LKiS, Yogyakarta · Cetakan pertama, LKiS, Yogyakarta, 1999; xxiii + 275 halaman; bibliografi hlm. 271–275; ISBN 979-8966-41-4 (menurut katalog Library of Congress/Open Library, belum diverifikasi pada eksemplar). Pengantar oleh Dr. Lance Castles. Klasifikasi LC asli: JQ779.A45 H35 1999. · 1999
Ringkasan
Buku terbitan LKiS Yogyakarta tahun 1999 karya Hairus Salim HS, dengan pengantar ilmuwan politik Australia Dr. Lance Castles, yang memperkenalkan tujuh partai politik yang diperkirakan menjadi pendulang suara utama dalam Pemilu 7 Juni 1999, pemilu demokratis pertama setelah jatuhnya Orde Baru. Ketujuh partai itu, yang logonya tampil di sampul, adalah PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bulan Bintang, dan Partai Keadilan. Seperti tertera pada subjudulnya, buku ini memuat perkenalan, prediksi, dan harapan terhadap setiap partai, sehingga kini menjadi dokumen penting tentang suasana politik awal Reformasi dan cara para pengamat membaca peta kekuatan politik sebelum suara dihitung.
Nomor inventaris
KBA-BKU-1999-0005
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
LKiS, Yogyakarta
Tanggal terbit
1999
Edisi dan halaman
Cetakan pertama, LKiS, Yogyakarta, 1999; xxiii + 275 halaman; bibliografi hlm. 271–275; ISBN 979-8966-41-4 (menurut katalog Library of Congress/Open Library, belum diverifikasi pada eksemplar). Pengantar oleh Dr. Lance Castles. Klasifikasi LC asli: JQ779.A45 H35 1999.
Political parties -- Indonesia; Elections -- Indonesia -- 1999; Election forecasting -- Indonesia
Kategori BISAC
POL043000 POLITICAL SCIENCE / Political Process / Political Parties
Tempat
Indonesia
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Tujuh Mesin Pendulang Suara: Perkenalan, Prediksi, Harapan Pemilu 1999 adalah buku yang lahir di tengah salah satu momen paling menentukan dalam sejarah politik Indonesia modern. Setelah Presiden Soeharto mundur pada Mei 1998, pemerintahan transisi di bawah B.J. Habibie membuka jalan bagi pemilihan umum yang bebas dan multipartai. Pembatasan jumlah partai yang berlaku selama Orde Baru dihapus, dan dalam waktu singkat berdirilah puluhan partai baru. Empat puluh delapan partai akhirnya ikut serta dalam Pemilu 7 Juni 1999. Di tengah keramaian itu, pemilih, wartawan, dan pengamat membutuhkan panduan untuk memahami siapa saja pemain utama, apa latar belakang mereka, dan ke mana arah politik Indonesia akan bergerak. Buku ini hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Buku ini diterbitkan oleh LKiS di Yogyakarta, lembaga yang tumbuh dari lingkungan anak muda Nahdlatul Ulama dan dikenal sebagai salah satu penerbit terpenting bagi wacana Islam progresif, demokrasi, dan masyarakat sipil pada akhir 1990-an. Menurut data katalog Library of Congress, penulisnya adalah Hairus Salim HS, dan buku ini terbit sebagai cetakan pertama pada 1999 dengan tebal xxiii dan 275 halaman. Sampulnya menonjolkan nama Dr. Lance Castles sebagai pemberi pengantar. Castles adalah sejarawan dan ilmuwan politik asal Australia yang lama terlibat dalam kajian Indonesia dan pernah mengajar di Universitas Gadjah Mada. Ia dikenal antara lain melalui kajiannya tentang industri rokok kretek di Kudus dan hubungannya dengan agama serta perilaku ekonomi masyarakat Jawa. Kehadiran pengantarnya memberi buku ini bobot akademik dan perspektif sejarah jangka panjang tentang partai-partai di Indonesia.
Judul buku ini memakai metafora yang lugas: partai politik dibayangkan sebagai mesin pendulang suara. Pilihan kata ini menunjukkan cara pandang yang realistis terhadap politik elektoral, yaitu bahwa partai pada akhirnya dinilai dari kemampuannya menghimpun dukungan pemilih. Tujuh mesin yang dimaksud ditampilkan melalui logo-logo di sampul, yaitu banteng PDI Perjuangan, matahari Partai Amanat Nasional, pohon beringin Golongan Karya, bola dunia dan sembilan bintang Partai Kebangkitan Bangsa, Kakbah Partai Persatuan Pembangunan, bulan sabit dan bintang Partai Bulan Bintang, serta bulan sabit kembar Partai Keadilan. Pilihan ketujuh partai ini mencerminkan perkiraan umum pada waktu itu tentang partai-partai yang memiliki basis sosial, jaringan organisasi, atau tokoh kuat.
Subjudul buku ini menjelaskan tiga lapis isinya. Lapis pertama adalah perkenalan, yaitu uraian tentang sejarah, tokoh, basis massa, dan platform setiap partai. Lapis kedua adalah prediksi, yaitu perkiraan tentang peluang setiap partai dalam pemilu. Lapis ketiga adalah harapan, yaitu pandangan tentang apa yang dapat diharapkan dari partai-partai itu bagi demokrasi Indonesia. Perpaduan ini membuat buku ini bukan sekadar daftar data, melainkan juga cermin dari harapan dan kecemasan masyarakat sipil pada awal Reformasi.
