Buku

Globalisation and the New Realities

Pelanduk Publications, Subang Jaya · Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Subang Jaya: Pelanduk Publications, 2002, cetakan pertama, 236 hlm., indeks, 21 cm, ISBN 967-978-818-0 (978-967-978-818-1) (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar) · Tanpa tahun

Ringkasan

Himpunan pidato pilihan Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia, disunting oleh Hashim Makaruddin dan diterbitkan Pelanduk Publications pada 2002. Pidato-pidato ini memuat kritik Mahathir terhadap globalisasi ekonomi dan budaya sebagaimana dijalankan negara-negara maju dan lembaga keuangan internasional, dengan latar pengalaman krisis keuangan Asia 1997–1998, kecamannya terhadap spekulan mata uang, penolakan terhadap resep IMF, serta kebijakan kontrol modal Malaysia. Mahathir tidak menolak globalisasi secara total, tetapi menuntut tatanan yang adil, kerja sama Selatan-Selatan, kemitraan cerdas, dan ruang bagi negara kecil untuk melindungi kedaulatannya. Sebagai sumber primer, buku ini berguna bagi kajian ekonomi politik Asia Tenggara, nasionalisme ekonomi, wacana nilai-nilai Asia, hubungan dunia Islam dan Barat, serta perbandingan respons Malaysia dan Indonesia terhadap krisis, dengan catatan bahwa isinya mencerminkan sudut pandang resmi pemerintah yang sedang berkuasa.

