Sambernyawa: Pemberontak Tanah Jawa
Oleh Sri Hadidjojo, Shalahuddin Gh (penyunting)
Javanica · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Javanica, 2015, 364 hlm., ISBN 978-602-72793-7-7 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun
Ringkasan
Novel sejarah ini mengisahkan masa muda Raden Mas Said, bangsawan Mataram yang kelak dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa dan pendiri Mangkunegaran. Berlatar Tanah Jawa paruh pertama abad ke-18, cerita bermula dari pengasingan ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara, ke Sri Lanka akibat intrik istana. Sang tokoh tumbuh dalam pengembaraan, berguru kepada seorang empu di Gunung Kidul, menghimpun para pendekar, lalu memimpin perlawanan terhadap VOC dan penguasa Mataram. Pemberontakan Sunan Kuning dan jatuhnya Keraton Kartasura dalam pusaran Geger Pacinan menjadi latar penting. Novel ini memadukan peristiwa sejarah dengan unsur cerita silat dan kesaktian Jawa, sehingga perlu dibaca berdampingan dengan kajian sejarah tentang perang suksesi Jawa. Jilid ini merupakan pembuka rangkaian, dilanjutkan oleh Sambernyawa: Banjir Darah Bumi Mataram. Buku ini bermanfaat untuk kajian ingatan publik, sastra sejarah populer, dan konsep kekuasaan Jawa.
- Nomor inventaris
- KBA-BKU-TT-0031
- Jenis dokumen
- Buku
- Sumber terbitan
- Javanica
- Tanggal terbit
- Tanpa tahun
- Edisi dan halaman
- Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Javanica, 2015, 364 hlm., ISBN 978-602-72793-7-7 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
- Penulis
- Sri Hadidjojo
- Subjek
- Raden Mas Said Pangeran Sambernyawa Mangkunegara I Novel sejarah Indonesia Sejarah Mataram abad ke-18 Geger Pacinan Perlawanan terhadap VOC
- Klasifikasi LC
- PL5076–5089 — Bahasa dan sastra Indonesia
- Subjek LCSH
- Mangkunagara I, Prince of Surakarta, 1725-1795 -- Fiction Java (Indonesia) -- History -- 18th century -- Fiction Historical fiction, Indonesian
- Kategori BISAC
- FIC014000 FICTION / Historical / General
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Sambernyawa: Pemberontak Tanah Jawa karya Sri Hadidjojo adalah novel sejarah tentang masa muda Raden Mas Said, bangsawan Mataram yang kelak dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa dan menjadi pendiri Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta dengan gelar Mangkunegara I. Sampul eksemplar ini didominasi warna cokelat keemasan dengan nuansa kabut dan debu, seolah menggambarkan medan pertempuran yang samar. Di bagian tengah tampak sosok laki-laki bertelanjang dada dengan ikat kepala, mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi dan menekuk satu kaki dalam sikap kuda-kuda silat, seakan sedang melompat atau menyerang. Di belakangnya terlihat bayangan pasukan bersenjata yang berlari dalam goresan sketsa gelap, serta sebuah bangunan bertingkat beratap susun yang mengingatkan pada menara atau kelenteng, barangkali isyarat visual tentang keterlibatan komunitas Tionghoa dalam pergolakan Jawa abad ke-18. Nama penulis tercetak putih di bagian atas, sedangkan judul SAMBERNYAWA ditulis besar dengan huruf kapital putih di bagian bawah, diikuti anak judul berwarna kuning keemasan. Informasi tentang penulis cukup terbatas dalam sumber yang dapat diakses. Halaman penerbit hanya mencantumkan nama Sri Hadidjojo tanpa riwayat hidup. Sebuah ulasan populer menyebut penulis sebagai keturunan Pangeran Sambernyawa, tetapi keterangan ini belum dapat dipastikan dan sebaiknya diperiksa pada biodata penulis di bagian belakang buku. Katalog Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa buku ini disunting oleh Shalahuddin Gh. Sri Hadidjojo kemudian melanjutkan kisah ini dalam jilid kedua berjudul Sambernyawa: Banjir Darah Bumi