Buku

Modern Muslim Identities: Negotiating Religion and Ethnicity in Malaysia

NIAS Press, Copenhagen · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Copenhagen: NIAS Press, 2011, 288 hlm., 24 gambar, ISBN 978-87-7694-081-2 (sampul lunak) (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun

Ringkasan

Etnografi antropolog Gerhard Hoffstaedter tentang negosiasi agama dan etnisitas di kalangan Muslim Melayu kelas menengah di Malaysia, berdasarkan penelitian lapangan sekitar delapan belas bulan di Shah Alam, Selangor, dan Kota Bharu, Kelantan. Buku ini menyoroti upaya negara, masyarakat sipil, dan warga biasa membangun kohesi budaya dan agama, sementara praktik keseharian kerap bergerak berlawanan dengan tujuan itu. Pembahasan mencakup asal-usul identitas Melayu, ruang publik Islam termasuk Putrajaya, wacana Islam Hadhari dan kritik oposisi, masyarakat sipil, kelompok Islam reaksioner, konsumsi Islami, seni sebagai ruang yang diperebutkan, serta pengaruh Indonesia terhadap kemelayuan. Buku ini relevan bagi kajian Islam dan negara di Asia Tenggara serta perbandingan Kelantan dengan Aceh. Seorang penulis resensi memuji kekayaan data lapangannya, tetapi mengkritik cakupan yang terbatas pada Semenanjung dan kecenderungan pandangan primordial tentang etnisitas.

Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0027
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
NIAS Press, Copenhagen
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Copenhagen: NIAS Press, 2011, 288 hlm., 24 gambar, ISBN 978-87-7694-081-2 (sampul lunak) (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Penulis
Gerhard Hoffstaedter
Klasifikasi LC
BP63.M27 — Islam di Malaysia
Subjek LCSH
Islam -- Malaysia Malays (Asian people) -- Ethnic identity Islam and state -- Malaysia Malaysia -- Ethnic relations
Kategori BISAC
SOC048000 SOCIAL SCIENCE / Islamic Studies
Bahasa
Inggris
Keterangan
Modern Muslim Identities: Negotiating Religion and Ethnicity in Malaysia karya antropolog Gerhard Hoffstaedter adalah kajian etnografis tentang cara negara, masyarakat sipil, dan warga biasa di Malaysia merundingkan hubungan antara keislaman dan kemelayuan. Sampul eksemplar ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian atas berlatar biru tua dengan judul Modern Muslim Identities dalam huruf kapital serif besar berwarna kuning keemasan, disusul anak judul berhuruf putih tebal. Bagian bawah menampilkan foto pertunjukan wayang kulit dengan latar layar bercahaya hangat yang dihiasi pola geometris bintang bergaya Islam. Di sebelah kiri dan kanan tampak dua tokoh wayang berhiasan mahkota tinggi, satu berwajah merah dan satu berwajah hitam, sementara di tengah berdiri sosok wayang berambut pirang panjang dengan kain merah yang seolah mengulurkan tangan kepada tokoh di kanan. Komposisi ini secara cerdas memadukan seni pertunjukan Melayu yang berakar pada tradisi pra-Islam dengan motif geometri Islam, sehingga langsung menyiratkan tema buku tentang negosiasi identitas. Nama penulis tercetak dalam huruf kapital keemasan pada pita biru tua di bagian paling bawah. Gerhard Hoffstaedter adalah antropolog yang, menurut keterangan penerbit distributor NUS Press, mengajar antropologi di University of Queensland, Australia, dan sebelumnya menjadi peneliti di La Trobe University. Minat kajiannya meliputi hubungan agama dan negara, pembangunan internasional, serta pengungsi. Buku ini berasal dari penelitian lapangan selama sekitar delapan belas bulan di kalangan kelas menengah Melayu, sebagaimana dicatat oleh seorang penulis resensi. Lokasi penelitiannya adalah Shah Alam di Selangor, kawasan urban yang berdekatan dengan Kuala Lumpur, dan Kota Bharu, ibu kota Kelantan yang kerap dipandang sebagai jantung budaya Melayu dan basis politik Partai Islam Se-Malaysia. Pilihan dua lokasi yang kontras ini memungkinkan penulis membandingkan pengalaman Muslim Melayu di pusat modernisasi negara dan di wilayah yang lebih konservatif. Argumen pokok buku ini, menurut deskripsi penerbit, menyoroti upaya negara Malaysia, masyarakat sipil, dan rakyat biasa membangun kohesi budaya, agama, dan sosial, padahal praktik keseharian sering justru bergerak berlawanan dengan tujuan tersebut. Penulis menaruh perhatian pada elite politik yang berusaha mempertahankan kendali dan dominasi budaya, sambil menanggapi tekanan dari kelompok Islamis dan supremasi Melayu di satu sisi serta kelompok masyarakat sipil moderat di sisi lain. Pusat kajian ini adalah kaitan antara etnisitas Melayu dan Islam, termasuk wacana negara tentang Islam peradaban atau Islam Hadhari yang dipromosikan pada masa pemerintahan Abdullah Ahmad Badawi. Penulis juga membahas seni sebagai ruang yang diperebutkan, misalnya bagaimana pertunjukan tradisional seperti wayang kulit dan mak yong di Kelantan dibatasi atau ditata ulang atas nama kemurnian agama. Berdasarkan resensi Holger Warnk dalam Journal of Current Southeast Asian Affairs pada 2012, buku ini tersusun atas kata pengantar dan delapan bab. Bab pembuka meletakkan kerangka filosofis dan antropologis dengan merujuk pemikir seperti Heidegger, Hegel, Fredrik Barth, dan Thomas Hylland Eriksen. Bab-bab berikutnya menelusuri asal-usul dan makna identitas Melayu, ruang publik Islam termasuk pembangunan kota administratif Putrajaya, kebijakan keislaman pemerintah dan kritik oposisi terhadapnya, hubungan Islam, identitas, dan masyarakat sipil, kelompok-kelompok Islam reaksioner serta konsumsi Islami, dan pengaruh Indonesia serta dunia Muslim yang lebih luas terhadap pembentukan identitas Melayu, sebelum ditutup dengan kesimpulan singkat. Konteks sejarah buku ini adalah Malaysia pada dekade pertama abad ke-21, ketika gelombang Islamisasi yang bermula sejak 1970-an telah mengubah wajah ruang publik, birokrasi, dan gaya hidup Melayu. Konstitusi Malaysia mendefinisikan orang Melayu antara lain sebagai pemeluk Islam, sehingga identitas agama dan etnis terjalin secara hukum maupun politik. Persaingan antara UMNO dan PAS dalam memperebutkan legitimasi keislaman, munculnya organisasi masyarakat sipil seperti Sisters in Islam, serta kebijakan afirmatif bagi bumiputra menjadi latar yang membentuk perdebatan tentang apa artinya menjadi Muslim modern di Malaysia. Data pembanding dari situs NUS Press mencatat buku ini diterbitkan pada 2011 oleh NIAS Press, Kopenhagen, dengan tebal 288 halaman, berukuran 229 kali 152 milimeter, memuat 24 gambar, dan bersampul lunak dengan ISBN 978-87-7694-081-2, sementara edisi bersampul keras memiliki ISBN 978-87-7694-080-5. Data cetakan, tahun, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta. Bagi kajian Islam di Asia Tenggara, buku ini sangat relevan karena memperlihatkan bagaimana negara modern menjadikan agama sebagai perangkat pembangunan bangsa sekaligus alat kontrol sosial. Bagi pembaca di Indonesia, khususnya di Aceh, buku ini menawarkan perbandingan berharga. Aceh dan Kelantan sama-sama dikenal sebagai wilayah dengan identitas Islam yang kuat dan sama-sama menerapkan aturan berbasis syariat dalam kerangka negara nasional. Perbandingan tentang bagaimana seni pertunjukan, busana, dan ruang publik ditata atas nama agama di kedua wilayah dapat menjadi bahan penelitian yang produktif. Bab tentang pengaruh Indonesia terhadap identitas Melayu juga mengingatkan bahwa arus gagasan keislaman di kawasan ini bergerak dua arah, melalui pendidikan, dakwah, media, dan perdagangan. Bagi antropologi, buku ini menjadi contoh penelitian etnografis tentang negara dan agama yang tidak berhenti pada analisis teks kebijakan, tetapi mengamati bagaimana kebijakan itu dialami oleh warga. Sebagai catatan kritis, resensi Holger Warnk menilai buku ini secara ambivalen. Ia memuji analisis tentang Putrajaya dan proses Islamisasinya, pembahasan tentang Islam yang dipertunjukkan, serta kekayaan data lapangan yang membedakannya dari kajian berbasis teks. Namun ia juga mengkritik judul yang terkesan mencakup seluruh Malaysia padahal kajiannya terbatas pada Semenanjung tanpa Sabah dan Sarawak. Warnk juga berpendapat bahwa kerangka teoretis buku ini, meskipun merujuk Barth dan Eriksen, cenderung jatuh pada pandangan primordial tentang etnisitas, dan kurang kritis terhadap ideologi tanah dan darah dalam nasionalisme Melayu. Pembaca sebaiknya membaca buku ini bersama karya-karya lain tentang konstruksi identitas Melayu, misalnya kajian Anthony Milner, agar memperoleh gambaran yang lebih seimbang. Dalam pengajaran, buku ini dapat dimanfaatkan pada mata kuliah antropologi agama, sosiologi politik, dan studi Islam di Asia Tenggara, terutama untuk membahas hubungan antara negara, agama, dan pembentukan identitas etnis. Mahasiswa dapat menggunakannya sebagai contoh bagaimana teori filsafat dan teori sosial dipertemukan dengan data lapangan, sekaligus sebagai bahan latihan membaca kritis terhadap kerangka konseptual sebuah etnografi. Gambar sampul berupa wayang kulit di depan pola geometri Islam juga dapat dijadikan titik tolak diskusi tentang nasib seni tradisional di wilayah yang mengalami Islamisasi kebijakan publik, sebuah persoalan yang juga dihadapi berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, pembahasan tentang konsumsi Islami membuka jalan bagi diskusi tentang industri halal, mode Muslim, dan pasar keagamaan yang kini tumbuh pesat di Malaysia maupun Indonesia. Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini memiliki label perpustakaan berwarna biru dan putih yang tertempel di tepi kiri sampul dekat punggung buku, di bagian bawah. Sampul masih utuh dengan sedikit lipatan dan tanda pemakaian di sepanjang sisi punggung serta pada tepi kanan. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi identitas Muslim Melayu, Islam di Malaysia, etnisitas dan agama, Islam Hadhari, Islam dan negara, masyarakat sipil Malaysia, Kelantan, dan antropologi politik Asia Tenggara. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Gerhard Hoffstaedter, “Modern Muslim Identities: Negotiating Religion and Ethnicity in Malaysia”, NIAS Press, Copenhagen, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Copenhagen: NIAS Press, 2011, 288 hlm., 24 gambar, ISBN 978-87-7694-081-2 (sampul lunak) (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0027.