Nomor inventaris
KBA-BKU-2002-0002
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Pelanduk Publications, Subang Jaya
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Subang Jaya: Pelanduk Publications, 2002, cetakan pertama, 236 hlm., indeks, 21 cm, ISBN 967-978-818-0 (978-967-978-818-1) (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar)
Penulis
Mahathir Mohamad
Klasifikasi LC
JZ — Hubungan internasional
Subjek LCSH
Globalization International relations Malaysia -- Economic policy Speeches, addresses, etc., Malaysian
Kategori BISAC
POL033000 POLITICAL SCIENCE / Globalization
Bahasa
Inggris
Keterangan
Globalisation and the New Realities merupakan himpunan pidato pilihan Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia, yang disunting oleh Hashim Makaruddin dan diterbitkan oleh Pelanduk Publications di Subang Jaya, Selangor, pada 2002. Katalog perpustakaan mencatat anak judul lengkapnya sebagai pidato-pidato pilihan Dr. Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia. Buku ini termasuk dalam rangkaian kumpulan pidato Mahathir yang disusun dan diterbitkan pada akhir masa jabatan pertamanya, ketika isu globalisasi, krisis keuangan Asia, dan posisi negara-negara berkembang dalam tatanan ekonomi dunia menjadi pusat perhatiannya. Sampul eksemplar ini berwarna biru tua. Judul tercetak dengan huruf putih tebal di bagian atas, disusul sebuah kutipan dari isi buku yang pada intinya menyatakan bahwa kedatangan globalisasi tidak berarti kita harus diam menyaksikan para pemangsa menghancurkan kita. Bagian tengah sampul menampilkan gambar bola bumi berwarna pucat kehijauan yang setengah tenggelam di permukaan laut gelap, dengan pantulan cahaya di air dan sebuah titik kecil menyerupai perahu di tengahnya. Nama Mahathir Mohamad tercetak dengan huruf kapital putih pada pita biru di bagian bawah. Mahathir Mohamad lahir di Alor Setar, Kedah, pada 1925. Ia dididik sebagai dokter di King Edward VII College of Medicine di Singapura, lalu berpraktik sebagai dokter sebelum terjun ke politik melalui UMNO. Bukunya The Malay Dilemma, terbit pada 1970, memancing kontroversi dan sempat dilarang di Malaysia, namun kemudian menjadi rujukan penting tentang pandangannya mengenai kedudukan ekonomi orang Melayu. Ia menjabat Perdana Menteri Malaysia sejak 1981 hingga 2003, dan kembali memegang jabatan itu pada 2018–2020. Selama masa jabatan pertamanya, Malaysia mengalami industrialisasi pesat, pembangunan infrastruktur besar seperti Menara Kembar Petronas dan Koridor Raya Multimedia, serta pelaksanaan kebijakan Pandang ke Timur yang menjadikan Jepang dan Korea Selatan sebagai teladan etos kerja dan pembangunan. Mahathir juga dikenal sebagai suara lantang negara-negara Selatan di forum internasional, dari Gerakan Non-Blok, Organisasi Kerja Sama Islam, hingga forum-forum ekonomi Asia Pasifik. Penyunting buku ini, Hashim Makaruddin, tercatat dalam katalog sebagai penyunting sejumlah himpunan pidato Mahathir lain yang diterbitkan Pelanduk, misalnya kumpulan tentang globalisasi, kemitraan cerdas, dan pemerintahan. Sejumlah penjual buku menyebut bahwa terbitan-terbitan ini disiapkan bekerja sama dengan kantor perdana menteri, meskipun keterangan itu perlu dicocokkan dengan halaman judul dan kata pengantar eksemplar. Pidato-pidato dalam himpunan semacam ini umumnya disampaikan pada konferensi internasional, forum bisnis, pertemuan diplomatik, dan acara akademik, lalu disunting tanpa banyak perubahan isi, sehingga buku ini lebih tepat dibaca sebagai sumber primer tentang pemikiran dan retorika politik Mahathir daripada sebagai karya akademik yang tersusun sistematis. Tema pokok buku ini, sebagaimana tampak dari judul, kutipan sampul, dan catatan para penjual buku, adalah kritik terhadap globalisasi ekonomi dan budaya sebagaimana dijalankan oleh negara-negara maju dan lembaga-lembaga keuangan internasional. Mahathir memandang globalisasi bukan sebagai proses netral, melainkan sebagai tatanan yang aturan mainnya ditentukan oleh pihak kuat, sehingga dapat berubah menjadi bentuk penjajahan baru bila negara-negara berkembang tidak waspada. Sejumlah penjual buku bahkan merangkum pandangannya sebagai anggapan bahwa globalisasi adalah westernisasi dengan nama lain. Pengalaman krisis keuangan Asia 1997–1998 menjadi latar penting bagi sikap ini. Pada masa itu, Mahathir mengecam spekulan mata uang dan pedagang dana lindung nilai, menolak resep penyesuaian struktural Dana Moneter Internasional, lalu menerapkan kontrol modal dan mematok nilai ringgit terhadap dolar Amerika pada September 1998. Kebijakan tersebut mula-mula dikritik keras oleh banyak ekonom Barat, namun belakangan dinilai lebih berimbang oleh sebagian kalangan karena Malaysia dapat pulih tanpa pinjaman IMF. Kata "realitas baru" dalam judul dapat dibaca sebagai