Hapsara, Surakarta · Tahun tercetak di sampul (1983); cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Surakarta: Hapsara, 1983, jumlah halaman belum diketahui, kemungkinan tanpa ISBN (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · 1983
Ringkasan
Kumpulan karangan antropolog Jepang Mitsuo Nakamura tentang Muhammadiyah dan pemurnian ajaran Islam dalam lingkungan budaya Indonesia, khususnya Jawa, yang diindonesiakan dan diberi pengantar oleh Muhadjir M. Darwin dan diterbitkan Hapsara di Surakarta pada 1983. Berangkat dari penelitian lapangannya di Kotagede, Yogyakarta, Nakamura memandang gerakan pembaruan bukan sebagai penolakan total terhadap budaya setempat, melainkan sebagai proses seleksi dan perumusan ulang yang tetap menyerap etos, jaringan sosial, dan nilai-nilai lokal. Pandangan ini menguji kerangka santri, abangan, dan priyayi yang dominan pada masanya. Buku ini menjadi salah satu pintu masuk awal pemikiran Nakamura dalam bahasa Indonesia dan berguna bagi kajian antropologi agama, sejarah gerakan Islam modernis, serta perbandingan dinamika pembaruan Islam di berbagai wilayah Nusantara, termasuk Aceh. Rincian isi setiap karangan, jumlah halaman, dan data cetakan masih perlu dicocokkan dengan eksemplar.
Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0035
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Hapsara, Surakarta
Tanggal terbit
1983
Edisi dan halaman
Tahun tercetak di sampul (1983); cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Surakarta: Hapsara, 1983, jumlah halaman belum diketahui, kemungkinan tanpa ISBN (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Muhammadiyah (Organization)Islam -- IndonesiaIslamic renewal -- IndonesiaIslam and culture -- Indonesia -- Java
Kategori BISAC
SOC048000 SOCIAL SCIENCE / Islamic Studies
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Eksemplar ini adalah sebuah buku saku bersampul lunak dengan warna dasar hijau tua yang kini tampak pudar dan bernoda di banyak bagian. Seluruh tulisan pada sampul dicetak dengan huruf putih tanpa ilustrasi apa pun, sehingga tampilannya sangat bersahaja dan khas terbitan akademik kecil Indonesia awal 1980-an. Di bagian atas tertera nama pengarang dengan gelar, Dr. Mitsuo Nakamura, disusul judul besar Agama dan Lingkungan Kultural, lalu kata Indonesia dalam huruf lebih kecil. Di bawahnya tercantum anak judul Pengaruh Gerakan Muhammadiyah dalam Pemurnian Agama Islam, dengan keterangan dalam kurung bahwa buku ini merupakan kumpulan karangan. Bagian bawah sampul menyebut bahwa naskah diindonesiakan dan diberi pengantar oleh Muhadjir M. Darwin, sedangkan sebuah kotak bergaris di dasar sampul memuat nama Penerbit Hapsara dan keterangan Surakarta 1983. Dengan demikian tahun terbit tercetak langsung pada sampul, suatu hal yang tidak selalu dijumpai pada buku-buku sezaman.
Mitsuo Nakamura adalah antropolog Jepang yang namanya hampir tidak terpisahkan dari kajian tentang Muhammadiyah. Ia melakukan penelitian lapangan panjang di Kotagede, Yogyakarta, pada awal 1970-an, dan disertasinya di Cornell University kemudian terbit sebagai The Crescent Arises over the Banyan Tree, sebuah etnografi tentang gerakan Muhammadiyah di kota kecil yang menjadi salah satu basis awal organisasi itu. Karya tersebut dikenal luas karena menolak pandangan bahwa gerakan pembaruan Islam semata-mata bersifat skripturalis dan kering, lalu memperlihatkan bagaimana Muhammadiyah tumbuh dari lingkungan sosial Jawa, termasuk dari jaringan pedagang, kerabat, dan tradisi kesalehan setempat. Nakamura kemudian lama mengajar di Jepang, antara lain di Universitas Chiba, dan terus mengikuti perkembangan Muhammadiyah serta Nahdlatul Ulama selama beberapa dasawarsa. Pemerintah Indonesia memberinya Anugerah Kebudayaan untuk kategori perorangan asing pada 2017, sebuah pengakuan atas sumbangan panjangnya terhadap pemahaman tentang Islam Indonesia.
