Doubleday, New York (penerbit edisi pertama; edisi eksemplar ini belum diperiksa) · Pada sampul depan terlihat judul, nama George Friedman dengan keterangan pendiri Stratfor dan penulis America's Secret War, frasa tentang kata pengantar baru, label buku laris New York Times, serta label ramalan untuk tahun 2020, 2050, 2080, dan 2100. Frasa kata pengantar baru menunjukkan edisi sampul lunak 2010, yang lazim tercatat sebagai terbitan Anchor Books (ISBN 9780767923057), tetapi penerbit, tahun cetak eksemplar ini, ISBN, dan jumlah halaman belum diperiksa. Terdapat label perpustakaan di sisi kiri sampul dan cap di pojok kanan atas. · 2009
Ringkasan
Dalam buku ini George Friedman, pendiri perusahaan analisis geopolitik Stratfor, meramalkan arah politik dunia sepanjang abad kedua puluh satu. Berangkat dari tesis bahwa geografi, demografi, dan kepentingan jangka panjang membatasi pilihan negara, ia berpendapat bahwa abad ini akan tetap menjadi abad Amerika karena Amerika Serikat menguasai jalur laut dunia. Friedman meramalkan meredanya perang melawan jihadis, perang dingin kedua dengan Rusia, kemungkinan terpecahnya Tiongkok, kebangkitan Jepang, Turki, dan Polandia, perang global terbatas sekitar 2050 yang ditentukan oleh penguasaan ruang angkasa, serta tantangan Meksiko terhadap Amerika menjelang 2100. Edisi pertama terbit oleh Doubleday pada 2009, sedangkan edisi sampul lunak dengan kata pengantar baru terbit pada 2010. Dari sudut pandang 2026, sebagian ramalannya keliru, terutama tentang Tiongkok dan Rusia, sementara sebagian lain, seperti menguatnya Polandia dan Turki, tampak lebih dekat dengan kenyataan.
Nomor inventaris
KBA-BKU-2009-0003
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Doubleday, New York (penerbit edisi pertama; edisi eksemplar ini belum diperiksa)
Tanggal terbit
2009
Edisi dan halaman
Pada sampul depan terlihat judul, nama George Friedman dengan keterangan pendiri Stratfor dan penulis America's Secret War, frasa tentang kata pengantar baru, label buku laris New York Times, serta label ramalan untuk tahun 2020, 2050, 2080, dan 2100. Frasa kata pengantar baru menunjukkan edisi sampul lunak 2010, yang lazim tercatat sebagai terbitan Anchor Books (ISBN 9780767923057), tetapi penerbit, tahun cetak eksemplar ini, ISBN, dan jumlah halaman belum diperiksa. Terdapat label perpustakaan di sisi kiri sampul dan cap di pojok kanan atas.
CB161 .F77 2009 — Peradaban: ramalan dan studi masa depan
Subjek LCSH
Twenty-first century--Forecasts; Geopolitics--Forecasting; World politics--21st century--Forecasting; Economic forecasting
Kategori BISAC
POL011000 POLITICAL SCIENCE / International Relations / General; POL040000 POLITICAL SCIENCE / American Government / General
Bahasa
Inggris
Keterangan
The Next 100 Years: A Forecast for the 21st Century adalah upaya George Friedman meramalkan arah politik dunia sepanjang abad kedua puluh satu dengan menggunakan pendekatan geopolitik. Friedman lahir di Budapest pada 1949 dari keluarga Yahudi Hungaria yang selamat dari Holokaus dan kemudian bermigrasi ke Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan sarjana di City College of New York dan meraih gelar doktor dalam bidang pemerintahan dari Cornell University, lalu mengajar ilmu politik selama sekitar dua dekade di Dickinson College, Pennsylvania. Pada 1996 ia mendirikan Stratfor (Strategic Forecasting), perusahaan intelijen dan analisis geopolitik swasta yang berbasis di Austin, Texas, dan memimpinnya hingga 2015, ketika ia keluar dan mendirikan Geopolitical Futures. Sebelum buku ini, ia telah menulis antara lain The Coming War with Japan (1991, bersama Meredith LeBard), The Future of War (1996, bersama Meredith Friedman), dan America's Secret War (2004), yang judulnya disebut pada sampul eksemplar ini.
Edisi pertama buku ini terbit dalam format sampul keras oleh Doubleday, New York, pada Januari 2009, dan segera masuk daftar buku laris New York Times. Edisi sampul lunak terbit pada Januari 2010 dengan kata pengantar baru, dan secara luas tercatat sebagai terbitan Anchor Books, lini sampul lunak dalam kelompok Knopf Doubleday, dengan ISBN 9780767923057; situs Penguin Random House kini mencantumkan buku tersebut di bawah lini Vintage. Keterangan pada sampul eksemplar ini, yakni frasa tentang kata pengantar baru, menunjukkan bahwa eksemplar ini adalah edisi sampul lunak tersebut atau cetak ulangnya. Buku ini kemudian diikuti oleh The Next Decade (2011), yang mempersempit cakrawala ramalannya ke dekade 2010-an, dan diterjemahkan ke banyak bahasa.
