Buku

Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang

Djambatan, Jakarta · Zoetmulder, P. J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Seri ILDEP. Jakarta: Djambatan, 1983. · 1983

Ringkasan

Edisi Indonesia dari Kalangwan: A Survey of Old Javanese Literature (1974), tinjauan menyeluruh P.J. Zoetmulder tentang kesusastraan Jawa Kuno, diterjemahkan oleh Dick Hartoko dan diterbitkan Djambatan pada 1983 dalam Seri ILDEP. Bertolak dari konsep keindahan (kalangwan), buku ini membahas prosa parwa, kakawin, dan kidung dari masa Mataram Kuno hingga Majapahit, sekaligus menguraikan bahan tulis, proses penciptaan teks, dan hubungan penyair dengan raja pelindungnya. Karya ini menjadi rujukan dasar filologi dan studi sastra Jawa.

Nomor inventaris
KBA-BKU-1983-0002
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Djambatan, Jakarta
Tanggal terbit
1983
Edisi dan halaman
Zoetmulder, P. J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Seri ILDEP. Jakarta: Djambatan, 1983.
Penulis
P.J. Zoetmulder
Klasifikasi LC
PL5158 .Z6 — Sastra Kawi (Jawa Kuno): sejarah dan kritik; nomor kelas diambil dari catatan katalog edisi asli Inggris 1974 (perkiraan nomor kelas; belum diverifikasi)
Subjek LCSH
Kawi literature -- History and criticism; Javanese literature -- History and criticism
Kategori BISAC
LIT008000 Literary Criticism / Asian / General; LIT004190 Literary Criticism / Ancient & Classical; HIS003000 History / Asia / General
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang adalah edisi bahasa Indonesia dari Kalangwan: A Survey of Old Javanese Literature, karya rujukan utama tentang kesusastraan Jawa Kuno yang ditulis oleh Petrus Josephus Zoetmulder. Edisi aslinya terbit dalam bahasa Inggris pada 1974 di Den Haag oleh Martinus Nijhoff sebagai nomor 16 dalam Translation Series dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV). Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Dick Hartoko dan diterbitkan oleh Penerbit Djambatan di Jakarta pada 1983 dalam Seri ILDEP, program penerbitan kerja sama Indonesia-Belanda di bidang studi Indonesia yang disunting oleh W.A.L. Stokhof. Catatan katalog menyebut edisi ini setebal xiii ditambah 648 halaman, dilengkapi ilustrasi, bibliografi, dan indeks. Buku ini kemudian dicetak ulang, antara lain pada 1985 dan 1994. Penulisnya, P.J. Zoetmulder, lahir di Utrecht, Belanda, pada 29 Januari 1906 dan wafat di Yogyakarta pada 8 Juli 1995. Ia masuk Serikat Yesus pada 1925, belajar bahasa Jawa Kuno di bawah bimbingan C.C. Berg, lalu meraih gelar doktor di Universitas Leiden pada 1935 dengan disertasi tentang panteisme dan monisme dalam sastra suluk Jawa. Sejak 1945 ia mengajar di Universitas Gadjah Mada dan kemudian menjadi guru besar di sana. Ia menjadi warga negara Indonesia pada 1951. Karya-karyanya yang lain mencakup kajian tata bahasa Jawa Kuno berdasarkan Adiparwa, buku ajar Bahasa Parwa yang disusun bersama I.R. Poedjawijatna, antologi teks Sekar Sumawur, dan, yang paling berpengaruh, Old Javanese-English Dictionary (1982) yang disusun bersama S.O. Robson. Kalangwan lahir dari puluhan tahun pergaulan dengan naskah-naskah Jawa Kuno, dan Zoetmulder sendiri pernah mengakui kesulitan menulisnya karena banyak bahan harus dikumpulkan dari mikrofilm naskah yang tersimpan di Leiden. Judul buku ini diambil dari istilah Jawa Kuno kalangwan, yang secara harfiah berarti keindahan dan berakar pada kata langö. Pilihan judul itu bukan sekadar hiasan. Bagi para kawi atau penyair Jawa Kuno, pengalaman keindahan merupakan pusat praktik bersastra, bahkan dapat dipahami sebagai jalan religius. Zoetmulder menjadikan konsep estetis ini sebagai kunci untuk membaca keseluruhan tradisi, dan sekaligus sebagai ukuran ketika ia memilih karya mana yang dibahas panjang lebar dan mana yang hanya disinggung singkat. Karena itu buku ini tidak dimaksudkan sebagai daftar lengkap semua teks dari zaman Mataram Kuno hingga Majapahit, melainkan sebagai tinjauan yang menimbang mutu dan kedudukan karya-karya itu dalam kebudayaan istana Jawa. Secara garis besar, buku ini membahas tiga ragam utama kesusastraan Jawa Kuno. Pertama, prosa parwa, yaitu saduran berbahasa Jawa Kuno dari bagian-bagian Mahabharata, seperti Adiparwa dan Wirataparwa. Kedua, kakawin, puisi panjang bermetrum India yang menjadi puncak capaian sastra istana, misalnya Ramayana Jawa Kuno, Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, dan Desawarnana atau Nagarakertagama karya Prapanca. Ketiga, kidung, puisi bermetrum asli Jawa yang berkembang pada akhir masa Majapahit dan banyak bertahan melalui tradisi naskah di Bali. Selain uraian per karya, Zoetmulder juga membahas sisi material dan sosial dari dunia sastra itu: bahan tulis seperti daun lontar dan perlengkapan menulis lainnya, proses penciptaan dan penyalinan teks, serta hubungan antara penyair