Buku

Lampuki

PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta · Cetakan I, Mei 2011; hak cipta Arafat Nur 2011; ISBN 978-979-024-354-5. Penyunting Adi Toha dan M. Sidik Nugraha; pewajah isi Dinar Ramdhani Nugraha. PT Serambi Ilmu Semesta, Jl. Kemang Timur Raya No. 16, Jakarta 12730. Sampul: Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010. · 2011

Ringkasan

Novel karya Arafat Nur yang meraih predikat pemenang unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 dan kemudian menerima Khatulistiwa Literary Award 2011 untuk kategori prosa, diterbitkan Serambi Ilmu Semesta pada Mei 2011. Berlatar sebuah kampung di Aceh pada masa konflik bersenjata, novel ini menggambarkan kehidupan warga yang terjepit antara kekerasan kelompok bersenjata dan aparat negara, melalui tokoh seorang lelaki bersenjata berkumis tebal yang menjadi momok kampung. Dengan humor getir dan satire, Lampuki menjadi salah satu karya sastra terpenting tentang konflik Aceh.

Nomor inventaris
KBA-BKU-2011-0003
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Tanggal terbit
2011
Edisi dan halaman
Cetakan I, Mei 2011; hak cipta Arafat Nur 2011; ISBN 978-979-024-354-5. Penyunting Adi Toha dan M. Sidik Nugraha; pewajah isi Dinar Ramdhani Nugraha. PT Serambi Ilmu Semesta, Jl. Kemang Timur Raya No. 16, Jakarta 12730. Sampul: Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010.
Penulis
Arafat Nur
Klasifikasi LC
PL5089.A72 — Sastra Indonesia: pengarang 1945–
Subjek LCSH
Indonesian fiction -- 21st century; Aceh (Indonesia) -- Fiction; Aceh (Indonesia) -- History -- Autonomy and independence movements -- Fiction
Kategori BISAC
FIC014000 FICTION / Historical / General
Tempat
Aceh
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Lampuki adalah novel karya Arafat Nur, pengarang yang tumbuh dan berkarya di Aceh, dan diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta di Jakarta pada Mei 2011. Sampul buku mencantumkan bahwa novel ini merupakan pemenang unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010, salah satu sayembara sastra paling bergengsi di Indonesia. Pada tahun penerbitannya, Lampuki juga meraih Khatulistiwa Literary Award untuk kategori prosa, sehingga menempatkan Arafat Nur sebagai salah satu suara penting sastra Indonesia dari Aceh. Halaman hak cipta mencatat hak cipta atas nama Arafat Nur sejak 2011, dengan penyunting Adi Toha dan M. Sidik Nugraha serta pewajah isi Dinar Ramdhani Nugraha. Novel ini berlatar sebuah kampung bernama Lampuki di Aceh pada masa konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka dan pemerintah Indonesia. Pusat ceritanya adalah seorang lelaki berkumis tebal yang memanggul senjata dan menjadikan dirinya penguasa kecil di kampung, merekrut pemuda, memungut sumbangan perjuangan, dan menebar rasa takut. Di sekelilingnya, warga kampung menjalani kehidupan sehari-hari yang terus dihantui ancaman: kekerasan dari kelompok bersenjata di satu sisi dan operasi aparat negara di sisi lain. Kisah itu dituturkan dengan sudut pandang yang memberi ruang bagi pengamatan tajam, komentar sinis, dan humor getir terhadap perilaku manusia dalam situasi kacau. Kekuatan Lampuki terletak pada keberaniannya menghadirkan konflik Aceh tanpa romantisasi. Novel ini tidak menyajikan kisah kepahlawanan sederhana tentang perjuangan atau pengkhianatan, melainkan memperlihatkan bagaimana kekerasan merusak tatanan moral sebuah komunitas dari dalam. Warga biasa, para guru agama, perempuan, dan anak-anak digambarkan bukan hanya sebagai korban, tetapi juga sebagai manusia dengan kelemahan, ketakutan, dan cara bertahan masing-masing. Dengan satire, Arafat Nur mengkritik baik kesewenang-wenangan aparat maupun kepongahan sebagian orang bersenjata yang mengatasnamakan perjuangan. Sampul edisi ini menampilkan ilustrasi seorang lelaki berkumis tebal dengan senjata laras panjang di bahunya, berdiri di depan latar merah menyala dengan siluet pohon kelapa dan sosok-sosok samar. Warna merah yang mendominasi sampul menghadirkan suasana kekerasan dan api, sementara pohon kelapa mengingatkan pada lanskap pesisir Aceh. Judul LAMPUKI tercetak dalam huruf putih bergaya stensil yang retak, seolah-olah dicat di dinding kampung. Dalam peta sastra Indonesia, Lampuki termasuk dalam gelombang karya yang mengangkat pengalaman daerah konflik setelah Reformasi, ketika para penulis dari berbagai wilayah mulai menuliskan sejarah kekerasan yang sebelumnya sulit dibicarakan. Bagi pembaca dari Aceh, novel ini menjadi cermin yang kadang menyakitkan tentang masa lalu bersama. Bagi pembaca di luar Aceh, ia menjadi jendela untuk memahami bahwa konflik tidak hanya terjadi di medan pertempuran, tetapi juga merasuk ke dalam rumah, meunasah, kedai kopi, dan percakapan sehari-hari. Bagi studi antropologi dan sosiologi Aceh, Lampuki menyediakan bahan yang kaya. Sastra sering kali mampu merekam dimensi pengalaman yang luput dari laporan resmi dan penelitian kuantitatif, seperti suasana batin, humor sebagai mekanisme bertahan, relasi kuasa di tingkat gampong, dan perubahan