Struktur buku terbagi dua. Bagian awal menjelaskan metode dan kerangka dasar: Friedman berpendapat bahwa ramalan jangka panjang menjadi mungkin bila analis mengabaikan kehendak para pemimpin dan berfokus pada batasan geografis, demografis, dan ekonomi yang memaksa negara bertindak dengan cara tertentu. Ia memulai dengan tesis bahwa pusat gravitasi dunia telah berpindah dari Atlantik Utara ke Amerika Utara, dan bahwa abad kedua puluh satu akan menjadi abad Amerika karena Amerika Serikat menguasai kedua samudra besar dunia. Ia kemudian membahas perang Amerika melawan kelompok jihadis, penurunan angka kelahiran di negara maju, perubahan teknologi komputasi, dan perang budaya yang menyertai perubahan struktur keluarga. Bagian berikutnya disusun secara kronologis per dekade, dari dekade 2010-an dan 2020-an hingga akhir abad.
Untuk dekade 2010-an dan awal 2020-an, Friedman meramalkan bahwa perang melawan jihadis akan mereda dan digantikan oleh perang dingin kedua yang lebih singkat antara Amerika Serikat dan Rusia, ketika Rusia berupaya memulihkan pengaruhnya di bekas wilayah Soviet. Ia memperkirakan bahwa Rusia akhirnya akan runtuh di bawah beban demografi dan belanja militer. Untuk Tiongkok, ia mengajukan dua kemungkinan, yaitu penindasan dengan tangan besi oleh pemerintah pusat atau fragmentasi akibat ketimpangan antara wilayah pesisir dan pedalaman, dan ia condong pada kemungkinan kedua; sampul eksemplar ini memuat label tentang Tiongkok yang terpecah pada 2020. Setelah itu muncul tiga kekuatan baru, yaitu Jepang, Turki, dan Polandia, masing-masing mengisi kekosongan yang ditinggalkan Tiongkok dan Rusia.
Pada pertengahan abad, menurut skenario Friedman, persaingan ini memuncak dalam perang global sekitar 2050, ketika Jepang dan Turki bersekutu menghadapi Amerika Serikat, Polandia beserta blok Eropa Timurnya, dan sejumlah mitra lain. Friedman sendiri menegaskan bahwa ia tidak mungkin mengetahui rincian maupun waktu perang tersebut, dan skenario ini lebih berfungsi sebagai ilustrasi logika geopolitik daripada ramalan harfiah. Ia menggambarkan perang yang terbatas, dengan korban jauh lebih sedikit dibanding perang dunia sebelumnya, yang ditentukan oleh penguasaan ruang angkasa, senjata hipersonik, dan pangkalan di orbit. Setelah perang, ia membayangkan dekade keemasan ekonomi Amerika, peralihan ke energi surya yang dipancarkan dari ruang angkasa sekitar 2080, dan akhirnya tantangan dari Meksiko terhadap dominasi Amerika di Amerika Utara menjelang 2100.
Konsep kunci buku ini adalah determinisme geopolitik yang lunak: tindakan negara dibatasi oleh geografi dan kepentingan jangka panjang, sehingga perilaku mereka dapat diperkirakan meskipun peristiwa spesifiknya tidak. Friedman juga menekankan arti demografi, terutama penurunan angka kelahiran dan penuaan penduduk, sebagai pendorong migrasi dan perubahan politik. Ia menekankan pula bahwa kekuatan Amerika bertumpu pada kendali atas jalur laut, dan bahwa kebijakan luar negeri Amerika lebih bertujuan mencegah munculnya kekuatan dominan di Eurasia daripada menciptakan ketertiban. Dalam kerangka ini, kekuatan kecil dan menengah menjadi penting karena posisi geografis mereka.
