Mata Bangsa (Diva Press), Yogyakarta · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Yogyakarta: Diva Press/Mata Bangsa, 2017, 382 hlm., 14 x 21 cm; ISBN belum ditemukan; penerbit eksemplar belum dipastikan karena logo tidak tampak pada sampul depan (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun
Ringkasan
Novel karya sejarawan dan sastrawan Kuntowijoyo tentang Pak Mantri, priyayi Jawa yang telah lama mengepalai pasar sebuah kota kecamatan dan memelihara burung-burung dara sebagai amanah. Ketika burung-burung itu memakan dagangan dan mengotori pasar, para pedagang resah, dan konflik memuncak saat Kasan Ngali, pedagang kaya sekaligus peminjam uang, membuka pasar tandingan. Di antara mereka hadir Paijo, pembantu setia yang kelak menggantikan Pak Mantri, serta Siti Zaitun, perempuan muda yang memikat dua lelaki itu. Dengan humor lembut dan ironi, novel ini memotret benturan nilai priyayi agraris, kapitalisme pedagang, lembaga keuangan modern, dan wong cilik, sekaligus mempertanyakan siapa yang layak memimpin. Eksemplar ini bersampul ilustrasi cat air lelaki tua bersorban dan burung dara, kemungkinan dari terbitan ulang Diva Press/Mata Bangsa. Karya ini relevan bagi kajian etika Jawa, antropologi pasar, perubahan sosial, dan sastra profetik.
- Nomor inventaris
-
KBA-BKU-TT-0029
- Jenis dokumen
-
Buku
- Sumber terbitan
-
Mata Bangsa (Diva Press), Yogyakarta
- Tanggal terbit
-
Tanpa tahun
- Edisi dan halaman
-
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Yogyakarta: Diva Press/Mata Bangsa, 2017, 382 hlm., 14 x 21 cm; ISBN belum ditemukan; penerbit eksemplar belum dipastikan karena logo tidak tampak pada sampul depan (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
- Penulis
-
Kuntowijoyo
- Klasifikasi LC
-
PL5076–5089 — Bahasa dan sastra Indonesia
- Subjek LCSH
-
Indonesian fiction
Markets -- Indonesia -- Java -- Fiction
Javanese (Indonesian people) -- Fiction
Social change -- Indonesia -- Fiction
- Kategori BISAC
-
FIC019000 FICTION / Literary
- Bahasa
-
Indonesia
- Keterangan
-
Pasar adalah novel karya Kuntowijoyo, sejarawan, budayawan, dan sastrawan terkemuka Indonesia, yang mengisahkan pergulatan nilai-nilai Jawa di tengah perubahan sosial sebuah kota kecamatan kecil. Eksemplar yang difoto ini merupakan edisi bersampul ilustrasi cat air dengan latar putih gading. Judul PASAR tercetak dengan huruf kapital serif besar berwarna ungu tua di bagian atas, disertai kata NOVEL berhuruf kecil dan nama Kuntowijoyo dengan huruf tebal di bawahnya. Separuh bawah sampul menampilkan potret seorang lelaki tua berjanggut putih lebat yang mengenakan ikat kepala atau sorban bercorak, dilukis dengan sapuan cat air berwarna biru, ungu, dan hijau zaitun yang longgar dan ekspresif. Tatapannya lurus ke depan dengan raut letih sekaligus teguh. Di sekitar kepala dan di sepanjang tepi kanan sampul beterbangan burung-burung merpati atau burung dara yang digambar dengan garis tipis dan sapuan biru keabu-abuan. Kehadiran burung dara pada sampul jelas berkaitan dengan salah satu unsur penting dalam cerita, yaitu burung-burung dara milik tokoh utama. Logo penerbit tidak tampak jelas pada bagian depan sampul dalam foto ini, sehingga identitas penerbit eksemplar perlu dipastikan melalui punggung buku, sampul belakang, atau halaman hak cipta.
Kuntowijoyo lahir di Bantul, Yogyakarta, pada 18 September 1943 dan wafat di Yogyakarta pada 22 Februari 2005. Ia menempuh pendidikan sejarah di Universitas Gadjah Mada, kemudian meraih gelar magister dari University of Connecticut dan doktor dari Columbia University dengan disertasi tentang perubahan sosial masyarakat agraris Madura pada 1850–1940. Sebagai guru besar sejarah di Universitas Gadjah Mada, ia dikenal melalui gagasan ilmu sosial profetik, pengilmuan Islam, serta kajian tentang hubungan agama, budaya, dan politik di Indonesia. Karya nonfiksinya antara lain Paradigma Islam, Pengantar Ilmu Sejarah, dan Budaya dan Masyarakat. Di lapangan sastra, ia menulis cerpen, puisi, drama, dan novel, termasuk Khotbah di Atas Bukit, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah. Ia juga aktif di lingkungan Muhammadiyah dan termasuk pendiri Pusat Pengkajian dan Penelitian Kebijakan bersama Amien Rais dan Chairil Anwar.
