Buku

The Invention of Politics in Colonial Malaya: Contesting Nationalism and the Expansion of the Public Sphere

Cambridge University Press, Cambridge · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Cambridge: Cambridge University Press, 1995, vi + 328 hlm., ISBN 0-521-46565-6 (sampul keras) (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun

Ringkasan

Monograf sejarawan Australian National University ini menelaah lahirnya wacana politik Melayu di Malaya pada masa kolonial Inggris, dari akhir abad ke-19 hingga menjelang Perang Dunia II. Anthony Milner menolak pembacaan teleologis yang memandang periode itu semata sebagai jalan menuju kemerdekaan. Ia menunjukkan bahwa ranah politik justru lahir dari persaingan tiga visi komunitas: kerajaan yang berpusat pada raja, umat yang berakar pada Islam reformis, dan bangsa Melayu. Melalui pembacaan cermat atas karya Abdullah Munsyi, terbitan berkala Islam, surat kabar Melayu, kronik istana, dan tulisan kaum nasionalis muda, buku ini memperlihatkan bagaimana pers, perkumpulan, dan pendidikan membentuk ruang publik baru tempat gagasan kemajuan dan pembaruan dipertarungkan. Karya ini penting bagi kajian sejarah intelektual Asia Tenggara, reformisme Islam di Dunia Melayu, serta perbandingan dengan dinamika serupa di Sumatra dan Aceh.

Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0025
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Cambridge University Press, Cambridge
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Cambridge: Cambridge University Press, 1995, vi + 328 hlm., ISBN 0-521-46565-6 (sampul keras) (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Penulis
Anthony Milner
Klasifikasi LC
DS591–599 — Sejarah Malaysia dan Semenanjung Melayu
Subjek LCSH
Nationalism -- Malaysia -- Malaya -- History Malaya -- Politics and government Malays (Asian people) -- Politics and government Islam and politics -- Malaysia -- Malaya
Kategori BISAC
HIS048000 HISTORY / Asia / Southeast Asia
Bahasa
Inggris
Keterangan
The Invention of Politics in Colonial Malaya: Contesting Nationalism and the Expansion of the Public Sphere karya sejarawan Australia Anthony Milner merupakan salah satu kajian paling berpengaruh tentang lahirnya wacana politik Melayu pada masa kolonial Inggris. Eksemplar dalam koleksi ini berupa edisi sampul keras yang masih dilengkapi jaket buku berwarna hijau tua. Di tengah jaket terdapat sebuah kotak putih berisi judul dengan huruf serif hitam yang anggun, dengan kata "The", "of", dan "in" dicetak miring dalam ukuran lebih kecil sehingga kata INVENTION, POLITICS, COLONIAL, dan MALAYA tampil menonjol. Di bawah kotak putih itu terdapat pita hijau muda berisi anak judul tentang nasionalisme yang diperebutkan dan perluasan ruang publik, lalu sebuah pita hitam memuat nama ANTHONY MILNER dengan huruf kapital putih. Desain sampul yang sederhana, tanpa ilustrasi, mencerminkan gaya penerbitan monograf akademik Cambridge University Press pada pertengahan 1990-an, ketika buku-buku ilmiah lebih mengandalkan tipografi daripada gambar. Anthony Crothers Milner, lahir pada 1945, adalah sejarawan Asia Tenggara yang lama berkiprah di Australian National University di Canberra, tempat ia antara lain memegang jabatan profesor sejarah Asia. Ia dikenal luas melalui bukunya Kerajaan: Malay Political Culture on the Eve of Colonial Rule (1982), yang menelaah cara orang Melayu prakolonial memahami kekuasaan, kedaulatan, dan hubungan antara raja dan rakyat melalui teks-teks hikayat. Belakangan ia juga menulis The Malays (2008) dalam seri The Peoples of South-East Asia and the Pacific, sebuah sintesis tentang sejarah dan pembentukan identitas Melayu. Milner termasuk sarjana yang sangat dekat dengan dunia akademik Malaysia, sering terlibat dalam forum kebijakan luar negeri Australia mengenai Asia, dan dikenal sebagai pendukung pendekatan sejarah yang memberi tempat utama pada sumber-sumber berbahasa setempat. Pokok argumen buku ini dapat dirangkum sebagai upaya menggeser cara para sejarawan membaca periode pembentukan nasionalisme Melayu. Selama beberapa dasawarsa, historiografi Malaysia cenderung membaca akhir abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20 sebagai jalan lurus menuju kebangkitan nasional, seakan-akan semua tokoh dan gagasan pada masa itu bermuara pada kemerdekaan 1957. Milner menolak kerangka teleologis tersebut. Menurutnya, masa kolonial justru ditandai oleh persaingan beberapa visi tentang komunitas politik: visi kerajaan yang berpusat pada raja, visi umat yang berakar pada Islam, dan visi bangsa yang bertumpu pada gagasan tentang orang Melayu sebagai satu komunitas. Ketiga visi itu saling menantang, saling meminjam kosakata, dan kadang saling menyesuaikan diri. Karena itu, istilah "penemuan politik" dalam judul merujuk pada lahirnya sebuah ranah baru, yaitu politik sebagai arena perdebatan terbuka tentang bagaimana masyarakat seharusnya diatur, sesuatu yang dalam tatanan kerajaan lama tidak dikenal dalam bentuk demikian. Untuk menopang argumen itu, Milner membaca secara cermat teks-teks Melayu abad ke-19 dan ke-20, termasuk karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi yang mengkritik tatanan kerajaan lama, terbitan berkala Islam reformis seperti Al-Imam, surat kabar Melayu awal abad ke-20, kronik istana yang ditulis ulang untuk menampilkan kesultanan yang memperbarui diri, serta tulisan-tulisan kaum nasionalis muda menjelang Perang Dunia II. Daftar isi buku memperlihatkan alur tersebut: dari penggambaran dan kecaman atas ancien régime Melayu, pembentukan kritik liberal, perluasan kosakata untuk menggambarkan dunia nyata, konseptualisasi komunitas bangsa melalui surat kabar beraliran moderat, pembangunan ruang publik borjuis, tantangan Islam terhadap kerajaan, upaya kerajaan memperbarui diri, praktik politik pada masa kolonial pertengahan, hingga bab tentang kesadaran (sedar) dan survei tanah air yang menutup rangkaian analisis. Bagian kesimpulan membahas warisan politik Melayu yang dibentuk oleh persaingan panjang tersebut. Konsep ruang publik dalam anak judul jelas berutang pada pemikiran Jürgen Habermas tentang lahirnya ruang publik borjuis di Eropa. Milner tidak sekadar memindahkan konsep itu ke Semenanjung Melayu, melainkan menunjukkan bagaimana surat kabar, perkumpulan, sekolah, dan penerbitan berbahasa Melayu menciptakan forum diskusi yang memungkinkan orang biasa membicarakan urusan bersama di luar lingkungan istana. Di dalam forum itulah gagasan tentang bangsa Melayu, kemajuan, dan pembaruan agama dipertarungkan. Pendekatan ini juga bersinggungan dengan gagasan Benedict Anderson