Dari sudut pandang 2026, catatan ramalan Friedman bercampur dan harus dinilai dengan jujur. Tiongkok tidak terpecah pada 2020; sebaliknya, di bawah Xi Jinping kekuasaan justru semakin terpusat, sehingga skenario tangan besi yang ia nilai kurang mungkin ternyata lebih dekat dengan kenyataan, dan Stratfor sendiri merevisi ramalan itu pada 2015. Rusia tidak runtuh pada awal 2020-an; negara itu justru menginvasi Ukraina secara penuh pada 2022, perkembangan yang sebagian sejalan dengan gambaran Friedman tentang Rusia yang berusaha merebut kembali pengaruh di bekas wilayah Soviet dan memicu konfrontasi baru dengan Barat. Polandia memang meningkatkan belanja militernya secara tajam dan semakin berperan di sayap timur NATO, dan Turki semakin aktif di kawasan sekitarnya, termasuk di Suriah setelah jatuhnya rezim Assad pada akhir 2024. Jepang juga mulai memperbesar anggaran pertahanannya. Namun gagasan persekutuan Jepang dan Turki melawan Amerika Serikat belum memiliki tanda-tanda nyata, dan ramalan untuk paruh kedua abad tentu belum dapat diuji.
Penerimaan buku ini terbelah. Banyak pembaca umum dan sebagian pengulas memujinya sebagai cara yang menggugah untuk berpikir tentang struktur jangka panjang politik dunia, dan buku ini dibaca luas di kalangan pengambil kebijakan; misalnya, laporan media pada 2012 menyebut bahwa Mitt Romney membacanya. Sementara itu, para pengkritik menilai bahwa pendekatan Friedman terlalu berpusat pada Amerika, terlalu yakin pada determinisme geografis, dan meremehkan peran ideologi, kepemimpinan, dan peristiwa tak terduga. Rekam jejak The Coming War with Japan, yang meramalkan konflik Amerika-Jepang yang tidak pernah terjadi, juga sering diangkat sebagai alasan untuk bersikap skeptis. Pembacaan yang paling adil barangkali melihat buku ini bukan sebagai kalender peristiwa, melainkan sebagai latihan metodologis tentang cara kekuatan geografis membentuk pilihan negara.
Relevansi buku ini bagi Indonesia dan Asia Tenggara bersifat tidak langsung. Friedman tidak menjadikan Indonesia sebagai aktor utama, tetapi kerangkanya tentang penguasaan jalur laut, persaingan di Pasifik Barat, dan kebangkitan maritim Jepang menyentuh langsung kawasan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, tempat kepentingan Indonesia dipertaruhkan. Bagi dunia Muslim, ramalannya tentang Turki sebagai kekuatan besar yang memperluas pengaruh ke dunia Arab, Kaukasus, dan Balkan menarik untuk dibandingkan dengan perkembangan politik luar negeri Turki pasca-2010. Bagi Aceh, yang terletak di pintu masuk Selat Malaka dan di jalur perdagangan Samudera Hindia, buku ini mengingatkan bahwa posisi geografis selalu memiliki makna strategis dalam perhitungan kekuatan besar. Namun hubungan ini merupakan bahan perbandingan analitis, bukan klaim bahwa Friedman membahas Aceh secara khusus.
Secara fisik, eksemplar ini berupa buku bersampul lunak. Pada sampul depan terdapat keterangan bahwa Friedman adalah pendiri Stratfor dan penulis America's Secret War, frasa tentang kata pengantar baru, serta label buku laris New York Times. Sampul juga memuat daftar label ramalan: Tiongkok terpecah pada 2020, perang global antara Amerika Serikat, Turki, Polandia, dan Jepang pada 2050, energi berbasis ruang angkasa pada 2080, serta Meksiko menantang Amerika Serikat pada 2100. Terdapat label perpustakaan di sisi kiri sampul dan sebuah cap di pojok kanan atas. Halaman hak cipta, tahun cetak, ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diperiksa.
Sebagai bagian dari Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini menjadi rujukan bagi kajian tentang geopolitik, ramalan strategis jangka panjang, politik kekuatan besar abad kedua puluh satu, dan metodologi analisis intelijen swasta, sekaligus menjadi bahan untuk menilai secara kritis batas-batas ramalan geopolitik. Arsip ini juga menjadi bahan yang memberi masukan bagi kajian-kajian di KBA13 Academy dan KBA13 Insight.
George Friedman, “The Next 100 Years: A Forecast for the 21st Century”, Doubleday, New York (penerbit edisi pertama; edisi eksemplar ini belum diperiksa), Pada sampul depan terlihat judul, nama George Friedman dengan keterangan pendiri Stratfor dan penulis America's Secret War, frasa tentang kata pengantar baru, label buku laris New York Times, serta label ramalan untuk tahun 2020, 2050, 2080, dan 2100. Frasa kata pengantar baru menunjukkan edisi sampul lunak 2010, yang lazim tercatat sebagai terbitan Anchor Books (ISBN 9780767923057), tetapi penerbit, tahun cetak eksemplar ini, ISBN, dan jumlah halaman belum diperiksa. Terdapat label perpustakaan di sisi kiri sampul dan cap di pojok kanan atas., 2009. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2009-0003.