Cambridge University Press, Cambridge · Cambridge University Press, Cambridge, 1997; xi + 241 halaman; ilustrasi; 22 cm; ISBN 0-521-62982-9 (sampul lunak), 0-521-62018-X (sampul keras), menurut katalog perpustakaan (belum diverifikasi pada eksemplar). Tahun terbit 1997 sesuai keterangan pemilik koleksi; cetakan eksemplar belum diperiksa. · 1997
Ringkasan
Buku pengantar karya antropolog Inggris Robert Layton (lahir 1944), guru besar antropologi di Durham University, yang diterbitkan Cambridge University Press pada 1997. Buku ini memperkenalkan aliran-aliran utama teori antropologi sosial dan budaya, yaitu fungsionalisme, strukturalisme, pendekatan Marxis, interaksionisme dan transaksionalisme, sosiobiologi dan ekologi evolusioner, serta postmodernisme. Layton menjelaskan setiap aliran melalui asal-usul filosofisnya, gagasan pokoknya, dan contoh-contoh etnografis, lalu menimbang kekuatan dan kelemahannya. Karena ringkas, jernih, dan berimbang, buku ini banyak dipakai sebagai bacaan dasar mata kuliah teori antropologi di berbagai universitas, dan tetap berguna sebagai peta bagi mahasiswa yang baru memasuki perdebatan teoretis dalam ilmu ini.
- Nomor inventaris
-
KBA-BKU-1997-0002
- Jenis dokumen
-
Buku
- Sumber terbitan
-
Cambridge University Press, Cambridge
- Tanggal terbit
-
1997
- Edisi dan halaman
-
Cambridge University Press, Cambridge, 1997; xi + 241 halaman; ilustrasi; 22 cm; ISBN 0-521-62982-9 (sampul lunak), 0-521-62018-X (sampul keras), menurut katalog perpustakaan (belum diverifikasi pada eksemplar). Tahun terbit 1997 sesuai keterangan pemilik koleksi; cetakan eksemplar belum diperiksa.
- Penulis
-
Robert Layton
- Klasifikasi LC
-
GN33 — Antropologi: filsafat, teori, metodologi
- Subjek LCSH
-
Anthropology -- Philosophy; Ethnology -- Philosophy; Anthropology -- History
- Kategori BISAC
-
SOC002010 SOCIAL SCIENCE / Anthropology / Cultural & Social
- Bahasa
-
Inggris
- Keterangan
-
An Introduction to Theory in Anthropology karya Robert Layton adalah salah satu buku pengantar teori antropologi yang paling sering dipakai di ruang kuliah sejak akhir 1990-an. Layton lahir pada 1944 dan lama mengajar di Durham University, Inggris, tempat ia menjadi guru besar antropologi. Ia dikenal luas melalui penelitiannya tentang masyarakat Aborigin Australia, terutama tentang seni cadas, hak atas tanah, dan sejarah Uluru, serta melalui bukunya tentang antropologi seni. Pengalaman lapangan yang panjang ini membuat cara Layton menjelaskan teori selalu berpijak pada contoh etnografis yang konkret, bukan sekadar pada uraian abstrak tentang gagasan para pemikir besar.
Buku ini diterbitkan oleh Cambridge University Press pada 1997, dengan tebal sekitar xi dan 241 halaman. Tujuannya sederhana tetapi penting, yaitu memberi mahasiswa peta yang jelas tentang aliran-aliran utama dalam teori antropologi sosial dan budaya. Layton tidak menyusun buku ini sebagai kronik nama dan tanggal, melainkan sebagai uraian tentang cara-cara berbeda dalam menjawab pertanyaan dasar antropologi: bagaimana masyarakat bertahan dan berubah, bagaimana makna dibentuk dan dibagi, dan bagaimana individu bertindak di dalam struktur sosial yang lebih besar.