Mataram, yang diterbitkan oleh penerbit yang sama pada 2016. Dengan demikian, buku dalam koleksi ini merupakan jilid pembuka dari sebuah rangkaian novel sejarah. Menurut sinopsis penerbit, novel ini berlatar Tanah Jawa pada paruh pertama abad ke-18, ketika perebutan kekuasaan di kalangan bangsawan Mataram membuat rakyat kecil menderita akibat kejahatan dan perang. Raden Mas Said digambarkan sebagai kesatria yang terbuang dari istana setelah ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara, diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka, akibat intrik yang melibatkan pamannya sendiri, Pakubuwana II. Sang tokoh menempa diri dalam pengembaraan dengan tekad memulihkan nama baik ayahnya dan membebaskan rakyat dari penjajahan. Dalam alur cerita, ia berguru kepada seorang empu misterius di sebuah gua di Gunung Kidul, menguasai ilmu kesaktian yang disebut Aji Brajamusti, lalu menaklukkan para pendekar yang kemudian bergabung dalam perlawanannya. Julukan Sambernyawa, penyambar nyawa, melekat padanya karena kehadirannya di medan perang dianggap membawa maut bagi lawan. Novel ini juga menghadirkan pemberontakan Sunan Kuning yang menjebol Keraton Kartasura, serta perjuangan sang tokoh melawan VOC dan kesewenang-wenangan penguasa Mataram. Latar sejarah novel ini sangat kaya. Pada 1740 terjadi pembantaian orang Tionghoa di Batavia oleh VOC, yang memicu pemberontakan orang Tionghoa di pesisir utara Jawa dan dikenal sebagai Geger Pacinan. Sebagian bangsawan dan rakyat Jawa bergabung dengan pemberontakan itu, lalu mengangkat Raden Mas Garendi sebagai raja dengan gelar Sunan Kuning. Pada 1742 pasukan gabungan Jawa dan Tionghoa merebut Kartasura, memaksa Pakubuwana II melarikan diri. Setelah keraton direbut kembali dengan bantuan VOC, ibu kota dipindahkan ke Surakarta. Raden Mas Said, lahir pada 1725, terlibat dalam pusaran ini sejak usia remaja dan selama hampir dua dasawarsa memimpin perang gerilya, kadang bersekutu dengan Pangeran Mangkubumi dan kadang berhadapan dengannya. Perjanjian Giyanti pada 1755 membagi Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta, sedangkan Perjanjian Salatiga pada 1757 akhirnya memberi Raden Mas Said wilayah dan kedudukan sebagai Pangeran Adipati Mangkunegara I. Ia wafat pada 1795 dan kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Tokoh Sambernyawa telah lama menjadi bagian dari ingatan kolektif Jawa. Semboyan perjuangannya, tiji tibèh, yang biasa diartikan mati satu mati semua dan mukti satu mukti semua, serta tiga ajaran yang dikenal sebagai Tri Dharma, yaitu rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkebi, dan mulat sarira hangrasa wani, sering dikutip dalam pendidikan kepemimpinan dan kemiliteran di Indonesia. Sumber sejarah tentang tokoh ini antara lain berupa babad dan catatan harian para prajurit pengiringnya yang kemudian dikaji oleh sejarawan. Novel Sri Hadidjojo berdiri di persimpangan antara historiografi semacam itu dan tradisi cerita silat Jawa, karena unsur kesaktian, perguruan, dan pertarungan antarpendekar memainkan peran besar dalam alurnya. Sebagai karya sastra, buku ini termasuk dalam gelombang novel sejarah populer Indonesia yang berkembang pesat sejak dasawarsa 2000-an, ketika banyak penerbit menghadirkan kisah tokoh-tokoh kerajaan Nusantara dalam bentuk fiksi yang mudah dibaca, misalnya serial tentang Gajah Mada, Majapahit, Sultan Agung, atau Diponegoro. Fenomena ini menunjukkan minat masyarakat terhadap sejarah lokal yang disajikan secara dramatis, sekaligus kebutuhan akan teladan kepahlawanan yang berakar pada budaya sendiri. Novel semacam ini juga menyumbang pada pembentukan ingatan publik, karena bagi banyak pembaca gambaran tentang tokoh sejarah lebih banyak dibentuk oleh fiksi daripada