dan raja pelindungnya, seperti Mpu Kanwa dengan Airlangga dan Prapanca dengan Hayam Wuruk. Dengan cara itu buku ini menunjukkan bahwa teks-teks Jawa Kuno tidak lahir di ruang hampa. Teks-teks itu merupakan produk lingkungan istana, berkembang di bawah patronase raja, dan sarat dengan gambaran alam, perjalanan, serta tata nilai yang dapat dibaca sebagai sumber sejarah kebudayaan. Uraian Zoetmulder tentang metafora alam dalam kakawin, misalnya, kerap dikutip oleh peneliti yang menelusuri gagasan keselarasan antara manusia dan lingkungan dalam sastra Jawa. Ringkasan isi kakawin yang ia sajikan juga menjadikan buku ini pintu masuk bagi pembaca yang tidak dapat membaca naskah aslinya. Ketika edisi Inggrisnya terbit, buku ini diulas di jurnal-jurnal kajian Asia terkemuka, antara lain Journal of Asian Studies, Journal of the Royal Asiatic Society, dan Bulletin of the School of Oriental and African Studies, dan sejak itu menjadi bacaan dasar dalam filologi dan studi sastra Jawa. Edisi Indonesianya membuat karya ini terjangkau oleh mahasiswa dan peneliti di Indonesia, dan hingga kini buku ini masih tercatat di banyak perpustakaan perguruan tinggi. Sebuah resensi dalam Poetika: Jurnal Ilmu Sastra (2014) karya Arif Kurniar Rakhman menghargai kekayaan informasi buku ini tentang teks-teks Jawa Kuno dan relasi kuasa di sekitarnya, tetapi juga mencatat keterbatasannya: buku ini kurang menghubungkan sastra istana dengan tradisi kecil dan lisan, dan tidak menelusuri silsilah naskah dari teks-teks yang dibahas sehingga pembaca sulit menilai sumber dan metodenya. Bagi perpustakaan yang berfokus pada studi Islam dan studi Aceh, buku ini penting sebagai latar perbandingan. Kesusastraan Jawa Kuno adalah salah satu kesaksian paling kaya tentang dunia budaya Hindu-Buddha di Nusantara sebelum Islam berkembang luas, dan banyak bentuk, kosakata, serta gagasan dari tradisi itu berlanjut dalam sastra Jawa dan Melayu pada masa Islam. Peneliti hikayat dan syair Melayu, termasuk tradisi tulis Aceh, dapat memakai buku ini untuk memahami warisan Indik yang diolah ulang dalam sastra Islam Nusantara, misalnya kisah-kisah yang bersumber dari Ramayana dan Mahabharata. Selain itu, latar keilmuan Zoetmulder sendiri, yakni disertasinya tentang panteisme dan monisme dalam sastra suluk Jawa, bersinggungan dengan perdebatan tasawuf wujudiyah yang juga menjadi bagian penting sejarah intelektual Aceh. Buku ini tidak membahas Aceh secara langsung, tetapi menyediakan kerangka untuk membandingkan tradisi sastra istana pra-Islam dengan tradisi sastra keislaman di kawasan Melayu. Dari sisi metode, Kalangwan juga merupakan contoh kerja filologi klasik yang dipadukan dengan kepekaan estetis. Zoetmulder membaca teks secara dekat, menimbang bahasa dan metrum, lalu menempatkannya dalam konteks sejarah dan sosial. Pendekatan ini berguna bagi pembaca yang ingin belajar bagaimana sebuah tradisi sastra yang jauh dalam waktu dapat dihadirkan kembali secara tertib dan bertanggung jawab, tanpa melebih-lebihkan dan tanpa memisahkan teks dari masyarakat yang melahirkannya. Bersama kamus Jawa Kuno yang ia susun, buku ini membentuk fondasi bagi generasi berikutnya peneliti Jawa Kuno di Indonesia dan di luar negeri. Keterbatasan buku ini juga perlu dicatat dengan jujur. Sebagai karya yang ditulis pada awal 1970-an, sebagian penanggalan, atribusi pengarang, dan tafsiran atas karya-karya tertentu telah diperbarui oleh penelitian sesudahnya. Seleksi karya yang didasarkan pada ukuran keindahan menurut penilaian Zoetmulder juga membuat sejumlah teks hanya dibahas sekilas. Namun justru sebagai tinjauan menyeluruh yang ditulis oleh salah satu ahli terbesar di bidangnya, buku ini tetap menjadi titik berangkat yang wajar bagi siapa pun yang mempelajari kesusastraan Jawa Kuno. Rekaman ini menggambarkan eksemplar yang disimpan dalam koleksi pribadi KBA13 Academy dan dikatalogkan berdasarkan sampulnya. Sampul eksemplar ini memuat nama P.J. Zoetmulder, judul Kalangwan dengan anak judul Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, ilustrasi mata pena berwarna merah di atas latar hitam, dan nama Penerbit Djambatan, tetapi tidak mencantumkan tahun cetak. Karena itu tahun yang dicatat di sini adalah tahun terbit edisi Indonesia pertama, 1983, dengan catatan bahwa eksemplar ini bisa saja merupakan cetak ulang.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Contributor
Dick Hartoko (penerjemah) W.A.L. Stokhof (editor seri ILDEP)
Extent
xiii + 648 hlm.
Koleksi
Buku

Cara mengutip

P.J. Zoetmulder, Dick Hartoko (penerjemah), W.A.L. Stokhof (editor seri ILDEP), “Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang”, Djambatan, Jakarta, Zoetmulder, P. J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Seri ILDEP. Jakarta: Djambatan, 1983., 1983. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-1983-0002.