Penerbit Buku Kompas (PT Kompas Media Nusantara), Jakarta · Jusuf, Alijullah Hasan. Penumpang Gelap: Menembus Eropa Tanpa Uang. Penyunting Mulyawan Karim. Jakarta: Penerbit Buku Kompas (PT Kompas Media Nusantara), Oktober 2015. 312 hlm.; 21 cm. ISBN 978-979-709-978-7. Jilid pertama seri Penumpang Gelap. Data ini dicocokkan dengan katalog Perpustakaan Riset BPK RI (Jakarta: Kompas, 2015) dan katalog Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau (312 hlm.; 21 cm; nomor panggil DDC 899.221 3), yang mencatat cetakan 2016 dengan ISBN yang sama. Dalam beberapa daftar toko buku, judul ini juga tercatat dengan subjudul "Jakarta - Paris Lewat Amsterdam" (ISBN sama). Sampul depan eksemplar ini berwarna kuning kehijauan muda dengan ilustrasi pesawat dan pemuda berjanggut berbaring di bukit berumput; logo Penerbit Buku Kompas di kanan bawah; label perpustakaan di tepi kiri sampul. Tahun cetak eksemplar ini belum diperiksa. · 2015
Ringkasan
Buku ini adalah memoar Alijullah Hasan Jusuf, perantau asal Blang Paseh, Sigli, Aceh, yang kemudian bekerja puluhan tahun sebagai staf lokal KBRI di Paris dan dikenal sebagai "Lurah Paris". Diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2015, buku ini mengisahkan masa remajanya di Jakarta pada 1967, ketika ia hidup sendirian, berjualan koran, dan tidur di kotak rokok di tengah gelombang demonstrasi. Deru pesawat dari Bandara Kemayoran menumbuhkan mimpinya untuk terbang ke luar negeri tanpa uang. Dengan kartu naik pesawat bekas, ia menyusup sebagai penumpang gelap ke penerbangan Garuda menuju Amsterdam, tetapi dipulangkan karena tidak memiliki dokumen. Kisah ini, ditulis sejak 1974 dan baru terbit empat dekade kemudian, merupakan jilid pertama dari seri memoar yang dilanjutkan dengan Paris Je Reviendrai (2016) dan Lurah Paris. Buku ini adalah kesaksian pribadi tentang keberanian bermimpi, tradisi merantau, dan sejarah sosial Indonesia akhir 1960-an.
Nomor inventaris
KBA-BKU-2015-0003ISBN 978-979-709-978-7
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Penerbit Buku Kompas (PT Kompas Media Nusantara), Jakarta
Tanggal terbit
2015
Edisi dan halaman
Jusuf, Alijullah Hasan. Penumpang Gelap: Menembus Eropa Tanpa Uang. Penyunting Mulyawan Karim. Jakarta: Penerbit Buku Kompas (PT Kompas Media Nusantara), Oktober 2015. 312 hlm.; 21 cm. ISBN 978-979-709-978-7. Jilid pertama seri Penumpang Gelap. Data ini dicocokkan dengan katalog Perpustakaan Riset BPK RI (Jakarta: Kompas, 2015) dan katalog Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau (312 hlm.; 21 cm; nomor panggil DDC 899.221 3), yang mencatat cetakan 2016 dengan ISBN yang sama. Dalam beberapa daftar toko buku, judul ini juga tercatat dengan subjudul "Jakarta - Paris Lewat Amsterdam" (ISBN sama). Sampul depan eksemplar ini berwarna kuning kehijauan muda dengan ilustrasi pesawat dan pemuda berjanggut berbaring di bukit berumput; logo Penerbit Buku Kompas di kanan bawah; label perpustakaan di tepi kiri sampul. Tahun cetak eksemplar ini belum diperiksa.
DS644.1.A45 — Indonesia: biografi tokoh (perkiraan nomor kelas; belum diverifikasi)
Subjek LCSH
Alijullah Hasan Jusuf, 1951-; Stowaways--Indonesia--Biography; Indonesians--France--Paris--Biography; Voyages and travels; Aceh (Indonesia)--Emigration and immigration
Kategori BISAC
BIO026000 BIOGRAPHY & AUTOBIOGRAPHY / Personal Memoirs; TRV009000 TRAVEL / Europe / General
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Penumpang Gelap: Menembus Eropa Tanpa Uang adalah memoar Alijullah Hasan Jusuf, seorang perantau asal Aceh yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Paris. Menurut wawancara Serambi Indonesia (Oktober 2015) dan detikNews (April 2016), ia berasal dari Blang Paseh, Sigli, Kabupaten Pidie, dan lahir sekitar tahun 1951. Sejak kecil ia meninggalkan kampung, menumpang kereta api ke Brandan, lalu ke Medan, dan menyeberang ke Jawa dengan kapal laut. Di Jakarta ia menamatkan sekolah menengah sambil berjualan koran. Setelah berhasil sampai ke Eropa, ia menetap di Paris, melanjutkan pendidikan, dan bekerja sebagai staf lokal di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Prancis selama puluhan tahun hingga pensiun pada Maret 2013. Karena kebiasaannya mengurus berbagai keperluan warga Indonesia di sana, ia dijuluki "Lurah Paris". Ia bukan penulis profesional atau akademisi, melainkan saksi dan pelaku sebuah kisah hidup yang luar biasa.
Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas di Jakarta pada Oktober 2015. Katalog Perpustakaan Nasional mencatat Mulyawan Karim sebagai editornya, dan katalog perpustakaan mencatat tebal 312 halaman dengan ukuran 21 cm dan ISBN 978-979-709-978-7. Peluncurannya, menurut Serambi Indonesia, berlangsung di toko buku Gramedia Grand Indonesia, Jakarta, pada 17 Oktober 2015, dengan wartawan senior Kompas Budiarto Shambazy sebagai pembahas. Penulis menyatakan bahwa ia mulai menulis kisah ini sejak 1974, mula-mula dengan tangan lalu dengan mesin ketik, sehingga naskah ini mengendap sekitar empat dekade sebelum terbit. Sebuah ulasan di LPM Progress menyebut bahwa ia menulis untuk memenuhi dorongan Mohammad Hatta dan Soemitro Djojohadikusumo agar membagikan pengalamannya. Buku ini menjadi jilid pertama dari sebuah seri: jilid kedua, Paris Je Reviendrai: Aku Kan Kembali, terbit pada 2016, dan kemudian menyusul Lurah Paris: 43 Tahun Berkelana di Paris.
Perlu ditegaskan bahwa istilah penumpang gelap dalam judul berarti penumpang pesawat tanpa tiket dan tanpa dokumen resmi, bukan perjalanan menumpang kendaraan di jalan raya. Inti kisahnya adalah perjalanan udara secara diam-diam. Menurut sinopsis penerbit, cerita dimulai pada April 1967, ketika Alijullah, remaja dari Sigli, hidup sendirian di Jakarta di tengah gelombang demonstrasi pasca-1965. Ia menjual koran di trotoar, ikut dalam arus demonstrasi, dan tidur di kotak rokok. Setiap malam ia mendengar deru pesawat dari Bandara Kemayoran, dan dari situ tumbuh mimpinya untuk terbang ke luar negeri, sesuatu yang pada masa itu hanya terjangkau oleh orang kaya. Ia lalu mencari jalan pintas.
Puncak cerita jilid pertama ini adalah percobaannya menyusup ke penerbangan Garuda Indonesia menuju Amsterdam dengan memakai kartu naik pesawat bekas. Menurut detikNews, ia memang sampai di Belanda pada 1967, tetapi karena tidak memiliki dokumen ia dianggap penumpang gelap, dipulangkan ke Jakarta, dan ditahan. Sinopsis jilid kedua menjelaskan bahwa kurang dari setahun kemudian ia mencoba lagi, kali ini dengan pesawat Qantas, hingga berhasil masuk ke Paris dan tinggal di sana tanpa dokumen selama sekitar satu tahun. Jadi, jilid pertama terutama berisi masa remaja di Jakarta, mimpi terbang, dan petualangan ke Amsterdam, sementara kisah Paris dikembangkan lebih jauh dalam jilid berikutnya. Judul bab per bab buku ini belum dapat diverifikasi, sehingga tidak dicantumkan di sini.
Konsep kunci yang muncul dari buku ini adalah keberanian bermimpi di tengah kemiskinan, ketekunan, dan keyakinan bahwa di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kisah ini juga menyentuh tema merantau, tradisi yang sangat kuat dalam budaya Aceh dan Sumatra, serta tema mobilitas sosial seorang anak kampung yang akhirnya bergaul dengan para pejabat dan tokoh bangsa. Di sisi lain, buku ini menyimpan lapisan etis yang rumit, karena keberhasilannya bertumpu pada pelanggaran aturan penerbangan dan keimigrasian. Pembaca masa kini, ketika kasus penyusup pesawat masih diberitakan sebagai ancaman keamanan, perlu membaca kisah ini dalam konteks zamannya, yaitu akhir 1960-an, ketika pengamanan bandara jauh lebih longgar.
Penerimaan buku ini terutama terlihat di media populer dan komunitas pembaca. Serambi Indonesia dan detikNews menulis profil penulisnya sebagai sosok inspiratif, dan buku ini tercatat sebagai salah satu judul nonfiksi yang masuk daftar bahan seleksi Anugerah Pembaca Indonesia 2016 di komunitas Goodreads Indonesia. Di Goodreads, buku ini memperoleh penilaian rata-rata sekitar 3,9 dari beberapa puluh pembaca. Ulasan mahasiswa tentang jilid kedua memuji bahasa yang santai dan mudah diikuti, tetapi juga mengingatkan bahwa beberapa bagian kurang cocok untuk pembaca anak-anak karena dapat ditiru. Sejauh penelusuran, belum ditemukan kajian akademik yang membahas buku ini secara khusus.
