Buku

Gerakan Aceh Merdeka: Jihad Rakyat Aceh Mewujudkan Negara Islam

Madani Press, Jakarta · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Jakarta: Madani Press, 1999, edisi 1, xii + 329 hlm., ilus., 24 cm, tanpa ISBN tercatat; sebagian katalog mencatat tahun 2000 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun

Ringkasan

Buku Al Chaidar, pengamat gerakan Islam politik dan Darul Islam, yang terbit di Jakarta oleh Madani Press pada masa awal Reformasi. Sebagaimana dirumuskan dalam anak judulnya, buku ini membaca perlawanan Aceh sebagai jihad untuk mewujudkan negara Islam dan menghubungkan berbagai fasenya, dari perang melawan Belanda, pemberontakan Darul Islam di bawah Daud Beureueh pada 1953, hingga Gerakan Aceh Merdeka yang diproklamasikan Hasan Tiro pada 1976. Terbit di tengah terungkapnya pelanggaran masa Daerah Operasi Militer dan menguatnya tuntutan referendum, buku ini menjadi dokumen tentang cara sebagian kalangan Islamis membaca konflik Aceh. Tafsirnya perlu dibandingkan dengan kajian akademik, seperti karya Edward Aspinall, yang menilai ideologi GAM lebih bersifat nasionalis etnis daripada proyek negara Islam. Karya ini relevan bagi kajian konflik Aceh, Islam dan nasionalisme, serta historiografi perlawanan di Asia Tenggara.

Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0023
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Madani Press, Jakarta
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Jakarta: Madani Press, 1999, edisi 1, xii + 329 hlm., ilus., 24 cm, tanpa ISBN tercatat; sebagian katalog mencatat tahun 2000 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Penulis
Al Chaidar
Klasifikasi LC
DS646.15.A2 — Sejarah Aceh
Subjek LCSH
Gerakan Aceh Merdeka Aceh (Indonesia) -- History -- Autonomy and independence movements Islam and politics -- Indonesia -- Aceh Darul Islam (Indonesia)
Kategori BISAC
HIS048000 HISTORY / Asia / Southeast Asia
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Gerakan Aceh Merdeka: Jihad Rakyat Aceh Mewujudkan Negara Islam karya Al Chaidar merupakan salah satu buku berbahasa Indonesia tentang perlawanan Aceh yang terbit pada masa awal Reformasi, ketika pembicaraan terbuka mengenai Aceh baru saja dimungkinkan setelah pencabutan status Daerah Operasi Militer pada 1998. Buku ini diterbitkan oleh Madani Press di Jakarta. Sampul eksemplar ini dirancang dengan gaya yang mencolok. Bagian atas menampilkan latar merah dengan bulan sabit dan bintang putih serta garis-garis hitam dan putih, menyerupai bendera Bulan Bintang yang dipakai Gerakan Aceh Merdeka. Nama Al Chaidar tercetak putih pada kotak hitam di kiri atas, sedangkan logo Madani Press berupa bola dunia kecil berada di kanan atas. Judul Gerakan Aceh Merdeka tercetak dengan huruf kapital besar bergaya logam berwarna hitam dengan tepi keperakan. Anak judul tercetak dengan huruf merah tebal berbayang hitam. Bagian bawah sampul memuat kolase beberapa foto hitam putih: seorang lelaki berjas di kanan atas, seorang lelaki berjas dan berdasi di kiri bawah, seorang lelaki lebih tua berseragam dengan topi dan tanda pangkat di kanan bawah, serta di bagian tengah foto buram beberapa orang berpeci di dekat sebuah bidang putih. Menurut keterangan pengelola koleksi, foto-foto tokoh pada sampul antara lain menampilkan Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Hasan Tiro. Namun, sampul depan tidak memuat keterangan foto, sehingga pencocokan wajah dengan nama tokoh perlu dipastikan melalui sampul belakang, halaman keterangan gambar, atau isi buku, dan tidak diuraikan di sini tanpa dasar yang memadai. Al Chaidar, kelahiran 1969 menurut katalog perpustakaan, dikenal sebagai penulis dan pengamat gerakan Islam politik, Darul Islam, dan terorisme di Indonesia. Ia menempuh pendidikan di Universitas Indonesia dan kemudian mengajar di Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe. Pada akhir 1990-an ia menerbitkan sejumlah buku tentang Darul Islam dan pemikiran politik S.M. Kartosoewirjo, serta ikut menulis buku tentang kekerasan di Aceh pada masa operasi militer. Kedekatannya dengan kajian Darul Islam memengaruhi cara ia membaca sejarah perlawanan Aceh, sebagaimana tampak jelas pada anak judul buku ini. Pada tahun-tahun berikutnya, ia kerap tampil di media sebagai komentator tentang radikalisme dan jaringan teror, sehingga posisinya sebagai penulis yang dekat dengan objek kajiannya perlu diperhatikan pembaca. Pokok argumen buku ini, sebagaimana dirumuskan dalam anak judul, adalah bahwa perjuangan rakyat Aceh dapat dipahami sebagai jihad untuk mewujudkan negara Islam. Dengan kerangka tersebut, penulis menghubungkan berbagai fase perlawanan Aceh, dari perang melawan Belanda, keterlibatan Aceh dalam revolusi kemerdekaan, pemberontakan Darul Islam di bawah Daud Beureueh pada 1953 yang bergabung dengan Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosoewirjo, hingga lahirnya Gerakan Aceh Merdeka yang diproklamasikan Hasan Tiro pada 1976. Penulis cenderung menempatkan unsur Islam sebagai benang merah yang menyatukan fase-fase tersebut. Uraian tentang susunan bab, sumber-sumber yang dipakai, dan dokumen-dokumen yang dilampirkan perlu diperiksa langsung pada eksemplar, karena keterangan ini disusun berdasarkan sampul, data katalog, dan pengetahuan umum tentang buku tersebut. Konteks penerbitan buku ini sangat penting untuk dipahami. Pada 1998 dan 1999, setelah jatuhnya Soeharto, berbagai laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia selama masa Daerah Operasi Militer mulai terungkap, tuntutan referendum menguat, dan Gerakan Aceh Merdeka kembali memperluas pengaruhnya. Pasar buku Indonesia saat itu dibanjiri terbitan tentang Aceh, mulai dari laporan jurnalistik, kesaksian korban, hingga analisis politik. Buku Al Chaidar termasuk dalam gelombang ini dan menawarkan pembacaan yang menekankan dimensi keagamaan konflik. Penerbitannya bertepatan dengan masa ketika pemerintah pusat mulai merumuskan otonomi khusus dan pelaksanaan syariat Islam di Aceh sebagai salah satu tanggapan politik, sehingga perdebatan tentang tempat Islam dalam tuntutan rakyat Aceh menjadi isu yang hangat. Data katalog yang dapat dijadikan pembanding menunjukkan bahwa buku ini terbit di Jakarta oleh Madani Press pada 1999 sebagai edisi pertama, setebal xii dan 329 halaman dengan ilustrasi, berukuran 24 sentimeter, sebagaimana tercatat di katalog Perpustakaan Universitas Terbuka, tanpa nomor ISBN. Katalog Perpustakaan Universiti Malaysia Terengganu mencatat terbitan Madani Press dengan tahun 2000 dan nomor panggil DS646.15.A8 A4 2000, dengan subjek sejarah Aceh serta gerakan otonomi dan kemerdekaan. Perbedaan tahun ini mungkin menunjukkan adanya cetakan ulang. Data cetakan, tahun, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta. Bagi kajian Aceh dan studi Islam di Asia Tenggara, buku ini relevan sebagai dokumen tentang cara sebagian kalangan Islamis Indonesia membaca konflik Aceh pada akhir 1990-an. Buku ini dapat dibandingkan dengan kajian akademik yang lebih kemudian, misalnya karya Edward Aspinall, Islam and Nation: Separatist Rebellion in Aceh, Indonesia, yang berpendapat bahwa ideologi Gerakan Aceh Merdeka pada dasarnya bersifat nasionalis etnis dan berbeda dari proyek negara Islam Darul Islam, meskipun Islam tetap menjadi bagian penting dari identitas Aceh. Kajian Nazaruddin Sjamsuddin tentang pemberontakan Daud Beureueh, karya-karya Tim Kell tentang akar konflik Aceh, serta tulisan-tulisan Kirsten Schulze tentang GAM juga memberi pembanding yang perlu. Dari sudut antropologi politik, perdebatan ini memperlihatkan bahwa identitas Aceh tersusun dari lapisan-lapisan sejarah, agama, dan etnisitas yang ditafsirkan berbeda oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Sebagai catatan kritis, kerangka jihad untuk mewujudkan negara Islam merupakan tafsir penulis yang tidak sepenuhnya sejalan dengan rumusan resmi Gerakan Aceh Merdeka sendiri. Dalam dokumen-dokumennya, Hasan Tiro lebih menekankan klaim kedaulatan historis Aceh, nasionalisme Aceh-Sumatra, dan penolakan terhadap apa yang ia sebut kolonialisme Jawa, bukan pendirian negara Islam dalam arti Darul Islam. Hubungan antara Hasan Tiro dan gerakan Darul Islam pada 1950-an memang ada, tetapi kesinambungan ideologis antara keduanya masih diperdebatkan. Pembaca juga perlu menyadari bahwa buku ini ditulis di tengah konflik yang sedang berlangsung, sehingga penggunaan sumber, ketepatan data, dan kecenderungan penilaian perlu diuji dengan sumber lain, termasuk arsip, kesaksian dari berbagai pihak, serta kajian yang ditulis setelah perdamaian Helsinki 2005. Dengan membaca secara kritis, buku ini tetap bernilai sebagai sumber tentang perdebatan ideologis seputar Aceh dan sebagai bagian dari sejarah historiografi konflik itu sendiri. Bagi pengajaran di perguruan tinggi, khususnya mata kuliah sejarah Islam di Dunia Melayu, antropologi politik, dan kajian konflik, buku ini dapat dipakai sebagai contoh sumber sekunder yang memiliki posisi ideologis jelas. Mahasiswa dapat diajak membandingkan cara buku ini merangkai peristiwa dengan cara kajian akademik menimbang bukti, sehingga terlatih membedakan antara narasi perjuangan, tafsir ideologis, dan analisis sejarah yang berimbang. Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan keausan yang berat. Sampul dipenuhi lipatan, retakan, dan goresan, sebagian lapisan permukaan terkelupas di bagian judul, dan tepi-tepinya robek serta membulat. Pada punggung buku di sisi kiri terdapat label perpustakaan berwarna biru dan putih. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Gerakan Aceh Merdeka, konflik Aceh, Darul Islam di Aceh, Daud Beureueh, Hasan Tiro, Islam dan nasionalisme, jihad dan politik Islam, serta sejarah Aceh abad ke-20. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Al Chaidar, “Gerakan Aceh Merdeka: Jihad Rakyat Aceh Mewujudkan Negara Islam”, Madani Press, Jakarta, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Jakarta: Madani Press, 1999, edisi 1, xii + 329 hlm., ilus., 24 cm, tanpa ISBN tercatat; sebagian katalog mencatat tahun 2000 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0023.