Buku

Mahavaipulya Paripurnabuddhi Nitarthasutra: Sutra Maha Kesadaran yang Sempurna

[penerbit tidak tercantum di sampul], Jakarta · Buddhatrata, trans. Mahavaipulya Paripurnabuddhi Nitarthasutra (Sutra Maha Kesadaran yang Sempurna). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Upa. Arya Rasmiprabhamegha. Disunting oleh Bonafacius. Jakarta, 1994. · 1994

Ringkasan

Buku ini adalah terjemahan Indonesia atas Sutra Kesadaran Sempurna (Yuanjue jing, Taisho 842), teks Mahayana berbahasa Tionghoa yang secara tradisional dikaitkan dengan penerjemah Buddhatrata pada masa Dinasti Tang. Diterjemahkan oleh Upasaka Arya Rasmiprabhamegha dan disunting Bonafacius, edisi ini bertanggal Waisak 2538/1994 di Mendut, Jawa Tengah. Sutra ini berisi dialog Buddha dengan para bodhisattva tentang kesadaran murni yang telah dimiliki semua makhluk dan tentang cara mengatasi avidya. Keterangan '+650 tahun SM' pada sampul adalah klaim penerjemah.

Nomor inventaris
KBA-BKU-1994-0002
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
[penerbit tidak tercantum di sampul], Jakarta
Tanggal terbit
1994
Edisi dan halaman
Buddhatrata, trans. Mahavaipulya Paripurnabuddhi Nitarthasutra (Sutra Maha Kesadaran yang Sempurna). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Upa. Arya Rasmiprabhamegha. Disunting oleh Bonafacius. Jakarta, 1994.
Penulis
Buddhatrata
Klasifikasi LC
BQ2177 .I5 1994 — Sutra Mahayana; Yuanjue jing, terjemahan Indonesia (perkiraan nomor kelas; belum diverifikasi)
Subjek LCSH
Tripiṭaka. Sūtrapiṭaka. Mahāvaipulyapūrṇabuddhasūtraprasannārthasūtra. Indonesian; Mahayana Buddhism -- Sacred books; Enlightenment (Buddhism); Meditation -- Buddhism
Kategori BISAC
REL007020 RELIGION / Buddhism / Sacred Writings; REL007030 RELIGION / Buddhism / Rituals & Practice; REL007050 RELIGION / Buddhism / Zen
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Mahavaipulya Paripurnabuddhi Nitarthasutra, dengan judul terjemahan Sutra Maha Kesadaran yang Sempurna, adalah terjemahan bahasa Indonesia atas teks Buddhis Mahayana berbahasa Tionghoa yang dikenal sebagai Da fangguang yuanjue xiuduoluo liaoyi jing, atau secara ringkas Yuanjue jing, dan dalam bahasa Inggris disebut Sutra of Perfect Enlightenment. Teks ini tercatat dalam kanon Taisho sebagai nomor 842 dalam volume 17, terdiri atas satu gulungan, dan dalam tradisi Tionghoa dikaitkan dengan penerjemah bernama Buddhatrata pada masa Dinasti Tang. Edisi Indonesia ini diterjemahkan oleh Upasaka Arya Rasmiprabhamegha, disunting oleh Bonafacius di Jakarta, dan pada sampulnya tertera keterangan Waisak 2538/1994, Mendut, Jawa Tengah. Sampul tidak mencantumkan nama penerbit, ISBN, ataupun jumlah halaman, sehingga data tersebut tidak dicatat di sini. Judul Sanskerta pada sampul, Mahavaipulya Paripurnabuddhi Nitarthasutra, merupakan rekonstruksi dari judul Tionghoa. Unsur mahavaipulya menandai sutra Mahayana yang luas, paripurnabuddhi berarti kesadaran atau pencerahan sempurna, dan nitartha berarti makna definitif, yaitu ajaran yang tidak lagi memerlukan penafsiran lanjutan. Rekonstruksi semacam ini lazim dalam tradisi Buddhis Tionghoa dan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya naskah Sanskerta asli. Sampul buku mencantumkan keterangan plus 650 tahun SM di bawah nama Tripitakacarya Buddhatrata. Klaim ini perlu dibaca dengan hati-hati. Kata pengantar dalam versi digital terjemahan yang sama menyatakan