nilai dalam masyarakat yang dilanda kekerasan berkepanjangan. Novel ini dapat dibaca berdampingan dengan kajian etnografis tentang konflik dan perdamaian Aceh untuk menimbang hubungan antara fiksi dan kenyataan, serta antara ingatan kolektif dan penulisan sejarah. Arafat Nur sendiri dikenal sebagai pengarang yang konsisten menulis tentang Aceh, baik melalui novel maupun cerita pendek, dan karyanya kerap mengangkat persoalan keadilan, kekerasan, dan kehidupan rakyat kecil. Lampuki menjadi salah satu karya yang paling banyak dibicarakan dan dikaji dalam penelitian sastra di perguruan tinggi Indonesia, terutama dalam kerangka sastra konflik dan kritik sosial. Eksemplar dalam koleksi ini bersampul lunak dengan permukaan yang sedikit mengkilap karena lapisan plastik, beberapa tekukan, dan label perpustakaan di sisi kiri. Citra yang ditampilkan di sini telah diluruskan, dipotong dari latar foto, dan diperbaiki warna serta ketajamannya tanpa menghapus tanda-tanda pemakaian. Dari sudut gaya, Lampuki menonjol karena memadukan realisme dengan ironi. Kalimat-kalimatnya sering menyimpan sindiran tajam terhadap kemunafikan, kepongahan, dan kebodohan yang muncul dalam situasi konflik, sehingga pembaca dapat tertawa sekaligus merasa getir. Strategi ini memungkinkan pengarang membicarakan pengalaman traumatis tanpa terjebak dalam ratapan, dan sekaligus mengajak pembaca berjarak untuk merenungkan apa yang terjadi. Banyak pengkaji sastra melihat strategi ini sebagai salah satu sumbangan penting Lampuki bagi cara sastra Indonesia membicarakan kekerasan. Novel ini juga penting sebagai dokumen ingatan pascakonflik. Setelah perjanjian damai Helsinki pada 2005, Aceh memasuki masa rekonstruksi dan reintegrasi, tetapi ingatan tentang masa konflik tetap hidup dalam keluarga dan komunitas. Karya sastra seperti Lampuki ikut membentuk cara ingatan itu diolah, diperdebatkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya yang tidak mengalami konflik secara langsung. Dalam hal ini, sastra menjadi bagian dari proses rekonsiliasi kultural yang lebih luas. Pengakuan dari Dewan Kesenian Jakarta dan Khatulistiwa Literary Award juga menunjukkan bahwa pengalaman Aceh mendapat tempat dalam arus utama sastra nasional. Bagi para penulis muda Aceh, keberhasilan Lampuki menjadi dorongan bahwa kisah-kisah dari daerah konflik dapat ditulis dengan mutu sastra yang tinggi dan dibaca secara luas. Sebagai bagian dari koleksi pribadi yang kini dibuka untuk publik, eksemplar ini juga memiliki nilai sebagai benda sejarah. Label perpustakaan, tanda pemakaian, dan jejak usia pada sampulnya memperlihatkan bahwa buku ini pernah dibaca, dipinjam, dan dirujuk dalam kerja akademik. Bagi pengguna arsip yang menekuni sastra dan konflik Aceh, entri ini dapat menjadi titik awal penelusuran, dan pembaca dianjurkan untuk menghubungkannya dengan kliping dan buku tentang konflik Aceh dalam koleksi agar memperoleh gambaran yang lebih utuh. Arsip ini juga terbuka bagi pembaca yang ingin menyumbangkan informasi tambahan tentang edisi, cetakan, atau isi buku ini melalui kontak yang tersedia di situs. Dalam pengajaran, Lampuki dapat dipakai pada mata kuliah sastra Indonesia modern, kajian budaya, dan studi perdamaian. Mahasiswa dapat diajak menelaah bagaimana novel ini membangun tokoh, latar, dan sudut pandang untuk menghadirkan pengalaman konflik, serta membandingkannya dengan kesaksian dan kajian ilmiah tentang periode yang sama. Dalam klasifikasi Library of Congress, buku ini ditempatkan pada PL5089.A72 untuk sastra Indonesia karya pengarang modern, dengan tajuk subjek Indonesian fiction -- 21st century, Aceh (Indonesia) -- Fiction, serta Aceh (Indonesia) -- History -- Autonomy and independence movements -- Fiction. Dalam sistem BISAC, buku ini dikelompokkan ke FIC014000, Fiction / Historical / General. Di dalam Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, Lampuki dapat dibaca bersama buku-buku tentang konflik dan kemanusiaan dalam koleksi, seperti Jembatan Air Mata tentang pengungsi Timor Timur dan Neraca Gus Dur di Panggung Kekuasaan yang menyinggung kebijakan terhadap Aceh pada awal Reformasi. Keterangan katalog ini disusun dari sampul dan halaman hak cipta eksemplar serta rujukan umum tentang penerimaan novel ini, dan dapat diperbarui setelah isi buku diperiksa lebih rinci.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Contributor
Adi Toha (penyunting) M. Sidik Nugraha (penyunting) Dinar Ramdhani Nugraha (pewajah isi)
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Arafat Nur, Adi Toha (penyunting), M. Sidik Nugraha (penyunting), Dinar Ramdhani Nugraha (pewajah isi), “Lampuki”, PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Cetakan I, Mei 2011; hak cipta Arafat Nur 2011; ISBN 978-979-024-354-5. Penyunting Adi Toha dan M. Sidik Nugraha; pewajah isi Dinar Ramdhani Nugraha. PT Serambi Ilmu Semesta, Jl. Kemang Timur Raya No. 16, Jakarta 12730. Sampul: Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010., 2011. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2011-0003.