oleh karya akademik. Bagi kajian antropologi dan sejarah, novel ini dapat dibaca sebagai teks tentang cara masyarakat Indonesia kontemporer membayangkan masa lalu Jawa. Unsur-unsur seperti laku tapa di gua, ilmu kanuragan, hubungan guru dan murid, serta legitimasi spiritual seorang pemimpin memperlihatkan bagaimana konsep kekuasaan Jawa yang pernah dianalisis Benedict Anderson dan para antropolog lain tetap hidup dalam imajinasi populer. Bagi pembaca di Aceh dan wilayah lain di luar Jawa, kisah Sambernyawa memberi bahan perbandingan dengan narasi perlawanan lokal terhadap kekuasaan kolonial, misalnya kisah para pejuang Aceh yang juga dibingkai dengan unsur karamah, keberanian, dan kesetiaan. Perbandingan semacam ini membantu memahami bagaimana setiap daerah membangun pahlawan dan ingatan perlawanannya sendiri dalam kerangka kebangsaan Indonesia. Bagi studi Islam di Asia Tenggara, latar abad ke-18 juga relevan karena Mataram adalah kerajaan Islam yang memadukan unsur kejawen dan syariat, sementara para bangsawan yang bertikai sering menggunakan simbol keislaman untuk mencari legitimasi. Pembaca dapat memperhatikan sejauh mana novel ini menampilkan dimensi keagamaan sang tokoh, misalnya hubungan dengan ulama, pesantren, atau praktik spiritual yang bercampur antara tradisi Islam dan tradisi Jawa. Sebagai catatan kritis, pembaca perlu membedakan dengan tegas antara fakta sejarah dan rekaan pengarang. Peristiwa seperti pengasingan ayah Raden Mas Said, Geger Pacinan, jatuhnya Kartasura, dan peran VOC memiliki dasar sejarah, tetapi detail seperti nama ilmu kesaktian, sosok empu di gua, dan pertarungan dengan para pendekar kemungkinan besar merupakan elaborasi sastra. Penggambaran VOC dan penguasa Mataram sebagai pihak yang semata-mata sewenang-wenang juga berpotensi menyederhanakan dinamika politik yang sebenarnya rumit, karena hubungan antara bangsawan Jawa dan Kompeni sering bersifat transaksional dan berubah-ubah. Karena itu, novel ini paling baik dibaca berdampingan dengan kajian sejarah tentang Mangkunegara I dan perang suksesi Jawa, seperti karya M.C. Ricklefs dan sejarawan Indonesia yang meneliti babad dan arsip VOC. Data terbitan pembanding dari katalog dan halaman penerbit menunjukkan bahwa buku ini diterbitkan oleh Javanica pada 2015, setebal 364 halaman, berukuran 14 kali 21 sentimeter, dengan ISBN 978-602-72793-7-7. Tempat terbit dan nomor cetakan eksemplar ini belum dapat dipastikan dari foto sampul. Data eksemplar masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta, termasuk nama penyunting dan keterangan cetakan. Kondisi fisik eksemplar menunjukkan sampul lunak yang telah mengalami pemakaian, dengan permukaan sedikit kusam, keausan pada tepi atas dan sudut, serta lipatan ringan pada bagian punggung. Di sisi kiri bawah dekat punggung terdapat label perpustakaan berwarna biru dan putih, menandakan bahwa buku ini pernah menjadi bagian dari koleksi perpustakaan institusi. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul, sinopsis penerbit, dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Raden Mas Said, Pangeran Sambernyawa, Mangkunegara I, novel sejarah Indonesia, sejarah Mataram abad ke-18, Geger Pacinan, perlawanan terhadap VOC, dan sastra Jawa populer. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar, serta menegaskan bahwa karya ini adalah fiksi sejarah.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Contributor
- Shalahuddin Gh (penyunting)
- Koleksi
- Buku
Cara mengutip
Sri Hadidjojo, Shalahuddin Gh (penyunting), “Sambernyawa: Pemberontak Tanah Jawa”, Javanica, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Javanica, 2015, 364 hlm., ISBN 978-602-72793-7-7 (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0031.