bahwa Buddhatrata menerjemahkan sutra ini dari bahasa Sanskerta ke bahasa Mandarin, tetapi tidak menjelaskan dasar penanggalan tersebut. Menurut catatan tradisional, terjemahan Buddhatrata dikerjakan sekitar tahun 693 Masehi di Kuil Kuda Putih di Luoyang, dan katalog Lancaster yang dikutip dalam basis data NTI Reader juga mencatat tahun 693. Buddhatrata sendiri hampir tidak dikenal dalam sumber sejarah di luar atribusi ini. Sejak akhir abad kesembilan belas, mulai dari Mochizuki Shinko, banyak sarjana memandang teks ini sebagai apokrif Tionghoa, yakni karya yang disusun di Tiongkok, kemungkinan pada akhir abad ketujuh atau awal abad kedelapan, dengan banyak memanfaatkan Kebangkitan Keyakinan Mahayana dan Sutra Surangama. Hu Shih bahkan pernah menduga Zongmi sebagai penyusunnya, sementara Lu Cheng menekankan ketergantungannya pada Kebangkitan Keyakinan. Kajian Henry Shiu pada tahun 2023 menawarkan pandangan yang lebih bernuansa, dengan menunjukkan adanya garis keturunan India yang cukup kuat dalam praktik meditasi empat tahap di dalam sutra ini. Dengan demikian, angka 650 SM pada sampul merupakan klaim penerjemah atau penerbit yang tidak sejalan dengan penanggalan ilmiah dan berselisih lebih dari tiga belas abad dari tanggal tradisional terjemahan Tionghoanya. Secara struktur, sutra ini terdiri atas bagian pembuka dan dua belas bab. Bagian pembuka melukiskan Buddha yang berada dalam samadhi agung di hadapan sekitar seratus ribu bodhisattva. Pada setiap bab, seorang bodhisattva bangkit, memberi hormat, dan mengajukan pertanyaan, lalu Buddha menjawab dalam prosa yang kemudian diringkas dalam bentuk syair atau gatha. Versi digital jilid pertama terjemahan Indonesia ini memuat bab-bab dengan penanya Manjusri, Samantabhadra, Samantanetra, Vajragarbha, Maitreya, dan Vimalamati, sedangkan kata pengantarnya menyebut bahwa terjemahan diterbitkan dalam dua jilid. Sampul eksemplar ini tidak menyebut nomor jilid, sehingga belum dapat dipastikan apakah eksemplar koleksi ini jilid pertama, jilid kedua, atau gabungan keduanya. Pokok ajaran sutra ini, sebagaimana diringkas kata pengantar terjemahan, adalah bahwa semua makhluk pada dasarnya telah memiliki kesadaran murni yang sempurna, tetapi kesadaran itu tertutup oleh avidya atau ketidaktahuan sehingga makhluk terus berputar dalam samsara. Dalam dialog dengan Manjusri, Buddha menjelaskan asal mula pencerahan dan sifat ilusi ketidaktahuan. Dialog dengan Samantabhadra membahas bagaimana praktik dapat dijalankan bila segala sesuatu bersifat ilusi. Dialog dengan Samantanetra memberikan petunjuk praktis, termasuk samatha dan perenungan atas empat unsur serta landasan indra. Vajragarbha menanyakan mengapa makhluk yang memiliki sifat Buddha masih diliputi avidya, Maitreya bertanya tentang nafsu keinginan dan lima garis bakat spiritual, sedangkan Vimalamati menanyakan perbedaan kesadaran antara makhluk biasa, bodhisattva, dan Tathagata. Bab-bab selanjutnya membahas metode meditasi dan bahaya-bahaya dalam praktik. Urutan dua belas bab tersebut sering dibaca sebagai gerak dari ajaran yang paling bercorak seketika menuju ajaran yang makin bercorak bertahap. Bab-bab awal menekankan bahwa pencerahan sudah hadir sepenuhnya dan cukup disadari, sedangkan bab-bab akhir memberikan tuntunan praktik yang lebih rinci, termasuk tata cara retret dan peringatan terhadap penyimpangan dalam meditasi. Gihwa, komentator