upaya Mahathir menyadarkan pendengarnya bahwa dunia pasca-Perang Dingin dan pasca-krisis menuntut strategi baru bagi negara berkembang, termasuk kerja sama Selatan-Selatan, reformasi arsitektur keuangan internasional, dan penguatan kapasitas nasional. Kutipan pada sampul memperlihatkan sikap khas Mahathir: ia tidak menolak globalisasi secara total, tetapi menuntut agar globalisasi diatur secara adil dan agar negara-negara kecil memiliki ruang untuk melindungi diri. Pandangan ini sejalan dengan gagasan kemitraan cerdas yang ia promosikan, yaitu kerja sama antara pemerintah, swasta, dan negara-negara berkembang dengan prinsip saling menguntungkan. Dalam konteks tahun penerbitan, pidato-pidato tentang globalisasi juga bersinggungan dengan isu terorisme internasional setelah peristiwa 11 September 2001, hubungan dunia Islam dan Barat, serta kedudukan umat Islam dalam tata dunia. Daftar pidato yang termuat dan tanggal penyampaiannya sebaiknya diperiksa langsung pada daftar isi eksemplar. Data katalog yang dapat dijadikan pembanding menunjukkan bahwa buku ini terbit di Subang Jaya oleh Pelanduk Publications pada 2002, cetakan pertama, setebal 236 halaman dengan indeks, berukuran 21 sentimeter, dengan ISBN 967-978-818-0 atau 978-967-978-818-1. Katalog Perpustakaan Universitas Teknik München mencatat nomor LCCN 2002348061, sedangkan katalog INTAN di Malaysia mencatat subjek globalisasi, hubungan internasional, serta pidato dan ceramah. Data cetakan, tahun, dan ISBN eksemplar yang difoto masih perlu dicocokkan dengan halaman hak cipta. Bagi kajian Asia Tenggara, buku ini relevan sebagai dokumen tentang wacana pembangunan dan nasionalisme ekonomi Malaysia pada pergantian abad. Pandangan Mahathir tentang nilai-nilai Asia, kedaulatan ekonomi, dan kritik terhadap dominasi Barat memengaruhi perdebatan publik di kawasan, termasuk di Indonesia, yang pada saat yang sama sedang menjalani reformasi politik dan program pemulihan ekonomi di bawah pengawasan IMF. Perbandingan antara jalan Malaysia dan jalan Indonesia dalam menghadapi krisis 1997–1998 menjadi tema penting dalam kajian ekonomi politik kawasan, dan buku ini menyediakan suara langsung dari salah satu tokoh utamanya. Bagi studi Islam, pidato-pidato Mahathir juga memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin negara berpenduduk mayoritas Muslim merumuskan modernisasi, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kemandirian ekonomi sebagai bagian dari kebangkitan umat. Bagi pembaca di Aceh, wacana ini menarik karena hubungan sejarah, ekonomi, dan diaspora antara Aceh dan Semenanjung Malaysia sangat erat, dan model pembangunan Malaysia kerap dijadikan bahan perbandingan dalam diskusi pembangunan di Aceh. Sebagai catatan kritis, himpunan pidato seorang kepala pemerintahan yang sedang menjabat tentu mencerminkan sudut pandang resmi dan kepentingan politik pemerintah. Retorika anti-Barat Mahathir sering dinilai efektif untuk konsumsi domestik dan untuk membangun citra Malaysia di dunia Selatan, namun para pengkritiknya di dalam negeri menyoroti persoalan tata kelola, pembatasan kebebasan sipil, penggunaan Akta Keselamatan Dalam Negeri, serta krisis politik yang menyertai pemecatan Anwar Ibrahim pada 1998. Pembaca sebaiknya membaca buku ini bersama kajian akademik tentang ekonomi politik Malaysia, misalnya karya Khoo Boo Teik tentang pemikiran Mahathir, agar retorika pidato dapat diuji dengan data dan analisis independen. Dari sisi dokumentasi koleksi, eksemplar ini menunjukkan keausan yang cukup jelas pada tepi sampul, sudut-sudut yang membulat, serta goresan halus di permukaan. Pada punggung buku di sisi kiri terdapat label perpustakaan berwarna biru dan putih. Keterangan ini merupakan pengantar kuratorial berdasarkan sampul dan informasi katalog, bukan ringkasan seluruh isi buku. Subjek penelusuran yang sesuai meliputi Mahathir Mohamad, globalisasi, krisis keuangan Asia 1997–1998, ekonomi politik Malaysia, hubungan internasional, negara-negara berkembang dan tatanan ekonomi dunia, serta pidato politik. Untuk keperluan kutipan, rujukan sebaiknya menyebut nama penulis, penyunting, judul lengkap, penerbit, tahun, dan halaman yang dibaca langsung pada eksemplar.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Contributor
Hashim Makaruddin (penyunting)
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Mahathir Mohamad, Hashim Makaruddin (penyunting), “Globalisation and the New Realities”, Pelanduk Publications, Subang Jaya, Tahun, cetakan, jumlah halaman, dan ISBN eksemplar belum diperiksa. Rujukan pembanding: Subang Jaya: Pelanduk Publications, 2002, cetakan pertama, 236 hlm., indeks, 21 cm, ISBN 967-978-818-0 (978-967-978-818-1) (belum diverifikasi pada halaman hak cipta eksemplar). Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2002-0002.