Buku

Magosaha: An Ethnography of the Tawi-Tawi Sama Dilaut

Ateneo de Manila University Press, Quezon City · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Quezon City: Ateneo de Manila University Press, 2001, 261 atau 272 hlm. (sumber berbeda), ilus., 23 cm, ISBN 971-550-369-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun

Ringkasan

Etnografi longitudinal karya antropolog H. Arlo Nimmo tentang Sama Dilaut, masyarakat pelaut yang secara tradisional hidup di atas perahu di Tawi-Tawi, Kepulauan Sulu, Filipina selatan. Berdasarkan penelitian lapangan antara 1963 dan 1997, buku ini menelusuri kekuatan budaya dan ekonomi yang membentuk pola perpindahan musiman mereka. Nimmo menunjukkan bahwa perubahan budaya selama lebih dari tiga dasawarsa lahir dari komersialisasi hasil laut dan hutan, menguatnya Islam, pemberontakan bersenjata kelompok Muslim lokal, kehadiran militer, serta masuknya pariwisata dan investasi kelautan. Sama Dilaut kehilangan perahu rumah dan teknik penangkapan ikan tradisional, tetapi mempertahankan pandangan dunia dan hubungan khas dengan arwah leluhur. Buku ini relevan bagi kajian Sama-Bajau lintas Filipina, Malaysia, dan Indonesia, antropologi maritim, proses islamisasi di wilayah pinggiran, serta metode etnografi jangka panjang.

Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0026
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Ateneo de Manila University Press, Quezon City
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Quezon City: Ateneo de Manila University Press, 2001, 261 atau 272 hlm. (sumber berbeda), ilus., 23 cm, ISBN 971-550-369-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Penulis
H. Arlo Nimmo
Klasifikasi LC
DS666.S35 — Etnografi Sama (Bajau), Filipina
Subjek LCSH
Bajau (Southeast Asian people) -- Philippines -- Tawi-Tawi Ethnology -- Philippines -- Tawi-Tawi Tawi-Tawi (Philippines) -- Social life and customs
Kategori BISAC
SOC002010 SOCIAL SCIENCE / Anthropology / Cultural & Social
Bahasa
Inggris
Keterangan
Magosaha: An Ethnography of the Tawi-Tawi Sama Dilaut karya antropolog Amerika H. Arlo Nimmo adalah etnografi tentang masyarakat Sama Dilaut, kelompok pelaut yang secara tradisional hidup di atas perahu di Kepulauan Sulu, Filipina selatan, dan yang di Indonesia serta Malaysia lebih dikenal dengan sebutan Bajau atau Bajo. Sampul eksemplar ini bernuansa kuning keemasan dengan bingkai cokelat tua di tepinya. Kata Magosaha tercetak sangat besar di bagian atas dalam huruf hitam bergaya dekoratif dengan ornamen segi tiga menyerupai motif ukiran, sedangkan anak judul ditulis dalam huruf tangan bergaya kaligrafis dan disusun bertingkat. Bagian tengah sampul menampilkan foto bernada sepia tentang perahu-perahu rumah dengan atap di perairan dangkal yang tenang, dan bagian bawah memuat foto wajah sekelompok orang Sama Dilaut, yaitu seorang lelaki tua berikat kepala putih, beberapa anak yang tersenyum, dan seorang perempuan berpenutup kepala kotak-kotak. Nama penulis tercetak dalam huruf kapital keemasan di bawah foto, disusul logo dan nama Ateneo de Manila University Press di bagian paling bawah. Harry Arlo Nimmo adalah antropolog yang lama mengajar di California State University, Hayward, dan dikenal sebagai salah satu peneliti paling awal dan paling tekun tentang Sama Dilaut. Ia mulai melakukan penelitian lapangan di Kepulauan Sulu pada awal 1960-an dan kembali berkali-kali dalam rentang beberapa dekade. Karya-karyanya yang lebih awal, seperti The Sea People of Sulu, serta kumpulan cerita dan nyanyian yang ia rekam dari masyarakat ini, telah menjadi rujukan klasik dalam kajian tentang masyarakat laut di Asia Tenggara. Pengalaman panjang inilah yang memungkinkan Magosaha menyajikan pandangan longitudinal, sesuatu yang jarang dimiliki etnografi pada umumnya. Menurut ringkasan dalam basis data eHRAF World Cultures dari Yale University, buku ini didasarkan pada penelitian lapangan pada 1963, 1965 sampai 1967, 1977, 1982, dan 1997, sehingga mencakup perubahan selama lebih dari tiga dasawarsa. Pokok kajiannya adalah kekuatan budaya dan ekonomi yang membentuk pola perpindahan musiman masyarakat Sama Dilaut di Tawi-Tawi. Penulis menunjukkan bahwa perubahan budaya mereka merupakan hasil dari tekanan yang saling berkait, yakni semakin kuatnya komersialisasi hasil laut dan hasil hutan, menguatnya pengaruh Islam, pemberontakan bersenjata kelompok Muslim lokal terhadap pemerintah Filipina, dan kehadiran militer di kepulauan tersebut. Pada akhir 1990-an, fasilitas wisata kelas atas dan investasi kelautan yang menguntungkan mulai masuk ke wilayah ini. Dalam proses itu, Sama Dilaut kehilangan unsur-unsur penting budaya material mereka, terutama perahu rumah dan teknik penangkapan ikan tradisional, tetapi tetap mempertahankan pandangan dunia khas mereka, termasuk cara menghormati dan menjalin hubungan dengan arwah leluhur. Judul Magosaha sendiri berasal dari bahasa Sama dan, sejauh dapat ditafsirkan dari isi buku, berkaitan dengan kegiatan mencari nafkah atau penghidupan; makna persisnya sebaiknya diperiksa langsung pada pendahuluan buku. Konteks sejarah buku ini adalah dinamika Kepulauan Sulu sejak masa kesultanan, kolonialisme Spanyol dan Amerika, hingga integrasi ke dalam negara Filipina modern. Dalam tatanan sosial Sulu, Sama Dilaut lama ditempatkan pada posisi paling rendah oleh kelompok Tausug dan Sama daratan, antara lain karena gaya hidup mereka yang berpindah-pindah dan karena mereka dianggap belum sepenuhnya memeluk Islam. Konflik bersenjata antara Front Pembebasan Nasional Moro dan pemerintah Filipina sejak 1970-an mengguncang kehidupan kepulauan ini, sementara pasar regional untuk teripang, rumput laut, dan hasil laut lainnya mengubah orientasi ekonomi masyarakat pesisir. Etnografi Nimmo mencatat bagaimana semua kekuatan ini masuk ke dalam kehidupan keluarga-keluarga perahu. Data pembanding menunjukkan buku ini diterbitkan oleh Ateneo de Manila University Press di Quezon City. Resensi Kathleen M. Nadeau dalam Journal of Asian Studies edisi November 2003 mencantumkan tahun 2001 dan tebal 272 halaman, sedangkan katalog Ortigas Foundation Library mencatat 261 halaman dengan ilustrasi, berukuran 23 sentimeter, dan nomor panggil DS666.S35 2001. Basis data eHRAF mencatat ISBN 971-550-369-1 dan menyebut tahun 2000. Perbedaan tahun dan jumlah halaman ini menunjukkan bahwa data cetakan, tahun, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta. Bagi kajian Asia Tenggara, buku ini relevan karena masyarakat Sama-Bajau tersebar di wilayah perbatasan laut Filipina, Malaysia, dan Indonesia, dari Sulu dan Sabah hingga Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Etnografi ini membantu memahami bagaimana masyarakat yang hidup di perairan lintas negara menghadapi batas-batas politik modern, kebijakan pembangunan, dan ekspansi pasar. Bagi studi Islam, buku ini menarik karena memperlihatkan proses islamisasi yang berlangsung perlahan dan berlapis pada kelompok yang sebelumnya dipandang pinggiran oleh komunitas Muslim di sekitarnya, sehingga membuka diskusi tentang hubungan antara Islam, status sosial, dan praktik pemuliaan leluhur. Bagi antropologi maritim, buku ini menjadi contoh penting tentang perubahan budaya material dan ekologi pesisir. Bagi pembaca di Aceh dan Indonesia, kajian ini dapat dibandingkan dengan kehidupan masyarakat Bajo di Sulawesi dan Nusa Tenggara serta dengan masyarakat nelayan pesisir Aceh yang juga mengalami tekanan konflik, komersialisasi laut, dan perubahan pascabencana. Sebagai catatan kritis, etnografi longitudinal seperti ini sangat bergantung pada hubungan pribadi penulis dengan komunitas yang ia kenal sejak muda, sehingga gambaran tentang kehilangan budaya kadang dapat terwarnai oleh nostalgia peneliti terhadap masa awal penelitiannya. Pembaca juga perlu menyadari bahwa penulis meneliti satu kelompok Sama Dilaut di Tawi-Tawi, sehingga temuan-temuannya tidak otomatis berlaku bagi seluruh masyarakat Sama-Bajau yang sangat beragam. Kajian-kajian yang lebih baru dari antropolog Filipina dan Indonesia, serta dari peneliti seperti Clifford Sather tentang Bajau Laut di Sabah, dapat menjadi pembanding yang berguna. Meskipun demikian, nilai buku ini sebagai catatan langsung tentang perubahan sebuah masyarakat laut selama lebih dari tiga puluh tahun sulit digantikan. Dalam pengajaran, buku ini dapat dimanfaatkan pada mata kuliah antropologi budaya, metode etnografi, dan kajian Islam di Dunia Melayu dan Samudra Hindia. Mahasiswa dapat mempelajari bagaimana seorang etnografer kembali ke lapangan yang sama setelah bertahun-tahun, mencatat apa yang berubah dan apa yang bertahan, lalu merumuskan penjelasan tentang sebab-sebab perubahan tersebut. Buku ini juga dapat memancing diskusi tentang etika penelitian jangka panjang, misalnya tentang hubungan antara peneliti asing dan komunitas yang ia tulis, tentang penggunaan foto wajah anggota komunitas pada sampul, serta tentang tanggung jawab peneliti ketika komunitas yang dikajinya menghadapi konflik, kemiskinan, dan tekanan pembangunan. Dalam konteks kebijakan, temuan buku ini relevan bagi perdebatan tentang hak masyarakat adat atas wilayah laut, perlindungan nelayan tradisional, dan dampak pariwisata terhadap komunitas pesisir yang rentan. Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini memiliki label perpustakaan berwarna biru dan putih di tepi kiri sampul dekat punggung buku. Sampul menunjukkan keausan pada tepi, perubahan warna, dan garis retak atau lipatan diagonal yang cukup jelas di bagian kanan bawah, dekat foto perempuan berpenutup kepala kotak-kotak. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Sama Dilaut, Bajau, Tawi-Tawi, Kepulauan Sulu, masyarakat laut, antropologi maritim, etnografi Filipina, islamisasi, dan perubahan budaya. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

H. Arlo Nimmo, “Magosaha: An Ethnography of the Tawi-Tawi Sama Dilaut”, Ateneo de Manila University Press, Quezon City, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Quezon City: Ateneo de Manila University Press, 2001, 261 atau 272 hlm. (sumber berbeda), ilus., 23 cm, ISBN 971-550-369-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0026.