah-istilah militer bercampur dalam percakapan sehari-hari pada masa konflik, sekaligus memperlihatkan kecakapan masyarakat memelesetkan istilah resmi menjadi bahan tertawaan yang menyimpan kritik. Dengan demikian, buku kecil ini dapat ditempatkan dalam rak yang sama dengan dokumentasi sosial konflik, bukan sekadar bacaan hiburan.
Sebagai catatan kritis, humor tentang konflik selalu berada di wilayah yang peka. Lelucon dapat menyegarkan, tetapi juga berpotensi mereduksi penderitaan korban, memperkuat stereotip tentang orang Aceh, atau memihak salah satu pihak yang bertikai. Pembaca perlu memperhatikan siapa yang bercerita, kepada siapa humor itu ditujukan, dan dalam situasi apa ia beredar. Pembaca juga perlu menyadari bahwa buku yang disunting di luar Aceh oleh jaringan solidaritas memiliki sudut pandang tertentu, sehingga sebaiknya dibaca berdampingan dengan kesaksian warga, laporan lembaga hak asasi manusia, dan kajian akademik tentang konflik Aceh dari berbagai perspektif, termasuk perspektif negara dan perspektif para mantan kombatan.
Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan keausan yang cukup berat. Permukaan sampul tampak kusam dengan noda dan bintik-bintik, sebagian lapisan sampul di bagian bawah terkelupas, dan tepi-tepinya aus. Pada punggung buku di sisi kiri terdapat label perpustakaan berwarna biru dan putih dengan sisa tulisan yang terpotong. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku.
Subjek penelusuran yang sesuai meliputi humor politik, anekdot konflik Aceh, Gerakan Aceh Merdeka, darurat militer Aceh 2003, humor sebagai perlawanan, folklor Aceh, dan memori kolektif konflik. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penyunting, judul lengkap beserta anak judul sebagaimana tercetak pada halaman judul, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
- Status hak cipta
-
Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Contributor
-
Tri Agus S. Siswowiharjo (penyunting)