Korea, mengelompokkan bab pertama sampai ketiga bagi praktisi berkemampuan tinggi, bab keempat sampai kesepuluh bagi praktisi menengah, dan dua bab terakhir bagi praktisi pemula. Kerangka ini menjadikan sutra tersebut rujukan penting dalam perdebatan Buddhisme Asia Timur tentang pencerahan seketika dan pembinaan bertahap, perdebatan yang juga dibahas Zongmi dalam karya-karyanya. Sutra ini memiliki pengaruh besar dalam sejarah Buddhisme Asia Timur. Ia dihargai oleh aliran Huayan dan Chan, dan komentar terpentingnya ditulis oleh Zongmi pada abad kesembilan, tokoh yang memadukan kedua aliran tersebut. Di Korea, sutra ini menjadi salah satu teks pokok dalam kurikulum biara Seon, dan komentator Korea Gihwa membagi bab-babnya menurut tingkat kemampuan praktisi. Terjemahan bahasa Inggris yang banyak dirujuk antara lain karya A. Charles Muller, The Sutra of Perfect Enlightenment: Korean Buddhism's Guide to Meditation, terbitan SUNY Press tahun 1999, serta terjemahan Peter N. Gregory dalam Apocryphal Scriptures terbitan Numata Center tahun 2005. Terbitnya terjemahan Indonesia ini pada tahun 1994 juga mencerminkan dinamika komunitas Buddhis di Indonesia pada masa Orde Baru, ketika berbagai kelompok, termasuk komunitas Buddhis keturunan Tionghoa, berupaya menghadirkan kitab-kitab Mahayana dalam bahasa Indonesia. Keterangan Waisak dan Mendut pada sampul menunjukkan kaitannya dengan perayaan Waisak di kawasan Candi Mendut dan Borobudur, Jawa Tengah, yang menjadi pusat perayaan Waisak nasional. Gelar Upa. di depan nama penerjemah merupakan singkatan dari upasaka, sebutan bagi umat awam pria yang telah berikrar menjalankan sila. Bagi perpustakaan studi Islam dan studi Aceh, buku ini tidak berkaitan langsung dengan Islam ataupun Aceh. Namun buku ini bernilai sebagai bahan studi perbandingan agama, khususnya bagi kajian tentang mistisisme dan teori kesadaran. Gagasan tentang kesadaran murni yang tertutup oleh ketidaktahuan dapat dibandingkan dengan pembahasan dalam tasawuf tentang fitrah dan hijab, misalnya dalam tradisi wahdat al-wujud yang pernah berkembang di Aceh melalui Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani, meskipun perbandingan semacam itu menuntut kehati-hatian metodologis. Buku ini juga merupakan dokumen tentang sejarah penerjemahan kitab suci Buddhis di Indonesia dan keragaman kehidupan keagamaan di Nusantara. Catatan bibliografis ini mendeskripsikan eksemplar yang tersimpan dalam koleksi pribadi KBA13 Academy dan dikatalogkan berdasarkan sampulnya. Keterangan tentang isi, jumlah jilid, dan kata pengantar diambil dari versi digital terjemahan yang sama di Internet Archive, sementara penanggalan ilmiah didasarkan pada katalog Taisho dan kajian akademik yang dirujuk.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Contributor
Upa. Arya Rasmiprabhamegha (penerjemah) Bonafacius (editor)
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Buddhatrata, Upa. Arya Rasmiprabhamegha (penerjemah), Bonafacius (editor), “Mahavaipulya Paripurnabuddhi Nitarthasutra: Sutra Maha Kesadaran yang Sempurna”, [penerbit tidak tercantum di sampul], Jakarta, Buddhatrata, trans. Mahavaipulya Paripurnabuddhi Nitarthasutra (Sutra Maha Kesadaran yang Sempurna). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Upa. Arya Rasmiprabhamegha. Disunting oleh Bonafacius. Jakarta, 1994., 1994. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-1994-0002.