Buku

Kakawin Dēśa Warṇnana uthawi Nāgara Kṛtāgama: Masa Keemasan Majapahit

Penerbit Buku Kompas, Jakarta · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009, 483 hlm., ISBN 978-979-709-433-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun

Ringkasan

Edisi kajian atas kakawin Jawa Kuno gubahan Mpu Prapañca tahun 1365 tentang Kerajaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk, disusun oleh filolog Jawa Kuno I Ketut Riana. Judulnya memuat dua nama teks, Dēśa Warṇnana dan Nāgara Kṛtāgama, sebagai tanggapan atas perdebatan filologis mengenai nama asli karya tersebut. Teks ini menguraikan silsilah raja, tata kota dan keraton, perjalanan keliling raja, upacara keagamaan Siwa-Buddha, struktur pemerintahan, serta daftar wilayah Nusantara di luar Jawa, termasuk Samudra, Lamuri, Perlak, dan Barus di Sumatra. Buku ini menempatkan teks dalam tradisi kajian sejak penemuan naskah Lombok pada 1894 dan edisi Brandes, Kern, Pigeaud, serta Robson. Edisi ini bermanfaat bagi kajian sejarah Majapahit, filologi Nusantara, hubungan agama dan kekuasaan, serta sejarah awal Islam di pesisir utara Sumatra, dengan catatan bahwa gambaran masa keemasan dalam kakawin pujian istana perlu dibaca secara kritis.

Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0028
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009, 483 hlm., ISBN 978-979-709-433-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Penulis
I Ketut Riana
Klasifikasi LC
PL5161–5179 — Bahasa dan sastra Jawa (termasuk Jawa Kuno)
Subjek LCSH
Prapañca, active 14th century. Nāgarakṛtāgama Kawi poetry -- History and criticism Majapahit (Kingdom) Java (Indonesia) -- History
Kategori BISAC
LIT008000 LITERARY CRITICISM / Asian / General
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Kakawin Dēśa Warṇnana uthawi Nāgara Kṛtāgama: Masa Keemasan Majapahit karya I Ketut Riana merupakan edisi kajian atas salah satu teks terpenting dalam sejarah Nusantara, yakni kakawin berbahasa Jawa Kuno gubahan Mpu Prapañca yang menggambarkan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Judul buku ini sengaja memuat dua nama teks sekaligus, Dēśa Warṇnana dan Nāgara Kṛtāgama, dihubungkan dengan kata Jawa Kuno uthawi yang berarti atau. Pilihan ini mencerminkan perdebatan filologis yang sudah lama berlangsung mengenai nama asli karya tersebut. Sampul eksemplar ini berwarna krem kecokelatan dengan judul utama Nāgara Kṛtāgama dicetak sangat besar dalam huruf serif merah marun lengkap dengan tanda diakritik, sementara frasa Kakawin Dēśa Warṇnana uthawi ditempatkan di atasnya dengan huruf hitam yang lebih kecil. Anak judul Masa Keemasan Majapahit tercetak dalam huruf kapital hitam di bawahnya. Separuh bagian bawah sampul diisi foto lembaran-lembaran lontar bertulisan aksara Bali yang disusun bertumpuk dan diikat tali, sebuah citra yang langsung mengingatkan pembaca bahwa teks ini sampai kepada kita melalui tradisi naskah lontar. Nama penulis tercetak di bagian bawah lengkap dengan gelar akademiknya, didampingi logo Penerbit Buku Kompas berupa sosok penunggang hewan di sudut kanan bawah. I Ketut Riana dikenal sebagai filolog dan pengkaji sastra Jawa Kuno dari lingkungan akademik Bali, wilayah tempat tradisi pembacaan, penyalinan, dan penafsiran kakawin tetap hidup hingga kini. Sejumlah sumber mengaitkannya dengan studi sastra Jawa Kuno di Universitas Udayana, Denpasar, tetapi rincian afiliasi dan riwayat akademiknya sebaiknya dicocokkan dengan biodata penulis pada eksemplar. Latar ini penting karena para pengkaji dari Bali umumnya membaca kakawin bukan semata sebagai dokumen sejarah, melainkan sebagai karya sastra yang terikat pada aturan metrum, ajaran keagamaan, dan praktik kebudayaan yang masih berlangsung. Kombinasi kepakaran filologis dan kedekatan dengan tradisi lontar inilah yang memberi edisi ini warna tersendiri dibandingkan kajian-kajian para sarjana Eropa. Teks yang dikaji dalam buku ini digubah pada tahun Saka 1287 atau 1365 Masehi oleh seorang pujangga istana yang menyebut dirinya Prapañca, seorang pejabat keagamaan Buddha di lingkungan istana Majapahit. Kakawin ini terdiri atas sekitar sembilan puluh delapan pupuh dan menguraikan banyak hal: silsilah keluarga raja, tata kota dan keraton Majapahit, perjalanan keliling Hayam Wuruk ke berbagai daerah di Jawa Timur, upacara śrāddha untuk mengenang Rajapatni, bangunan-bangunan suci Siwa dan Buddha, struktur pemerintahan, serta daftar wilayah di luar Jawa yang disebut berada dalam lingkup pengaruh Majapahit. Karena kekayaan informasinya, teks ini sejak lama dijadikan sumber utama bagi rekonstruksi sejarah Majapahit dan bahkan dirujuk dalam wacana kebangsaan Indonesia sebagai bukti adanya kesatuan politik Nusantara pada masa lampau. Edisi Riana, sejauh yang dapat disimpulkan dari judul dan keterangan katalog, menyajikan teks Jawa Kuno disertai terjemahan dan telaah kritis dalam bahasa Indonesia. Pemilihan nama Dēśa Warṇnana di depan nama Nāgara Kṛtāgama menunjukkan bahwa penulis mempertimbangkan argumen para filolog yang menyatakan bahwa Prapañca sendiri menyebut karyanya Deśawarṇana, yakni uraian tentang desa-desa atau wilayah, sedangkan nama Nāgarakṛtāgama berasal dari kolofon salinan yang ditambahkan kemudian. Dengan mempertahankan kedua nama, buku ini mengakui sejarah penerimaan teks yang panjang sekaligus mengarahkan pembaca pada maksud pengarang aslinya. Anak judul Masa Keemasan Majapahit menegaskan fokus buku pada gambaran puncak kejayaan kerajaan, sebagaimana dilukiskan oleh seorang saksi dari dalam istana. Konteks intelektual buku ini tidak dapat dilepaskan dari riwayat penemuan dan kajian naskahnya. Naskah lontar kakawin ini ditemukan di Cakranegara, Lombok, pada 1894 ketika pasukan kolonial Belanda menyerbu istana raja Bali-Lombok, dan kemudian dibawa ke Belanda. Filolog J.L.A. Brandes