tentang komunitas terbayang dan peran kapitalisme cetak, tetapi Milner memberi tekanan lebih besar pada ketegangan ideologis di dalam masyarakat Melayu sendiri, bukan hanya pada hubungan antara penjajah dan terjajah. Konteks intelektual buku ini juga penting. Judulnya mengingatkan pada perdebatan lama yang dipicu oleh esai John Smail tentang kemungkinan sejarah otonom Asia Tenggara, yaitu sejarah yang ditulis dari sudut pandang dinamika internal masyarakat setempat, bukan sekadar sebagai lampiran sejarah kolonial. Milner menempatkan dirinya dalam tradisi itu dengan memperlakukan teks-teks Melayu sebagai sumber pemikiran politik yang serius. Pada saat yang sama, terbitnya buku ini pada 1995 bertepatan dengan masa ketika Malaysia di bawah Mahathir Mohamad sedang giat merumuskan identitas nasional, peran Islam dalam negara, dan kedudukan institusi raja, sehingga analisis Milner tentang ketegangan antara kerajaan, Islam, dan bangsa terasa sangat relevan bagi pembaca kontemporer. Bagi kajian Indonesia, Aceh, dan Asia Tenggara secara umum, buku ini menawarkan cermin perbandingan yang berharga. Perdebatan antara Kaum Muda dan Kaum Tua di Semenanjung memiliki padanan yang erat di Minangkabau, Jawa, dan Aceh, karena jaringan reformisme Islam yang menghubungkan Kairo, Mekkah, Singapura, dan Sumatra bergerak melintasi batas-batas kolonial. Al-Imam sendiri sering dibandingkan dengan Al-Munir di Padang, dan para pembaharu Melayu banyak berhubungan dengan ulama Sumatra. Bagi pengkaji Aceh, analisis Milner tentang hubungan antara legitimasi raja, otoritas ulama, dan gagasan bangsa dapat dipakai untuk membaca ulang posisi uleebalang, ulama, dan gerakan seperti PUSA pada paruh pertama abad ke-20. Bagi mata kuliah tentang Islam di Dunia Melayu dan Samudra Hindia, buku ini menjadi rujukan pokok tentang bagaimana Islam berperan sebagai salah satu bahasa politik modern, bukan hanya sebagai sistem keyakinan. Dari sisi antropologi dan sejarah gagasan, buku ini menarik karena menelusuri perubahan kosakata. Kata-kata seperti bangsa, kerajaan, umat, kemajuan, dan politik itu sendiri mengalami pergeseran makna seiring masuknya pendidikan modern, birokrasi kolonial, dan media cetak. Pendekatan semacam ini sejalan dengan kajian semantik sejarah yang memperhatikan bagaimana konsep-konsep sosial dibentuk dan diperebutkan. Mahasiswa yang meneliti wacana politik Islam, sejarah pers Melayu, atau pembentukan identitas etnis dapat memanfaatkan buku ini sebagai model analisis teks yang teliti dan peka terhadap konteks. Sebagai catatan kritis, sejumlah pengulas mencatat bahwa fokus Milner pada teks-teks tertulis kaum terpelajar membuat suara petani, pekerja, dan perempuan Melayu relatif kurang terdengar. Ruang publik yang ia gambarkan sebagian besar adalah ruang kaum literati, wartawan, guru, dan bangsawan yang terdidik. Selain itu, penolakannya terhadap kerangka nasionalisme dapat dibaca sebagai koreksi yang sehat, tetapi sebagian sejarawan Malaysia melihatnya sebagai upaya yang terlalu jauh menjauhkan periode itu dari narasi kebangsaan yang mereka anggap sah. Komunitas Tionghoa dan India di Malaya juga tidak menjadi pusat perhatian, sehingga gambaran tentang ruang publik kolonial bersifat Melayu-sentris. Meskipun demikian, kekuatan buku ini terletak pada ketajaman pembacaan sumber dan pada keberaniannya membuka perspektif baru. Data terbitan pembanding menurut katalog perpustakaan, antara lain katalog Joyner Library East Carolina University dan halaman penerbit, menyebut buku ini terbit di Cambridge oleh Cambridge University Press pada 1995, setebal vi dan 328 halaman dengan peta, berukuran 24 sentimeter, dengan daftar pustaka pada halaman 298 sampai 317 serta indeks. ISBN edisi sampul keras tercatat 0-521-46565-6, dengan nomor panggil Library of Congress DS596.6 .M55 1995. Buku ini kemudian juga tersedia dalam versi digital Cambridge Core dan dicetak ulang dalam sampul lunak. Data tahun, cetakan, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta, karena eksemplar ini dapat saja berasal dari cetakan berikutnya. Kondisi fisik eksemplar menunjukkan jaket buku yang masih utuh tetapi memperlihatkan bintik-bintik dan noda ringan, terutama di bagian bawah dan tepi kanan, serta sedikit keausan pada sudut-sudutnya. Pada sisi kiri bawah, dekat punggung, terdapat label perpustakaan berwarna biru dan putih yang menandakan bahwa buku ini pernah menjadi bagian dari koleksi perpustakaan institusi. Warna hijau sampul tampak sedikit memudar di beberapa bagian, wajar untuk buku berusia hampir tiga dasawarsa. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi nasionalisme Melayu, sejarah politik Malaya kolonial, ruang publik, pers Melayu, reformisme Islam Kaum Muda, institusi kerajaan Melayu, sejarah intelektual Asia Tenggara, dan historiografi Malaysia. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap beserta anak judul, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Anthony Milner, “The Invention of Politics in Colonial Malaya: Contesting Nationalism and the Expansion of the Public Sphere”, Cambridge University Press, Cambridge, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Cambridge: Cambridge University Press, 1995, vi + 328 hlm., ISBN 0-521-46565-6 (sampul keras) (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0025.