Aliran pertama yang dibahas adalah fungsionalisme, yang berakar pada pemikiran Émile Durkheim dan dikembangkan dalam antropologi Inggris oleh Bronisław Malinowski dan A.R. Radcliffe-Brown. Fungsionalisme memandang masyarakat sebagai sistem yang bagian-bagiannya saling menopang, sehingga setiap lembaga dijelaskan melalui sumbangannya bagi keberlangsungan keseluruhan. Aliran kedua adalah strukturalisme, terutama dalam bentuk yang dikembangkan Claude Lévi-Strauss, yang mencari pola-pola pikiran manusia yang mendasari mitos, sistem kekerabatan, dan klasifikasi. Layton menjelaskan bagaimana strukturalisme berangkat dari linguistik Ferdinand de Saussure dan mengubah pusat perhatian antropologi dari fungsi sosial menuju struktur makna.
Bab-bab berikutnya membahas pendekatan Marxis, yang menempatkan hubungan produksi, kepemilikan, dan ketimpangan kekuasaan di pusat analisis, serta interaksionisme dan transaksionalisme, yang memusatkan perhatian pada individu sebagai pelaku yang membuat pilihan, bernegosiasi, dan memanfaatkan aturan sosial. Pendekatan yang terakhir ini dikaitkan antara lain dengan Fredrik Barth dan analisis tentang strategi serta pertukaran. Layton juga memberi tempat yang cukup luas bagi sosiobiologi dan ekologi evolusioner, yang mencoba menjelaskan perilaku sosial manusia melalui prinsip-prinsip seleksi alam dan adaptasi. Bagian ini menunjukkan keterbukaan Layton terhadap dialog antara antropologi sosial dan ilmu-ilmu biologi, sesuatu yang jarang ditemukan dalam buku pengantar sejenis.
Bagian akhir buku membahas postmodernisme, yang mempertanyakan klaim objektivitas etnografi, menyoroti hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan, dan mendorong refleksi tentang cara antropolog menulis tentang orang lain. Layton menjelaskan sumbangan kritik postmodern, misalnya kesadaran tentang posisi peneliti dan suara masyarakat yang diteliti, tetapi ia juga menimbang batas-batasnya, terutama ketika relativisme yang berlebihan mengancam kemungkinan perbandingan dan penjelasan. Sikap berimbang ini menjadi salah satu ciri utama buku ini.
Kekuatan utama buku ini adalah kejernihannya. Layton menulis dengan bahasa yang lugas, menghindari jargon yang tidak perlu, dan selalu menautkan setiap teori dengan contoh dari lapangan. Ia juga memperlihatkan bahwa aliran-aliran teori tidak muncul dalam ruang hampa, melainkan saling menanggapi, mengkritik, dan meminjam satu sama lain. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya mengenal isi setiap teori, tetapi juga memahami mengapa teori itu muncul, persoalan apa yang ingin dijawabnya, dan apa yang membuatnya kemudian dikritik. Kelemahannya, sebagaimana lazim pada buku pengantar, adalah keterbatasan ruang untuk membahas perkembangan teori yang lebih baru serta tradisi antropologi di luar dunia berbahasa Inggris dan Prancis.
Bagi pengajaran antropologi di Indonesia, buku ini sangat relevan. Mata kuliah teori antropologi, antropologi agama, dan metodologi penelitian di berbagai perguruan tinggi membutuhkan bacaan yang mampu menjelaskan perdebatan teoretis secara ringkas tanpa kehilangan kedalaman. Buku ini dapat menjadi titik berangkat sebelum mahasiswa membaca karya-karya klasik secara langsung. Selain itu, banyak contoh dalam buku ini dapat dibandingkan dengan kenyataan masyarakat Indonesia, misalnya dalam soal sistem kekerabatan, pertukaran, ritual, dan hubungan antara adat dan negara. Pengkaji masyarakat Aceh, misalnya, dapat memakai kerangka fungsionalis untuk memahami peran lembaga adat, kerangka strukturalis untuk membaca hikayat dan mitos, kerangka Marxis untuk menelaah ekonomi politik konflik, atau kerangka interaksionis untuk melihat strategi para pelaku dalam masa transisi pascakonflik.