berperan menyelamatkan dan menerbitkan teksnya, disusul terjemahan dan komentar H. Kern, lalu edisi monumental Theodore G. Th. Pigeaud berjudul Java in the 14th Century pada awal 1960-an. Di Indonesia, Slamet Muljana menulis tafsir sejarah atas teks ini, dan Stuart Robson menerbitkan terjemahan Inggris berjudul Desawarnana pada 1995. Naskah Cakranegara sendiri dikembalikan ke Indonesia pada 1970-an dan kini disimpan di Perpustakaan Nasional, serta pada 2013 diakui UNESCO sebagai bagian dari Memory of the World. Kehadiran edisi Riana pada akhir dekade 2000-an dapat dibaca sebagai upaya menghadirkan kembali teks ini bagi pembaca Indonesia melalui sudut pandang sarjana dalam negeri yang akrab dengan tradisi naskah Bali. Data pembanding dari katalog Google Books mencatat buku ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, Jakarta, pada 2009, dengan tebal sekitar 483 halaman dan ISBN 978-979-709-433-1. Data cetakan, tahun, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta, karena buku terbitan Kompas kerap dicetak ulang dengan perubahan kecil pada halaman awal. Bagi kajian sejarah Indonesia, buku ini relevan sebagai pintu masuk ke sumber primer tentang negara klasik Jawa, hubungan antara raja dan agama, organisasi wilayah, dan kehidupan ritual istana. Bagi kajian Asia Tenggara, teks Prapañca memberi gambaran mengenai cara sebuah pusat kekuasaan agraris-maritim membayangkan jaringan wilayah di sekitarnya, termasuk Semenanjung Melayu, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Bagi pembaca di Aceh, kakawin ini menarik karena daftar negeri di Sumatra yang disebut di dalamnya memuat nama-nama seperti Samudra, Lamuri, Perlak, dan Barus, yang sangat dekat dengan sejarah awal Islam di pesisir utara Sumatra. Penyebutan ini membuka diskusi tentang bagaimana kerajaan-kerajaan Islam awal seperti Samudra Pasai dipandang dari kacamata istana Hindu-Buddha di Jawa, dan sejauh mana klaim pengaruh Majapahit dapat dipercaya. Bagi studi agama dan antropologi, teks ini juga memperlihatkan sinkretisme Siwa-Buddha, praktik pemuliaan leluhur, dan fungsi sastra sebagai bagian dari ritual kenegaraan. Sebagai catatan kritis, pembaca perlu mengingat bahwa kakawin ini adalah karya pujian yang ditulis dari dalam istana, sehingga gambaran tentang masa keemasan dan luasnya wilayah Majapahit tidak dapat diterima begitu saja sebagai fakta politik. Para sejarawan telah lama memperdebatkan apakah daftar wilayah dalam pupuh-pupuh tertentu menunjukkan kekuasaan nyata, hubungan dagang, atau sekadar klaim simbolis. Anak judul buku ini, yang menonjolkan masa keemasan, perlu dibaca dengan kesadaran akan perdebatan tersebut. Selain itu, setiap terjemahan kakawin melibatkan pilihan tafsir atas kata-kata Jawa Kuno yang bermakna ganda, sehingga membandingkan terjemahan Riana dengan edisi Pigeaud, Robson, dan Slamet Muljana akan sangat bermanfaat bagi pembaca yang serius. Nilai tambah edisi ini justru terletak pada kemungkinan perbandingan tersebut, karena pembaca Indonesia memperoleh teks dan tafsir dari seorang filolog yang bekerja dari dalam tradisi pembacaan kakawin. Buku ini juga berguna untuk pengajaran metodologi filologi, khususnya mengenai hubungan antara naskah, edisi teks, terjemahan, dan tafsir sejarah. Mahasiswa dapat belajar bagaimana sebuah teks tunggal yang selamat secara kebetulan dari penjarahan kolonial berubah menjadi sumber utama sejarah nasional, dan bagaimana nama sebuah karya pun dapat menjadi persoalan ilmiah. Dalam perkuliahan sejarah peradaban Islam di Nusantara, teks ini dapat dibaca berdampingan dengan Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu untuk melihat bagaimana tradisi Hindu-Buddha dan tradisi Islam masing-masing menulis tentang kekuasaan, wilayah, dan legitimasi raja. Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan sampul yang mulai menguning dan sedikit kusam, dengan bekas pemakaian di tepi kanan dan noda kecil di beberapa bagian. Terdapat label perpustakaan berwarna biru dan putih yang tertempel di tepi kiri sampul dekat punggung buku, di bagian bawah. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Nagarakertagama, Desawarnana, Mpu Prapanca, Kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk, sastra Jawa Kuno, kakawin, filologi Nusantara, dan sejarah Jawa abad ke-14. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

I Ketut Riana, “Kakawin Dēśa Warṇnana uthawi Nāgara Kṛtāgama: Masa Keemasan Majapahit”, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009, 483 hlm., ISBN 978-979-709-433-1 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0028.