Buku

Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment

Farrar, Straus and Giroux, New York (penerbit edisi pertama; edisi Inggris oleh Profile Books, London, 2018; edisi eksemplar ini belum diperiksa) · Pada sampul depan terlihat nama Francis Fukuyama dengan keterangan "New York Times bestselling author", judul Identity, dan anak judul The Demand for Dignity and the Politics of Resentment, dengan sampul putih gading bergaris tepi merah. Eksemplar ini bersampul lunak (paperback) dan memiliki label perpustakaan di sisi kiri sampul. Edisi pertama terbit pada 2018 oleh Farrar, Straus and Giroux (New York) dan Profile Books (London); edisi, penerbit, tahun cetak, ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diverifikasi. · 2018

Ringkasan

Buku Francis Fukuyama ini berargumen bahwa politik kontemporer semakin digerakkan oleh tuntutan pengakuan atas martabat, bukan semata kepentingan ekonomi. Dengan bertolak dari konsep thymos dalam Republik karya Plato, Fukuyama menelusuri sejarah gagasan tentang diri batin, martabat universal, dan pengakuan dari Luther, Rousseau, Kant, hingga Hegel, lalu menunjukkan bagaimana tuntutan itu mendorong revolusi demokratis sekaligus melahirkan nasionalisme, politik keagamaan, dan politik identitas yang terfragmentasi di kiri maupun kanan. Ia membedakan isothymia, tuntutan diakui setara, dari megalothymia, hasrat diakui lebih unggul. Pada bagian akhir ia mengusulkan identitas nasional berbasis kredo atau nilai konstitusional bersama, kebijakan asimilasi, serta layanan nasional sebagai jalan keluar dari polarisasi. Terbit pertama kali pada 2018 oleh Farrar, Straus and Giroux dan Profile Books, buku ini menjadi rujukan penting sekaligus sasaran kritik dalam perdebatan tentang populisme dan krisis demokrasi liberal.