Nilai buku ini bagi pembaca hari ini justru terletak pada sifatnya sebagai dokumen yang ditulis sebelum hasil pemilu diketahui. Pembaca dapat membandingkan prediksi di dalamnya dengan hasil yang sebenarnya. Dalam Pemilu 1999, PDI Perjuangan meraih suara terbanyak, sekitar sepertiga dari seluruh suara sah, disusul Golkar, lalu PKB, PPP, dan PAN, sementara PBB dan Partai Keadilan memperoleh dukungan yang jauh lebih kecil. Hasil itu kemudian melahirkan dinamika politik yang rumit, termasuk terpilihnya Abdurrahman Wahid sebagai presiden melalui Sidang Umum MPR, meskipun partainya bukan pemenang pemilu. Membaca buku ini dengan pengetahuan tentang apa yang terjadi kemudian memungkinkan pembaca menilai ketepatan analisis para pengamat dan memahami faktor-faktor yang sulit diperkirakan dalam politik transisi.
Buku ini juga merekam momen awal dari beberapa partai yang kelak sangat berpengaruh. Partai Keadilan, misalnya, kemudian bertransformasi menjadi Partai Keadilan Sejahtera dan tumbuh menjadi salah satu partai Islam terpenting di Indonesia. Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa memperlihatkan bagaimana dua organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, melahirkan saluran politik baru melalui tokoh-tokohnya. Golkar menunjukkan kemampuan bertahan partai lama Orde Baru di tengah tuntutan perubahan. Bagi pengkaji politik Islam, buku ini sangat berguna untuk melihat bagaimana spektrum partai berbasis Islam dan partai berbasis massa Islam terbentuk pada awal Reformasi.
Relevansi buku ini bagi kajian Aceh juga jelas. Pemilu 1999 berlangsung ketika konflik di Aceh sedang memanas dan tuntutan referendum menguat. Di beberapa daerah di Aceh, pelaksanaan pemilu menghadapi hambatan serius dan partisipasi pemilih sangat rendah. Pemahaman tentang peta partai nasional pada waktu itu membantu menjelaskan mengapa banyak masyarakat Aceh merasa jauh dari proses politik Jakarta, dan mengapa kemudian lahir tuntutan akan partai politik lokal yang akhirnya diakomodasi setelah perjanjian damai Helsinki tahun 2005.
Eksemplar dalam koleksi ini bersampul putih krem dengan tujuh logo partai di bagian kiri dan tengah, judul Tujuh Mesin dalam kotak hitam, dan kata Pendulang Suara dalam huruf hitam besar. Logo penerbit LKiS tercantum di kiri bawah dan label perpustakaan menempel di sisi kiri. Sampul memperlihatkan tanda usia yang cukup jelas, seperti noda, goresan, dan sudut yang aus. Citra yang ditampilkan di sini telah diluruskan, dipotong dari latar foto, dan diperbaiki pencahayaan serta ketajamannya tanpa menghapus tanda-tanda usia tersebut, karena tanda itu merupakan bagian dari riwayat eksemplar.
Buku ini juga menarik sebagai contoh dari gelombang besar penerbitan politik yang muncul segera setelah Reformasi. Pada 1998 dan 1999, toko-toko buku di Indonesia dibanjiri buku tentang partai, tokoh, reformasi, dan demokrasi, banyak di antaranya ditulis dengan cepat untuk memenuhi rasa ingin tahu publik yang baru terbebas dari pembatasan informasi. Penerbit-penerbit di Yogyakarta, termasuk LKiS, memainkan peran penting dalam gelombang ini dengan menghadirkan bacaan yang terjangkau bagi mahasiswa dan aktivis. Dalam konteks itu, Tujuh Mesin Pendulang Suara dapat dibaca sebagai bagian dari upaya pendidikan politik warga, yakni membantu pemilih yang selama puluhan tahun hanya mengenal tiga kontestan untuk memahami pilihan-pilihan baru yang terbentang di hadapan mereka. Upaya seperti ini merupakan bagian penting, meskipun sering terlupakan, dari sejarah transisi demokrasi Indonesia.
Dalam klasifikasi Library of Congress, buku ini ditempatkan pada JQ779.A45 untuk partai politik di Indonesia, dengan tajuk subjek Political parties -- Indonesia, Elections -- Indonesia -- 1999, serta Election forecasting -- Indonesia. Dalam sistem BISAC, buku ini dikelompokkan ke POL043000, Political Science / Political Process / Political Parties. Di dalam Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini melengkapi koleksi tentang politik Indonesia masa transisi, termasuk kliping dan majalah yang merekam perkembangan partai-partai dari tahun ke tahun, sehingga pembaca dapat menelusuri perjalanan partai-partai ini sejak perkenalan pertama mereka kepada publik. Keterangan katalog ini disusun dari sampul eksemplar dan data katalog Library of Congress, dan dapat diperbarui setelah halaman judul dan daftar isi diperiksa langsung.