Dalam peta literatur Indonesia, buku ini dapat dibaca berdampingan dengan gelombang memoar perjalanan dan kisah anak muda yang merantau ke luar negeri, yang tumbuh pesat sejak 2000-an, misalnya catatan para backpacker dan kisah penerima beasiswa di Eropa. Bedanya, buku ini bukan catatan perjalanan wisata, melainkan kisah hidup seorang perantau pada akhir 1960-an, sehingga lebih dekat dengan genre memoar dan otobiografi. Nilai historisnya terletak pada gambaran Jakarta pada masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru dan pada gambaran kehidupan diaspora Indonesia di Prancis.
Relevansinya bagi Aceh sangat langsung. Penulisnya adalah putra Pidie, dan kisahnya menambah khazanah tentang diaspora Aceh di Eropa dan tradisi merantau orang Aceh. Serambi Indonesia mencatat bahwa ia pernah melayani Teungku Muhammad Daud Beureueh ketika tokoh Aceh itu berada di Paris, termasuk berfoto bersama di depan pesawat Concorde, sebuah detail kecil yang menarik bagi sejarah sosial Aceh. Bagi Indonesia, buku ini memperlihatkan peran staf lokal KBRI yang jarang tercatat dalam sejarah diplomasi resmi. Bagi dunia Muslim dan Asia Tenggara, kisah ini memberi gambaran tentang pengalaman migran Muslim Asia di Eropa Barat pada masa sebelum migrasi massal, meskipun buku ini tidak dirancang sebagai kajian keagamaan atau migrasi.
Secara fisik, sampul eksemplar ini berwarna kuning kehijauan muda dengan ilustrasi sebuah pesawat terbang dan seorang pemuda berjanggut yang berbaring di atas bukit berumput, dihiasi motif yang menyerupai batik. Di kanan bawah terdapat logo kecil penerbit bergambar sapi atau banteng; logo ini sesuai dengan identitas Penerbit Buku Kompas, penerbit yang tercatat dalam sumber daring, meskipun bentuk logonya pada eksemplar ini belum diperiksa langsung. Pada tepi kiri sampul terdapat label perpustakaan, yang menunjukkan bahwa eksemplar ini pernah menjadi bagian dari koleksi perpustakaan lain sebelum masuk ke arsip ini. Tahun cetak, ISBN, dan jumlah halaman eksemplar ini belum diperiksa.
Bagi peneliti, buku ini berguna sebagai sumber primer berupa kesaksian pribadi, bukan sebagai karya ilmiah. Klaim-klaim di dalamnya, misalnya tentang perjalanan, pertemuan dengan para tokoh, dan peristiwa di bandara, adalah ingatan penulis yang ditulis puluhan tahun kemudian, sehingga perlu dibaca secara kritis dan dibandingkan dengan sumber lain bila dipakai dalam kajian sejarah. Justru di situlah nilainya, karena memoar seperti ini menyimpan suara orang biasa yang sering hilang dari sejarah resmi.
Sebagai bagian dari Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, buku ini menjadi rujukan bagi kajian tentang tradisi merantau orang Aceh, diaspora Indonesia di Eropa, memoar dan otobiografi Indonesia, serta sejarah sosial Jakarta pada akhir 1960-an. Arsip ini juga menjadi bahan yang memberi masukan bagi kajian-kajian di KBA13 Academy dan KBA13 Insight.
Alijullah Hasan Jusuf, Mulyawan Karim (editor), “Penumpang Gelap: Menembus Eropa Tanpa Uang”, Penerbit Buku Kompas (PT Kompas Media Nusantara), Jakarta, Jusuf, Alijullah Hasan. Penumpang Gelap: Menembus Eropa Tanpa Uang. Penyunting Mulyawan Karim. Jakarta: Penerbit Buku Kompas (PT Kompas Media Nusantara), Oktober 2015. 312 hlm.; 21 cm. ISBN 978-979-709-978-7. Jilid pertama seri Penumpang Gelap. Data ini dicocokkan dengan katalog Perpustakaan Riset BPK RI (Jakarta: Kompas, 2015) dan katalog Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau (312 hlm.; 21 cm; nomor panggil DDC 899.221 3), yang mencatat cetakan 2016 dengan ISBN yang sama. Dalam beberapa daftar toko buku, judul ini juga tercatat dengan subjudul "Jakarta - Paris Lewat Amsterdam" (ISBN sama). Sampul depan eksemplar ini berwarna kuning kehijauan muda dengan ilustrasi pesawat dan pemuda berjanggut berbaring di bukit berumput; logo Penerbit Buku Kompas di kanan bawah; label perpustakaan di tepi kiri sampul. Tahun cetak eksemplar ini belum diperiksa., 2015. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2015-0003.