Nomor inventaris
KBA-BKU-2018-0007
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Farrar, Straus and Giroux, New York (penerbit edisi pertama; edisi Inggris oleh Profile Books, London, 2018; edisi eksemplar ini belum diperiksa)
Tanggal terbit
2018
Edisi dan halaman
Pada sampul depan terlihat nama Francis Fukuyama dengan keterangan "New York Times bestselling author", judul Identity, dan anak judul The Demand for Dignity and the Politics of Resentment, dengan sampul putih gading bergaris tepi merah. Eksemplar ini bersampul lunak (paperback) dan memiliki label perpustakaan di sisi kiri sampul. Edisi pertama terbit pada 2018 oleh Farrar, Straus and Giroux (New York) dan Profile Books (London); edisi, penerbit, tahun cetak, ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diverifikasi.
Penulis
Francis Fukuyama
Klasifikasi LC
JF799 .F85 2018 — Partisipasi politik; politik identitas dan martabat dalam ilmu politik
Subjek LCSH
Identity politics; Group identity -- Political aspects; Dignity; Resentment; Political participation -- Social aspects
Kategori BISAC
POL042000 POLITICAL SCIENCE / Political Ideologies / General; POL010000 POLITICAL SCIENCE / History & Theory
Bahasa
Inggris
Keterangan
Francis Fukuyama (lahir 1952 di Chicago) adalah ilmuwan politik Amerika Serikat yang namanya mendunia sejak terbitnya The End of History and the Last Man (1992), buku yang mengembangkan esainya tahun 1989 tentang kemungkinan berakhirnya evolusi ideologis umat manusia pada demokrasi liberal. Ia meraih gelar doktor ilmu politik dari Harvard University, pernah bekerja di RAND Corporation dan di Policy Planning Staff Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, lalu mengajar di Johns Hopkins School of Advanced International Studies. Saat buku ini terbit, ia menjabat sebagai Olivier Nomellini Senior Fellow di Freeman Spogli Institute for International Studies, Stanford University. Karya-karya besarnya yang lain mencakup Trust (1995), The Great Disruption (1999), State-Building (2004), serta dwilogi The Origins of Political Order (2011) dan Political Order and Political Decay (2014). Sampul eksemplar ini memperkenalkannya sebagai penulis buku laris versi New York Times, sebuah penanda pemasaran yang lazim pada edisi paperback karyanya. Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment pertama kali terbit pada tahun 2018 di New York oleh Farrar, Straus and Giroux, dengan sekitar dua ratus halaman isi ditambah catatan dan indeks. Pada tahun yang sama Profile Books di London menerbitkan edisi Inggris, dan edisi paperback kemudian beredar di kedua pasar. Sebagian gagasannya juga dipublikasikan dalam bentuk esai panjang di majalah Foreign Affairs pada 2018, sehingga buku ini segera masuk ke perdebatan publik tentang populisme, Brexit, dan kemenangan Donald Trump. Buku ini telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Edisi persis eksemplar di Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, termasuk penerbit, tahun cetak, dan ISBN, belum diperiksa dari halaman hak cipta. Argumen pokok buku ini ialah bahwa politik kontemporer tidak lagi cukup dijelaskan dengan kategori kepentingan ekonomi, melainkan semakin digerakkan oleh tuntutan pengakuan atas martabat. Fukuyama menyusun empat belas bab pendek. Bab pertama, The Politics of Dignity, memaparkan gejala kebangkitan nasionalisme populis dan politik identitas di berbagai negara. Bab kedua, The Third Part of the Soul, kembali kepada Republik karya Plato untuk memperkenalkan thymos, bagian jiwa yang mendambakan pengakuan, di samping nafsu dan akal. Bab ketiga, Inside and Outside, menelusuri lahirnya gagasan modern tentang diri batin yang otentik dan berhadapan dengan tuntutan masyarakat, dengan merujuk antara lain kepada Martin Luther dan Jean-Jacques Rousseau. Bab keempat dan kelima, From Dignity to Democracy dan Revolutions of Dignity, menjelaskan bagaimana tuntutan pengakuan universal, yang dirumuskan secara filosofis oleh Kant dan Hegel, menjadi tenaga pendorong revolusi demokratis, dari Revolusi Prancis hingga Musim Semi Arab. Bab-bab berikutnya membahas bagaimana pengakuan itu berbelok arah. Expressive Individualism menelaah budaya ekspresi diri dalam masyarakat liberal modern, sedangkan Nationalism and Religion memperlihatkan bagaimana nasionalisme dan agama modern sama-sama menawarkan jawaban atas kegelisahan identitas yang ditimbulkan oleh modernisasi. Fukuyama di sini membaca Islamisme kontemporer sebagai sebagian merupakan politik identitas, yakni jawaban bagi kaum muda Muslim yang tercerabut dari masyarakat tradisional, khususnya di Eropa. Bab The Wrong Address mengajukan tesis provokatif bahwa sebagian kekecewaan ekonomi yang semestinya diarahkan pada kelas justru disalurkan ke dalam bahasa bangsa dan agama. Invisible Man, The Democratization of Dignity, dan From Identity to Identities menguraikan perluasan tuntutan martabat ke kelompok-kelompok yang lama terpinggirkan serta fragmentasinya menjadi identitas-identitas sempit yang saling bersaing, baik di kiri maupun di kanan spektrum politik. Tiga bab penutup bersifat preskriptif. We the People dan Stories of Peoplehood membahas kebutuhan negara demokratis akan identitas nasional yang inklusif, sedangkan What Is to Be Done? merumuskan usulan kebijakan. Fukuyama menganjurkan identitas nasional yang berbasis kredo atau komitmen bersama pada nilai konstitusional, bukan pada etnis, ras, atau agama. Ia juga membahas kebijakan asimilasi imigran, syarat kewarganegaraan, dan