Penerjemah sekaligus pemberi pengantar, Muhadjir M. Darwin, dikenal sebagai akademisi Universitas Gadjah Mada di bidang kebijakan publik dan kependudukan. Kehadirannya sebagai penerjemah menunjukkan bahwa karangan-karangan Nakamura sejak awal dibaca bukan hanya oleh kalangan studi agama, tetapi juga oleh ilmuwan sosial yang tertarik pada hubungan antara agama, perubahan sosial, dan pembangunan. Pengantar penerjemah pada buku semacam ini biasanya berfungsi menjembatani pembaca Indonesia dengan kerangka antropologi yang dipakai pengarang, dan hal itu patut diperiksa langsung pada eksemplar.
Sebagai kumpulan karangan, buku ini tampaknya menghimpun beberapa tulisan pendek Nakamura yang sebelumnya terbit dalam bahasa Inggris, dengan benang merah peran Muhammadiyah dalam proses pemurnian ajaran Islam di tengah lingkungan budaya Jawa. Rincian judul dan asal setiap karangan belum dapat dipastikan dari sampul, sehingga perlu dicocokkan dengan daftar isi. Meski begitu, gagasan pokok yang diusung Nakamura dalam periode ini cukup jelas dari karya-karyanya yang lain. Ia memandang pemurnian agama bukan sebagai penolakan total terhadap kebudayaan setempat, melainkan sebagai proses seleksi, penyesuaian, dan perumusan ulang. Muhammadiyah memang menentang praktik yang dianggap bid'ah, takhayul, dan khurafat, tetapi organisasi ini juga menyerap etos kerja, solidaritas sosial, dan bentuk-bentuk organisasi modern yang tumbuh dari kehidupan masyarakat perkotaan Jawa. Frasa lingkungan kultural pada judul dengan sendirinya menekankan bahwa agama harus dipahami dalam hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial tempat ia dihayati.
Konteks terbitnya buku ini juga menarik. Awal 1980-an adalah masa ketika kajian tentang Islam Indonesia masih sangat dipengaruhi kerangka Clifford Geertz tentang santri, abangan, dan priyayi. Nakamura termasuk sarjana yang secara langsung menguji kerangka tersebut di lapangan. Ia menunjukkan bahwa kategori santri tidak dapat disamakan begitu saja dengan kelompok yang terasing dari budaya Jawa, karena dalam praktiknya para aktivis Muhammadiyah di Kotagede juga mewarisi unsur-unsur kejawaan, termasuk kehalusan budi dan etika pengendalian diri. Pada masa yang sama, pemerintah Orde Baru sedang menata hubungan negara dengan organisasi keagamaan, dan wacana tentang modernisasi serta pembangunan mendominasi perdebatan publik. Dalam suasana itu, tulisan Nakamura memberi bahan bagi pembaca Indonesia untuk melihat bahwa gerakan pembaruan Islam memiliki akar sosial yang dalam dan bukan sekadar produk ideologi impor dari Timur Tengah.
Bagi kajian antropologi agama, buku ini bernilai sebagai salah satu pintu masuk awal pemikiran Nakamura ke dalam bahasa Indonesia. Banyak mahasiswa dan peneliti Indonesia generasi 1980-an dan 1990-an mengenal pendekatan etnografis terhadap organisasi Islam modernis melalui terjemahan-terjemahan seperti ini. Buku ini dapat dibaca bersama karya-karya klasik lain tentang Muhammadiyah, misalnya kajian Alfian tentang Muhammadiyah sebagai gerakan politik pada masa kolonial, kajian Deliar Noer tentang gerakan modern Islam, serta karya-karya kemudian yang menelaah Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat sipil. Bagi studi tentang Islam di Asia Tenggara, gagasan bahwa pembaruan agama berlangsung melalui negosiasi dengan budaya lokal juga relevan untuk membandingkan Jawa dengan wilayah lain, termasuk Minangkabau dan Aceh, tempat gerakan pembaruan berhadapan dengan tradisi adat dan otoritas ulama yang berbeda corak.
