Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Cambridge, MA: Harvard University Press, 2015, 171 hlm., ISBN 978-0-674-96751-9 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun
- Nomor inventaris
-
KBA-BKU-TT-0030
- Jenis dokumen
-
Buku
- Sumber terbitan
-
Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts
- Tanggal terbit
-
Tanpa tahun
- Edisi dan halaman
-
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Cambridge, MA: Harvard University Press, 2015, 171 hlm., ISBN 978-0-674-96751-9 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
- Penulis
-
Hubert Dreyfus
Charles Taylor
- Klasifikasi LC
-
BD — Filsafat spekulatif (metafisika, epistemologi)
- Subjek LCSH
-
Realism
Knowledge, Theory of
Phenomenology
Rorty, Richard
- Kategori BISAC
-
PHI004000 PHILOSOPHY / Epistemology
- Bahasa
-
Inggris
- Keterangan
-
Retrieving Realism karya Hubert Dreyfus dan Charles Taylor merupakan buku filsafat berbahasa Inggris yang menggugat cara berpikir epistemologis modern tentang hubungan antara pikiran dan dunia, lalu menawarkan sebuah bentuk realisme yang berakar pada pengalaman manusia yang bertubuh dan terlibat dalam dunianya. Eksemplar ini berupa buku bersampul keras dengan jaket sampul. Sampulnya sangat sederhana dan nyaris tanpa ornamen: seluruh bidang depan diisi foto langit atau permukaan berwarna biru dengan sapuan awan putih tipis yang tampak kabur, seakan dilihat melalui kaca atau air. Judul ditulis dengan huruf kecil berwarna putih dalam dua baris yang dipisahkan secara diagonal, kata "retrieving" di tengah kiri dan "realism" agak ke kanan di bawahnya. Nama kedua penulis, "hubert dreyfus" dan "charles taylor", juga ditulis dengan huruf kecil, tersusun bertingkat di bagian bawah. Pilihan desain yang tenang ini selaras dengan tema buku, yaitu upaya memulihkan kontak langsung dengan dunia yang selama ini seolah terhalang oleh lapisan representasi.
Hubert L. Dreyfus (1929–2017) adalah guru besar filsafat di University of California, Berkeley, dan salah satu penafsir terpenting Martin Heidegger dan Maurice Merleau-Ponty di dunia berbahasa Inggris. Namanya dikenal luas di luar filsafat karena kritiknya terhadap kecerdasan buatan simbolik dalam What Computers Can't Do, yang pertama terbit pada 1972, serta karena komentarnya atas Being and Time dalam Being-in-the-World. Charles Taylor, lahir pada 1931 di Montreal, adalah filsuf Kanada yang lama mengajar di McGill University dan dikenal melalui karya-karya besar seperti Hegel, Sources of the Self, The Ethics of Authenticity, dan A Secular Age. Ia menerima Templeton Prize pada 2007 dan Kyoto Prize pada 2008. Kedua filsuf ini sudah berdialog selama beberapa dasawarsa, dan buku ini dapat dibaca sebagai hasil percakapan panjang antara fenomenologi eksistensial dan filsafat hermeneutik tentang manusia.
Argumen pokok buku ini berangkat dari kritik terhadap apa yang oleh penulis disebut sebagai gambaran mediasional tentang pengetahuan. Sejak René Descartes dan John Locke, filsafat modern cenderung membayangkan bahwa manusia hanya mengenal dunia melalui perantara, entah berupa ide, representasi mental, kalimat, atau skema konseptual. Gambaran ini, menurut Dreyfus dan Taylor, tetap bertahan bahkan pada para pengkritiknya, termasuk dalam pemikiran Richard Rorty dan Donald Davidson, yang berusaha meninggalkan epistemologi tetapi masih berpijak pada asumsi bahwa hubungan kita dengan dunia selalu ditengahi oleh keyakinan dan bahasa. Kedua penulis meminjam gambaran dari Ludwig Wittgenstein tentang sebuah gambar yang menawan kita, lalu berupaya membebaskan filsafat dari gambar tersebut.
Sebagai alternatif, buku ini mengembangkan apa yang dapat disebut teori kontak. Penulis berpendapat bahwa sebelum manusia membentuk keyakinan atau konsep, ia telah lebih dahulu terlibat secara praktis dengan dunia melalui tubuh, kecakapan, dan kepekaan yang tidak sepenuhnya bersifat konseptual. Cara kita berjalan, meraih benda, memahami suasana sebuah ruangan, atau berinteraksi dengan orang lain menunjukkan pemahaman praktis yang menjadi latar bagi seluruh pengetahuan eksplisit. Dengan bertumpu pada Heidegger dan Merleau-Ponty, penulis menyatakan bahwa keterlibatan bertubuh ini memberi kita kontak langsung dengan realitas, sehingga skeptisisme tentang dunia luar kehilangan pijakannya. Dalam bagian ini, buku ini juga menanggapi perdebatan antara Dreyfus dan John McDowell tentang apakah seluruh pengalaman manusia bersifat konseptual.