gagasan wajib layanan nasional sebagai sarana membangun rasa kebersamaan. Dengan demikian buku ini sekaligus merupakan kritik terhadap politik identitas sayap kanan yang etno-nasionalis dan terhadap kecenderungan sebagian kiri yang menurutnya meninggalkan agenda kesetaraan ekonomi demi pengakuan kelompok. Konsep-konsep kunci buku ini berasal dari khazanah filsafat politik klasik dan modern. Thymos adalah kebutuhan jiwa akan pengakuan. Isothymia menunjuk tuntutan untuk diakui setara dengan orang lain, sedangkan megalothymia menunjuk hasrat untuk diakui lebih unggul. Fukuyama juga memakai konsep martabat (dignity), pengakuan (recognition) dalam tradisi Hegel, kebencian atau dendam politik (resentment), identitas kredal, serta identitas nasional. Kerangka ini menyambungkan buku ini dengan The End of History, sebab dalam karya 1992 itu bagian akhirnya pun telah membahas thymos dan sosok manusia terakhir. Banyak pembaca karena itu melihat Identity sebagai revisi sekaligus kelanjutan proyek intelektual Fukuyama dalam menghadapi krisis demokrasi liberal sesudah 2016. Penerimaan buku ini luas sekaligus kontroversial. Media besar di Amerika Serikat dan Inggris mengulasnya, dan banyak pengulas memuji kejernihan bahasa serta keberaniannya menautkan sejarah gagasan dengan politik mutakhir. Kritik datang dari beberapa arah. Sejumlah pengulas berhaluan kiri menilai Fukuyama menyamakan gerakan hak-hak sipil, feminisme, dan gerakan antirasisme dengan nasionalisme populis sayap kanan, seolah-olah keduanya sama-sama bentuk politik identitas yang merusak. Pengkritik lain menilai pembahasan sejarah filsafatnya terlalu ringkas dan selektif, atau menganggap usulan kebijakannya, seperti layanan nasional dan identitas kredal, terlalu bertumpu pada pengalaman Amerika dan Eropa. Ada pula pembaca yang menilai buku ini terlalu cepat menjelaskan fenomena ekonomi-politik yang kompleks dengan satu kategori psikologis. Perdebatan ini berlanjut dalam karyanya berikutnya, Liberalism and Its Discontents (2022). Bagi Indonesia dan Asia Tenggara, buku ini relevan tanpa harus dipaksakan. Indonesia memiliki pengalaman panjang merumuskan identitas nasional yang melintasi etnis dan agama melalui Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sehingga gagasan Fukuyama tentang identitas kredal dapat dibandingkan secara kritis dengan pengalaman tersebut. Perdebatan tentang politik identitas dalam pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah di Indonesia sejak pertengahan 2010-an juga dapat dibaca dengan memakai konsep martabat dan dendam politik, walaupun Fukuyama sendiri hampir tidak membahas Indonesia. Bagi dunia Muslim, tafsirnya tentang Islamisme sebagai pencarian identitas perlu dibaca dengan hati-hati, karena cenderung bertumpu pada pengalaman diaspora Muslim di Eropa dan kurang memperhatikan dinamika teologis serta sejarah lokal. Bagi Aceh, isu martabat, pengakuan, dan identitas kolektif dalam sejarah konflik, perdamaian Helsinki 2005, dan pelaksanaan syariat Islam menjadi bahan perbandingan yang menarik, meskipun tidak dibahas dalam buku ini. Secara akademik, buku ini juga berguna sebagai pintu masuk menuju literatur yang lebih luas tentang politik pengakuan, misalnya karya Charles Taylor dan Axel Honneth, serta kajian tentang populisme dan nasionalisme. Dalam ruang kelas, ia dapat dipakai untuk mendiskusikan hubungan antara filsafat politik klasik, psikologi politik, dan kebijakan publik, terutama mengenai integrasi minoritas, kewarganegaraan, dan pluralisme. Kekuatannya terletak pada sintesis yang mudah dibaca. Keterbatasannya terletak pada kedalaman empiris yang terbatas di luar Amerika Utara dan Eropa, sehingga pembaca di Asia Tenggara perlu melengkapinya dengan kajian kawasan. Eksemplar ini berupa buku bersampul lunak (paperback) dengan sampul berwarna putih gading dan garis tepi merah di kedua sisinya. Pada sampul tertera nama Francis Fukuyama dengan keterangan sebagai penulis buku laris versi New York Times, judul Identity, dan anak judul The Demand for Dignity and the Politics of Resentment. Di sisi kiri sampul terdapat label perpustakaan. Penerbit, tahun cetak, nomor ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diverifikasi karena hanya foto sampul depan yang tersedia. Sebagai bagian dari Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini menjadi rujukan bagi kajian tentang politik identitas, martabat dan pengakuan dalam demokrasi, populisme, nasionalisme, serta krisis demokrasi liberal pada abad kedua puluh satu. Arsip ini juga menjadi bahan yang memberi masukan bagi kajian-kajian di KBA13 Academy dan KBA13 Insight.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Francis Fukuyama, “Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment”, Farrar, Straus and Giroux, New York (penerbit edisi pertama; edisi Inggris oleh Profile Books, London, 2018; edisi eksemplar ini belum diperiksa), Pada sampul depan terlihat nama Francis Fukuyama dengan keterangan "New York Times bestselling author", judul Identity, dan anak judul The Demand for Dignity and the Politics of Resentment, dengan sampul putih gading bergaris tepi merah. Eksemplar ini bersampul lunak (paperback) dan memiliki label perpustakaan di sisi kiri sampul. Edisi pertama terbit pada 2018 oleh Farrar, Straus and Giroux (New York) dan Profile Books (London); edisi, penerbit, tahun cetak, ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diverifikasi., 2018. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2018-0007.