Dalam konteks Aceh, pembaca dapat memanfaatkan kerangka Nakamura untuk menelaah perjumpaan antara arus pembaruan yang dibawa organisasi modernis dan tradisi dayah yang kuat. Hubungan antara kelompok yang sering disebut tradisionalis dan modernis di Aceh memiliki sejarahnya sendiri, mulai dari kiprah Persatuan Ulama Seluruh Aceh hingga perdebatan keagamaan pada masa sesudahnya, sehingga perbandingan dengan pengalaman Kotagede dapat menghasilkan pertanyaan penelitian yang segar. Pertanyaan semacam itu antara lain menyangkut bagaimana gagasan pemurnian diterima atau ditolak di tingkat kampung, siapa pembawanya, dan bagaimana ia bersinggungan dengan adat setempat.
Sebagai catatan kritis, terjemahan yang terbit pada awal 1980-an perlu dibaca dengan memperhatikan kemungkinan perbedaan istilah dengan naskah asli berbahasa Inggris. Istilah-istilah teknis antropologi pada masa itu belum seragam dalam bahasa Indonesia, sehingga pembaca yang hendak mengutip sebaiknya membandingkan dengan sumber aslinya bila tersedia. Selain itu, kajian Nakamura bertumpu pada pengamatan di satu komunitas tertentu pada satu periode tertentu. Generalisasi tentang Muhammadiyah secara nasional, apalagi tentang Islam Indonesia secara keseluruhan, perlu dilakukan dengan hati-hati. Perkembangan Muhammadiyah sesudah 1980-an, termasuk perluasan amal usaha pendidikan dan kesehatan serta munculnya beragam corak pemikiran di dalamnya, juga tidak tercakup dalam buku ini. Kendati demikian, justru karena sifatnya sebagai potret zaman, buku ini berguna untuk melihat bagaimana Muhammadiyah dipahami oleh seorang pengamat luar pada masa yang penting.
Data terbitan yang tercetak pada sampul menyebut Penerbit Hapsara, Surakarta, 1983. Informasi pembanding dari katalog dan pasar buku bekas juga menyebut Hapsara dan tahun 1983, tetapi jumlah halaman, ukuran, dan keterangan cetakan belum ditemukan dalam sumber yang dapat dipercaya. Buku ini kemungkinan besar terbit tanpa ISBN, mengingat penggunaan ISBN di Indonesia belum lazim pada masa itu. Seluruh data tersebut masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta eksemplar.
Dari sisi kondisi fisik, eksemplar ini memperlihatkan tanda usia yang jelas. Sampul hijau tampak kusam, bernoda, dan tergores, dengan bercak-bercak terang tersebar di bagian tengah dan bawah. Tepi sampul sedikit aus dan sudut-sudutnya tidak lagi tajam. Pada sisi kiri sampul depan, dekat punggung, menempel label perpustakaan berwarna putih dan biru dengan nomor panggil yang terbaca 741 02 dan huruf K, tanda bahwa buku ini pernah menjadi bagian dari koleksi sebuah perpustakaan. Keterangan ini disusun sebagai pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan menyeluruh atas isi setiap karangan.
Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Muhammadiyah, pembaruan Islam di Indonesia, pemurnian agama, antropologi agama, Islam dan budaya Jawa, Kotagede, serta sejarah gerakan Islam modernis. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama pengarang, judul lengkap, nama penerjemah, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
Mitsuo Nakamura, Muhadjir M. Darwin (penerjemah dan pengantar), “Agama dan Lingkungan Kultural Indonesia: Pengaruh Gerakan Muhammadiyah dalam Pemurnian Agama Islam (Kumpulan Karangan)”, Hapsara, Surakarta, Tahun tercetak di sampul (1983); cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Surakarta: Hapsara, 1983, jumlah halaman belum diketahui, kemungkinan tanpa ISBN (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar), 1983. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0035.