Buku

Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Post-Modernisme

Paramadina, Jakarta · Paramadina, Jakarta, 1996 (tahun terbit menurut keterangan pemilik koleksi); penyunting Abas Al-Jauhari; xii + 277 halaman; 21 cm; ISBN 979-8321-10-3 (menurut katalog perpustakaan, belum diverifikasi pada eksemplar). Sampul mencantumkan nama pengarang sebagai Dr. Azyumardi Azra dan logo Paramadina. · 1996

Ringkasan

Kumpulan kajian Azyumardi Azra (1955–2022), sejarawan dan cendekiawan Muslim Indonesia, yang diterbitkan Paramadina, Jakarta, dan disunting Abas Al-Jauhari. Seperti tertera pada subjudulnya, buku ini menelusuri pergolakan politik Islam melalui tiga arus besar: fundamentalisme, modernisme, dan post-modernisme. Azra membaca kebangkitan politik Islam di dunia Muslim dan di Indonesia sebagai gejala sejarah yang beragam, bukan blok tunggal, dan menimbang hubungan antara gerakan Islam, negara, dan modernitas. Buku ini terbit pada pertengahan 1990-an, ketika perdebatan tentang fundamentalisme, demokrasi, dan masa depan Islam politik sedang menguat menjelang runtuhnya Orde Baru, sehingga menjadi bacaan penting bagi kajian pemikiran politik Islam Indonesia.

