Pustaka Larasan, Denpasar · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Denpasar: Pustaka Larasan, 2014, jumlah halaman dan ISBN belum diketahui (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun
Ringkasan
Kajian antropologis dan historis karya Muhajir Al Fairusy, antropolog lulusan Universitas Gadjah Mada dan pengajar di STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, tentang Dayah atau Zawiyah Tanoh Abee di Seulimeum, Aceh Besar, terbitan Pustaka Larasan, Denpasar, 2014. Lembaga yang menurut tradisi didirikan keturunan ulama asal Baghdad ini dikenal karena koleksi manuskrip Arab dan Jawi tentang fikih, tasawuf, tauhid, dan tafsir, serta peran para Teungku Chik Tanoh Abee dalam sejarah Aceh. Melalui gagasan hemispheric Islam, penulis menengok kembali jejak kebudayaan yang lahir dari pertemuan jaringan Islam lintas belahan dunia dengan tradisi lokal, dalam naskah, arsitektur, silsilah keilmuan, dan praktik pendidikan. Buku ini relevan bagi kajian dayah, filologi dan pelestarian naskah, jaringan ulama Samudra Hindia, tarekat di Aceh, serta antropologi agama di Aceh dan Asia Tenggara.
- Nomor inventaris
-
KBA-BKU-TT-0041
- Jenis dokumen
-
Buku
- Sumber terbitan
-
Pustaka Larasan, Denpasar
- Tanggal terbit
-
Tanpa tahun
- Edisi dan halaman
-
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Denpasar: Pustaka Larasan, 2014, jumlah halaman dan ISBN belum diketahui (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
- Penulis
-
Muhajir Al Fairusy
- Klasifikasi LC
-
DS646.15.A2 — Sejarah Aceh
- Subjek LCSH
-
Islamic religious education -- Indonesia -- Aceh Besar
Zawiyas -- Indonesia -- Aceh
Islam -- Indonesia -- Aceh -- History
Manuscripts, Arabic -- Indonesia -- Aceh
- Kategori BISAC
-
SOC048000 SOCIAL SCIENCE / Islamic Studies
- Bahasa
-
Indonesia
- Keterangan
-
Retrospeksi Budaya Hemispheric Islam di Zawiyah Tanoh Abee karya Muhajir Al Fairusy merupakan kajian antropologis dan historis tentang Dayah atau Zawiyah Tanoh Abee di Seulimeum, Aceh Besar, salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Aceh yang dikenal luas karena koleksi naskah kunonya. Sampul eksemplar ini menampilkan foto berwarna sebuah rumah panggung kayu khas Aceh dengan atap pelana tinggi, dinding papan berwarna gelap, jendela-jendela berterali, serta ukiran kayu bermotif sulur dan bunga yang dicat putih, biru, dan hijau pada bagian depan dan sisi bangunan. Di depan rumah tampak pagar besi berukir, dan di sebelah kiri terlihat sebagian bangunan lain beratap seng serta rimbunan pohon. Foto itu memudar ke latar krem pada bagian tengah, tempat judul dicetak dalam tiga baris: Retrospeksi Budaya berhuruf kapital merah marun, Hemispheric Islam dalam huruf sambung hitam yang besar, dan Di Zawiyah Tanoh Abee kembali berhuruf kapital merah marun. Bagian bawah sampul dihiasi medalion besar bermotif geometris dan floral bergaya Persia atau Utsmani dalam warna emas, ungu, dan hijau, dengan nama penulis tercetak di atasnya dalam huruf serif hitam tebal.
Muhajir Al Fairusy adalah antropolog asal Aceh yang menempuh pendidikan antropologi di Universitas Gadjah Mada dan kemudian mengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Ia menulis sejumlah artikel tentang dayah, pendidikan Islam tradisional, dan kebudayaan Aceh, serta ikut menyusun buku tentang budaya kedai kopi Aceh bersama Saiful Akmal. Nama Al Fairusy yang ia gunakan mengingatkan pada keluarga al-Fairusi atau al-Fairus al-Baghdadi yang menurut tradisi setempat mendirikan dan memimpin Dayah Tanoh Abee secara turun-temurun, tetapi hubungan pribadi penulis dengan keluarga tersebut perlu dipastikan pada biodata atau prakata buku.
Dayah Tanoh Abee menempati kedudukan istimewa dalam sejarah Islam di Aceh. Menurut tradisi lisan dan sejumlah kajian sejarah, lembaga ini didirikan oleh keturunan ulama yang berasal dari Baghdad dan berkembang sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Pada abad ke-19, dayah ini dipimpin oleh Teungku Chik Tanoh Abee, salah satunya Syekh Abdul Wahab, yang dikenal sebagai ulama dan tokoh dalam perlawanan terhadap Belanda. Perpustakaan naskahnya menyimpan ratusan manuskrip Arab dan Jawi tentang fikih, tasawuf, tauhid, tafsir, hadis, dan ilmu bahasa, sehingga sering disebut sebagai salah satu perpustakaan Islam tertua di Asia Tenggara. Pada masa sesudahnya, upaya pelestarian naskah dilakukan oleh pengasuh dayah bersama berbagai lembaga, termasuk proyek katalogisasi dan digitalisasi.