Langkah berikutnya adalah membela realisme ilmiah tanpa jatuh pada saintisme. Penulis berpendapat bahwa ilmu alam memang dapat mengungkap struktur dunia yang tidak bergantung pada manusia. Mereka juga menyoroti gagasan tentang transisi atau penggantian pandangan, yakni bahwa setelah suatu kemajuan ilmiah diterima, kembali ke pandangan lama tidak lagi rasional. Namun, mereka tidak menganggap ilmu alam sebagai satu-satunya akses kepada realitas. Mereka mengajukan realisme plural yang kokoh, yaitu pandangan bahwa mungkin terdapat beberapa cara yang sama-sama sah untuk menyingkap aspek nyata dari dunia, termasuk cara-cara yang hidup dalam kebudayaan lain. Bagian akhir buku membahas implikasi pandangan ini bagi pemahaman antarbudaya, dengan argumen bahwa perjumpaan dengan budaya lain dapat mengubah cara kita memahami diri tanpa harus mengandaikan bahwa semua pandangan sama benar atau bahwa satu pandangan pasti superior.
Dalam konteks intelektual, buku ini terbit pada masa ketika perdebatan tentang realisme kembali hangat, baik dalam filsafat analitik maupun dalam gerakan baru di filsafat kontinental yang dikenal sebagai realisme spekulatif dan ontologi berorientasi objek. Retrieving Realism berbeda dari arus tersebut karena tetap berpijak pada fenomenologi dan hermeneutika. Ulasan Paul A. Roth di Notre Dame Philosophical Reviews menghargai keseriusan buku ini dalam berhadapan dengan Rorty, tetapi meragukan apakah argumen tentang kemustahilan kembali ke pandangan lama dapat dipertahankan secara psikologis dan apakah perbedaan dengan Rorty benar-benar setegas yang diklaim. Penilaian semacam ini membantu pembaca melihat buku ini sebagai intervensi penting dalam perdebatan yang masih terbuka.
Data penerbit dan ulasan menunjukkan bahwa buku ini diterbitkan oleh Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts, pada 2015, dengan ISBN 978-0-674-96751-9 untuk edisi sampul keras. Ulasan Notre Dame Philosophical Reviews mencatat tebal 171 halaman, sedangkan sejumlah toko buku mencantumkan jumlah halaman yang sedikit berbeda karena menghitung halaman awal dan indeks. Data cetakan, tahun, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta.
Bagi kajian di Indonesia dan Asia Tenggara, buku ini relevan dalam beberapa arah. Pertama, bagi studi filsafat dan metodologi ilmu sosial, kritik terhadap epistemologi representasional membuka jalan bagi pendekatan yang menempatkan praktik, tubuh, dan konteks sebagai sumber pengetahuan, sesuatu yang dekat dengan tradisi etnografi dan antropologi interpretatif. Kedua, gagasan realisme plural dapat dipakai untuk memikirkan hubungan antara sains modern dan sistem pengetahuan lokal, termasuk pengetahuan adat dan pengetahuan keagamaan, tanpa terjebak pada relativisme maupun pada klaim bahwa hanya ilmu alam yang benar. Ketiga, bagi studi Islam, perdebatan tentang integrasi ilmu, epistemologi Islam, dan hubungan antara wahyu, akal, dan pengalaman dapat diperkaya oleh argumen bahwa ada lebih dari satu jalan yang sah untuk menyingkap realitas. Pemikiran Taylor tentang sekularitas juga sering dirujuk dalam kajian agama dan modernitas di dunia Muslim, sehingga buku ini dapat dibaca bersama A Secular Age.
Sebagai catatan kritis, buku ini menuntut pembaca yang sudah akrab dengan sejarah epistemologi modern, fenomenologi, dan perdebatan filsafat analitik. Gaya penulisannya relatif jernih, tetapi banyak argumen mengandaikan pengetahuan tentang Descartes, Kant, Heidegger, Wittgenstein, Davidson, Rorty, dan McDowell. Sebagian pengkritik juga menilai bahwa gagasan realisme plural belum dirumuskan cukup rinci untuk membedakan antara pandangan yang sungguh menyingkap realitas dan pandangan yang hanya berguna secara praktis. Meski demikian, buku ini tetap penting karena memperlihatkan bagaimana dua filsuf senior merangkum hasil pemikiran mereka selama puluhan tahun dalam satu argumen yang padat.
Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan tanda pemakaian berupa noda dan bintik gelap di beberapa bagian jaket sampul, bekas lipatan dan kerutan plastik pelindung di sisi kanan bawah, serta keausan pada tepi atas. Di sisi kiri bagian bawah terdapat label perpustakaan berwarna putih dan hitam yang menempel pada punggung buku. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku.
Subjek penelusuran yang sesuai meliputi realisme, epistemologi, fenomenologi, filsafat ilmu, kritik representasionalisme, Hubert Dreyfus, Charles Taylor, dan filsafat kontemporer. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
- Status hak cipta
-
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Cara mengutip
Hubert Dreyfus, Charles Taylor, “Retrieving Realism”, Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Cambridge, MA: Harvard University Press, 2015, 171 hlm., ISBN 978-0-674-96751-9 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0030.