Novel Pasar berpusat pada sosok Pak Mantri, seorang priyayi Jawa yang telah lama menjadi kepala pasar di sebuah kota kecamatan, yang dalam sejumlah kajian disebut berlatar Gemolong. Pak Mantri memegang teguh tata krama, kehalusan budi, dan pandangan hidup Jawa, serta memelihara burung-burung dara yang ia anggap sebagai titipan dan tanggung jawab di hadapan Tuhan. Masalah muncul ketika burung-burung itu memakan biji-bijian dagangan dan mengotori pasar, sehingga para pedagang merasa dirugikan dan enggan membayar karcis. Konflik semakin tajam ketika Kasan Ngali, pedagang kaya yang juga meminjamkan uang, membuka pasar tandingan di halaman rumahnya dan menarik para pedagang untuk pindah. Di antara keduanya hadir Paijo, pembantu Pak Mantri yang lugu namun setia, dan Siti Zaitun, perempuan muda yang dalam sejumlah ringkasan disebut bekerja di bank setempat dan memikat hati baik Pak Mantri maupun Kasan Ngali. Kematian burung-burung dara, ketidakberdayaan aparat, dan pergeseran loyalitas pedagang menjadi rangkaian peristiwa yang menguji pandangan hidup Pak Mantri. Pada akhirnya, menurut sejumlah ringkasan kajian, Paijo justru tampil menggantikan kedudukan Pak Mantri sebagai pengelola pasar.
Kekuatan novel ini terletak pada cara Kuntowijoyo memotret pertemuan berbagai golongan sosial dalam satu ruang kecil. Pak Mantri mewakili priyayi agraris dengan etika harmoni dan pengabdian, Kasan Ngali mewakili pedagang kapitalis yang mengukur segala sesuatu dengan untung, Zaitun dapat dibaca sebagai wakil dunia lembaga keuangan modern, dan Paijo mewakili wong cilik yang sering diremehkan namun memiliki ketulusan. Konflik di antara mereka diceritakan dengan humor yang lembut, ironi, dan dialog-dialog khas Jawa, sehingga pembaca diajak menimbang tokoh mana yang sesungguhnya layak memimpin. Pasar dalam novel ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan metafora masyarakat yang sedang berubah, ketika nilai-nilai lama berhadapan dengan logika pasar dan uang.
Mengenai sejarah terbitan, sejumlah sumber menyebut bahwa naskah novel ini meraih penghargaan pada peringatan Hari Buku 1972, sementara edisi bukunya beredar luas kemudian melalui penerbit di Yogyakarta. Kajian-kajian kesusastraan yang lebih baru merujuk terbitan ulang tahun 2017 dari kelompok penerbit Diva Press di Yogyakarta, dengan nama lini Mata Bangsa atau Mata Angin. Data toko buku untuk edisi Mata Bangsa menyebut tebal 382 halaman dengan ukuran sekitar 14 kali 21 sentimeter. Karena sampul eksemplar ini sesuai dengan gaya ilustrasi yang dipakai dalam terbitan ulang karya-karya Kuntowijoyo pada periode tersebut, besar kemungkinan eksemplar ini berasal dari edisi itu, namun dugaan ini belum dapat dipastikan. Data cetakan, tahun, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta.
Bagi kajian sastra dan antropologi, Pasar merupakan bahan yang kaya untuk membahas etika Jawa, konsep kepemimpinan, dan perubahan sosial di pedesaan dan kota kecil Indonesia. Sejumlah skripsi dan artikel ilmiah telah menelaah novel ini dari sudut etika Jawa, konflik sosial, nilai-nilai sosial, dan tindak tutur, yang menunjukkan bahwa novel ini terus dipakai dalam pengajaran sastra di perguruan tinggi. Dari sudut antropologi ekonomi, novel ini dapat dibaca bersama kajian Clifford Geertz tentang pedagang dan pasar di kota Jawa, terutama karyanya tentang Mojokuto, karena keduanya sama-sama memperlihatkan ketegangan antara ekonomi bazar, kepentingan pribadi, dan nilai-nilai moral komunitas. Gagasan Kuntowijoyo tentang sastra profetik, yang menekankan humanisasi, liberasi, dan transendensi, juga dapat dilacak dalam cara novel ini memperlakukan tokoh-tokohnya dengan simpati sekaligus kritik.
Bagi pembaca di Aceh dan kajian studi Islam, novel ini menarik karena memperlihatkan bagaimana seorang intelektual Muslim dari lingkungan Muhammadiyah menulis tentang budaya Jawa tanpa mempertentangkannya secara kaku dengan Islam. Spiritualitas Pak Mantri, yang memandang burung peliharaannya sebagai amanah, menunjukkan perpaduan antara kesalehan dan pandangan hidup Jawa. Perbandingan dengan masyarakat pasar di Aceh, misalnya peran pedagang, rentenir, dan lembaga keuangan dalam ekonomi lokal, dapat membuka diskusi tentang etika ekonomi dalam masyarakat Muslim Nusantara.
Sebagai catatan kritis, pembacaan novel ini perlu memperhatikan bahwa gambaran tentang golongan-golongan sosial cenderung bersifat tipologis, sehingga tokoh-tokohnya kadang terasa sebagai wakil gagasan. Sebagian pembaca juga dapat menilai bahwa sudut pandang novel lebih bersimpati pada nilai priyayi daripada pada dinamika ekonomi baru. Namun, ironi yang dibangun Kuntowijoyo justru memperlihatkan bahwa tidak ada golongan yang sepenuhnya benar, dan bahwa perubahan sosial selalu mengandung kehilangan sekaligus peluang. Sikap mendua inilah yang membuat novel tersebut tetap relevan dibaca dalam suasana perubahan ekonomi masa kini.
Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini tampak dalam kondisi relatif baik, dengan sampul bersih, sudut yang masih utuh, dan hanya sedikit tanda pemakaian di tepi. Tidak tampak label perpustakaan pada bagian sampul yang terlihat di foto. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul, data toko buku, dan kajian-kajian tentang novel ini, bukan ringkasan seluruh isi buku.
Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Kuntowijoyo, novel Indonesia, sastra Indonesia modern, etika Jawa, priyayi, pasar tradisional, perubahan sosial di Jawa, dan sastra profetik. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
- Status hak cipta
-
Koleksi pribadi KBA13 Academy