Istilah hemispheric Islam dalam judul mengisyaratkan cara pandang yang menempatkan Tanoh Abee dalam jaringan Islam yang membentang melintasi belahan dunia, dari Timur Tengah, Persia, dan anak benua India hingga Nusantara. Dengan memakai kata retrospeksi, penulis tampaknya hendak menengok kembali jejak kebudayaan yang terbentuk dari pertemuan Islam global dengan tradisi lokal Aceh, baik dalam bentuk naskah, arsitektur, praktik pendidikan, silsilah keilmuan, maupun ritual keagamaan. Pendekatan antropologis memungkinkan zawiyah ini tidak hanya dibaca sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai ruang hidup tempat ingatan kolektif, otoritas keagamaan, dan identitas keluarga ulama dipertahankan. Rincian bab, metode penelitian, dan temuan lapangan perlu diperiksa langsung pada isi eksemplar.
Penggunaan kata zawiyah, bukan semata dayah, juga patut dicatat. Dalam tradisi dunia Islam, zawiyah merujuk pada pusat tarekat atau tempat berkumpulnya para sufi untuk belajar dan beribadah, dan di Afrika Utara istilah ini juga dipakai untuk lembaga pendidikan keagamaan. Dengan memilih istilah ini, penulis menegaskan dimensi sufistik dan keterkaitan Tanoh Abee dengan jaringan tarekat, khususnya Syattariyah, yang memiliki pengaruh besar di Aceh dan dunia Melayu sejak masa Syekh Abdurrauf as-Singkili.
Data terbitan pembanding yang dicatat dalam rujukan artikel Jurnal Ilmiah Islam Futura menyebut buku ini diterbitkan oleh Pustaka Larasan, penerbit di Denpasar, Bali, pada 2014. Jumlah halaman dan ISBN belum dapat dipastikan dari katalog yang dapat diakses. Data tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta.
Bagi kajian Islam di Aceh dan Asia Tenggara, buku ini relevan dalam beberapa hal. Ia mendokumentasikan salah satu lembaga yang paling penting bagi sejarah intelektual Aceh, pada saat banyak dayah tradisional menghadapi perubahan besar akibat konflik, tsunami 2004, modernisasi pendidikan, dan formalisasi syariat. Buku ini juga dapat dibaca bersama kajian filologi tentang naskah-naskah Tanoh Abee, kajian tentang jaringan ulama Timur Tengah dan Nusantara, serta penelitian tentang sejarah tarekat di Aceh. Bagi mata kuliah tentang Islam di Dunia Melayu dan Samudra Hindia, Tanoh Abee merupakan contoh konkret tentang bagaimana jaringan Samudra Hindia terwujud dalam sebuah lembaga lokal.
Dari sudut antropologi agama, kajian tentang zawiyah ini membuka pertanyaan mengenai pewarisan otoritas keagamaan dalam keluarga ulama, hubungan antara naskah sebagai benda keramat dan naskah sebagai sumber ilmu, serta cara masyarakat sekitar memaknai warisan tersebut. Arsitektur rumah kayu yang tampil di sampul juga mengingatkan bahwa kebudayaan material merupakan bagian penting dari identitas dayah, sehingga pelestarian bangunan sama pentingnya dengan pelestarian naskah.
Sebagai catatan kritis, kajian yang ditulis oleh peneliti yang memiliki kedekatan dengan lembaga atau keluarga yang dikaji memiliki keunggulan akses dan pemahaman dari dalam, tetapi juga berisiko menampilkan narasi yang cenderung mengagungkan. Pembaca perlu memperhatikan sejauh mana penulis membedakan antara tradisi lisan tentang asal-usul Baghdad dan bukti historis yang dapat diverifikasi, serta bagaimana istilah hemispheric Islam didefinisikan dan diuji secara konseptual. Selain itu, karena data terbitan buku ini belum lengkap dalam katalog yang dapat diakses, keterangan tentang cetakan dan edisi perlu dilacak lebih lanjut.
Meskipun demikian, buku ini merupakan sumbangan berharga bagi literatur tentang warisan Islam Aceh yang ditulis oleh peneliti Aceh sendiri dengan perspektif antropologi. Kehadirannya memperkaya dokumentasi tentang lembaga yang selama ini lebih banyak dikenal melalui kajian filologi dan sejarah, dan memberi bahan bagi upaya pelestarian warisan budaya dan intelektual di Aceh Besar.
Pilihan penerbit di Bali untuk sebuah kajian tentang zawiyah di Aceh juga menarik perhatian, karena memperlihatkan bagaimana jaringan penerbitan akademik di Indonesia pada dekade 2010-an tidak lagi terpusat di Jakarta dan Yogyakarta. Pustaka Larasan dikenal menerbitkan banyak kajian budaya, sejarah lokal, dan antropologi, sehingga kehadiran buku ini di antara terbitannya menempatkan Tanoh Abee dalam percakapan yang lebih luas tentang warisan budaya Nusantara, bukan hanya dalam lingkup kajian keislaman. Bagi peneliti, informasi ini berguna untuk menelusuri keberadaan buku di perpustakaan di luar Aceh dan untuk memahami sasaran pembaca yang dibayangkan penulis.
Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan keausan pada tepi sampul, terutama di sisi kanan dan bawah, serta noda kecokelatan pada bagian kiri bawah dekat punggung. Label perpustakaan berwarna biru dan putih tertempel pada punggung buku di sisi kiri. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku.
Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Dayah Tanoh Abee, zawiyah, pendidikan Islam tradisional Aceh, naskah Islam Aceh, jaringan ulama Samudra Hindia, tarekat Syattariyah, antropologi agama, dan sejarah Aceh Besar. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
- Status hak cipta
-
Koleksi pribadi KBA13 Academy