Buku

Aceh Baru Post-Tsunami: Merengkuh Tradisi Menuju Masa Depan Mandiri

Kaukaba (tempat terbit belum diverifikasi) · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Kaukaba, 2014 menurut daftar koleksi perpustakaan, tempat terbit, jumlah halaman, dan ISBN belum diketahui (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun

Ringkasan

Buku karya seorang antropolog agama dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan kata pengantar M. Hasbi Amiruddin, diterbitkan Kaukaba, yang membahas arah pembangunan Aceh sesudah tsunami 26 Desember 2004. Berdasarkan judul dan anak judulnya, buku ini tampaknya menempatkan tradisi, yaitu nilai-nilai adat, agama, dan kelembagaan lokal, sebagai modal untuk membangun masa depan Aceh yang mandiri, di tengah besarnya arus bantuan internasional, rekonstruksi, dan perubahan politik sesudah perdamaian Helsinki 2005. Buku ini mewakili tanggapan intelektual dari dalam Aceh terhadap persoalan identitas, kemandirian, dan peran agama pada masa pascabencana. Gagasan tradisi sebagai modal perlu diuji dengan memperhatikan keragaman masyarakat Aceh dan kenyataan ekonomi sesudah rekonstruksi. Rincian isi, tahun terbit, jumlah halaman, dan ISBN belum diperiksa dan masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta eksemplar.

Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0034
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Kaukaba (tempat terbit belum diverifikasi)
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Kaukaba, 2014 menurut daftar koleksi perpustakaan, tempat terbit, jumlah halaman, dan ISBN belum diketahui (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Penulis
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Klasifikasi LC
DS646.15.A2 — Sejarah Aceh
Subjek LCSH
Indian Ocean Tsunami, 2004 Aceh (Indonesia) -- Social conditions Aceh (Indonesia) -- Civilization Disaster relief -- Indonesia -- Aceh
Kategori BISAC
SOC002010 SOCIAL SCIENCE / Anthropology / Cultural & Social
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Eksemplar ini adalah buku bersampul lunak dengan latar hitam pekat pada dua pertiga bagian atas dan bidang krem bertekstur kertas usang pada bagian bawah, dipisahkan oleh garis sobekan yang tidak beraturan. Di puncak sampul tampak sebagian lempeng bundar keemasan berukir kaligrafi Arab, yang mengingatkan pada cap atau stempel kerajaan, sedangkan samar-samar di bawahnya terlihat siluet senjata tradisional melengkung berwarna gelap. Judul Aceh Baru dicetak sangat besar dalam huruf kapital kuning keemasan, disusul kata Post-Tsunami dalam huruf kapital merah. Anak judul Merengkuh Tradisi Menuju Masa Depan Mandiri tercetak dalam huruf putih di sebelah kanan sebuah garis merah. Pada bidang krem di bagian bawah tercantum nama penulis dengan gelar Ph.D dan ejaan bertanda hubung, serta keterangan bahwa kata pengantar ditulis oleh Prof. Dr. H. M. Hasbi Amiruddin, M.A. Logo penerbit Kaukaba berada di sudut kanan bawah. Paduan simbol stempel kerajaan, senjata tradisional, dan sobekan kertas memberi kesan perjumpaan antara warisan sejarah Aceh dan keretakan yang ditimbulkan bencana. Penulis buku ini adalah antropolog agama dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, yang memperoleh gelar doktor sosiologi dari La Trobe University, Australia, dan banyak menulis tentang Islam di Asia Tenggara, gerakan keagamaan, serta kebudayaan dan masyarakat Aceh. Pemberi kata pengantar, M. Hasbi Amiruddin, adalah guru besar di universitas yang sama dan dikenal melalui kajian tentang ulama dayah serta pendidikan Islam di Aceh. Kehadiran pengantar dari seorang tokoh akademik senior Aceh memberi tanda bahwa buku ini ditujukan terutama kepada pembaca di Aceh sendiri, termasuk kalangan akademisi, pengambil kebijakan, dan masyarakat sipil yang terlibat dalam pembangunan kembali sesudah bencana. Berdasarkan judul dan anak judulnya, buku ini tampaknya mengajukan gagasan tentang arah pembangunan Aceh sesudah tsunami 26 Desember 2004, dengan menempatkan tradisi sebagai modal, bukan sebagai penghambat. Frasa merengkuh tradisi menunjukkan bahwa nilai-nilai adat, agama, dan kelembagaan lokal dipandang sebagai sumber daya untuk membangun masa depan, sedangkan frasa masa depan mandiri mengisyaratkan kritik terhadap ketergantungan pada bantuan luar dan pada pemerintah pusat. Rincian isi, apakah buku ini berupa monografi utuh atau himpunan tulisan, dan bab-bab yang dimuatnya belum diperiksa pada eksemplar, sehingga uraian ini lebih bersifat penempatan konteks. Gagasan Aceh Baru sendiri merupakan istilah yang cukup sering dipakai dalam wacana publik Aceh sejak awal 2000-an, dengan berbagai tafsiran, mulai dari Aceh yang damai sesudah konflik hingga Aceh yang terbuka dan demokratis. Konteks sejarah buku ini adalah masa rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh yang berlangsung dalam skala sangat besar. Tsunami 2004 menewaskan lebih dari seratus ribu orang di Aceh dan menghancurkan permukiman pesisir, infrastruktur, dan lembaga sosial. Dalam beberapa tahun sesudahnya, ratusan lembaga internasional, lembaga swadaya, dan badan pemerintah, termasuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, bekerja di Aceh dengan dana yang sangat besar. Pada saat bersamaan, perjanjian damai Helsinki 2005 mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung hampir tiga dekade, disusul lahirnya Undang-Undang Pemerintahan Aceh 2006 dan pemerintahan lokal yang dipimpin mantan tokoh gerakan. Perubahan beruntun ini menimbulkan pertanyaan tentang identitas, kemandirian ekonomi, peran agama, dan masa depan budaya Aceh. Buku dengan judul seperti ini merupakan salah satu bentuk tanggapan intelektual setempat terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dalam peta kajian tentang Aceh pascatsunami, terdapat banyak laporan lembaga internasional, evaluasi program, dan kajian akademik dari luar negeri, misalnya tentang tata kelola rekonstruksi, dampak bantuan terhadap struktur sosial, dan dinamika perdamaian. Kajian dari dalam yang ditulis oleh akademisi setempat dalam bahasa Indonesia relatif lebih sedikit, padahal perspektif semacam itu penting untuk memahami bagaimana masyarakat Aceh sendiri menafsirkan bencana dan perubahan. Dari sudut pandang antropologi, gagasan merengkuh tradisi dapat dibaca dalam kaitan dengan perdebatan tentang pengetahuan lokal, misalnya cerita smong di Simeulue yang sering disebut membantu warga menyelamatkan diri, peran gampong dan lembaga adat dalam pemulihan, serta kedudukan meunasah dan dayah sebagai pusat kehidupan sosial. Bagi studi Islam di Asia Tenggara, buku ini relevan karena menyinggung hubungan antara agama, kebudayaan, dan pembangunan di sebuah wilayah yang menerapkan syariat Islam secara formal. Pengalaman Aceh menunjukkan bahwa bencana besar dapat mempercepat masuknya gagasan, lembaga, dan nilai-nilai baru, sekaligus memicu upaya untuk meneguhkan kembali identitas keagamaan dan adat. Ketegangan antara keterbukaan dan peneguhan identitas inilah yang menjadikan Aceh pascatsunami sebagai kasus menarik untuk dibandingkan dengan wilayah lain yang mengalami bencana atau konflik, baik di Indonesia maupun di kawasan Samudra Hindia. Sebagai catatan kritis, gagasan tentang tradisi sebagai modal pembangunan perlu diuji dengan hati-hati. Tradisi tidak pernah tunggal, dan pilihan tentang unsur tradisi mana yang dirangkul selalu mengandung pertimbangan nilai dan kepentingan. Pembaca perlu memperhatikan apakah buku ini membahas keragaman di dalam masyarakat Aceh, misalnya perbedaan antara wilayah pesisir dan pedalaman, kelompok etnis yang berbeda, serta pengalaman perempuan dan kelompok rentan. Selain itu, cita-cita kemandirian perlu diukur dengan kenyataan ekonomi Aceh sesudah masa rekonstruksi, ketika dana otonomi khusus menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan dan berbagai kajian mencatat tantangan kemiskinan serta tata kelola. Karena tahun terbit belum dipastikan, pembaca juga perlu menempatkan argumen buku ini pada masa penulisannya, apakah masih dalam suasana rekonstruksi atau sudah dalam fase sesudahnya. Buku ini juga dapat dibaca sebagai bagian dari rangkaian tulisan penulisnya tentang Aceh, yang dalam berbagai kesempatan menaruh perhatian pada hubungan antara Islam, adat, dan perubahan sosial. Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan pemikiran tentang Aceh, karya semacam ini berguna untuk melihat bagaimana seorang akademisi setempat merumuskan tawaran konseptual pada masa ketika wacana pembangunan sangat dipengaruhi lembaga donor dan bahasa teknokratis. Nilai dokumenternya terletak pada kenyataan bahwa buku ini merekam suara dari dalam pada suatu masa peralihan, sehingga ia dapat dimanfaatkan sebagai sumber bagi penelitian tentang sejarah gagasan, wacana identitas, dan politik pengetahuan di Aceh sesudah bencana. Peneliti yang memakainya dianjurkan membandingkannya dengan laporan resmi rekonstruksi, kajian lembaga internasional, serta tulisan para intelektual Aceh lainnya pada periode yang sama, agar posisi argumen buku ini dalam perdebatan yang lebih luas dapat dinilai secara adil. Data terbitan pembanding masih terbatas. Sebuah daftar koleksi perpustakaan lembaga swadaya di Aceh mencatat buku ini dengan penerbit Kaukaba dan tahun 2014, tetapi keterangan tersebut belum dapat dikonfirmasi melalui katalog perpustakaan nasional atau perguruan tinggi. Tempat terbit, jumlah halaman, dan ISBN juga belum ditemukan. Seluruh data tersebut masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta. Dari sisi kondisi fisik, eksemplar ini tampak cukup terawat, tetapi sampulnya agak melengkung dan memperlihatkan keausan pada tepi kanan atas serta sudut-sudutnya. Pada bidang hitam terlihat sedikit goresan dan pantulan cahaya. Pada sisi kiri sampul depan, dekat punggung, menempel label perpustakaan berwarna biru dan putih dengan nomor panggil yang tidak terbaca utuh dalam foto. Keterangan ini disusun sebagai pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi rujukan, bukan ringkasan menyeluruh atas isi buku. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Aceh pascatsunami, tsunami Samudra Hindia 2004, rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh, tradisi dan pembangunan, budaya Aceh, perdamaian Aceh, serta kemandirian daerah. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, pemberi kata pengantar, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Contributor
M. Hasbi Amiruddin (pengantar)

Cara mengutip

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, M. Hasbi Amiruddin (pengantar), “Aceh Baru Post-Tsunami: Merengkuh Tradisi Menuju Masa Depan Mandiri”, Kaukaba (tempat terbit belum diverifikasi), Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Kaukaba, 2014 menurut daftar koleksi perpustakaan, tempat terbit, jumlah halaman, dan ISBN belum diketahui (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0034.