Nomor inventaris
KBA-BKU-1996-0002
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Paramadina, Jakarta
Tanggal terbit
1996
Edisi dan halaman
Paramadina, Jakarta, 1996 (tahun terbit menurut keterangan pemilik koleksi); penyunting Abas Al-Jauhari; xii + 277 halaman; 21 cm; ISBN 979-8321-10-3 (menurut katalog perpustakaan, belum diverifikasi pada eksemplar). Sampul mencantumkan nama pengarang sebagai Dr. Azyumardi Azra dan logo Paramadina.
Penulis
Azyumardi Azra
Klasifikasi LC
BP173.7 — Islam dan politik
Subjek LCSH
Islam and politics; Islamic fundamentalism; Islamic modernism; Postmodernism -- Religious aspects -- Islam
Kategori BISAC
REL037000 RELIGION / Islam / General
Tempat
Indonesia Dunia Muslim Timur Tengah
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Post-Modernisme adalah salah satu buku awal Azyumardi Azra yang memperkenalkannya kepada pembaca luas di Indonesia sebagai penafsir politik Islam, bukan hanya sebagai sejarawan jaringan ulama. Azra lahir di Lubuk Alung, Sumatra Barat, pada 1955 dan wafat pada 2022. Ia menempuh pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, lalu meraih gelar doktor dari Columbia University dengan disertasi tentang jaringan ulama Timur Tengah dan Nusantara pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas. Ia kemudian memimpin IAIN Jakarta dan mengawal perubahannya menjadi Universitas Islam Negeri, dan sepanjang hidupnya dikenal sebagai salah satu suara paling berpengaruh dalam wacana Islam moderat di Indonesia. Pada sampul eksemplar ini namanya masih tertulis Dr. Azyumardi Azra, penanda tahap awal karier akademiknya sebelum ia menyandang gelar profesor. Buku ini diterbitkan oleh Paramadina, lembaga yang didirikan Nurcholish Madjid dan kawan-kawannya pada 1986 dan menjadi salah satu pusat gerakan pembaruan pemikiran Islam di Jakarta. Penerbitan di bawah logo Paramadina menempatkan buku ini dalam arus intelektual yang menekankan keterbukaan, rasionalitas, dan kesesuaian Islam dengan demokrasi serta pluralisme. Menurut data katalog perpustakaan, buku ini terbit pada 1996, disunting oleh Abas Al-Jauhari, dengan tebal sekitar xii dan 277 halaman. Sifatnya sebagai bunga rampai terlihat dari cara penyusunannya yang menghimpun tulisan-tulisan Azra tentang berbagai segi politik Islam ke dalam satu kerangka tematik. Kerangka tematik itu dirumuskan dengan jelas pada subjudul: dari fundamentalisme, modernisme, hingga post-modernisme. Ketiga istilah ini bukan sekadar label, melainkan cara untuk memetakan respons umat Islam terhadap modernitas dan negara modern. Fundamentalisme menunjuk pada gerakan yang ingin kembali kepada sumber-sumber dasar Islam secara literal dan sering kali menolak tatanan politik sekuler. Modernisme menunjuk pada upaya menafsirkan ulang ajaran Islam agar selaras dengan ilmu pengetahuan, rasionalitas, dan lembaga-lembaga politik modern. Post-modernisme menunjuk pada situasi ketika narasi-narasi besar modernitas sendiri mulai dipertanyakan, sehingga membuka ruang bagi pembacaan baru atas tradisi, identitas, dan kebangkitan agama. Dengan membentangkan ketiganya dalam satu buku, Azra mengajak pembaca melihat politik Islam sebagai medan pergulatan yang dinamis, bukan sebagai sesuatu yang statis dan seragam. Salah satu sumbangan penting buku ini adalah upayanya membongkar penggunaan istilah fundamentalisme yang terlalu longgar, terutama dalam wacana Barat. Azra cenderung menekankan bahwa kebangkitan Islam memiliki banyak wajah dan banyak sebab, mulai dari kegagalan proyek pembangunan negara pascakolonial, ketimpangan sosial, krisis identitas, hingga pengaruh peristiwa-peristiwa besar seperti Revolusi Iran. Dengan demikian, buku ini berguna untuk memahami bahwa label yang sama dapat menyembunyikan gerakan yang sangat berbeda dalam tujuan, metode, dan basis sosialnya. Pendekatan sejarah yang menjadi ciri khas Azra membuatnya lebih tertarik pada konteks dan proses daripada pada generalisasi. Konteks terbitnya buku ini juga penting untuk dipahami. Pertengahan 1990-an adalah masa ketika Orde Baru masih berkuasa tetapi mulai menunjukkan tanda-tanda kerapuhan. Pada saat yang sama, hubungan antara negara dan umat Islam sedang mengalami perubahan, ditandai antara lain oleh berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia pada 1990 dan meningkatnya kehadiran simbol-simbol Islam di ruang publik. Di tingkat global, perdebatan tentang benturan peradaban, kebangkitan Islam politik di Aljazair, Mesir, Iran, dan Afganistan, serta pertanyaan tentang kompatibilitas Islam dan demokrasi sedang hangat. Buku Azra masuk ke tengah perdebatan itu dengan suara yang tenang, berbasis sejarah, dan berusaha menjembatani pembaca Indonesia dengan kajian internasional tentang Islam politik. Bagi pembaca masa kini, buku ini dapat dibaca sebagai dokumen penting tentang cara kaum cendekiawan Muslim Indonesia memahami dunia Islam sebelum Reformasi 1998. Banyak tema yang dibahasnya kemudian menjadi lebih nyata setelah Reformasi, seperti munculnya partai-partai Islam, perdebatan tentang penerapan syariat, gerakan-gerakan transnasional, dan kekerasan atas nama agama. Dengan membaca buku ini, pembaca dapat melihat bagaimana sebagian kecenderungan itu sudah dikenali dan dianalisis sejak awal, sekaligus menilai di mana perkiraan-perkiraan pada masa itu terbukti tepat dan di mana kenyataan bergerak ke arah lain. Buku ini juga relevan bagi kajian tentang Aceh. Penerapan syariat Islam di Aceh sejak awal 2000-an sering dibicarakan dengan memakai kategori fundamentalisme, formalisme, atau islamisasi negara. Kerangka Azra tentang keragaman respons umat Islam terhadap modernitas membantu pembaca untuk tidak terjebak dalam satu label. Pengalaman Aceh dapat dibaca sebagai perpaduan antara tuntutan identitas, sejarah konflik, negosiasi dengan negara, dan tradisi keulamaan setempat, yang semuanya tidak cukup dijelaskan dengan istilah tunggal. Dalam hal ini, buku ini dapat menjadi titik berangkat teoretis yang berguna bagi mahasiswa dan peneliti yang mengkaji hubungan agama, hukum, dan politik di Aceh. Eksemplar dalam koleksi ini adalah buku bersampul hijau dengan judul berhuruf kuning tebal dan subjudul berwarna krem, disertai ilustrasi geometris berupa kubus-kubus berwarna biru muda yang saling bertumpuk. Logo Paramadina terlihat di sudut kiri atas, dan label perpustakaan menempel di bagian kiri bawah sampul. Sampul dilapisi plastik pelindung sehingga terlihat sedikit berkilau dan bertekstur. Citra yang ditampilkan di sini telah diluruskan, dipotong dari latar foto, dan diperbaiki pencahayaannya tanpa mengubah isi sampul. Eksemplar ini terbit pada 1996, tahun yang sama dengan terbitan pertama Paramadina. Dari segi metode, buku ini memperlihatkan kekhasan Azra sebagai sejarawan yang menulis untuk publik. Ia tidak memulai dari teori besar lalu mencari contoh, melainkan bergerak dari peristiwa, tokoh, dan gerakan konkret, kemudian menarik pelajaran yang lebih umum. Cara ini membuat tulisannya mudah diikuti oleh pembaca nonspesialis, tetapi tetap berpijak pada pengetahuan kesarjanaan yang luas tentang sejarah dunia Islam. Karena itu, buku ini cocok dipakai sebagai bacaan pengantar dalam mata kuliah pemikiran politik Islam, sejarah peradaban Islam, maupun studi agama dan politik, terutama untuk membiasakan mahasiswa membedakan antara label, gerakan, dan gagasan. Dalam klasifikasi Library of Congress, buku ini ditempatkan pada BP173.7 untuk Islam dan politik, dengan tajuk subjek Islam and politics, Islamic fundamentalism, Islamic modernism, serta Postmodernism -- Religious aspects -- Islam. Dalam sistem BISAC, buku ini dikelompokkan ke REL037000, Religion / Islam / General. Pengelompokan ini menunjukkan bahwa buku ini dapat dipakai baik dalam studi agama maupun studi politik. Di dalam Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini melengkapi karya-karya Azyumardi Azra yang lain, seperti Islam Substantif yang terbit pada 2000. Membaca keduanya berdampingan memungkinkan pembaca menelusuri perkembangan pemikiran Azra dari pertengahan 1990-an hingga masa awal Reformasi, dari analisis tentang arus-arus besar politik Islam menuju seruan agar umat menekankan substansi nilai daripada simbol. Keterangan katalog ini disusun dari sampul eksemplar, data katalog perpustakaan, dan keterangan pemilik koleksi, dan dapat diperbarui setelah halaman judul, daftar isi, diperiksa langsung.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Contributor
Abas Al-Jauhari (penyunting)
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Azyumardi Azra, Abas Al-Jauhari (penyunting), “Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Post-Modernisme”, Paramadina, Jakarta, Paramadina, Jakarta, 1996 (tahun terbit menurut keterangan pemilik koleksi); penyunting Abas Al-Jauhari; xii + 277 halaman; 21 cm; ISBN 979-8321-10-3 (menurut katalog perpustakaan, belum diverifikasi pada eksemplar). Sampul mencantumkan nama pengarang sebagai Dr. Azyumardi Azra dan logo Paramadina., 1996. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-1996-0002.