Eksemplar dalam koleksi ini bersampul lunak dengan desain grafis yang bersih, terdiri atas bidang-bidang persegi berwarna abu-abu kebiruan, putih, dan hitam. Judul tercetak dalam huruf hitam tanpa kait, dan nama Robert Layton tercetak putih pada pita hitam di bagian bawah. Label perpustakaan menempel di sisi kiri sampul, dan terdapat bintik serta noda kecil akibat usia. Citra yang ditampilkan di sini telah diluruskan, dipotong dari latar foto, dan diperbaiki pencahayaan serta ketajamannya tanpa mengubah isi sampul.
Buku ini juga dapat dibaca sebagai bagian dari perdebatan yang lebih luas tentang arah antropologi pada akhir abad kedua puluh. Ketika buku ini terbit, disiplin ini sedang berada dalam masa perenungan setelah kritik terhadap hubungannya dengan kolonialisme dan setelah gelombang kritik postmodern terhadap penulisan etnografi. Sebagian antropolog bergerak ke arah tafsir dan narasi, sebagian lain kembali menekankan penjelasan ilmiah, perbandingan lintas budaya, dan dialog dengan biologi serta ekologi. Layton menempatkan dirinya di tengah perdebatan itu dengan sikap yang tenang. Ia tidak memaksa pembaca memilih satu aliran sebagai yang paling benar, tetapi menunjukkan bahwa setiap aliran menerangi sebagian kenyataan sosial dan sekaligus menutupi bagian lainnya. Pendekatan seperti ini sangat berguna bagi mahasiswa, karena mendorong mereka untuk memilih teori berdasarkan pertanyaan penelitian, bukan berdasarkan kesetiaan pada mazhab tertentu.
Dalam pengajaran, buku ini paling efektif bila setiap babnya dipasangkan dengan bacaan langsung dari tokoh yang dibahas. Bab tentang fungsionalisme, misalnya, dapat disertai petikan karya Malinowski tentang Kepulauan Trobriand atau karya Radcliffe-Brown tentang struktur sosial. Bab tentang strukturalisme dapat disertai analisis mitos dari Lévi-Strauss. Bab tentang interaksionisme dapat disertai kajian Barth tentang batas-batas kelompok etnis, yang sangat relevan bagi masyarakat majemuk seperti Indonesia. Dengan pola semacam ini, buku Layton berfungsi sebagai jembatan antara ringkasan dan sumber asli.
Dalam klasifikasi Library of Congress, buku ini ditempatkan pada GN33 untuk filsafat, teori, dan metodologi antropologi, dengan tajuk subjek Anthropology -- Philosophy, Ethnology -- Philosophy, serta Anthropology -- History. Dalam sistem BISAC, buku ini dikelompokkan ke SOC002010, Social Science / Anthropology / Cultural & Social. Di dalam Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini menjadi salah satu rujukan dasar bagi mata kuliah dan kajian antropologi, dan dapat dibaca bersama karya-karya pengantar antropologi lain dalam koleksi, termasuk yang membahas antropologi agama di Nusantara, untuk menghubungkan teori umum dengan kenyataan masyarakat setempat. Keterangan katalog ini disusun dari sampul eksemplar, data katalog perpustakaan, dan keterangan pemilik koleksi, dan dapat diperbarui setelah halaman judul, daftar isi, dan halaman hak cipta diperiksa langsung.
- Status hak cipta
-
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Cara mengutip
Robert Layton, “An Introduction to Theory in Anthropology”, Cambridge University Press, Cambridge, Cambridge University Press, Cambridge, 1997; xi + 241 halaman; ilustrasi; 22 cm; ISBN 0-521-62982-9 (sampul lunak), 0-521-62018-X (sampul keras), menurut katalog perpustakaan (belum diverifikasi pada eksemplar). Tahun terbit 1997 sesuai keterangan pemilik koleksi; cetakan eksemplar belum diperiksa., 1997. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-1997-0002.